Category Archives: Sejarah

OESINGERS

LAPORAN teko KONGRES INSTITUTE OF JAVA
Surabaya 23-27 September 1926



“Nama Oesingers (Orang-orang Using) pada kelompok di Ujung Timur Jawa ini diberikan oleh imigran berdasarkan KATA BANTAHAN.
“Oesing” atau “Sing” yang berarti “tidak” atau “tidak”. Mereka menyebut diri mereka “Jawa Yang Sebenarnya.” Lebih tepatnya, mereka disebut dengan ” Blambangers “( Orang-orang Blambangan).”

 

OSING

BLAMBANGAN– BALI– JAWA

BLAMBANGAN– BALI– JAWA
masih ada keraguan dikalangan tertentu siapa sejatinya wong osing,kalau ditelusuri lebih jauh osing adalah evolusi wong blambangan yg sekarang berganti julukan “wong osing”.tidak ada yg salah dgn kata osing.meskipun sebatas julukan ,tetapi sangat berarti untuk estafet sisa sisa blambangan.
ada beberapa kosakata bahasa yg menguatkan…

SANSEKERTA – OSING(blambangan)
1.mamud(sansekerta)—mamud (osing)= musnah
2. aglis (sansekerta)—gelis (osing)=cepat
3. agul-agul(s)—-anggul anggul (o)= kebanggaan
4. agyat—giat = rajin
5. aki—-kakik = kakek
6. aluk—– aluk = lebih baik
7. among—mung = hanya
8.anapi (s)—-naping(o) =tapi
9. ancik(s)—-ancik(o) = tumpang
10. ancas : tujuan, maksud; ngancas : memintas jalan( sansekerta) ———-ancas= mengancam utk mencapai tujuan(osing)
11. mancad—–mancad-pancad = injak
12 mandene—mandeneo = alangkah ,andaikan
13. omprot—–momprot = bertaburan
14 suwak(s)—–suwak(o) = robek,rusak
15 keduhung—–keduhung = menyesal
16.jonggrang—jongglang= besar,tinggi
gipih (sansekerta)—-gopoh(osing) = tergopoh-gopoh
imuk (sansekarta)—–imuk(osing) = amuk
ingkang (sansekerta)—-kang(osing)= yang
ingsun (sansk)——isun((osing) = saya, aku
yaiku (s)—–yaiku(o) = yaitu
emung (s)—–mung(o) =hanya, Cuma
gépor s)——–empor(o) =lelah kaki, lunglai
kebek (s)——-kebek(o) = penuh sekali
kelir (s)—-kelir(o) = 1 kelir, layar, tirai; 2 warna
koclak (SANSEKERTA)—-koNclak (osing)=bergoyang, tidak penuh
krana (s)—–kerono(o) =karena, sebab
kadi (s)——kadine (o)= seperti
kadug (s) ——GADUG(O)= sampai, dapat mencapai
kaju, kajo (S)——-kaju,kajon(o) =heran, tercengang
karut (s)——–larut (o) = hanyut
kontab(sansekerta)——-montab(osing)= bangkit amarahnya, tersulut
dll……..

lidah wong osing/blambangan terasa berat ,
yg berkenaan dengan huruf W,Y. ..seperti jg boso sansekerta
KULWON -Barat
JUWAL-Jual
JUWARA -juara
KAGYAT kaget
GANTYA ganti
GANTYAN- bergantian
AKWEH banyak
ENYANG -berangkat
AGYAT -giat
BIYASA biasa
APYU api
BUWAYA buaya
CIYUT sempit
DWAYA-dua
ENYA-ambilah
RASWA- rasa
RIYAK -riak
RIYUH -riuh
SADHIYA sedia
SAMPYAN engkau
DYARINI bidan
SETYA setia
SIYA sia
MULYA mulia
MUBYAR nyala
MURWAT kuat
OBYOR nyala
PITUWAH pituah,nasehat
PRAMUKYA pramuka
SAMPYUH mati bersama
SENADYAN walau
SUWARGA surga
SWARA suara
blambuwangan
dll

JAWA – BLAMBANGAN (osing)
le _lek
bedo_bido
maneh_maning
dewe_dewek
tuwo_tuwek
resik_rijig
iyo mbok menowo _iyo nawaii..
Ingsun – Isun
Cendak – Cendek
Ceblok-tebluk
Ceklek-tokleh
Ngguyu-gemuyu
Nang – Nyang
Rene – Merene
Rono – Merono
Dekek – Deleh
Jupuk – juwut
Sedelo – sedilut
Wae – baen
Kepiye, kepriben – kelendi
Kenopo, opo o – apuwo
sawat-srawat
maneh-maning
iler-elur
iluh-eluh
njungkel (nyosor)-njongor
sepedah-sepidah
menowo/menawi-nawai
dll……………

BLAMBANGAN- BALI
osing–tusing
bojog- bojog…

salamun wataslimun
talam watase limun

Rofik laros

BLAMBANGAN = OSING

SISA –SISA LASKAR BLAMBANGAN 2

WONG OSING ADALAH WONG BLAMBANGAN

Perjalanan sejarah tidak bisa di belokan .walau pembelokan sejarah/pembunuhan karat er terus mengrogoti.Using adalah sebutan orang luar yang tidak Tahu sebenarnya siapa sebenarnya masyarakat ini…Kalau diselidiki kembali kebelakang menelaah sejarah yang terjadi .
Novi Anoegrajekti, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember, dalam pengantar novel Kerudung Santet Gandrung, punya pendapat menarik tentang bahasa Osing. Masyarakat Osing adalah masyarakat Blambangan, sebuah kerajaan kecil di ujung timur pulau Jawa yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Penyerbuan terus-menerus oleh Majapahit membuat masyarakat Osing cenderung defensif, mengisolasi diri dari pengaruh luar. Dan itulah potensi oposisi terhadap orang-orang Jawa Kulon.
Sikap oposisi ini diwujudkan dalam bentuk sosio-kultural. Masyarakat Osing enggan mengidentifikasi diri sebagai orang Jawa. Mereka menegaskan identitas diri yang berbeda. Salah satunya, “Menggunakan bahasa Osing,” kata Novi. Selain itu, muncul kesenian gandrung yang sebenarnya mirip tayub dan ronggeng di Jawa Tengah. “Ini contoh mereka menegaskan identitas dirinya,” katanya.
Istilah Osing sendiri berasal dari kata sing atau hing, yang berarti “tidak”. Menurut Novi, penduduk “asli” Banyuwangi yang menolak hidup bersama pendatang dari luar, sikap defensif ini buah dari trauma psikologi penyerbuan orang-orang Majapahit ke Kerajaan Blambangan. Penegasan identitas diri itu melahirkan bahasa, tradisi, dan pranata sosial yang berbeda dengan masyarakat Jawa kebanyakan.
Bahasa Osing pernah mencapai masa kejayaan ketika Prabu Tawang Alun (1655-1691) menjadi penguasa Kerajaan Blambangan. Pada 1743, Blambangan harus berada di ketiak VOC gara-gara Pakubuwono II menyerahkan Jawa Bagian Timur kepada VOC.

tidak bisa dipungkiri lagi wong osing adalah sisa wong blambangan.yang masih ada.sebutan wong blambangan bisa kita telusuri dari sejarah tawang alun.sampai Pemberontakan Rempeg jogopati.dimana tawang alun adlah seorang raja besar yang mempunya banyak selir.yang menurunkan tokoh-tokoh blambangan.
Sejarah penguat kanapa wong osing adalah sisa wong blambangan bisa dilihat dari perjalanan sejarah ;

1. sinuhun tawang alun yang mendirikan kerajaan di daerah hutan Sudiamara atau daerah macan putih.daerah tsb berada di wilayah kec kabat.sampai sekarang penduduknya masih penutur bahasa osing.

2. Pemberontakan Rempeg jogopati terkonsentrasi di daerah bayu,songgon.(songgon terletak di kec songgon.dan sampai sekarang masih penutur aktif osing)

3. Pemberontakan wong Agung Willis di banyuwangi.sampai sekarang kota banyuwangi masih banyak pengguna osing aktif

4. Sayu Wiwit yang di tugaskan Rempeg Jogopati menghadang belanda di jember,sampai sekarang menyisakan sebagian masyarakat daerah jember masih menggunakan bahasa osing.yaitu daerah puger.. ……………….

5. Banyaknya nama-nama desa padawaktu pemberontakan Rempeg Jogopati (yang tercantum dalam Babad blambangan)sampai sekarang nama desa tsb masih dipakai dan ada.

6. Susuhunan Tawang Alun yang Nota bene adalah raja blambangan terakhir, melahirkan/mempunyai hubungan keluarga tokoh-tokoh seperti agung wilis,Rempeg Jogopati.

7. Bersambung……………..

Fakta penguat .

1 Traumatik terhadap Kerajaan Majapahit.
Didasari dari pengalaman traumatik terhadap kerajaan Majapahit, masyarakat Using atau Blambangan menutup diri dari pengaruh Jawa. Akibat serangan kerajaan Majapahit yang terus menerus terhadap mereka, membentuk sikap antipati terhadap segala yang identik dengan Majapahit atau Jawa. Ada keinginan dari diri mereka sendiri untuk berkata tidak, dan mengembangkan sebuah bahasa dan budaya sendiri yang berbeda dari tetangga mereka di sebelah barat. Di sinilah terlihat bagaimana sikap isolatif dapat menyebabkan sebuah variasi bahasa yang berbeda dengan sekitarnya. Ada faktor historis yang membentuk sikap seperti ini.

2.Keadaan Geografis yang isolatif.
Secara geografis, wilayah Using Banyuwangi memang agak terisolasi, yaitu tertutup oleh pegunungan Ijen dan raung di sebelah utara, Selat Bali disebelah timur, dan Pesisir Selatan Pantai Selatan di sebelah selatan. Keadaan ini sudah barang tentu menyebabkan frekuensi interaksi sosial suku Using dengan masyarakat di luar tidak terlalu tinggi. Selain karena faktor historis yang sudah dijelaskan sebelumnya, ketertutupan ini membuat bahasa Using yang sama-sama berakar dari bahasa Jawa Kuno, memiliki pembeda bila dibandingkan dengan bahasa Jawa atau Bali. Ada interaksi yang lebih intensif sesama orang Using daripada keluar masyarakat Using. Hal ini menyebabkan masyarakatnya cenderung untuk mengembangkan ciri khasnya sendiri, bukan meniru atau mengadaptasi pengaruh luar. Selain itu, fakta masih adanya kata Maning atau Riko yang merupakan kata asli dari Bahasa Jawa Kuno, menegaskan keadaan isolatif yang mereduksi masyarakat Using dari pengaruh luar.

3. Keinginan untuk Memiliki Identitas.
Faktor sosial inilah yang paling menentukan dalam pencirian Bahasa Using terhadap Bahasa Jawa pada khususnya. Orang Using tidak ingin diidentifikasikan sama dengan orang Jawa atau Majapahit yang secara historis ada relasi tidak baik sebelumnya. Berangkat dari prestige inilah, ada kecenderungan orang Using untuk membentuk identitasnya sendiri. Salah satunya adalah dengan mengembangkan Bahasa Using yang berbeda dengan Bahasa Jawa pada umumnya. Dengan ciri khas Bahasa Using pada pengucapan kosakata Using yang mayoritas mirip dengan Bahasa Jawa, seolah-olah masyarakat Using ingin menyatakan bahwa mereka bukan orang Jawa, dan mereka ini adalah orang Using Banyuwangi.

4. Bahasa sendiri.
Sejarah wong Using atau Osing kabupaten Banyuwangi tidak bisa dipisahkan dari sejarah kerajaan majapahit. Masyarakat Using hakikatnya adalah keturunan dari kerajaan Blambangan yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Kata using sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno Sing atau Hing yang artinya tidak. Sebutan ini menurut Dosen fakultas Sastra Universitas Jember Novi Anoegrajekti(dalam Majalah Tempo on-line, http://www.tempointeraktif.com, mengacu pada pengalaman traumatik masyarakat Blambangan akibat serangan kerajaan Majapahit yang terus-menerus,pemberontakan Rempeg Jogopati, Pengalaman ini mengakibatkan sikap defensif masyarakat Using terhadap orang Majapahit, sehingga kata Using yang berarti tidak itu tercetus. Ada sikap antipati dari orang Blambangan terhadap masyarakat Jawa Kulon yang berbahasa Jawa mataraman itu. Pernyataan ini diperkuat dengan penelitian Prof. Dr. Suparman Heru Santosa yang telah mengadakan uji linguistik terhadap bahasa Using. Dari penelitian Prof. Suparman, disimpulkan bahwa Bahasa Using merupakan dialeg dari bahasa Jawa Kuno. Jadi sama dengan Sunda, atau Bali..
Using bukan istilah yang dipakai untuk menyebut penduduk keseluruhan Kabupaten Banyuwangi. Suku orang orang Using terdapat hanya di bagian tengah dan bagian utara Kabupaten Banyuwangi, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon.Dari ciri vonologis bahasa, dapat terlihat perbedaan dengan pengucapan dalam Bahasa Jawa modern. Meski ada kesamaan secara kosakata, namun cara pengucapan yang berbeda terkadang membuat orang yang biasa berbahasa Jawa tak mengerti ketika mendengar ucapan dalam Bahasa Using (Priantono, 2005). Perbedaan inilah yang menjadi salah satu penciri Bahasa Using dari Bahasa Jawa. Meski sama-sama berasal dari akar Bahasa Jawa Kuna, ada perbedaan yang menghasilkan Bahasa Using sebagai bahasa yang berdiri sendiri.
Dalam teknis penggunaan, pilihan varian dapat digunakan oleh penutur Bahasa Jawa untuk mengidentifikasi status sosial mereka. Ketika digunakan varian bahasa yang semakin tinggi, maka hal tersebut mengindikasikan status sosial yang semakin tinggi pula. Dari sini terlihat jelas perbedaan register antara Bahasa Jawa dan Using. Jika Bahasa Jawa mendasarkan pada status sosial, sedangkan Bahasa Using didasari pada fungsi okasional.
Kosakata Bahasa Using berakar langsung dari bahasa Jawa Kuna, dimana banyak kata-kata kuna masih ditemukan disana, disamping itu, pengaruh Bahasa Bali juga sedikit signifikan terlihat dalam bahasa ini. Seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet). Lebih jauh lagi, ada pula kata seperti maning yang biasanya kita dengar di penduduk daerah Tegal. Kata tersebut merupakan salah satu kata asli dari Bahasa Jawa Kuna yang masih dipergunakan sampai sekarang di masyrakat Using. Sehingga demikian, menurut Bambang Priantono (dalam blognya di http://bambangpriantono.multiply.com/, diunduh pada 21 Maret 2010 jam 19:30 WIB) daerah seperti Banten, Cirebon, Tegal, Tengger, Banyumas, dan Banyuwangi adalah sisa-sisa Bahasa Jawa yang masih kuno dan masih tersimpan di dalamnya kosakata Jawa Kuna.Ciri khas lain dari bahasa Using adalah dalam gaya penggunaan. Tidak seperti Bahasa Jawa yang mengenal unggah-unggahan bahasa seperti Ngoko, Kromo, dan seterusnya, Dalam Bahasa Using tidak ditemukan hal serupa. Yang ada hanya gaya bahasa berbeda untuk situasi yang berbeda, bukan karena status sosial. Selain itu, ada pula perbedaan penggunaan pronomina (kata sapaan) untuk orang dengan umur atau kedudukan yang berbeda, sekali lagi bukan karena status sosialnya.

Klendi wyak………………
Oleh ;Osing.k/Rofik laros

Menyingkap Sejarah Konspirasi Australia – Belanda di Indonesia

Pemberian Temporary Protection Visa (TPV), atau Visa perlindungan Sementara oleh Pemerintah Australia kepada 42 orang warga Papua Barat, telah menimbulkan reaksi yang sangat kuat dari Indonesia.
Bila menengok sejarah hubungan Indonesia-Australia dari tahun 1945 sampai sekarang, akan terlihat, bahwa sejak awal pembentukan Republik Indonesia, Pemerintah Australia menunjukkan sikap yang sangat tidak bersahabat dengan Republik Indonesia. Baca lebih lanjut

TAMBORA & NAPOLEON

Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa. Lebih dari itu, nun jauh di daratan Eropa, tepatnya di Belgia, pasukan tentara di bawah komando penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte harus bertekuk lutut di tangan Inggris dan Prussia.
Ya, tiga hari setelah Tambora meletus dahsyat, tepatnya pada 18 Juni 1815, pasukan Napolean terjebak musuh. Pasalnya, di sepanjang hari itu cuaca memburuk. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut. Padahal, tentara Prancis itu sedang menuju laga pertempuran. Baca lebih lanjut

MELACAK NASKAH-NASKAH BANTEN

Oleh: Edi S. Ekadjati
Agar tidak terjadi salah pemahaman tentang pengertian naskah yang dikaitkan dengan pengertian naskah dewasa ini secara umum, kiranya terlebih dahulu perlu dikemukakan mengenai definisi naskah dalam pembicaraan kita ini. Yang dimaksud dengan naskah dalam pembicaraan ini adalah karya tulis yang dibuat langsung oleh alat tulis dan tangan, tidak melalui alat tulis mekanik, seperti mesin tik, mesin cetak, komputer.

Penulisan naskah dimaksud dilakukan pada masa lalu, tatkala alat tulis mekanik belum ada dan belum meluas penggunaannya. Di Tatar Sunda, termasuk wilayah Banten, naskah dibuat sejak masih hidupnya Kerajaan Sunda (akhir abad ke-7 hingga akhir abad ke-16) dan baru berakhir menjelang akhir abad ke-20. Baca lebih lanjut

MENELUSURI JEJAK KERAJAAN PADANGGUNI

Berdasarkan tarikh masehi berdirinya kerjaaan ini, maka tidak heran jika banyak kalangan meyakini bahwa Padangguni adalah Kerajaan Prasejarah Tertua di Indonesia, lebih dahulu ada dibandingkan Kerajaan Kutai yang muncul pada abad ke-4.

Pewarta-Indonesia, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itulah salah satu topik pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno yang amat popoler dan masih menjadi acuan politik pemerintah maupun rakyat hingga saat ini, Jasmerah! Sejarah memang selalu jadi legenda nyata yang akan mempengaruhi kehidupan manusia, juga perjalanan hidup suatu bangsa. Tidak ada satupun bangsa atau negara di dunia ini yang steril dari kisah sejarah masa lampau bangsa atau negara itu. Heroisme yang dipertontonkan generasi masa lalu akan terefleksi dalam setiap gerak hidup generasi penerusnya. “Nenek moyangku orang pelaut…” sebuah ungkapan nyanyian anak-anak yang menjadi cerminan kebesaran dan kedigdayaan bangsa Indonesia di masa lampau, yang terwariskan mempengaruhi sejarah kehidupan mayoritas masyarakat sepanjang pantai di kepulauan Indonesia saat ini. Bangsa besar lahir dari sejarah kebangsaan yang besar pula. Baca lebih lanjut

Kerajaan Kanjuruhan

Pada Jaman dahulu, ketika Pulau Jawa diperintah oleh raja-raja yang tersebar di daerah-daerah. Raja Purnawarman memerintah di Kerajaan Tarumanegara; Putri Sima memerintah di Kerajaan Holing; dan Raja Sanjaya memerintah di Kerajaan Mataram Kuna. Di Jawa Timur terdapat pula sebuah kerajaan yang aman dan makmur. Kerajaan itu berada di daerah Malang sekarang, diantara Sungai Brantas dan Sungai Metro, di dataran yang sekarang bernama Dinoyo, Merjosari, Tlogomas, dan Ketawanggede Kecamatan Lowokwaru. Kerajaan itu bernama Kanjuruhan.

Kerajaan Kanjuruhan diduga telah berdiri pada abad ke-6 Masehi (masih sezaman dengan Kerajaan Taruma di sekitar Bekasi dan Bogor sekarang). Kanjuruhan adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yang pusatnya berada di dekat Kota Malang sekarang. Bukti tertulis mengenai kerajaan ini adalah Prasasti Dinoyo. Rajanya yang terkenal adalah Gajayana. Peninggalan lainnya adalah Candi Badut dan Candi Wurung.

Bagaimana Kerajaan Kanjuruhan itu bisa berada dan berdiri di lembah antara Sungai Brantas dan Sungai Metro di lereng sebelah timur Gunung Kawi, yang jauh dari jalur perdagangan pantai atau laut? Kita tentunya ingat bahwa pedalaman Pulau Jawa terkenal dengan daerah agraris, dan di daerah agraris semacam itulah muncul pusat-pusat aktivitas kelompok masyarakat yang berkembang menjadi pusat pemerintahan. Rupa-rupanya sejak awal abad masehi, agama Hindu dan Budha yang menyebar di seluruh kepulauan Indonesia bagian barat dan tengah, pada sekitar abad ke VI dan VII M sampai pula di daerah pedalaman Jawa bagian timur, antara lain Malang. Karena Malang-lah kita mendapati bukti-bukti tertua tentang adanya aktivitas pemerintahan kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa bagian timur.

Bukti itu adalah prasasti Dinoyo yang ditulis pada tahun 682 saka atau kalau dijadikan tahun masehi ditambah 78 tahun, sehingga bertepatan dengan tahun 760 M. Disebutkan seorang raja yang bernama Dewa Sinta, memerintah keratonnya yang amat besar yang disucikan oleh api Sang Siwa. Raja Dewa Sinta mempunyai putra bernama Liswa, yang setelah memerintah menggantikan ayahnya menjadi raja bergelar Gajayana. Pada masa pemerintahan Raja Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan berkembang pesat, baik pemerintahan, sosial, ekonomi maupun seni budayanya. Dengan sekalian para pembesar negeri dan segenap rakyatnya, Raja Gajayana membuat tempat suci pemujaan yang sangat bagus guna memuliakan Resi Agastya. Sang raja juga menyuruh membuat arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Resi Agastya yang dibuat dari kayu oleh nenek Raja Gajayana.

Dibawah pemerintahan Raja Gajayana, rakyat merasa aman dan terlindungi. Kekuasaan kerajaan meliputi daerah lereng timur dan barat Gunung Kawi. Ke utara hingga pesisir laut Jawa. Keamanan negeri terjamin. Tidak ada peperangan. Jarang terjadi pencurian dan perampokan, karena raja selalu bertindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan demikian rakyat hidup aman, tenteram, dan terhindar dari malapetaka.

Raja Gajayana hanya mempunyai seorang putri, yang oleh ayahanda diberi nama Uttejana. Seorang putri kerajaan pewaris tahta Kerajaan Kanjuruhan. Ketika dewasa, ia dijodohkan dengan seorang pangeran dari Paradeh bernama Pangeran Jananiya. Akhirnya Pangeran Jananiya bersama Permaisuri Uttejana, memerintah kerajaan warisan ayahnya ketika sang Raja Gajayana mangkat. Seperti leluhur-leluhurnya, mereka berdua memerintah dengan penuh keadilan. Rakyat Kanjuruhan semakin mencintai rajanya Demikianlah, secara turun-temurun Kerajaan Kanjuruhan diperintah oleh raja-raja keturunan Raja Dewa Simha. Semua raja itu terkenal akan kebijaksanaannya, keadilan, serta kemurahan hatinya.

Pada sekitar tahun 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuna di Jawa Tengah diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu. Raja ini terkenal adil dan bijaksana. Dibawah pemerintahannyalah Kerajaan Mataram berkembang pesat, kekuasaannya sangat besar. Ia disegani oleh raja-raja lain diseluruh Pulau Jawa. Keinginan untuk memperluas wilayah Kerajaan Mataram Kuna selalu terlaksana, baik melalui penaklukan maupun persahabatan. Kerajaan Mataram Kuna terkenal di seluruh Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara. Wilayahnya luas, kekuasaannya besar, tentaranya kuat, dan penduduknya sangat banyak.

Perluasan Kerajaan Mataram Kuna itu sampai pula ke Pulau Jawa bagian timur. Tidak ada bukti atau tanda bahwa terjadi penaklukan dengan peperangan antara Kerajaan Mataram Kuna dengan Kerajaan Kanjuruhan. Ketika Kerajaan Mataram Kuna diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, raja Kerajaan Kanjuruhan menyumbangkan sebuah bangunan candi perwara (pengiring) di komplek Candi Prambanan yang dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan tahun 856 M (dulu bernama “Siwa Greha”). Candi pengiring (perwara) itu ditempatkan pada deretan sebelah timur, tepatnya di sudut tenggara. Kegiatan pembangunan semacam itu merupakan suatu kebiasaan bagi raja-raja daerah kepada pemerintah pusat. Maksudnya agar hubungan kerajaan pusat dan kerajaan di daerah selalu terjalin dan bertambah erat.

Kerajaan Kanjuruhan saat itu praktis dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuna. Walaupun demikian Kerajaan Kanjuruhan tetap memerintah di daerahnya. Hanya setiap tahun harus melapor ke pemerintahan pusat. Di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuna jaman Raja Balitung, raja Kerajaan Kanjuruhan lebih dikenal dengan sebutan Rakryan Kanuruhan, artinya “Penguasa daerah” di Kanuruhan. Kanuruhan sendiri rupa-rupanya perubahan bunyi dari Kanjuruhan. Karena sebagai raja daerah, maka kekuasaan seorang raja daerah tidak seluas ketika menjadi kerajaan yang berdiri sendiri seperti ketika didirikan oleh nenek moyangnya dulu. Kekuasaaan raja daerah di Kanuruhan dapat diketahui waktu itu adalah daerah lereng timur Gunung Kawi.

Daerah kekuasaan Rakryan Kanuruhan watak Kanuruhan. Watak adalah suatu wilayah yang luas, yang membawahi berpuluh-puluh wanua (desa). Jadi mungkin daerah watak itu dapat ditentukan hampir sama setingkat kabupaten. Dengan demikian Watak Kanuruhan membawahi wanua-wanua (desa-desa) yang terhampar seluas lereng sebelah timur Gunung Kawi sampai lereng barat Pegunungan Tengger-Semeru ke selatan hingga pantai selatan Pulau Jawa.

Dari sekian data nama-nama desa (wanua) yang berada di wilayah (watak) Kanuruhan menurut sumber tertulis berupa prasasti yang ditemukan disekitar Malang adalah sebagai berikut :

  1. daerah Balingawan (sekarang Desa Mangliawan Kecamatan Pakis),
  2. daerah Turryan (sekarang Desa Turen Kecamatan Turen),
  3. daerah Tugaran (sekarang Dukuh Tegaron Kelurahan Lesanpuro),
  4. daerah Kabalon (sekarang Dukuh Kabalon Cemarakandang),
  5. daerah Panawijyan (sekarang Kelurahan Palowijen Kecamatan Blimbing,
  6. daerah Bunulrejo (yang dulu bukan bernama Desa Bunulrejo pada jaman Kerajaan Kanuruhan),
  7. dan daerah-daerah di sekitar Malang barat seperti : Wurandungan (sekarang Dukuh Kelandungan – Landungsari), Karuman, Merjosari, Dinoyo, Ketawanggede, yang di dalam beberapa prasasti disebut-sebut sebagai daerah tempat gugusan kahyangan (bangunan candi) di dalam wilayah/kota Kanuruhan.

Demikianlah daerah-daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Rakryan Kanuruhan. Dapat dikatakan mulai dari daerah Landungsari (barat), Palowijen (utara), Pakis (timur), Turen (selatan). Keistimewaan pejabat Rakryan Kanuruhan ini disamping berkuasa di daerahnya sendiri, juga menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuna sejak jaman Raja Balitung, yaitu sebagai pejabat yang mengurusi urusan administrasi kerajaan. Jabatan ini berlangsung sampai jaman Kerajaan Majapahit. Begitulah sekilas tentang Rakryan Kanuruhan. Penguasa di daerah tetapi dapat berperan di dalam struktur pemerintahan kerajaan pusat, yang tidak pernah dilakukan oleh pejabat (Rakryan) yang lainnya, dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuna di masa lampau.

sumber : http://www.orang-jawa.com

Sejarah Kelam Perbudakan Barat Terhadap Penduduk Afrika

Oleh Heri Hidayat Makmun

Sejarah kelam kemanusiaan yang sangat menyayat hati dan sulit terlupakan dalam sejarah kemanusiaan adalah perbudakan. Penistaan derajat manusia ini terjadi pada abad pertengahan dan bahkan sampai pada akhir abad 21.

Setelah banyak bangsa-bangsa di Afrika dan Asia merdeka maka perbudakan lambat laun semakin dikikis. Peran Konferensi Asia Afrika di Bandung yang di prakarsai oleh Presiden Sukarno menjadi salah satu pencetus munculnya kemerdekaan-kemerdekaan tersebut, juga ikut mendorong penghapusan budak ini.

Untuk mendapat buruh murah, negara-negara Barat melakukan perbudakan. Di antara sebagian contoh yang paling buruk dan mengerikan dari pelanggaran kemanusian negara Kapitalis adalah perdagangan budak Afrika.

Antara tahun 1562 dan 1807 penguasa-penguasa Eropa memaksa pindah lebih kurang 11 juta orang Afrika kulit hitam dari Pantai Barat Afrika; mereka dibawa ke Amerika. Mereka dimasukkan ke dalam kapal-kapal kolonialis Eropa, dengan kondisi yang menyedihkan, kekurangan makanan, berhimpitan untuk membangun mimpi baru negara kolonial, yakni membangun dunia baru Amerika.

Banyak di antara mereka yang ditimpa penyakit sampai kematian. Budak kulit hitam dianggap bagaikan binatang ternak yang tidak ada nilainya sama sekali. Mereka dipaksa bekerja pada perkebunan, tambang, dan proyek lain yang membutuhkan banyak tenaga manusia.

Pulau Goree yang berada di Sinegal, masyarakat Senegal menyebutnya Ber, tetapi Portugis menamainya Ila de Palma. Penjajah Belanda menyebutnya Good Reed dan diubah Perancis menjadi Goree, yang berarti ”pelabuhan baik” dan ada yang mengartikan sebagai ”pulau yang memberi hasil” (hasil dari perdagangan budak).

Pulau tersebut menjadi saksi bisu sepanjang empat abad pada masa lalu tentang kesedihan, tangisan, dan penderitaan 15 juta-20 juta warga Afrika yang ditampung sebelum dikirim ke Eropa dan Amerika, tanpa pernah mengenal jalan pulang.

Berbagai negara eropa barat seperti Portugis, Perancis, Belanda dan Amerika pulang pergi dengan menangkapi penduduk sipil baik laki-laki, perempuan, dewasa bahkan pun anak-anak di pulau tersebut.

Penangkapan dilakukan bahkan seperti binatang buruan, dijerat atau diambil paksa dari anggota keluarganya. Penangkapan besar-besaran yang dilakukan di Pulau Goreee ini dilakukan oleh tentara orang-orang eropa atau para pemimpin lokal uang telah dibayar.

Pulau yang berukuran 900 meter kali 350 meter itu telah membawa jauh ingatan ke masa silam, ke abad ke-15 sampai ke-19 ketika jutaan manusia Afrika Barat dirampas haknya dan dijadikan budak untuk dijadikan komoditas perdagangan. Peradapan kapitalisme paling bertanggungjawab atas perendahan martabat manusia ini.

Selain itu kawasan lain di Afrika Timur, Zanzibar, menjadi pusat perdagangan budak. Penangkapan penduduk kulit hitam miskin di Afrika Barat oleh para pemimpin Afrika sendiri dilakukan untuk dijual sebagai budak kepada bangsa Eropa.

Perdagangan budak Afrika pernah menjadi ladang bisnis yang paling menggiurkan, yang digerakkan oleh sindikat perdagangan segitiga antara Afrika, Eropa, dan Amerika. Pedagang Eropa membawa komoditas murah ke Afrika Barat, khususnya ke Senegal, Gambia, dan Guinea berupa kapas, alkohol, alat-alat tembaga, dan lain-lain untuk ditukar dengan budak Afrika dari para pedagang besar Afrika.

Budak-budak itu kemudian dibawa ke Eropa dan sebagian lagi ke Amerika. Sesampai di pelabuhan Amerika, para budak itu dijual kepada para pemilik perkebunan dan pabrik-pabrik dengan barteran tembakau, gula, dan barang-barang lain.

Para budak yang terdiri dari pria dan perempuan, dewasa atau bahkan anak-anak, diangkut dengan kapal kayu dengan kondisi kaki atau leher terikat dengan lima kilogram bola besi agar tidak gampang melarikan diri, seperti terjun ke laut. Ketika ditangkap, pria dan perempuan yang dijadikan budak umumnya dalam kondisi sehat-sehat. Namun, sekitar enam juta orang meninggal karena sakit, kekurangan makanan, dan tidak tahan siksaan selama di penampungan ataupun dalam perjalanan menyeberang Samudra Atlantik menuju Amerika.

Penderitaan manusia yang dijadikan budak ini terus berlanjut. Sebelum berlayar dalam keadaan dipasung selama 3-4 bulan ke Amerika, para budak umumnya tiga bulan berada di penampungan Pulau Goree. Kapal pertama menuju Amerika tahun 1518.

Budak AfrikaSebenarnya perjuangan rakyat dan pemimpin Afrika muncul dan tenggelam, seiring dan selama berlalunya masa perbudakan Afrika yang hampir empat abad. Salah satu perjuangan itu adalah datang dari Raja Kongo Zanga Bamba yang mengirim surat protes kepada Raja Portugal tahun 1526. Dalam surat itu dijelaskan, pedagang Portugal bekerja sama dengan sindikat Afrika terlibat aksi penangkapan terhadap penduduk Afrika miskin untuk dijadikan budak di negara-negara Barat. Sejumlah pemimpin Afrika Barat juga melarang pengangkutan budak melewati wilayah kekuasaannya.

Namun upaya pemimpin dan bangsa Afrika melarang perdagangan budak selalu gagal lantaran perjuangan yang hanya bersifat lokal dan tidak memiliki kekuatan senjata yang memadai. Sementara para pemburu budak dari Eropa rata-rata memiliki tentara dan bersenjata api yang sangat ditakuti pada waktu itu. Sindikat dan mafia perdagangan budak juga sudah terlalu kuat. Sekitar 11 juta warga Afrika pun menjadi korban kekejaman dalam bisnis perbudakan selama empat abad di masa lalu.

Sejarah Kapitalisme adalah paralel dengan sejarah perbudakan dan penjajahan yang menuhankan kebebasan manusia dan materi sebagai sesuatu yang sangat penting mendorong mereka untuk menghalalkan berbagai cara demi meraih kepentingan itu. Untuk meraih keuntungan material yang besar, Barat membutuhkan modal yang besar, pasar yang luas, sumber bahan mentah dan energi murah serta buruh yang murah. Untuk itulah mereka melakukan kolonialisasi.

Kapitalisme juga yang melahirkan kolonialisme barat terhadap negara-negara di Asia dan Afrika. Penjajahan barat di berbagai belahan dunia lain dengan membawa misi glory (kejayaan) , gold (emas), dan gospel (kristenisasi). Negara-negara ini kemudian menimbulkan penderitaan yang luar biasa terhadap kawasan yang mereka jajah. Terjadilah kerja paksa, perampokan kekayaan alam sampai pembunuhan massal.

“Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan”

Click here to enlarge

Sutan Sjahrir

Ada dua pola pikir yang sampai detik ini sangat mempengaruhi jalan pikiran ideologis orang Indonesia. Pertama : Feodalisme Fasis ala Suhartorian dan yang kedua adalah Sosialisme Demokrat ala Sjahririan. Sementara ideologi-ideologi lain tidak memiliki pengaruh kuat sama sekali dalam aplikasi pemikiran ideologi yang sekarang. Sosialisme Demokrat ala Sjahririan ini dikenalkan oleh Sutan Sjahrir, pemikir dan politisi besar Indonesia yang namanya kemungkinan sekali sudah asing bagi generasi muda. Gaung kenangan kolektif sjahrir jauh berada dibawah Suharto, Sukarno, Hatta bahkan Tan Malaka sekalipun. Namun pada diri Sjahrir-lah lanskap intelektualitas tentang sosialisme di Indonesia terbentuk : Harian Kompas, Majalah Prisma, Majalah Tempo, dan Media-media intelektual lainnya sangat dipengaruhi oleh gagasan Sjahrir tentang Sosialisme dan Kebebasan Intelektual.

Sjahrir sendiri lahir dari keluarga elite pribumi yang menyukai ilmu pengetahuan, ayahnya Mohammad Rasad, adalah penasihat ahli Kesultanan Deli yang berwawasan luas, Rasad juga bekerja sebagai Kepala Jaksa (Landraad) di Medan. Berkat kedudukan ayahnya ini, Sjahrir bisa bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) dan MULO (SMP) terbaik di kota Medan. Dunia Sjahrir kecil adalah dunia buku, ia membacai banyak buku sejak dia masih di SD, sampai SMP ia sudah menamatkan buku-buku filsafat, sejarah politik dan sastra dalam bahasa Belanda. Sjahrir sendiri sepanjang sejarah hidupnya kebanyakan bicara dalam bahasa Belanda tapi ia kerap mengeritik orang yang Hollandophil (ke belanda-belandaan). Sukarno sendiri sering menyerang Sjahrir dengan perkataan, “Halah, Sjahrir itu bermimpi saja pakai bahasa Belanda”.

Setelah menyelesaikan sekolah di Medan, Sjahrir berlayar ke Jawa dan bersekolah di AMS (Setingkat :SMA) di Bandung. Ia bersekolah di AMS paling elite se Jawa. Di masa-masa itulah golden time bagi Sjahrir, ia banyak dipuja banyak wanita dan disukai teman-temannya karena senang berdebat dan terlalu cerdas. Ia masuk ke dalam tim debat AMS dan selalu memenangkan lomba perdebatan. Di AMS ia dilatih berpikiran sistematis, mengenal diplomasi dan menikmati kehidupan anak muda elite. Disini fase hidup Sjahrir memasuki masa pendewasaan sebelum akhirnya dia bertemu dengan serombongan anak muda dari Batavia (sekarang : Jakarta) seperti : M. Yamin, Sugondo Djojopuspito, Maruto dll yang akan berjumpa dengan Bung Karno dirumahnya di Pangkur, Bandung. Pertemuan dengan anak-anak muda itu mengubah pandangan secara total tentang sebuah bangsa. Sjahrir terpengaruh oleh ajakan anak2 muda tersebut untuk berpikir tentang sebuah bangsa. Anak-anak umur 16-19 tahun ini berdebat bagaimana mendirikan sebuah bangsa di di sebuah kafe di Jalan Braga Bandung. Lalu muncullah ide untuk membentuk satu kesatuan pemuda guna menyadarkan sebuah bangsa “Tanpa kesadaran tidak akan ada tindakan, pada hakikatnya sebuah bangsa adalah kumpulan kesadaran-kesadaran manusia yang ada di dalam komunitas dan mereka membentuk bangsa. Maka buatlah satu statement tentang kesadaran itu” kata Sjahrir yang saat itu masih berusia 18 tahun. Dan Sugondo langsung menyahut “Menurut anda baiknya apa yang dilakukan”… Sjahrir menatap Sugondo sambil menyeruput es limunnya “Sumpah Pemuda, coba kelen buat itu”. sahut Sjahrir dengan logat Medan-nya. Tak lama kemudian anak-anak muda berkumpul, untuk merancang sumpah pemuda. Namun Sjahrir tidak ikut sumpah pemuda di Jakarta karena saat itu ia sedang mengikuti ujian sekolahnya.

Saat pemberontakan Komunis meletus antara desember 1926-januari 1927, Sjahrir menyelundupkan koran berita-berita tentang pemberontakan dan memajangnya di majalah dinding sekolah, suatu saat ia tertangkap oleh polisi gubernemen, sejak saat itu majalah sekolah dijaga ketat oleh polisi. Setelah menamatkan pendidikannya di Bandung, Sjahrir seperti anak bangsawan elite lainnya bersekolah ke Belanda, disana ia berkenalan banyak hal-hal baru. Ia berdiskusi dengan banyak kelompok dari yang komunisme garis keras dan sedang terbakar semangat revolusi Bolsjewik sampai yang beraliran moderat, Sjahrir masuk sendiri ke dalam lingkungan yang paling radikal untuk menghantam kapitalisme ia masuk ke satu kelompok yang mengharamkan hak milik dan menggunakan semua barang secara kolektif, -kecuali sikat gigi- dari berbagai spektrum tersebut ia belajar banyak hal. Karakter Sjahrir yang paling jelas adalah ia tidak suka terjebak pada satu pemikiran dan membangun polanya lalu menjadi fanatis, ia berpikir melompat-lompat dan mencari peluang untuk terus mengasah daya kritis, ia memandang semua hal ada lucutan tentang pemaknaan, anatomi apa yang terjadi dalam ruang pemikiran. Sjahrir selalu menulis catatan-catatan pemikirannya. – Kita sendiri yang membaca catatan-catatan pribadi Sjahrir pasti akan tercengang bila membaca catatan itu ditulis antara tahun 1920-1947, bagaimana sebuah pemikiran begitu maju melampaui jamannya- Ia adalah seorang pemikir, bukan saja pemikir yang berdiri di pinggir sejarah, ia bertarung di dalam sejarah.

Suatu saat di pinggir pelabuhan Amsterdam ia berjumpa dengan Hatta, perjumpaan dengan Hatta inilah yang juga banyak mengubah jalan hidup Sjahrir. Beda dengan Sjahrir yang menikmati kehidupan, berdansa dansi. Hatta hidup layaknya seperti pendeta, ia tidak mau menikah sebelum kemerdekaan tercapai, ia tidak suka makan enak, hidupnya spartan untuk ilmu pengetahuan. Hatta adalah jenis manusia yang mampu menahan diri. Namun kelemahan satu-satunya Hatta adalah terlalu cinta dengan buku sehingga ia agak terasingkan dengan lingkungan pergaulan anak muda. Hatta membuka mata Sjahrir tentang kekerasan komunisme di Rusia, memperlihatkan aspek kemanusiaan dalam sebuah revolusi, pada dasarnya Hatta memperingatkan bahwa bahaya terbesar umat manusia bukan pada kapitalisme justru pada kekerasan melawan kapitalisme yang tidak tersistematis. Sjahrir menekuni uraian Hatta. Dari sini kemudian Sjahrir mempelajari sosialisme yang dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia berkenalan dengan gagasan Marx namun juga memperluasnya dengan perkembangan masyarakat setelah Marx. Sjahrir telah menentukan pilihannya : Sosialisme, Individualisme yang bebas yang bisa menjadikan manusia sebagai manusia dan tidak terasingkan oleh apapun. Itulah landasan terpenting dalam memahami pemikiran Sjahrir.

Sjahrir tidak menyelesaikan kuliahnya, ia terlalu asik dengan politik. Sjahrir memutuskan pulang ke Indonesia setelah melihat perkembangan politik di Indonesia pasca penangkapan Sukarno membuat gerakan redup. Oleh Hatta, Sjahrir diminta membantunya membentuk pengganti PNI Sukarno menjadi PNI Pendidikan. Hatta mengubah cara kerja politik Sukarno yang agitasi massa ke arah politik kader. Titik yang tidak pernah bertemu dengan Sukarno sepanjang waktu, sementara penentang Hatta mendirikan Partindo dibawah Mr.Sartono. Kaum Partindis (sebutan anggota2 Partindo) selalu menyerang gagasan PNI Pendidikan. Hatta dan Sjahrir akhdan dirinya dibungkam pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digoel, disana ia melihat penderitaan luar biasa tahanan-tahanan politik, karena ia masuk dalam kelas elite ia agak mendapat fasilitas beda dengan tahanan lain yang hidupnya sengsara. Dari digoel ia kemudian dipindahkan ke Banda Neira, disana ia satu lokasi dengan tahanan politik lain seperti : dokter Ciptomangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri. Dokter Cipto adalah veteran intelektual pergerakan yang sudah berusia tua dan sakit-sakitan juga agak tidak sabaran, Sjahrir agak segan bila berdebat dengan dokter cipto ia cukup menjadi pendengar saja. Dari seluruh masa hidupnya (1936-1942) masa hidup di Banda Neira ini adalah masa paling indah secara spiritual bagi Sutan Sjahrir, ia adalah pribadi penggembira, penyuka anak-anak, ia selalu bermain dengan banyak anak-anak di pantai, wajahnya pun sampai tua berwajah kekanak-kanakan, ia bukan orang yang serius seperti Hatta ia tidak suka dengan sikap terlalu serius. Ia penikmat kehidupan. Sjahrir mengambil banyak anak angkat di Banda Neira, bahkan ia datang sendiri ke keluarga seorang Arab untuk mengangkat tiga anak, kelak salah satu anaknya ini menjadi salah satu tokoh di Indonesia bernama Des Alwi, hampir tiap hari dia memberikan anak pelajaran, ia adalah seorang guru yang gembira. Ketika Jepang masuk, pemerintah Belanda mengirimkan pesawat Catalina untuk mengangkut tahanan politik. Hatta dan Sjahrir harus dibawa ke Jakarta yang rencananya setelah itu dibawa ke Australia sebagai tempat pemerintahan pengasingan Hindia Belanda. Hatta mengangkut berpeti-peti buku sementara Sjahrir membawa ketiga anak angkatnya itu. Pilot Belanda marah-marah karena kapasitas kapal tidak muat, akhirnya setelah berdebat panjang lebar, berpeti-peti buku Hatta itulah yang ditinggalkan sementara anak Hatta ikut Sjahrir. Sampai jauh lama di kemudian hari Hatta sering mengeluhkan buku2nya yang ditinggal di Banda Neira.

Di Jakarta ternyata Jepang cepat sekali masuk, Belanda tidak keburu membawa tahanan2 politik ke Australia. Hatta dan Sjahrir dibiarkan terus di Jakarta. Disini Sukarno, Hatta berdebat dengan Sjahrir tentang pilihan politik. Bung Karno lebih memilih untuk bergabung dengan pemerintahan Jepang dan mengonsolidasi kekuatan rakyat “Saya yakin Jepang tidak akan lama di Indonesia, bila saya bergabung dengan Jepang maka saya bisa memanfaatkan kekuatan Jepang untuk mengonsolidasi rakyat kekuatannya sendiri agar siap dengan kemerdekaan” kata Bung Karno, tapi Sjahrir keras kepala ia mau tetap di bawah tanah. Hatta menyetujui Bung Karno.

Sjahrir memilih rumah kakaknya di Jalan Jawa, Menteng (sekarang jalan HOS Tjokroaminoto) sebagai sarang gerakan bawah tanah. Ia juga menggunakan sebuah villa keluarga di Puncak sebagai tempat membina gerakan bawah tanah, radio dia miliki lengkap, kerjanya tiap hari hanya mendengarkan radio terus BBC dan VOA. Ia mengikuti jalannya perang dan memberikan suplai informasi ke pergerakan pemuda.

Ketika 17 Agustus 1945, Sjahrir ngambek pada Sukarno, ia baru muncul beberapa minggu setelah itu di muka rumah Sukarno karena diajak Hatta. Akhirnya setelah melihat sendiri bagaimana suasana batin rakyat pikiran Sjahrir terbuka bahwa ‘satu-satunya alasan terbesar Indonesia berdiri adalah Sukarno’ patokan inilah yang dia pegang dan dijadikan kartu penting permainan politiknya dikemudian hari. Ketika Tan Malaka melakukan manuver politik, Sjahrir berkata pada Tan Malaka : “Kalau anda memiliki sepersepuluh saja daya pengaruh Bung Karno maka saya akan memihak pada anda” ucapan ini sangat terkenal di kalangan sejarawan dan menjadi bahan analisa tentang kenapa Sjahrir tidak pernah mau memberontak pada Bung Karno sepanjang hidupnya. Sjahrir dekat dengan Van Der Post yang kemudian membangun kanal komunikasi dengan pihak sekutu, kanal-kanal inilah yang kemudian dijadikan senjata Sjahrir dalam politik diplomasi, Sjahrir melihat bahwa masa revolusi harus segera dihentikan, memperpendek perang jadi salah satu syarat utama mengembangkan sebuah bangsa agar jangan terlalu banyak royan-royan revolusi timbul di tubuh masyarakat. Sjahrir menulis dalam risalahnya yang berjudul Perdjoangan Kita. Risalah ini menjadi pegangan kelompok Sjahrir, dalam risalah ini Sjahrir banyak menyerang cara kerja Sukarno dalam mengagitasi massa. “Tiap kesatuan hanya bersikap taktis, temporer dan karena itu insidental. Persatuan yang dipaksakan hanya akan menghasilkan anak banci, persatuan semacam itu akan menjadi sakit, tersesat dan merusak pergerakan” Sjahrir menganatomi secara detil tentang ukuran-ukuran kekuatan Indonesia dengan cara yang paling rasional. Tanpa Sjahrir Sukarno akan terbakar habis oleh api yang ia nyalakan pada pidato2nya, tapi tanpa Sukarno, tindakan Sjahrir tidak akan mendapatkan dukungan rakyat. Sjahrir-Sukarno suatu sudut berlawanan tapi saling menopang.

Sukarno gantung leher ketika membela Sjahrir dalam kasus Muso. Sukarno pula yang habis-habisan memihak Sjahrir dalam politik diplomasi, bahkan itupun harus mengorbankan kelompok Tan Malaka. Ketika pasukan Belanda masuk Yogyakarta Desember 1948, kota Yogya dihujani bom oleh Belanda termasuk tempat Sjahrir tinggal. Sjahrir kelaparan karena dari pagi ia harus ikut rapat kabinet, saat orang berlarian kesana kemari, Sjahrir tetap duduk di meja makan dan lahap mengunyah nasi. Ketika diteriaki ajudannya ia hanya berkata : “Mati soal nanti, yang penting saya makan dulu” sikap ini adalah gambaran karakter Sjahrir yang total menikmati hidup.

Ketika revolusi selesai, dan Indonesia memasuki dasawarsa kedua kemerdekaan. Partai politik yang dibangun Sjahrir mengalami keterpurukan. Orang2 Sjahrir dianggap sebagai tempat elite main sirkus intelektual, tidak punya koridor langsung ke massa. Namun justru disitulah kekuatan Sjahrir, ia selalu menempatkan orang2 pentingnya ke dalam formasi kabinet, Sjahrir menerapkan politik hegemoni yang diajarkan Gramschi pada tahun 1930-an. Sampai pada pemberontakan PRRI 1958. Suatu saat Sumitro Djojohadikusumo datang ke tempat Sjahrir sambil ngedumel soal Sukarno, namun Sjahrir menjawab :”Sukarno itu Presiden saya, jadi saya tidak mungkin melawan Sukarno”. Namun karena intrik politik, pihak Angkatan Darat mendapatkan laporan bahwa Sjahrir terlibat dalam jaringan Roma yang akan menjatuhkan Bung Karno. Ia digelandang ke penjara, Bung Karno yang mendengar hal itu langsung bicara ke ajudannya agar tentara tidak melakukan tindakan keji terhadap Sjahrir : “Tahanan politik itu terhormat, bila saya kalah mereka-lah yang akan menjadi pemimpin kalian”. Di RTM Salemba Sjahrir mengalami stroke dan ketika Sukarno mendengar ia langsung memerintahkan orang untuk memberikan pengobatan ke Swiss. Sukarno memanggil sahabat dekat Sutan Sjahrir sejak muda Sugondo Djojopupito yang juga pernah menjadi anak didik Bung Karno di masa lalu : “Antarkan Sjahrir, aku sedang mengalami kesulitan sekarang, waktuku terbatas” saat itu Bung Karno sedang dibelit masalah Gestapu 1965. Sugondo mengantarkan Sjahrir sampai bandara Kemayoran, dia memeluk Sjahrir dengan air mata bercucuran. Ada perasaan di hati Sugondo bahwa umur sahabat dekatnya ini tak akan lama. Dan memang benar pada 9 April 1966 Sjahrir meninggal di Swiss, jenasahnya dibawa pulang ke Djakarta, ratusan ribu orang berjajar di jalan menyambut jenasah Sjahrir. Orang Djakarta masih banyak mengenang ramainya prosesi pemakaman ini. Sjahrir adalah mutiara bangsa ini, ia mengajari pada kita tentang intelektualitas yang menghormati kemanusiaan karena disitulah hakikat martabat manusia.

-suatu waktu Sjahrir menulis catatan hariannya dengan menciteer penyair Jerman, Friedrich Schiller : und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein, Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan. – Dan Sjahrir benar.

sumber: FB Anton