MENGAPA WONG BLAMBANGAN TIDAK MENGENAL BOSO KROMO

Hantaran :
Sudah lama saya tidak berbicara soal bahasa, karena seperti yang diketahui…para pembacanya terbatas dan mungkin kesannya juga “berat”, tapi saya usahakan seperti dulu, tidak berat dan tidak banyak menggunakan istilah-istilah akademis seperti yang dipakai para pelaku pendidikan tingkat tinggi dan istilah yang ‘sok Inggris’ jika masih ada padanan Indonesianya. Semoga bisa dipahami oleh para peminat bahasa yang tidak pengen dibebani dengan istilah yang ‘berat-berat’. Kali ini ada hal yang selalu mengganjal dalam pemikiran saya, kenapa sih bisa muncul pembatasan bahasa antara halus dan kasar dalam bahasa Jawa?

Bahasa Jawa yang menjadi bahasa ibu dari hampir separuh penduduk republik ini mempunyai dua dialek besar, yakni dialek sosial dan dialek daerah. Yang ingin saya ulik-ulik adalah dialek sosial atau kemasyarakatannya. Masyarakat Jawa pada dasarnya adalah masyarakat petani dimana terdapat susunan hirarki yang menjadi pedoman bermasyarakat didalamnya. Sistem semacam ini juga mengarah pada sistem kepemilikan tanah ataupun feodalisme, dan berpengaruh pada bahasa juga. Karena harus menghormat kepada orang-orang yang lebih tinggi baik dari usia, status di masyarakat, maupun wibawanya.

Akibatnya, bahasa Jawa mengenal ragam yang disebut sebagai kromo, madya dan ngoko. Pembagian semacam ini muncul pada masa awal Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung, dimana pada sebelumnya, bahasa JAwa tidak mengenal susunan semacam itu, sebagaimana yang dipahami, bahasa Jawa Kuno tidak mengenal bentuk-bentuk semacam ini. Dalam tingkat tutur ngoko, tidak ada perbedaan antara lawan bicara disamping digunakan kepada org2 yang ada di lapisan sama ataupun sebaya. Sedangkan kromo dicitrakan sebagai tingkatan sopan santun dalam berbicara, menunjukkan ‘keanggunan’ dalam berbicara serta dianggap njawani . Tingkatan ini dipakai oleh para bawahan atau orang-orang dibawah maupun dalam keadaan resmi. Serta untuk orang yang belum dikenal.

Menurut Poedjosoedarsono dkk (1979), sebenarnya bahasa Ngoko adalah dasar dari semua kosakata bahasa Jawa. Karena itulah, maka bahasa Kromo tidak dapat disamakan atau disetarakan dengan ragam ngoko, karena terlalu banyaknya kata ngoko yang tidak memiliki padanan kromonya. Jumlah kosakata Ngoko mencapai ratusan ribu, sedangkan Kromo hanya berjumlah 850 kata, bahkan untuk Kromo Inggil hanya berjumlah 250 kata.

Nah, mengapa terjadi Ngoko-Kromo?
Menurut Benedict Anderson (1990), hal tersebut disebabkan adanya krisis politik-budaya yang terjadi di tanah Jawa sejak abad ke-16, dan makin mendalam sejak penjajahan Belanda yang serempak memfosilkan penguasa Jawa dan memfeodalkan hubungan mereka dengan rakyat bawah. Menurut Anderson lagi, bentuk Kromo ini adalah bentuk kekuasaan Jawa yang secara nyata (de facto), telah hilang. Raja-raja Jawa dijadikan sebagai boneka hidup yang dikendalikan Belanda.

Dari sinilah akhirnya muncul hirarki dalam bahasa Jawa yang berakar dari feodalisme dan dianggap sangat menguntungkan bagi penjajah pada waktu itu, karena dapat memperlancar kepentingannya dengan bersembunyi dibalik raja-raja kecil tadi. Dari sinilah mengapa bahasa Kromo sangat sedikit kosakatanya itu disebabkan oleh pengendalian atas apa yang hendak dikatakannya. Ditunjang dengan sistem kebangsawanan.

Mengapa Bentuk Kromo-Inggil tidak dikenal di Banyuwangi?
Menurut apa yang saya alami, jarang sekali masyarakat Using di Banyuwangi menggunakan ragam kromo-ngoko sebagaimana masyarakat Jawa lainnya. Sebagaimana mereka tidak begitu menyukai kesenian-kesenian dari Jawa Tengahan. Saya waktu itu masih belum tahu apa namanya. Mereka hanya berbahasa seperti ‘kromo’ pada hal-hal yang bersifat keagamaan atau hal-hal kegaiban, bukan dalam kehidupan sehari-hari. 

Setelah saya membaca di beberapa tulisan, saya baru mengetahui bahwa masyarakat Using Banyuwangi hanya mengenal 2 ragam wicara, yakni : Cara Using dan Cara Besiki. Cara Using ini dipakai setara antara tua-muda, kaya-miskin, pintar-bodoh dan semua lapisan masyarakatnya. Tidak ada jarak antara tua-muda dalam hal ini. Pembedanya hanya pada kata ganti atau pronomina belaka seperti contoh :

Siro madyango sulung  = anda makanlah dulu
Riko madyango sulung = kamu makanlah dulu

Bentuk rIKO dipakai sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua dan yang tidak dikenal. Hanya itu saja pembatasnya, selebihnya tetap, meski kerap dianggap orang Jawa tidak Njawani. Penyebab utamanya adalah, hilangnya sistem kebangsawanan di Banyuwangi sejak abad ke-18, dan hubungan antara penguasa kolonial dengan desa-desa sangat longgar tidak seperti di tanah Jawa lainnya. Sehingga pada hakikatnya desa di Banyuwangi waktu itu sifatnya mandiri, dan penguasa pusat hanya berperan sebagai “Lebah Ratu”, berbeda sekali, sehingga pola kekuasaan ala Jawa tidak dapat meresap sempurna di ujung timur Jawa.

Sedangkan Cara Besiki adalah ragam Jawa yang ‘diterima’ masyarakat Using Banyuwangi sebagai bentuk ideal dalam berbahasa. Namun hanya bentuk ideal, bukan dalam percakapan sehari-hari. Cara Besiki ini dipakai pada acara perkawinan, kematian, lamaran (tegoran) dan acara-acara bersifat keagamaan. Dalam artian mereka menganggap Cara Besiki ini sebagai bentuk sakral, bukan hirarkis. Cara Besiki serupa dengan Kromo , namun penggunaannya dikurangi sehingga bagi mereka bentuk halus ini hanya untuk “dunia sana” bukan “dunia sini”, terkait dengan hal tak kasat mata. Dan entah kapan perubahan hubungan Cara Using-Cara Besiki ini terjadinya,

Di bahasa Sunda, Madura dan Bali juga dikenal ragam halus-kasar ini sebagai akibat pengaruh dari kekuasaan Majapahit dan Mataram. Sekian dulu tulisan saya yang rada ‘berat’ ini, semoga bermanfaat. Ada yang ditanyakan…monggo…

Sumber Rujukan
Bahasa dan Sastra Using, Ragam dan Alternatif Kajian (2002)

Bambang Priantono

sumber

http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/717

Komentar

  • Dzulfikar Rezky  On Maret 26, 2012 at 3:55 pm

    iku kang hang garai wong oseng tetep independent lan heng biso di urek-urek ambi wong liyo…

    hehehe..

  • EDO  On April 29, 2012 at 2:10 pm

    ulung ta ulung, hang bener ki endii sih…basa kromo (ada 3 tingkatan) kai dipengaruhi sultan agung mataram, apa dipengaruhi majapahit.. ??? dadi bengung dhewek isun ikai…??? adeng2 dulur… adung menehi kabar nang uwong kau (dalam btk statement) kudu kuat buktinek….(harus ada scientific evidences) lan hing oleh mencla-mencle alias plin-plan, sakdurunge peno ngomong sultan agung, la mburi2ne majapahit…acake jelasaen ulung

    • osingkertarajasa  On April 29, 2012 at 2:39 pm

      kang ring ngarep dijelasaken “bahasa Jawa mengenal ragam yang disebut sebagai kromo, madya dan ngoko. Pembagian semacam ini muncul pada masa awal Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung,

      kang ring mburikan wes dijelasaken wyak,,,,”Di bahasa Sunda, Madura dan Bali juga dikenal ragam halus-kasar ini sebagai akibat pengaruh dari kekuasaan Majapahit dan Mataram.

  • EDO  On April 30, 2012 at 12:06 am

    o…gedigu ya..dadi mulo kawit jaman bengen yoiku jaman majapahit (abad ke-14) mulo wis ono arane basa alus lan kasar, lan pas jaman sultan agung mataram (abad ke-17) buru ono maning telu pemilahan (kromo inggil, kromo madyo lan ngoko), berarti ring kedaton wetan/blambangan (saikai lumajang, jember, situbondo, bondowoso, lan banyuwangi kang dadi pusate blambangan) ikau saket bengen mulo ya wis ono basa alus ugo. soale ilangek boso alus saka blambangan kan mulai abad ke-18 (perang blambangan), dadi kuranglebih mulo gara2 gugure para penggede blambangan ikau hang dadi pemicu ilangek basa halus ring bumi belambangan sethek2 trus dadi ilang (jumlah masyarakat blambangan yang meninggal dunia semakin menyusut pesat dengan terjadinya perang yang terus-menerus dari sejak jaman majapahit, melawan mataram, melawan bali, dan terakhir melawan belanda, yang tertinggal cuma sisa2 masyarakat petani, dan beberapa masyarakat dengan strata sosial yang kurang lebih sama yang memang kehidupannya bersahaja dan apa-adanya- tidak neko2, karena strata sosial yang lebih tinggi sudah langsung menerjunkan diri dalam peperangan2 besar di blambangan dan hampir nyaris seluruhnya perang puputan dan gugur, sehingga skrang ini terjadi terbentuknya kantong2 osing di daerah2 yg subur lahan pertaniannya). ya pantes saikai wong2 banyuwangi/osing rata2 bahasane ya basa biasa2 been, hing ono basa alusek maning , krono kang biasa gunakaen boso alus2 pada gugur ring peperangan utowo wis menyang nang pulau sebrang

    • osingkertarajasa  On Mei 11, 2012 at 5:46 pm

      wong blambangan/osing heng kenal ambi boso kromo wyak..boso kromo/alus onone skat jamane sultan agung/mentaram nggo ngelanggengaken feodalisme.sementara banyuwangen heng pernah keleon budaya mentaram jaman sakmono.mangkane hampek sakikai wong banyuwangen nganggo dialek sansekerta / ngoko koyo dene bali,madura dll.melebune boso kromo reng banyuwangen iku di gowo wong pesantrenan………….

    • osingkertarajasa  On Mei 11, 2012 at 6:22 pm

      using sendiri tdk mengenal bahasa kromo karena using elum pernah masuk budaya mentaram pada waktu jaman kompeni. ini juga mencerminkan budaya egaliter banyuwangen/using .krn boso kromo adlh warisan feodalisme penjajah yg dikembangkan sultan agung mentaram

      • EDO  On September 10, 2012 at 11:18 am

        kalau memang ucapan anda benar…acake isun critakaen sejarah wong2 bengen ring sebrang blambangan..kang mulo sethek been malah2 palingan hing ono pengaruhe soko mataram…taping adung pengaruhe majapahit mulo mage ono…contone ikai = kerajaan klungkung tidak pernah dijajah mataram, kerajaan badung, kerajaan karangasem, kerajaan bangli, kerajaan selaparang, kerajaang mataram karangasem (lombok), semua kerajaan ini tak pernah sedikitpun dikuasai mataram…akan tetapi mereka mengenal bahasa halus/kromo seperti orang jawa kulon/mentaraman…berarti kesimpulan saya yang lebih tepat…kenapa bahasa halus/kromo sekarang kurang dikenal oleh orang osing, bukan karena belambangan tak kenal bahasa halus, bukan hanya masyarakat belambangan, osing masyarakat yg egaliter saja…tetapi karena masyrakat blambangan yang mengenal bahasa halus/kromo sudah banyak yang gugur, ditawan atau melarikan diri ke P. Bali, atau pulau lain di luar blambangan…soalnya secara logika sederhana saja mataram itu menguasai daerah paling timur hanya sampe blambangan saja ga sampe ke bali dan lombok, kalau memang bahasa kromo/tingkatan bahasa itu di sebarkan oleh mataram untuk menjaga haegomoni mataram…kenapa mengapa masyarakat bali dan lombok mengenal bahasa halus/tingkatan bahasa akan tetapi orang belambangan yang dikuasai mataram malah tidak mengenal tingkatan bahasa kromo…? kalau merujuk jawaban peno iku aneh kedadenane….itu sekali lagi karena orang osing yang tinggal sekarang ini merupakan orang2 rakyat jelata bukan bangsawan belambangan, sisa2 dari puputan2 di palagan blambangan…dan karena bagsawan belambangan sudah banyak yang mati, di tawan di bawa ke mataram u jadi budak (kebiasaan jaman itu=pihak yang kalah diambil harta, istri2, wanita dan anak2 beserta kaum laki2nya untuk dijadikan barang rampasan perang oleh pihak pemenang perang, itu bisa di jadikan pelayan dan diperjualbelikan) dan juga ke luar pulau jawa itu jawabannya yang saya rasa lebih benar.

      • osingkertarajasa  On September 14, 2012 at 5:23 pm

        “seiring adanya Genocida secara systemik terhadap masyarakat Blambangan maka orang2 berpendidikan, orang2 kraton, kota yang memakai bhs jawa kromo musnah” .logikanya .apakah orang blambangan benar benar musnah tanpa bekas /keturunanya….lalu bagaimana dengan pemberontakan rempeg di bayu,bagaimana dengan sisa laskar rempeg yg melarikan diri kehutan..orang blambangankah, bugiskah,?lalu kenapa muncul gandrung lanang sebagai telik sandi ,cikal bakal gandrung sekarang yg masih tetap menggunakan b using…. asumsinya, apakah orang2 berpendidikan pada masa itu harus bangsawan,atau orang kota saja.ataukah orang berpendidikan tidak boleh dari kalangan masyarakat dan harus menggunakan kromo…apakah orangtua/keturunan si pelajar bukan orang blambangan…atau apakah semua orang berpendidikan dan keturunannya dari semua lapisan ini jg musnah TOTAL….
        dan jg yg menggelitik sy, kenapa daerah tempat P tawang alun,agung wilis,rempeg,sayu wiwit sampai sekarang penduduknya masih menggunakan b.using aktif bukan menggunakan bahasa yang lain..

        lalu bagaimana dengan bangsawan mas surongganti keturunane maslego(adikE ptawang alun),maslego duwe anak SURONGGANTI lan SURODILOGO( MBAH KOPEK).makambuyut surongganti ada di gladak dan keturunan beliau masih ada sampai sekarang dan MASIH MENGGUNAKAN BOSO BLAMBANGAN/OSING.

        sebelumera sultan agung krajaan dipulau jawa menggunakan basa kawi..bisa ditelusuri dari keorisilan suku tengger .yg mana awal mula suku tengger adalah pelarian bangsawan dan rakyat majapahit . disini juga tidak mengenal unggah ungguh bahasa seperti juga osing….banyak kesamaan2 bahasa antara tengger vs using misal picis, riko, jebeng,aran ,paran , sufik “aken”dll.selain wong tengger dan using yg tidakmengenal unggah ungguh bahasa yaitu ,tegal,sunda(sebagian),bali(sebagian)

  • chekers  On September 28, 2012 at 1:17 pm

    wong suroboyo asli jg tidak mengenal boso kromo. yg bisa boso kromo paling2 tiyang sepuh atau pendatang dr kota lain

    • EDO  On Oktober 6, 2012 at 12:49 pm

      semua sudah saya jawab…silahkan teliti lagi…..intinya adalah, bahwa ada beberapa kelompok masyarakat indonesia yang menggunakan tingkatan berbahasa dalam berkomunikasi…dan itu memang bukan karena dipengaruhi oleh mataram lho, ini krn memang ada aspek2 sosio-kultural-historikal yang erat saling mempengaruhi serta berperan kuat dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat tersebut semenjak masyarakat itu ada…sehingga merekapun mengenal bahasa halus dan bahasa kasar…contohnya masyarakat bali dan lombok yang tidak pernah diserang dan dikuasai matarampun telah mengenal tingkatan bahasa dalam kehidupan sehari-hari…dan orang-orang ngapak (hanya tertentu dari keturunan ningratnya yang menggunakan bhs halus) yang daerahnya dikuasai mataram tapi justru tidak menggunakan bhs halus (atau saudara katakan sebagai “yang tidak mengenal unggah-ungguh”) trus dimana relevansinya ucapan saudara bahwa dikatakan “mataram menggunakan bahasa halus/unggah-ungguh untuk menjaga haegemoninya’ (?????) jadi bahasa halus ini bukan monopoli mataram tapi memang sudah mengakar dan mendarah daging di sebagian masyarakat indonesia. sunda setahu saya malah kadang-kadang lebih berunggah ungguh dibandingkan jawa…mereka suku bangsa yang hangat dan mampu menjaga perasaan orang…apalagi orang yang dianggap orang tua…mereka selalu menerapkan unggah-ungguh…kalau tentang sunda yang di perkotaan mah…sami oge! biar di jogja dan di solo anak2 mudanya juga dah banyak yang mulai tak mempedulikan unggah-ungguh…bukan hanya osing dan tengger aja

      • osingkertarajasa  On Oktober 9, 2012 at 5:58 am

        kata pengaruh bkn berarti daerah tsb bekas kekuasaan mataram islam.kata pengaruh bisa berarti akibat .yg dikarenakan hub kerj atau perdagangan .dalam arti kata, semenjak era kekuasaan mataram basa halus mulai timbul.coba kita teliti satu persatu bang DARI SUNDA…..spt yg anda utarakan “sunda setahu saya malah kadang-kadang lebih berunggah ungguh”.———justru munculnya b halus di sunda karena akibat kekuasaan mataram..referensi dari mbah wiki….”Bahasa Sunda yang berada di Banten, serta yang berada di daerah Priangan (Garut, Tasikmalaya, Bandung, dll.) memiliki beberapa perbedaan. Mulai dari dialek pengucapannya, sampai beberapa perbedaan pada kata-katanya. Bahasa Sunda di Banten juga umumnya tidak mengenal tingkatan, Bahasa Sunda tersebut masih terlihat memiliki hubungan erat dengan bahasa SUNDA KUNO. Namun oleh mayoritas orang-orang yang berbahasa Sunda yang memiliki tingkatan (Priangan), Bahasa Sunda Banten (Rangkasbitung, Pandeglang) digolongkan sebagai bahasa Sunda kasar
        Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda – terutama di wilayah Parahyangan – mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan…bersambung…

  • osingkertarajasa  On Oktober 9, 2012 at 7:12 am

    2 .BAHASA BALI————–Bahasa Bali Baru dimulai setelah berakhirnya pemakaian Bahasa Bali Tengahan.naskahtertua yang berhasil ditemukan berbahasa Bali Baru adalah naskah geguritanLinggarpeta yang ditulis pada saka 1675 (1751M).tetapi naskah-naskah berbahasa BaliTengahan yang terakhir yang terakhir yang berhasil ditemukan adalah naskah kidungPamancangah yang ditulis oleh Ida Pedanda Gde Rai yang bertahun saka1741(1819M).Pemakaian bahasa Bali Tengahan dan bahasa Bali Baru secara bersamasetidak-tidaknya selama dari tahun 1751 sampai 1819.jadi antara tahun 1751 sampai1819 terjadi transisi pemakain Bahasa Bali Tengahan ke bahasa Bali Baru,dimana diawalabad ke-19 M dapatlah dikatakan era pemakain Bahas Bali Baru di Bali.—–yang mana era abad 17 tsb adalah era kerajaan mataram islam.

    bahasa Bali Baru adalah adanya dalam Bahasa Bali Baru bentuk
    halus bentuk madia,bentuk andap,dan bentukkasar Bahasa BaliHalus
    dilihat dari pesapa dan penyapa dapat dikelompokkan menjadi tigakelompok.*Pertama bahasa Bali
    halus singgih
    dengan penyapa lebih rendah dari pada pesapa:*kedua,bahasa Bali
    halus mider
    dimana penyapa sejajar dengan pesapa,*dan yang terakhir bahasa Bali
    Halus sor digunakan jika penyapa kedudukannya lebihtinggi dari pada pesapa

    3.TENGGER–Tdk ada tingkatan bahsa
    bersambung……..

  • EDO  On Oktober 10, 2012 at 4:08 pm

    lho kok kesana ???? maksud saya mana cerita dan bukti tentang pengaruh dominasi mataram terhadap unggah-ungguh? saya bilang unggah-ungguh itu tak terkait dengan mas alah eksistensi kerajaan mataram islam…unggah-ungguh itu sudah ada sejak lama sebelum mataram islam ada…, janganlah cerita yang kurang esensi. Saudara dalam berbicara tentang ilmu, haruslah obyektif-seimbang… jangan tendensius begitu…seolah-olah hanya mataram yang bertanggungjawab atas segalanya/kerusakan blambangan (terutama tuh yang saudara anggap ttg adanya pembagian tingkatan bahasa). Mataram hebatnya hanya masa sultan agung saja (1613-1645), selesai itu amangkurat I naik tahta dan waktu itu mataram mulai menurun pamornya. bagaimana bisa mempengaruhi bali??? dan untuk masalah sunda, tadinya saya kan hanya mengutip omongan sodara yaitu “selain wong tengger dan using yg tidak mengenal unggah ungguh bahasa yaitu, tegal, sunda (sebagian), bali (sebagian)” . saya bilang sunda itu mengenal unggah ungguh bukan tidak mengenal ungah-ungguh…kalo banten mah itu bukan sunda…itu orang banten…malah mereka sering senang dibilang ada hubungan historis erat dgn orang jawa (sperti pula orang indramayu, cirebon) dibanding dgn orang sunda itu sendiri. saudara bilang sendiri orang tegal gak ngerti unggah-ungguh? kok paradok dengan ucapan saudara yang terdahulu bahwa mataram mengajarkan tingkatan bahasa untuk melanggengkan hegomoninya kepada daerah2 yang ditundukkannya…lha tegal itu bawahan setia dari mataram kok malah amburadul ceritanya ??? surabaya dibawah bayang2 mataram kok malah gak kenal unggah-ungguh…(tambah aneh lagi???) Bali gak mau ada bau2 islam mempengaruhi daerahnya…harusnya pengaruh mataram islam yang NIR…kok saudara malah bercerita tentang 1751-1819 terjadi transisi penggunaan bahasa yang seolah2 MATARAM LAGI-MATARAM LAGI YANG JADI BIANG KEROKNYA…ITU LAH KENAPA SAYA BILANG SAUDARA INI TENDESIUS MENJURUS PREMORDIALIS. HAMPIR-HAMPIR KALO TAK SILAP SAUDARA INI MALAH MATARAM PHOBIA. KALAU DALAM TATARAN ILMU KITA HARUS OBYEKTIF, BIAR KITA TAK IKUT MENANGGUNG DOSA APABILA ADA ORANG YANG TERPENGARUH DENGAN OMONGAN KITA SEHINGGA TIMBUL SENTIMEN NEGATIF MASYARAKAT TTG MATARAM ATAU STEREOTIP BURUK TTG SUATU KELOMPOK ORANG KARENA KITA KOMPORIN.

    • osingkertarajasa  On Oktober 11, 2012 at 10:56 am

      siro wong mentaram tah wyak….knapa harus segan dan malu2 mengatakan mentaram(jare laros “wong kulonan”) sebagai biang kerok/ pada jaman itu.lha era skrg apa yg perlu risaukan dg mentaram. nyantai wyak……saya gak mau terjebak kompor mengompori.mari kita telusuri perjalanan unggah ungguh dgn argumen2 yg ada. n utk menulusuri kebenaran sejarah gak usah takut nyerempet SARA.pernyataan anda” unggah-ungguh itu tak terkait dengan mas alah eksistensi kerajaan mataram islam…unggah-ungguh itu sudah ada sejak lama sebelum mataram islam” kembali ke sunda…..ini bisa jadi memperlihatkan sebuah realitas bahwa urang Sunda (dan Cirebon) merupakan komunitas yang cukup rasional dalam menyikapi kehadiran ajaran baru atau juga bisa dimaknai bahwa Hindu-Budha yang saat itu menjadi “kepercayaan” kerajaan hanya mengakar di lapis penguasa saja dan belum menyentuh lapis bawah atau rakyat kebanyakan sehingga manakala Islam disebarkan secara intensif oleh para tokohnya, urang Sunda (dan Cirebon) sangat terbuka menerimanya.Di tengah derasnya pengaruh Islam di Jawa Barat dalam waktu yang relatif bersamaan, datang pula pengaruh dari budaya Jawa. Budaya Jawa masuk ke Jawa Barat melalui dua cara. Pertama, melalui kegiatan perdagangan, pertanian, dan migrasi di daerah pesisir utara. Kedua, melalui prajurit dan priyayi Mataram semasa terjadinya ekspansi Mataram di Jawa Barat. Kebudayaan Jawa yang dibawa prajurit dan priyayi Mataram merupakan kebudayaan Jawa pedalaman yang sarat dengan nilai-nilai feodal. Dampak dari infiltrasi budaya Jawa di Jawa Barat adalah kentalnya pengaruh budaya feodal Jawa di Jawa Barat, seperti misal sistem unggah-ungguh basa dalam bahasa Jawa keraton muncul dalam bahasa Sunda berupa undak-unduk basa yang mulanya berkembang di pendopo-pendopo kabupaten. Meski berbeda pengucapan dan kalimat antara sunda banten dan sunda priangan namun ttap sunda . bukan berarti beda bahasa, hanya berbeda dialek. spt halnya bahasa Sunda Priangan yang telah terpengaruh dari kerajaan Mataram. Hal itu yang menyebabkan bahasa Sunda Priangan, memiliki beberapa tingakatan.

  • EDO  On Oktober 11, 2012 at 3:26 pm

    aduh…gak usah tanya asal suku lah, terlalu naif…kamu ini jangan rasis pake tanya mentaram/jowo kulon segala…!!! sekarang sudah gak jamannya… !!! Manusia itu pada hakekatnya semuanya sama… yang membedakan hanya ketaqwaannya…kamu membela prinsip yang terlalu mengarah ke kesukuan dan akhirnya ingin meremehkan suku yang lain, dan menonjolkan suku sendiri (kelompok) itu haram …!!! itu akan menimbulkan perpecahan antara ummat islam….toh..kesukuan itu besok di akhirat dapatnya apaan? dapatnya dusta dan dendam serta kesombongan (dalam islam itu namanya …TAASUB atau HISBIYYAH..ini semua hukumnya haramun jiddan) memang ilmu ya ilmu tapi urusan untuk dunia jangan terlalu diberat-beratin lah… akhirnya malah mengkotak-kotakkan masyarakat…kamu nanti diakhirat dimintai pertanggungjawaban atas itu semua….urusan dunia adalah untuk ibadah saja….bukan untuk pamer suku ini… suku itu…apa gak terpikir olehmu untuk membuat tulisan yang mengajak orang untuk saling tidak menghina tetapi saling menghargai…untuk saling bersatu dalam bingkai Nergara Kesatuan Republik Indonesia…!!! aku punya banyak temen sunda dan cirebon ada juga kenalan yang tinggal di indramayu serta punya ipar orang banten… aku dah keliling jawa, sudah ke sulawesi, ke bali, ke ntb, ke ambon…trus kamu gimana? dengan aku pernah berkeliling nusantara itu …maka jiwa kedaerahanku dan kekerdilanku dalam memandang suku yang lain selain suku aku itu sekaligus menganggap suku aku itu hebat…suku lain kurang hebat… itu lambat laun musnah….jadi aku sudah banyak diskusi mengenai suku, budaya dan bahasa bersama mereka…oleh karena itu aku bisa mengatakan orang sunda itu halus…aku hampir tiap hari ketemu ipar banten itu, dia juga cerita mengenai kedekatan emosional banten dan jawa daripada dengan sunda…banten menganggap diri sebagai saudaranya jawa/mentaram. SEBAGAI CATATAN YA….UMUR AKU 40-AN …AKU LAHIR DAN BESAR DI BANYUWANGI DARI KECIL AKU BIASA BERCAKAP2 DENGAN BAHASA OSING , DAN JAWA KULON, AKU JUGA KADANG-KADANG BERBAHASA MADURA DAN BALI DIKIT-DIKIT…BAPAKKU SUDAH 70-AN LAHIR DAN BESAR DI BWI…EMBAHKU JUGA LAHIR BESAR DI BWI..BEGITU JUGA BUYUTKU…APA YANG MEMBUAT KAMU MENGATAKAN AKU BUKAN LAROS…??? JANGAN BIASAKAN ANAK2 KETURUNAN BANYUWANGI DAN INDONESIA UNTUK MELAKUKAN SARKASME …EMANG KALAU AKU ORANG MADURA ATAU ORANG SUNDA YANG TINGGAL DI BWI KAMU KENAPA? MAU MEREMEHKAN? ENAK AJA…EMANG KAMU SIAPA? AKU KASIHTAU YA AKU SUDAH LAMA MENINGGALKAN SIKAP KESUKUAN BEGITU…ITU TIDAK PENTING! BAHKAN MENURUT AGAMA DAN NEGARA KITA…!!! BETUL…MEMANG SAYA TIDAK AKAN MENGHILANGKAN IDENTITAS SAYA SEBAGAI LAROS (SAYA SELALU MENGENALKAN BEGITU SAMA ORANG YG BARU KENAL) TAPI SAYA TIDAK MENGAGUNG-AGUNGKAN SUKU SAYA..SAYA TIDAK MAU MENGULANG KESALAHAN PARA ORANG2 TERDAHULU … YANG SALING BERPERANG DAN BERPECAHBELAH HANYA KARENA SUKU…!!! INGAT !!! SUMPAH PEMUDA (APA KAMU ALERGI MEMBACA DAN MENGAMALKANNYA). INGAT DULU JONG CELEBES, JONG AMBON, JONG JAVA DAN LAIN2 BERIKRAR, BERSATU PADU UNTUK MEMBENTUK SUATU BANGSA BARU DENGAN NAMA INDONESIA…APA KAMU LUPA ATAU INGIN MELUPAKANNYA OLEH KARENA SEMANGAT KEDAERAHANMU YANG KENTAL…? THINK TWICE!!!

  • osingkertarajasa  On Oktober 11, 2012 at 5:18 pm

    suwun ceramah e wyak…..tapi klu dosa biarlah sy tanggung sendiri.—-menelusuri kebenaran sejarah gak usah takut SARA bang,kadang utk melusuri kebenaran sejarah diperlukan kedewasaan berpikir dan bisa membedakan masa lalu dan masa sekarang.bukan kembali masa lalu.klu dlm pikiran anda saya mengajak kembali kemasa lalu memusuhi mataram berarti anda kurang jeli membaca tulisan saya. walau kadang penelusuran tsb nyerempet SARA.coba siro utarakan mana tulisan sy yg mendiskritkan kelompok tertentu biar jelassss……atau mari kita kembali ke pokok bahasan tentang boso alus.klu debat kusir trus kapan sampainya.
    abero tokno,nawi tah ono argumen ato sumber2 bahasan tentang boso alus…..kita ubek2 dulu satu persatu mulai dari bahasa sunda seperti yang sdh sy paparkan……

  • banyuwangi possi  On Maret 11, 2013 at 12:37 pm

    Kadung hing pati ngarti menengo bya’en wes kang…..ojo pati aclak…..eker keran tok podo heng tau weruhe…..kadung duduk wong Banyuwangi mulo rada bengung….. ngomong boso osing bya’en yo serempodyan……heng usah otot ototan pokoke kadung nganggo kromo paran maning kromo kromoan iku duduk basa Osing

  • padangulan  On Maret 19, 2013 at 2:37 am

    adung wong tuwo isun ngomong basa kromo baen, sing masaalah… saben diino iku lare…..!!! kabeh wong osing ring deso isun biiso ngomong boso kromo…adung iro, sing bisa boso kromo mulo siro baen kang buduh!!!ongoh siro kau!

    • osingkertarajasa  On Mei 5, 2013 at 12:45 pm

      apuo celatu kau ….biso lan using boso kromoan yo karepe dewek-dewek wyakk…myane wis hing biso kromoan,mulo ananane gedigi dikapakaen maning…gitu aja kok repot

  • osingkertarajasa  On Maret 20, 2013 at 3:51 pm

    kang hing nganggo kromo moho wong osing been, wong suroboyo asli yo hing ono kromoan, koyo jare man ceker ring nduwurt iku muko,”wong suroboyo asli jg tidak mengenal boso kromo. yg bisa boso kromo paling2 tiyang sepuh atau pendatang dr kota lain. ————dak ring blambangan boso kromoan kang nggowo iku poro guru /pengajar lan biso dipastekaen kang aran gurau anak2 e nganggo boso alus .kang ping pindo digowo ambi ,lare kang buru metau teko pondok pesantren,jare nggo ngormati gurunek,—-yo apik been nganggo kromoan nggo ngormati kang lebih tuwek.

  • dedi  On Juni 24, 2013 at 3:49 pm

    Sampai sekarang didaerahku Bulurejo masih ada mengatakan / menyebut orang Pelit/jahat itu dengan istilah “wong mentaraman”. aku pernah tanya ke kakek ku kenapa orang pelit itu dikatakan wong mentaraman. kakeku tak bisa menjawab dengan jelas. sampe sekarang juga aku masih terbiasa mengatakan orang pelit itu wong mentaraman. aku sebenarnya tergelitik dengan istilah itu dan terus mencari hingga menemukan BLOG ini. .. istilah orang PELIT (medit, putrowali kapsul pecah, wong mentaram) masih saia cari-cari. mungkin ada sedjarah kebencian orang blambangan dengan orang mentaram. sementara orang MENTARAM itu apakah MARATAM atau beberapa desa di jawa timur yang memiliki nama DESA MENTARAM/mataram (contohnya di MALANG ada desa bernama MENTARAM)… bukan rasis atau apa tapi tolong di carikan latar belakang secara ilmiah .. KENAPA ORANG PELIT ITU DIKATAKAN ORANG MENTARAMAN?… yang mau bukti dengan istilah itu bisa survey di banyuwangi selatan (Bulurejo).. sementara sebagian besar orang bwi selatan bukan orang osing…

    • aksa jaya  On Desember 18, 2013 at 11:17 am

      mentaraman adalah sebuah desa atau wilayah yang nota bene penduduknya keturunan pelarian mataram era diponegoro,jadi Malang bukan mataram

  • PAIDI  On Juli 3, 2013 at 8:41 am

    WELEH WELEH UMYEK KAREPE DEWEK LARE2 IKAU HAHAHAHA…LANJUJTKAN!!!

  • aksa jaya  On Desember 18, 2013 at 11:13 am

    Malang bukan mentaraman,dialek nya tidak sama dengan kulonan,jadi wilayah timur kawi juga disebut brang wetan

  • mohdsharifsaliminsodhikeromo  On Januari 16, 2015 at 8:11 am

    waduh mandak puyeng kulo, sak njerone wayah iki piyee yo arep nggolei dulor2 embah kulo seng isek enten tenggrio. Monggo dijelaskan dimana yang patut….

  • arek iki  On Februari 11, 2015 at 3:04 pm

    aku wong mataram,tapi aku cen rodo/luweh setuju karo pendapate bro osingkrtrjs,opo maneh lek ndelok sejarahe mataram cipika cipiki karo londo,soyo isin aku ngakoni mataraman,tapi kan yo ngono dab,kebenaran memang terkadang pahit,lan perkoro boso unggah ungguh kromo inggil tai kucingan iku pancen cen marai wong goblok,wong dadi merasa kerdil ora ilok karo wong tuo masio wong tuo salah,wong cilek sangsoyo ngeroso cilek dengan adanya pengelompokan bahasa2 ini,padahal islam sendiri tidak mengajarkan pengkotak2an kasta,tapi kenapa mataram yg notabene islam justru tidak mencerminkan islam? ah sudahlah seperti halnya hari ini,islam indonesiapun hanya sebatas dikatepe,nong katepe islam ning kelakuan ngungkuli kafer,kafer jahat terang2an lek islam katepe iki jahate nggo bumbu sopan santun,boleh korupsi asal santun,boleh maling asal santun,boleh goblok asal santun,akhirnya yg dipentingkan santunnya dulu instead of substansinya,

  • yawadwipa  On Juni 13, 2016 at 1:53 pm

    isun wes ngerti kabyehhh

    intine kon kabeh iku pengen perubahan,bosen ambi indonesia hang ngene2 byae

    siji onok seng SARA siji onok seng nyalahke suku siji onok seng nyalahke agomo

    intine kabeh podho muak ambi pemerintahan sekarang dan ingin revolusi

    tapi coba lihat sejarah..apa bakal bisa bersatu kerajaan sekelas syailendra,majapahit dll klw orang2nya kayak kalian..kesukuan gitu penuh kebencian..apa mau orang minang,bugis,batak bersatu dibawah majapahit klw orang2 majapahit seperti kalian

    apa mau orang khmer,philiphine,madagaskar “direkso” syailendro yen wong2e syailendro koyok kon kabeh??? mikir ta mikirrrr

    aku yo podo..budreggg mikirke negoro iki…tapi gak ngono carane cak…orak guk nganggo SARA2an lan kebencian…

    den enget biyen kon kabeh..sumatra bali madura kalimantan yawa itu satu daratan

    satu nasib satu kesatuan…jangan lah mau dpecah belah…klw ada yg salah dikoreksi…bukan dibenci…kecuali sudah terlalu parasit…memang harus dibunuh…tapi lek nggowo suku kesukuan gak onok untunge cak

    kabeh suku mesti onok wong jahate onok wong sadune ,,ojok digebyah uyah njukan… ora adil lek ngono…mosok onok wong wadyolit disalahno gak wruh opo2 padahal sing salah rojone duk mbiyen…

    eling ta eling…

    BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN ANA DHARMA MANGRWA

    roto2 wong kene ae gak wruh iki tembung teko ndi..kok wes kemeruh gegayan bacot2an suku…gak ilok sinawangan cak…

    inti kemerosotan moral bangsa ini adalah karena bhs keilmuan musnah
    bhs keilmuan musnah dsini adalah sansekerta…sansekerta ini musnah pas orang2 yawa semua masuk uclim…

    orang klw dah ga ngilmu dan ga bicara ngilmu maka yg lahir dan berkembang akan orang2 bodoh,karena otak mereka tercover dan tak bisa berkembang karena hasrat keilmuannya tak tersalurkan..maka lahirlah generasi yg hanya bisa ikut2an…takut doktrin agama murtat neraka sombong dll

    salamku kanggo melinda varera hang ayu dhewe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: