Kesaktian Orang Blambangan Tak Lekang Oleh Zaman

Oleh: Lutfiati Sekretaris MPPM T.

Jika mendengar nama Blambangan pasti bayangan kita akan langsung tertuju pada kota Banyuwangi. Banyuwangi yang merupakan kota yang terletak di ujung Timur pulau Jawa ini memang identik dengan kerajaan Blambangan. Selain sebagai kota gandrung, Banyuwangi juga terkenal sebagai kota Blambangan karena di yakini sebagai pusat pemerintahanan dan pertahanan terakhir dari kerajaan Blambangan. Sebagai basic pertahanan dan kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa, kerajaan Blambangan sempat lama bertahan dan wilayah kekuasaanya terakhir adalah kabupaten Banyuwangi saat ini. Dalam catatan sejarah luas kekuasaan kerajaan Blambangan ternyata tidak hanya sebatas dari kebupaten Banyuwangi saat ini bahkan lebih luas dan mencakup dari kabupaten lain di sekitar Banyuwangi. Kekuasaan Blambangan mencakup seluruh tanah pedalaman ujung timur Jawa (Graaf & Pigeaud, 2003:217). Ihwla munculnya kerajaan Blambangan tidak terlepas pada kerajaan Majapahit ketika Raden Wijaya membagi tanah Jawa menjadi dua bagian, dan wilayah Blambangan berada dalam kawasan Lamajang tigang Juru. Setelah peperangan Pajarakan dimana Majapahit menyerang Lamajang dan mpu Nambi gugur dalam pertempuran itu, nama Blambangan juga ikut tenggelam. Nama Blambangan muncul kembali pada saat era kepemimpinan Menak Dhahali yang mana dala kisah para Wali 9 dikaitkan dengan asal-usul dari Sunan Giri yang ibunya seorang putrid raja Blambangan. Letaknya yang cukup strategis dan Blambangan sebagai daerah penghasil beras selalu menjadikan daerah ini sebagai incaran oleh daerah-daerah yang lain. Sebut saja kerajaan Demak, Pasuruhan, Mataram Islam dan bahkan Bali yang selalu berusaha meluaskan pengaruhnya ke arah barat juga selalu mengincar Blambangan. Usaha Demak dalam menyerang Blambangan mengalami kegagalan, Sultan Trenggono pun yang mempimpin langsung penyerangan ke Blambangan menemui ajalnya di Panarukan. Mataram Islam pun di bawah kekuasaan Sultan Agung tidak sepenuhnya bisa menundukan Blambangan. Serangan pertama pada tahun 1635 tidak sepenuhnya membuat Blambangan tunduk terhadap Mataram pada tahun 1637 Blambangan mampu bangkit dan melakukan perlawanan, hal ini memaksa Sultan Agung untuk mengirimkan pasukannya kembali pada tahun 1639. Pada serangan kedua ini Sultan Agung memberikan tugas bahwa nantinya penguasa Blambangan serta penduduk Blambangan baik laki-laki maupun perempuan harus di boyong ke Mataram, hal itu sengaja dilakukan untuk menghindari perlawanan Blambangan lagi. Kedatangan penduduk boyongan dari Blambangan ini memberi warna tersendiri di ibukota Mataram, bagi orang-orang Mataram penduduk Blambangan disebut sebagai orang –orang pinggir hal ini karena memang letaknya yang berasal dari paling ujung pulau Jawa. Sultan Agung yang terkesan oleh keberanian orang-orang dari Blambangan membentuk satu pasukan khusus yang berasal dari tawanan perang Blambangan dan di beri nama prajurit Blambangan. Di sisi lain nasib tragis harus diterima oleh prajurit Blambangan pasalnya mereka sering dijadikan bahan percobaan dalam buatan senjata-senjata baru, konon senjata baru itu bisa dikatakan bagus jika berhasil menusuk mati orang Blambangan. Orang-orang Blambangan pada saat itu menjadi tolak ukur sebuah kesaktian. Tidak hanya pada era Sultan Agung saja, prajurit Blambangan menjadi percobaan senjata tetapi juga berkelanjutan terhadap era sesudah Sultan Agung, akan tetapi orang-orang Blambangan di era iu sudah tidak sesakti para pendahulunya sehingga banyak diantaranya yang meninggal. Tidak hanya kaum lelakinya saja yang mendapat perhatian khusus, wanita-wanita Blambangan juga dipercaya menjadi inang-inang bagi putera dan Puteri raja. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa air susu mereka berwarna kebiru-biruan dan dianggap sangat menyehatkan sekali (Moertono, 1985:158). Sisa-sisa kesaktian orang-orang Blambangan saat ini masih bisa dilihat dari tanah asalnya sebuat saja Banyuwangi yang sampai detik ini masih terkenal dengan tradisi mantra Osing yang masih disegani banyak orang, bahkan isu santet yang berkembang di Banyuwangi di era 1990an menunjukan bahwa memang orang-orang Blambangan masih mewarisi kesaktian dari nenek moyangnya. Sudah menjadi rahasia umu dikalangan masayrakat ujung timur Jawa bahwa jika sudah mendengar nama Banyuwangi maka stigmanya langsung tertuju pada tradisi mantra-mantra osing yang dimiliki oleh orang-oarang dari Banyuwangi yang merupakan keturunan terakhir dari orang-orang Blambangan.

Komentar

  • EDO  On April 28, 2012 at 10:10 pm

    gobyab

    • osingkertarajasa  On April 29, 2012 at 8:48 am

      jehh….kari heng percoyoan yahh…

      • EDO  On Oktober 10, 2012 at 11:46 pm

        hang bisa santet, tenung, mantra2 ikau…hing wong banyuwangi bewen …wong banten, wong plembang, batak, karo, minang, melayu, gayo, aceh, gunung kidul, jember, solo, jogja, probolinggo, p. madure.bali, lombok, sumbawa, flores, sumba, alor, timor, maluku, sulawesi (bugis, goa, kaili, tator, luwuk, pamona, gorontalo, buton, minahasa) dayak, banjar….dll. ..iyo mulo weh saket bengen penter2 sihire…jangan seperti pepatah KATAK DALAM TEMPURUNG – LAH.

      • osingkertarajasa  On Oktober 12, 2012 at 11:30 am

        nyantai wyak ……kari srensritif yah…haha.klu santet menyantet/merah dan kuning.tahun 70 lare sd wes podo paham,mbuh saikai……monggone di adu yuh…dedengkot suwuk using ambi dedengkot suwuk kang lionek…

  • osingkertarajasa  On Oktober 12, 2012 at 11:32 am

    siro lare bwi ndi wyak?

    • Olron lare Using  On Februari 15, 2013 at 2:22 am

      Kadung isun duwe prinsip “The Best is my Country” hang paling apik yo mung neghoro/daerah isun yo banyuwangi yo belambangan, masio podho-ppdho duwe santet tapi yoro bidho ampuh’e, yoro iyi wyak ????!!

  • olron lare osing  On Februari 21, 2013 at 7:53 am

    Byah buyut isun hang teko bapak iku asli wong Cluring, kadung byah buyut teko mak iku asli wong Benculuk, dadine 100 % getih hang mili ono njerone awak isun iki asli getih belambangan, tapi masio saiki isun wis 23 tahun lawase ono ring tlatah kalimantan (balikpapan), tapi kadong kuping iki krungu gending belambangan byeh ,,,,, rasane ati koyo “kemrungsung” koyo byanyu hang gemulyak. NASIONALISME TIDAK BERARTI KATAK DALAM TEMPURUNG !!!

    • joyowiseso  On Mei 30, 2013 at 3:46 am

      podo biaen ambi isen dolor…. masio isen orip ono suroboyo tapi ati nisen tetep ono nang tanah kelairan isen , blambangan. jenggirat tangi …. dolor..

    • jago teko wetan  On September 23, 2013 at 10:40 am

      he..ary..hahahahah..kari gedigu yooo..

  • Agus Laros Jajag  On Juni 7, 2013 at 5:04 am

    byek kari rame kadhung ngomongaken santet, ojo pathi rame-rame mengko malah di tiru ambi daerah liane kang…
    mbah buyut isun asli tekan jajag dadine getih hang mili ono rogo isun asli getih wong osing. I LOVE BANYUWANGI…….

  • frans  On Juli 10, 2013 at 12:55 am

    isun wes merantau 8 tahun dan kuliah dibanyuwangi tetapi persatan org banyuwangii gk kn luntuur, karena magehh podo kuat persaudaraanya………pengen moleh neg banyuwangi maneng kota kelahiran isun

  • frans  On Juli 10, 2013 at 2:05 am

    beeeek saikiii blimbing sarii wes ono bandara perintise,klendiii yooo kabare dolor 2 isun kang reng banyuwangiii lan koncooo22 kabeh lare banyuwangiiiiiiiiiii….arane baen banyuwangiiiii,kang mestiiiiii wonge kudu wangiiii utowo apik atineee

  • ferry kurniawan  On September 18, 2013 at 6:11 am

    kadung isun nanggapine biasa baen,masio ta sun iki wong osing…

  • andriansyah  On November 25, 2013 at 4:55 am

    nggedobos baen bapak2 iki, wes ndang kumbahane di entasi,,

  • ikhsan  On Desember 24, 2013 at 4:03 am

    ampurayang, titiang jagi nyelang margi

  • chickocuy9  On Maret 18, 2014 at 3:38 pm

    santet; slm satu tekat banyuwangi
    .JURUS HALUS, BIKIN MAMPUS

    .. kadung isun laros, siro arep paran ?

  • putra sakerah  On Agustus 11, 2016 at 4:51 pm

    Banyuwangi is the best,mantep cak salam teko pasuruan🙌

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: