Category Archives: Politik

RIAU MERDEKA ATAU OTSUS

walau sudah lewat masih menarik untuk di simak…………..
Jika ditahun 1956 Kongres Rakyat Riau (KRR) I melahirkan opsi perjuangan untuk berpisah dari Propinsi Sumatra Tengah, yang akhirnya melahirkan Propinsi Riau. Tiga puluh empat tahun kemudian di penghujung bulan Januari tepatnya tanggal 1 Februari 2000, dalam perhelatan sama yang bernama Kongres Rakyat Riau II, lahirlah opsi merdeka dari tiga pilihan yang ada yaitu merdeka, otonomi khusus ataupun negara federasi. Dari 623 peserta yang hadir; 270 orang memilih opsi merdeka, 199 orang memilih otonomi khusus dan 146 suara memilih Negara federal.

Semua terperagah antara percaya dengan tidak, keberanian yang diselimuti ketakutan, keseriusan yang penuh keraguan. Keheningan dipecah oleh pernyataan Prof. Tabrani Rab yang katanya presiden pertama,” Kita ingin merdeka mengelola sumber daya alam, sumber daya manusia, dan lain-lain”. Waktupun berjalan presidenpun katanya berganti dan saat ini dipegang oleh Al Azhar yang katanya presiden kedua, sikap dan pernyataan politik hampir sama, ” Merdeka secara moral dan merdeka tanpa darah”.

Apakah benar Riau ingin merdeka? Melihat kondisi Riau yang masih diselimuti kemiskinan ditengah kekayaan, beraksesoris kebodohan, ketertinggalan dan keterbelakangan, maka jawabannya, ”merdeka yes”. Merdeka disini dipahami dalam kerangka, ingin lepas dari ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan dan ketidak berdayaan. Terlalu lama Riau terpuruk dalam jurang kemiskinan diantara limpahan kekayaan sumberdaya alam yang terpendam didalam bumi dan terhampar dipermukaannya.
Apapun opsi yang dikumandangkan, semuanya berangkat dari ekspresi kekecewaan masyarakat Riau dan aspirasi agar diberikan perhatian sehingga leluasa mengelola sumberdaya yang ada untuk mendukung proses mensejahterakan masyarakat, mengejar ketertinggalan dan menyelamatkan warisan untuk generasi masa depan yang hampir kehabisan kesempatan dan harapan.
Banyak kebijakan masa lalu yang kurang berpihak kepada masyarakat Riau. Lihatlah disisi pendidikan, walaupun sudah enam puluh satu tahun merdeka dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia. Ternyata dalam aspek pendidikan Riau jauh tertinggal, mulai dari pendidikan dasar sampai kepada pendidikan tinggi. Riau kaya dengan hasil migasnya tetapi baru beberapa tahun terakhir Riau memiliki jurusan Perminyakan, itupun di perguruan tinggi swasta. Riau kaya dengan hasil hutan tetapi Fakultas Kehutanan juga baru berdiri itupun sama di PTSjuga. Riau memiliki dua perusahaan pulp dan kertas terbesar di Asia dan ribuan hektar perkebunan Sawit tetapi Riau tidak memiliki satupun perguruan tinggi ataupun sekolah yang menjebatani tenagakerjanya kesana. Riau terhimpit dalam sistem sehingga baru dalam waktu terakhir memiliki fakultas kedokteran, baru memiliki jurusan-jurusan yang menopang sarjananya merebut pasar kerja yang melimpah di bumi Lancang Kuning ini.
Yang terjadi, diseluruh perusahaan Migas, Pulp and Paper, perusahaan kehutanan, industri Sawit dan berbagai pusat industri, masyarakat Riau hanya menjadi penonton. Tidak ada satupun perusahaan besar di Riau yang persentase tenaga kerja putra tempatan Riau yang mencapai angka 50%. Semuanya diisi oleh saudaranya yang berasal dari Riau, disisi lain tenaga kerja tempatan terpuruk diposisi-posisi marginal seperti security, buruh, office boy dan kalaupun ada yang tinggi ditempatkan diposisi yang selalu bersentuhan dengan masyarakat seperti; humas, community development, koordinator security dan sejenisnya. Ditempatkan dalam ruang kaca dan dijadikan ”bonsai”. Indah dilihat tetapi tidak memiliki otoritas cukup tinggi dan tidak bisa juga dibilang rendah karena selalu mewakili institusi.
yang sama juga terjadi dengan dana pembangunan yang dialokasi pemerintah pusat ke Riau. Baik dari hasil minyak dan gas, hasil tambang, hasil hutan dan berbagai sumber pendapatan dari Riau yang selama ini menopang kehidupan berbangsa dan bernegara, Riau hanya mendapatkan sebagian kecil saja. Dari aspek politikpun tidak jauh berbeda, puluhan tahun hak-hak politik masyarakat Riau untuk dipimpin oleh putra terbaiknya dibatasi. Mulai dari jabatan bupati sampai gubernur, kalau mau jadi menteri cukup berhayal dalam mimpi.
Dibidang sosial budaya, kebangkitan Melayu yang merupakan identitas daerah ini baru hangat beberapa waktu terakhir ini. Daerah yang menyumbangkan bahasa ibunya sebagai pemersatu bangsa, terasa asing dengan bahasanya sendiri. Bahasa Indonesia seperti mendurhakai ibukandungnya bahasa Melayu Riau. Disisi lain, identitas Riau sebagai bangsa yang menjunjung nilai budaya, norma dan agama tercoreng dengan berbagai pusat bisnis yang menjajakan wanita. Riau menjadi pusat industri yang lepas kendali dan hampir kehilangan jati diri. Apa yang tersisa di Riau setelah enam puluh satu tahun merdeka. Kemiskinan meraja lela, kebodohan dimana-mana, Riau tertinggal dari aspek sosial, budaya, pendidikan dan juga agama.
Dibidang lingkungan masyarakat Riau terusir dari tanah nenek moyangnya, akibat keberadaan industri yang mendapat izin tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat Riau jangka panjang. Ribuan hektar hutan Riau diberikan kepada HPH ataupun HPHTI, sebagian lagi digunduli dan ditanami perkebunan kelapa sawit, hasil laut dan sungai mati karena pencemaran yang tidak pernah berhenti. Masyarakat Riau terpurut disudut-sudut kota, sudut kampung, tepi hutan dan tepi sungai. Riaupun menjadi cengeng akibat derita tak berkesudahan, mudah merajuk karena tidak pernah mendapat perhatian dan pembelaan. Rasa malas dan putus asa menghinggapi yang bermuara hampir tidak peduli karena merasa daerahnya tidak miliknya lagi. Masyarakat Riau menjadi pencemburu dan menutup diri dengan isu ”putra daerah” sebagai wujud minta bagian dalam berbagai kesempatan. Sayangnya dalam kekalutan, kebimbangan dan keputusasaaan, saudaranya yang berasal dari luar Riau menyahuti dengan emosi dengan membuat pula benteng diri dalam berbagai bentuk organisasi.

Tujuh tahun kemudian, tepatnya tanggal 11 Januari 2007 Forum Nasional Perjuangan Rakyat Riau untuk Otonomi Khusus (FNPRRO) dideklarasikan. Apakah ini refleksi perjuangan menuntut ketidak adilan ataupun sebatas kepentingan politik belaka, hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
sudah seharusnya menjadi perenungan bersama, bagaimana memberikan hal-hal yang selayaknya kepada Riau. Melakukan proses percepatan pembangunan agar bisa seiring sejalan dengan propinsi lain sehingga siap menghadapi tantangan masa depan. Keikhlasan dan kebesaran jiwa bangsa ini melihat sumbangsih dan kesetiaan Riau untuk tetap bertahan dalam bingkai negara kesatuan, seharusnya dijadikan motor penggerak untuk segera menunjukkan kepedulian dengan memberikan keadilan.

Riau tidak dilahirkan untuk menjadi penghianat, kultur Riau adalah kultur persahabatan, persaudaraan, kesederhanaan dan kesetiaan. Sejarah panjang masyarakat Riau sejak dulu kala menunjukkan sebuah bukti daerah ini patut dihargai dan dihormati.
Dalam gegap gempita gerakan otonomi khusus yang diikuti gerakan merdeka yang hampir tidak bersuara, kesimpulan yang ada bahwa Riau ternyata masih rindu dan cinta dengan bangsa Indonesia dan hanya menuntut perhatian sebagai anak tertua yang sudah banyak berkorban untuk adik-adiknya, mencurahkan segenap penghasilannya untuk membantu orang dan selalu sabar dalam derita, dalam usia sudah dewasa ingin mandiri mengatur hidup dan keungannya sendiri serta mintapula dikasihi, diperhatikan dan dicintai.

OTSUS Perjuangan ATAU Kepentingan

Saya tergelitik untuk ambil bagian dalam diskusi terkait dengan perjuangan Otonomi Khusus (OTSUS) khususnya pencoretan anggaran perjuangan Otsus oleh Menteri Dalam Negeri yang didedahkan oleh bang drh. H. Chaidir, MM Ketua DPRD Riau dikolom Opini Riau Pos 19 Maret 2007.

Mengapa dana perjuangan Otsus harus diambil dari APBD? Sebuah pertanyaan yang menggelitik hati saya pada saat mendengar perdebatan panjang terhadap masalah ini. Sepertinya perjuangan ini kurang bermakna, terasa tidak totalitas, tidak segenap jiwa, tidak menggelora, tidak heroik dan memancing timbulnya keraguan dan pertanyaan. Mengapa kembali kita harus memakan hak-hak rakyat atas nama perjuangan yang katanya untuk rakyat. Bermilyar-milyar uang rakyat yang dititip Tuhan di APBD tersangkut ditempat yang tidak ada rakyatnya, sehingga tidak menyentuh dan tidak tepat sasaran dan akhirnya memancing kerusuhan. Contoh pengalokasian uang 2 milyar yang memicu seteru di Laskar Melayu? Ataupun rencana pengalokasian dana PON, Otsus, FFI dan banyak lagi.

Sebagai anak jati Riau saya malu dan ingin mengajak tokoh Riau belajar dengan Sumatra Barat. Disana tokoh-tokohnya berjuang untuk memajukan negerinya dengan berusaha menghindari ataupun mengorek kantong APBD, mereka bersatu padu dari lembaran-lembaran uang seribu rupiah dengan “Gebu Minang” membuat kampungnya menjadi terpandang. Ini dibuktikan lagi pada saat Istana Pagaruyung dilapan sijago merah, kembali semangat perjuangan itu dibuktikan dengan nilai-nilai heroik dan penuh pengorbanan.

Mungkin kita juga perlu belajar dengan Sumatra Utara. Kalau tokoh-tokoh Riau membangun SMU Plus dengan hanya bergotong royong semangat tapi sebagian besar uang-nya dari APBD dan sumbangan pengusaha yang katanya merampok SDA Riau. Disisi lain sekolah unggul tumbuh bagaikan jamur diberbagai pelosok tanah Batak dan perkampungan Tapanuli Selatan. Setiap tokohnya pulang kampung membangun negeri dengan modal sendiri. Sehingga hak-hak rakyat yang sudah jelas di APBD tidak perlu dikurangi ataupun disunat untuk kegiatan-kegiatan yang belum tentu manfaatnya dan dapat dirasakan langsung oleh rakyat.

Andaikan kita serius berjuang memajukan Riau, pasti sudah lama kemiskinan, kebodahan dan ketertinggalan wilayah kaya ini teratasi. Sebab masing-masing tokoh kita pernah dipuncak kejayaan yang bisa memberikan makna bagi daerah. Ada tokoh kita pernah dan katanya sedang jadi menteri, putra terbaik kita sudah 2 jadi gubernur, seluruh bupati dan walikota putra daerahnya sendiri, ada tokoh kita dijajaran puncak perusahaan raksasa di Riau maupun di Jakarta, ada tokoh kita yang namanya sudah mendunia dan tidak sedikit Riau melahirkan pengusaha kaya karena usahanya dibumi Lancang kuning ini.

Tapi mengapa Riau masih terus merengek-rengek seperti anak manja yang belum pernah dewasa. Lalu mengamuk dan merajuk dan mengumbar-umbar “Amuk” yang hampir tidak pernah nyata. Riau ibarat anak bujang yang mau kawin dan pisah rumah dengan orang tuanya. Sebagai anak yang mau kawain dan merasa dewasa menuntut agar diberikan hak mandiri (Otsus), tapi sudah sombong disisi lain merengek-rengek minta uang (Dana Perjuangan Otsus) kepada orang tua karena harta orang tua juga terkandung hak anak (APBD). Pasti orang tua, tetangga dan teman sianak ketawa, melihat tingkah anak manja yang sok dewasa, ingin mandiri tetapi sesungguhnya penakut dan tidak punya keberanian. Semua orang akan bangga jika anak itu kawin dan pindah rumah dengan keringat sendiri dan menolak pada saat orangtuanya memberikan bantuan pindah dan sewa rumah. Kalau anak bisa membuktikan diri sebagai prioa dewasa, mandiri, bermarwah dan berharga diri, siapa orang tua yang tidak akan bangga dan memberikan anaknya modal usaha ataupun warisan berlipat ganda.

Kembali ke Otsus, gerakan ini harus diuji apakah benar-benar menyuarakan aspirasi, harapan dan keinginan masyarakat Riau. Jika benar, bangun gerakan bersama sehingga segenap potensi yang ada dikerahkan untuk merebutnya termasuk bagaimana menggalang dana dari masyarakat. Tentunya dimulai dari tokoh-tokoh yang menggerakkan ini, pejabat yang pasti memiliki kekuasaan, kekayaan dan kemampuan. Kalau pemikiran minta saja ke dosen diperguruan tinggi, kalau semangat serahkan saja ke adik-adik mahasiswa, kalau massa serahkan kepada pemuda yang memang lagi banyak menganggur dan tidak ada kerja.

Keberadaan tokoh-tokoh yang masih berkuasa & pernah berkuasa, tokoh-tokoh lintas suku dan agama dalam gerakan ini seharusnya mampu berkalaborasi sehingga menjadi sebuah gerakan yang besar, kuat, dihormati, disegani dan berharga diri. Saya yakin Tim Pejuang Kita mampu sebab disana ada orang Melayu yang selalu ragu-ragu tapi punya semangat menggebu dan mudah dipanasi, ada masyarakat Batak Riau yang kompak dan berani, ada masyarakat Minang Riau yang tepat dalam membuat perhitungan, ada Jawa Riau yang ulet dan tentunya bisa meyakinkan saudaranya yang ada di Jakarta dan berbagai potensi yang seharusnya bisa diberdayakan.

Ini perlu kita renungkan bersama sebab kita tentu tidak ingin dijengkal orang, sebab penghamburan uang untuk perhelatan besar bernama Kongres Rakyat Riau (KRR) II yang katanya mensepakati opsi merdeka, yang mana tokoh-tokoh yang hadir di KRR II sebagian juga tampil kembali di deklarasi Otsus ternyata mencerminkan kesia-siaan kalau pada akhirnya kita tidak menghormatinya dan ketakutan dengan konsekuensinya jika diteruskan.

Katanya marwah dan harga diri bagi Riau diatas segalanya, katanya Riau sangat menjunjung tinggi dan menghormati demokrasi, katanya mulut adalah cermin diri, katanya orang munafik harus dijauhi, katanya nilai adat dan norma agama yang dijunjung tinggi? Untuk apa kita menghabiskan uang rakyat untuk KRR, Deklarasi, Seminar dan Diskusi kalau pada akhirnya diingkari.

Saya yakin dan percaya bahwa gerakan yang sebagian besar dimotori oleh tokoh politik ini bukan untuk kepentingan kampanye, mencari massa ataupun menyonsong pilkada dan pemilu. Sudah saatnya Riau dihormati sudah saatnya Melayu dijunjung tinggi, tidak lagi dipakai sebagai hiasan, alasan dan alat mencari kekayaan dan kekuasaan. Sudah saatnya kita berjuang bersama tanpa memandang suku, adat, ras dan agama menyatukan segenap potensi, berkalaborasi dan berjuang benar-benar untuk Riau tercinta ini.

oleh AZIZON NURZA, SPi,

sumber : http://azizonmenggugat.blogspot.com

Iklan

Haji Omar Said Cokroaminoto

Haji Omar Said Cokroaminoto lahir di Ponorogo 6 Agustus 1882, dan meninggal dunia pada 17 Desember 1934, dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta. Dia dikenal sebagai Ketua Partai Politik Sarekat Islam. Cokro lahir di Ponorogo, Jawa Timur, anak kedua dari 12 orang bersaudara. Ayahnya, R. M. Cokroamiseno, seorang pegawai pemerintahan, pamannya, R. M. Cokronegoro, pernah menjabat Bupati Ponorogo.Haji Umar Said Cokroaminoto dilahirkan didesa Bakur, daerah Madiun pada tanggal, 20 Mei 1883. Tepat pada waktu Gunung Krakatau meletus. Cokroaminoto adalah anak kedua dari 12 orang bersaudara. Ayahnya, R. M. Cokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo.

Tamat sekolah rendah ia meneruskan pelajarannya ke OSVIA (Opleidings School voor Inlandsche Ambtenaren/Lembaga Pendidikan Pegawai Bumiputra) Magelang tamat pada tahun 1902 dan menjadi juru tulis sampai 1095. Antara tahun 1907 – 1910 bekerja pada Firma Coy & CO di Surabaya, disamping meneruskan pada Burgelijek Avondschool bagian mesin. Bekerja sebagai masinis pembantu, kemudian ditempatkan dibagian kimia pada pabrik gula di kota tersebut ( 1911 – 1912 ). Beliau wafat pada tahun 1934 dan dikebumikan di TMP Pekuncen, Yogyakarta. Hingga kini beliau dikenal sebagai tokoh dari Sarekat Islam. Selain itu, salah satu kata-kata mutiaranya yang masyhur adalah: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”.

Setelah bergulat di sektor swasta, Cokroaminoto giat dalam bidang politik, ia membuat carier politiknya di Sarekat Islam yang didirikan pada bulan Mei tahun 1912. Sarekat Islam ialah sebuah persatuan perdagangan di Jawa, Indonesia yang diasaskan pada tahun 1909 di Jakarta oleh RM Tirtoadisuryo, seorang peniaga dari Kota Surakarta. Pada asalnya dinamai Sarekat Dagang Islam (SDI), pertubuhan ini bertujuan untuk membantu peniaga-peniaga kaum bumiputera, khususnya dalam industri batik. Selain itu, juga untuk menghadapi persaingan daripada pedagang-pedagang Cina.

Pada awal tahun 1912 terjadi sebuah kerusuhan anti-Cina, dan penguasa ketika itu mengharamkan SDI. Oleh itu, pada bulan September dalam tahun tersebut, SDI menggantikan namanya menjadi Sarekat Islam, dan melantik Umar Said Cokroaminoto sebagai ketua. Pada bulan Mei 1912.

Kongres Sarekat Islam yang pertama diadakan pada bulan Januari 1913. Dalam kongres ini, Cokroaminoto menegaskan bahawa Sarekat Islam bukannya sebuah parti politik, tetapi bertujuan untuk:
• meningkatkan perdagangan di kalangan bangsa Indonesia;
• membantu anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi; dan
• mengembangkan kehidupan keagamaan dalam masyarakat Indonesia.
Kongres Sarekat Islam yang kedua diadakan pada bulan Oktober 1917, diikuti oleh Kongres ketiga antara 29 September hingga 6 Oktober 1918 di Surabaya. Dalam kongres ketiga ini, Cokroaminoto menyatakan bahawa jika Belanda tidak melakukan reformasi sosial secara besar-besaran, maka Sarekat Islam pada dirinya akan melakukannya di luar parlemen.

Dalam kongres selama 1913–1916 tampaklah kemana S.I dibawa Cokroaminoto, dalam kongres Surabaya 1913 ia dipilih sebagai ketua Pedoman Besar, meskipun pada waktu itu belum ada organisasi pusatnya. Dalam kongres Bandung dinyatakan, bahwa untuk mencapai kemerdekaan ditempuh jalan revolusi, sementara kemudian dalam Kongres Batavia keluar dengan keputusan yang lebih tegas, jalan parlemen atau revolusioner. Sifat nasional-islam-revolusioner itu, lebih jelas lagi tampak, waktu Central Sarikat Islam 1916 menyatakan akan berjuang melawan kapitalisme, sebagai yang pada program perjuangan kongres nasional 1817.

Dengan adanya Volksraad, terbentuk politik Comite guna penyusunan calon-calon. Cokroaminoto menjadi anggota angkatan pemerintah, sementara Abdul Muis dipilih. Dalam Kongres Yogyakarta tahun 1921, terang-terangan S.I pecah dua, pihak Cokroaminoto dengan semi-nasional dan sosialis dan pihak Semaun , 100% revolusioner, yang sejak beberapa waktu beberapa waktu dengan cara celvorming memasuki S.I.

Dengan diadakannya kongres Al Islam Hindia pada tahun 1924, S.I direorganisasi dan menjadi Partai Serikat Islam Indonesia ( PSII ). Sebagai pemimpin lebih kuat H.A Salim tampil kemuka dari Cokroaminoto. Dalam tahun 1926 ia dan K.H.M Mansur diutus oleh kongres Al-Islam V ke kongres Alam Islami di Mekkah, Pada waktu inilah ia menunaikan rukun yang kelima. Pada tahun 1933 timbul perpecahan yang kedua, Dr Sukiman dan Suryopranoto dirojeer dan mendirikan Partai Islam Indonesia ( PARII ). Kemudian disusul pula dengan perpecahan dengan kartosuwiryo dan akhirnya dengan H.A Salim yang mendirikan Penyadar pada tanggal, 17 Desember 1934.

Haji Umar Said Cokroaminoto bukan hanya aktifis politik, melainkan juga pemikir. Pemimpin Sarekat Islam (SI) ini menulis buku Islam dan Sosialisme (1925), juga Tarich Islam (1931). Ia pun sering menyampaikan ceramah.
Cokroaminoto bahkan layak disebut sebagai guru bangsa, sejenis hulu sungai bagi kepemimpinan politik di Indonesia. Orang mencatat bahwa Sukarno dari kalangan nasionalis yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), Semaun dari kalangan sosialis yang mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Kartosuwiryo dari kalangan Islam yang mendirikan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Bung Karno bahkan pernah jadi menantunya pula. Karena perannya begitu penting, dulu Cokroaminoto konon sering diledek oleh lawan-lawan politiknya sebagai “De Ongekroonde koning van Indie” (Raja Hindia tanpa Mahkota) atau “De aanstaande koning der Javanen” (Raja Jawa masa depan).

Buku Islam dan Sosialisme, merupakan salah satu buku penting karya cendekiawan Indonesia dari paro pertama abad ke-20. Cokroaminoto menulis buku ini dalam bahasa Indonesia pada 1924, kira-kira empat tahun sebelum Sumpah Pemuda antara lain menyerukan pemakaian bahasa Indonesia. Sempat pula buku ini dicetak ulang, antara lain pada 1950 dan 1962. Dalam buku ini, Cokroaminoto menggali “anasir-anasir sosialisme” dari khazanah Islam, baik dari sumber teologisnya maupun dari pengalaman historisnya. Pada dasarnya ia menekankan bahwa sosialisme sudah terkandung dalam hakikat ajaran Islam, dan sosialisme yang ideal harus diarahkan oleh keyakinan agama (Islam). Itulah yang dia sebut “Sosialisme cara Islam” dan yang ia yakini cocok untuk Indonesia.

Cokroaminoto memeriksa konsep sosialisme dari khazanah pemikiran Eropa, tak terkecuali dari Karl Marx, hingga bentuk-bentuk tatanan sosial politik yang bertolak darinya. Setelah mengajukan kritik atas gagasan pemikir Eropa, ia membandingkan temuannya dengan pemikirannya sendiri mengenai dasar-dasar sosialisme dalam Islam, dengan memetik sejumlah ayat Alquran, juga mengutip hadis. Ia antara lain berpijak pada Surat Al-Baqarah ayat 213: Perikemanusiaan itu adalah satu kesatuan. Tinjauan historisnya, mengarah ke tatanan pemerintahan Nabi Muhammad SAW, yang dilanjutkan oleh para khalifah, teristimewa Khalifah Umar. Ia tunjukkan bahwa pemerintahan Islam — yang dipandang bersifat sosialistis — berpijak pada nilai-nilai kedermawanan, persaudaraan, kemerdekaan, dan persamaan.

Nama Bung Karno yang dikenal sebagai Putra Sang Fajar tidak bisa dilepaskan dari tokoh – tokoh Pergerakan Islam yang Istiqomah berjuang demi cita – cita besar Kemerdekaan Indonesia, pemuda Soekarno pernah mondok di rumah tokoh Haji Oemar Said Cokroaminoto, tokoh terkemuka Sjarikat Islam, selain belajar filsafat dan pemikiran Islam pemuda soekarno juga belajar tentang pergerakan kepada orang yang tepat, bung karno sangat menikmati ceramah dan orasi cokroaminoto yang penuh energi perjuangan meski berada dalam pengawasan pihak belanda, gaya orasi sang guru turut membentuk gaya kepemimpinan bung karno dengan ciri khas pidato – pidatonya yang lantang dan berapi – api, Islamisme Cokroaminoto yang dijuluki oleh belanda sebagai “raja jawa tanpa mahkota” sedikit banyak terserap oleh pemuda soekarno, meski bung karno akhirnya memilih jalannya sendiri dengan hijrah ke Bandung dan kemudian mendirikan Partai Nasionalis Indonesia.

Tatkala berada dalam pengasingan belanda bung karno senantiasa berkorespondesi dengan Kyai Haji Mas Mansur, tokoh pergerakan dan ulama berpengaruh asal Surabaya yang dekat dengan kalangan NU, kelak KH Mas Mansur dipercaya menjadi Pengurus Besar Pesyarikatan Muhammadiyah dan pada masa pendudukan jepang mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dan terlibat dalam perjuangan bersama Bung Karno dalam Empat Serangkai.

Dengan Mas Mansur Bung Karno sering bertukar pikiran tentang Dinamika Islam dan langkah – langkah untuk me-mudakan pengertian Islam, beliau mengutarakan ketidaksetujuannya dengan sikap taklid bahkan secara tegas mengkritisi tentang “hijab” atau pembatas antara jamaah pria dan jamaah wanita, dan banyak kegelisahan – kegelisahan bung karno tentang permasalahan keislaman yang kesemuanya itu menunjukkan semangat dan harapan seorang soekarno agar Syiar Islam tidak jalan ditempat.

Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, Cokroaminoto mempunyai tiga orang pengikut yang kemudian mewarnai politik Indonesia. Mereka adalah Sukarno (ahli nasionalisme), Semaoen (ahli sosialisme), dan Kartosuwiryo (ahli agama). Di kemudian hari, ketiganya saling berseberangan. Semaoen dengan Alimin dan Muso terlibat pemberontakan PKI di Madiun 1947. Sedangkan Kartosuwiryo dikenal sebagai dedengkot Darul Islam (DI)/TII dan memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1948.
null
BK-Semaoen-Kartosuwiryo
dari berbagai sumber

Islam & Sosialisme ; H.O.S. Tjokroaminoto

“Bagi kita, orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa “isme” lain-lainnya, yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan sosialisme yang berdasar Islam itulah saja” (HOS Tjokroaminoto)

Tahun 1924 di Mataram, HOS Tjokroaminoto seorang pendiri dan sekaligus ketua Sarekat Islam (SI) menulis buku “Islam dan Sosialisme”. Buku tersebut ditulis oleh Tjokro, di samping karena pada waktu itu tengah terjadi pemilihan-pemilihan ideologi bangsa, juga lantaran pada waktu itu paham ideologi yang digagas para tokoh dunia sedang digandrungi oleh kalangan pelajar Indonesia, di antaranya sosialisme, Islamisme, kapitalisme dan liberalisme.

Buku Tjokroaminoto ini diterbitkan kembali oleh penerbit TriDe tahun 2003, yang meskipun merupakan pikiran lama, tetapi menjadi penting bagi generasi muda sekarang untuk memberikan inspirasi bagi pemikiran-pemikiran kedepan, pemikiran-pemikiran mendasar, untuk membangun fondasi kokoh bagi kemajuan Indonesia. Memuat tentang pemahaman arti sosialisme, sosialisme dalam Islam, sosialisme Nabi Muhammad serta sahabat-sahabat nabi yang berjiwa sosialis dan komparasi-komparasi sosialisme ala Barat dengan sosialisme ala Islam.

Diantara bab yang menarik untuk di bahas adalah “Sosialisme Dalam Islam” Bab I hal 24 – 41 (Penerbit TriDe). Berikut ini petikan dari Sosialisme dalam Islam :

Dasarnya Sosialisme Islam
“Kaanannasu ummatan wahidatan”

Peri-kemanusiaan adalah menjadi satu persatuan”, begitulah pengajaran di dalam Qur’an yang suci itu, yang menjadi pokoknya sosialisme. Kalau segenap peri-kemanusiaan kita anggap menjadi satu persatuan, tak boleh tidak wajiblah kita berusaha akan mencapai keselamatan bagi mereka semuanya.

Ada lagi satu sabda Allah di dalam Al Qur’an memerintahkan kepada kita, bahwa kita “harus membikin perdamaian (keselamatan) diantara kita”. Lebih jauh di dalam al Qur’an ada dinyatakan, bahwa “kita ini telah dijadikan dari seorang-orang laki-laki dan seorang-orang perempuan” dan “bahwa Tuhan telah memisah-misahkan kita menjadi golongan-golongan dan suku-suku, agar supaya kita mengetahui satu sama lain”.

Nabi kita Muhammad s.a.w. telah bersabda, bahwa “Tuhan telah menghilangkan kecongkakan dan kesombongan di atas asal turunan yang tinggi. Seorang Arab tidak mempunyai ketinggian atau kebesaran yang melebihi seorang asing, melainkan barang apa yang telah yakin bagi dia karena takut dan baktinya kepada Tuhan”. Bersabda pula Nabi kita s.a.w. bahwa “Allah itu hanyalah satu saja, dan asalnya sekalian manusia itu hanyalah satu, mereka ampunnya agama hanyalah satu juga”.

Berasalan sabda Tuhan dan sabda Nabi yang saya tirukan ini, maka nyatalah, bahwa sekalian anak Adam itu ialah anggotanya satu badan yang beraturan (organich lichaam), karena mereka itu telah dijadikan dari pada satu asal. Apabila salah satu anggotanya mendapat sakit, maka kesakitannya itu menjadikan rusak teraturnya segenap badan (organisme).

Barang apa yang telah saya uraikan ini, adalah saya pandang menjadi pokoknya sosialisme yang sejati, yaitu sosialisme cara Islam (bukan sosialisme cara Barat).

Akan menunjukkan, bahwa agama Islam itu sungguh-sungguh menuju perdamaian dan keselamatan, maka di dalam bab ini baiklah saya uraikan maknanya perkataan “Islam”. Adapun makna ini adalah empat rupa:

1. Islam –menurut pokok kata “Aslama” –maknanya: menurut kepada Allah dan kepada utusannya dan kepada pemerintahan yang dijadikan dari pada umat Islam. (“Ya ayyuhalladzina amanu athi’ulloha wa’athi urrosula waulilamri minkum”)
2. Islam –menurut pokok kata “Salima” –maknanya: selamat. Tegasnya: apabila orang dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah-perintah agama Islam, maka tak boleh tidak ia akan mendapat keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat, karena orang Islam itu harus bertabi’at selamat, begitulah menurut hadist sabda Nabi kita yang suci Mohammad s.a.w.: “Afdhalul mukminina islaman man salimal muslimuna min lisanihi wayadihi”, artinya: orang mukmin yang teranggap utama dalam pada menjalankan agama Islam, ialah mereka yang mempunyai tabi’at selamat yang menyelamatkan sekalian orang Islam, karena dari pada bicaranya dan tangannya.
3. Islam, menurut pokok-kata “Salmi” –maknanya: rukun. Tegasnya: orang yang menjalankan agama Islam haruslah rukun. (An aqimuddina wala tatafarraq fiha”, artinya: Hendaklah (kamu) mendirikan agama (Islam) dan janganlah (kamu) sama berselisihan.
4. Islam, menurut pokok-kata “Sulami”– maknanya: tangga, ialah tangga atau tingkat-tingkat untuk mencapai keluruhan dunia dan keluruhan akhirat. Jikalau orang Islam dengan sungguh-usngguh menjalankakn agamanya, maka tak boleh tidak mereka akan mencapai derajat yang tinggi sebagai yang telah di jalankan oleh khulafaurrasyidin.

Dasarnya Perintah-perintah Agama yang Bersifat Sosialistich

Dalam pada mengarangkan perintah-perintah yang berhubungan dengan jalannya ibadah, maka Nabi kita Muhammad s.a.w., ialah pengubah terbesar tentanghal-ikhwal pergaulan hidup manusia bersama (sociale Hervormer) yang terkenal oleh dunia, tiadalah melupakan asas-asas demokrasi tentang persamaan dan persaudaraan dan juga asas-asas sosialisme.

Menurut perintah-perintah agama yang telah ditetapkan oleh Nabi kita, maka sekalian orang Islam, kaya dan miskin, dari rupa-rupa bangsa dan warna kulit, pada tiap-tiap hari Jum’at haruslah datang berkumpul di dalam masjid dan menjalankan shalat dengan tidak mengadakan perbedaan sedikitpun juga tentang tempat dan derajat, di bawah pimpinannya tiap-tiap orang yang dipilih di dalam perkumpulan itu. Dua kali dalam tiap-tiap tahun sekalian penduduknya satu kota atau tempat, datanglah berkumpul akan menjalankan shalat dan berjabatan tangan serta berangkul-rangkulan satu sama lain dengan rasa persaudaraannya. Dan akhirnya tiap-tiap orang Islam diwajibkan satu kali di dalam hidupnya akan mengunjungi Mekah pada waktu yang telah ditentukan, bersama dengan berpuluhdan beratus ribu saaudaranya Islam.

Di dalam kumpulan besar ini, beribuan mereka yang datang dari tempat yang dekat tempat yang jauh sama bertemuan disatu tempat pusat, semuanya sama berpakaian satu rupa yang sangat sederhana, buka kepala dan kaki telanjang, orang-orang yang tertinggi dan terendah derajatnya dari rupa-rupa negeri dan tempat, rupa-rupa pula bangsa dan warna kulitnya; kumpulan besar yang kejadian pada tiap-tiap tahun ini adalah satu pertunjukan sosialme cara Islam dan ialah contoh besar dari pada “persamaan” dan “persaudaraan”. Di dalam kumpulan ini tidak menampak perbedaan sedikitpun juga diantara seorang raja dengan hambanya. Hal inilah bukan saja menanam tetapi juga melakukan (mempraktekkan) perasaan, bahwa segala manusia itu termasuk bilangannya satu persatuan dan diwajibkan kepada mereka itu akan berlaku satu sama lain dengan persamaan yang sempurna sebagai anggota-anggotanya satu persaudaraan.

Kumpulan besar yang kejadian pada tiap-tiap tahun ini bukan saja menunjukkan persamaan harga dan persamaan derajat diantara orang dengan orang, tetapi juga menunjukkan persatuan maksud dan tujuan pada jalannya segenap peri-kemanusiaan. Berpuluh ribu orang laki-laki dan perempuan, tua dan muda, datang di lautan pasir itu dengan segala kemudaratan di dalam perjalannya, hanyalah dengan satu maksud yaitu akan menunjukkan kehormatan dan kepujiannya kepada satu Allah, yang meskipun mereka bisa mendapatkan dimana-mana tempat dan pada tiap-tiap saat, tetapi kecintaan mereka kepada Allah itu diperumumkan di dalam satu kumpulan bersama-sama sebagai Tuhan mereka bersama, ialah Tuhan yang mencinta mereka semuanya –Rabbil ‘alamin. Cita-cita yang terlahir di dalam kumpulan besar ini ialah guna menunjukkan pada waktu yang bersama akan keadaan lahir yang membuktikan persaudaraan bersama dan rasa cinta-mencinta di dalam batin, agar supaya di dalam rohnya tiap-tiap orang Islam tertanamlah cita-cita bersal dari satu Tuhan dan cita-cita persaudaraan diantara manusia dengan manusia.

Sosialisme di dalam Islam bukan saja diajarkan sebagai teori, tetapi dilakukan (dipraktikkan) juga sebagai wajib.

Kedermawanan Cara Islam
Nabi kita menyuruh kita berlaku dermawan dengan asas-asas yang bersifat sosialis. Sedang Quran berulang-ulang menyatakan, bahwa memberi sedekah itu bukannya bersifat kebajikan, tetapi bersifat satu wajib yang keras dan tidak boleh dilalaikannya. Kecuali yang lain-lainnya, maka tentang pemberian sedekah itu Allah ta’ala ada bersabda di dalam Quran beginilah maksudnya:

“Kamu tidak pernah akan dapat mencapai keadilan, kecuali apabila kamu telah memberikan daripada apa yang kamu cintai; dan Tuhan mengetahui apa yang kamu berikan itu”.

Di satu tempat yang lain, Allah ta’ala bersabda di dalam Quran begini maksudnya:
“Barang siapa memberi sedekah dari pada kekayannya, guna membuat lebih suci dirinya. Dan tidak supaya kebajikannya akan diberi upahan. Tetapi barang siapa memberikan kekayannya untuk keperluan perkaranya dia punya Tuhan, yaitu Tuhan yang Maha luhur. Dan kemudiannya tidak boleh tidak dia akan bersenang dengan dia punya upahan”.

Masih ada lagi lain-lain perintah Tuhan yang mewajibkan kita memberi sedekah dari pada kekayaan kita. Satu dua sabda Nabi kita, yang menunjukkan sifat sosialis yang terkandung di dalam aturan pemberian sedekah, adalah seperti yang berikut:

“Sekalian makhluk Tuhan adalah Tuhan ampunnya keluarga dan ialah yang sangat berbakti (percaya) kepada Tuhan yaitu barang siapa berusaha berbuat sebanyak-banyaknya kebajikan kepada makhluk Tuhan”.

“Memberi sedekah adalah satu wajib bagi kamu. Sedekah hendaklah diberikan oleh orang kaya diberikan kepada orang miskin”.

“Siapakah yang sangat dikasihi oleh Tuhan? Yaitu barang siapa mendatangkan sebesar-besarnya kebaikan bagi makhluk Tuhan”.

Sepanjang pengetahuan saya, maka hanyalah Nabi kita itu saja pemberi wet yang telah menetapkan ukuran besar-kecilnya kedermawanan yang berupa sedekah. Sepanjang kemauan Islam maka sedekah ada dua macamnya, yaitu sedekah yang bergantung dari kemauannya pemberi, dan sedekah yang diwajibkan, ialah zakat namanya. Menurut perintah Tuhan di dalam Al Qur’an maka zakat haruslah diberikan kepada delapan golongan manusia: 1. Orang-orang fakir; 2. Orang-orang miskin; 3. ‘Amil, yaitu orang-orang yang diserahi pekerjaan mengumpulkan dan membagi zakat; 4. Mu’amalah kulubuhum (mereka yang hatinya harus dilembekkan akan menurut kepada agama Islam), yakni orang-orang yang meskipun sudah masuk agama Islam, tetapi kerajinannya kepada agama masih lembek, atau orang-orang ternama yang boleh melakukan pengaruh di atas masuknya lain-lain orang kepada agama Islam; 5. Buat membeli lepas orang-orang budak belian. 6. Orang-orang berhutang yang tidak berkuasa membayar hutang itu, yakni hutang untuk keperluan ke-islaman; 7. Orang-orang yang melakukan perbuatan untuk memajukan agama Tuhan dan 8. Orang-orang bepergian, yang tidak akan dapat menyampaikan maksud perginya kalau tidak dengan pertolongannya sesama orang Islam.

Adapun besarnya zakat adalah ditentukan sekian, sehingga apabila segenap peri-kemanusiaan menurut hukum Islam tentang zakat, ditambah pula dengan kedermawanan yang lain-lainnya sebagai yang dikehendaki oleh Islam, maka di dunia kita akan datanglah peri-keadaan sosialisme, peri-keadaan sama rata sama rasa, ialah peri-keadaan selamat.

Maksudnya melakukan perintah tentang kedermawanan di dalam wet Islam, ternyata ada tiga rupa, yang mana masing-masing sama mempunyai dasar sosialis.

1. Akan membangun rasa ridha mengorbankan diri dan rasa melebihkan keperluan umum dari pada keperluan diri sendiri. “Lebih baik mati sendiri, tetapi janganlah membiarkan lain orang mati karena kelaparan”, –inilah rupanya yang telah menjadi pokoknya cita-cita.
2. Akan membahagi kekayaan sama-rata di dalam dunia Islam. Dengan lantaran menjadikan peberian zakat sebagai salah satu rukun Islam, adalah dikehendaki; supaya umpamanya ada orang mendapat tinggalan warisan harta-benda yang besar, orang-orang yang miskin dan kekurangan akan mendapat bahagian dari pada kekayaan itu.
3. Akan menuntun persaan orang, supaya tidak anggap kemiskinan itu satu kehinaan, supaya orang anggap kemiskinan itu ada lebih baik dari pada kejahatan. Sekalian orang suci dalam Islam sukalah menjadi miskin, sedang kita punya Nabi yang mulia itu sendiri telah berkata: “Kemiskinan itu menjadikan besar hati saya”. (Al Fakir fakhri).

Dasar sosialistik yang tersebut ketiga ini perlu sekali ditanamkan dalam hati orang dalam pergaulan hidup bersama antara bangsa Arab pada zaman dulu, karena banyaklah diantara mereka yang congkak di atas asal-turunan dan peri-keadaan yang asal dari nenek moyangnya, tetapi lebih perlu pula sekarang ini ditanamkan dalam hatinya orang-orang bangsawan dan hartawan dalam pergaulan hidup bersama pada zaman sekarang.

Persaudaraan Islam
Islam adalah sebenar-benarnya satu agama yang bersifat demokratis dan telah menetapkan beberapa banyak hukum yang bersifat demokratis bagi orang-orang yang memluk dia. Islam menentukan persaudaraan yang harus dilakukan benar-benar diantara orang-orang Islam di negeri yang mana pun juga, baik yang berkulit merah ataupun berkulit kuning, berkulit putih atau hitam, yang kaya atau yang miskin. Persaudaraan Islam sangatlah elok dan indah sifatnya. Ia dapat menghilangkan permusuhan yang asal dari turun-turunan yang sudah berabad lamanya; orang asing dijadikannya sahabat karib dan persahabatannya itu lebih kuat dari pada perhubungan saudara yang asal dari darah.

Persaudaraan Islam sampai pada tingkat yang tinggi sekali, yaitu terbukti: sepeninggalnya Nabi Muhammad s.a.w. pimpinan Republik Arab tidak diberikan kepada kaluarganya yang terdekat dan tercinta, tetapi diberikan kepada salah seorang sahabtnya. Isalm telah menghapuskan perbdaan karena bangsa dan karena kulit sampai begitu luasnya, sehingga beberapa orang Abyssine yang “hitam kulitnya” telah menjadi pemimpin yang sangat terhotmat diantara orang-orang Islam, sedang tiga orang anggota yang sangat ternama dari pada pergaulan hidup Islam bersama –yaitu Hasan, Bilal dan Suhail masing-masing berasal dari Basrah, Habash, (Abyssine) dan Rum (Tuki di Azie) –ketiganya ini berbeda-beda juga warna kulitnya. Islam membunh perbedaan karena kaste dan karena klas begitu sempurna, sehingga orang-orang budak belian telah dijadikan komandan dari bala-tentara Islam memerintah di atas orang-orang dari asal turunan yang tinggi dan tinggi pula derajatnya. Perkawinan antara budak belian dengan orang merdeka yang ternama dirayakan dengan seharusnya, dan anak-anak yang terlahir dari pada mereka dihormat satu rupa juga sebagai anak-anak turunan bangsawan.

Hingga pada dewasa ini di tanah Arab adalah berlaku persamaan yang sempurna antara orang dengan orang, dan seorang penuntutn unta, seorang saudagar kaya dan seorang yang mempunyai tanah, makan dan minum dan hidup bersama-sama dengan tidak ada perbedaannya. Bahkan di Hindia, di dalam negeri Islam Bopal, orang-orang budak makan di meja bersama-sama dengan tuannya. Meskipun Nabi kta s.a.w. pada zamannya tidak atau tidak bisa menghapuskan aturan budak belian—(kaum miskin, kaum proletar, dalam abad ke 20 ini pun nasibnya tidak lebih baik dan tidak lebih menyenangkan dari pada nasibnya orang-orang budak belian di negeri Islam), tetapi Nabi kita, ialah Pengubah dunia yang terbesar, telah membeli tusukan yang terkeras kepada aturan budak belian, yaitu dengan lantaran derajatnya budak belian disamakannya dengan derajatnya orang merdeka. Diperintahkan oleh Nabi kita, supaya orang-orang budak belian diberi makanan satu rupa yang dimakan oleh tuannya, diberi pakaian satu rupa yang dipakai oleh tuannya. Orang merdeka diperkenankan berkawin sama budak belian, dan orang-orang bnudak belian mendapat persamaan hak dan persamaan perikeadaan dalam hukum dengan orang-orang merdeka.

Di Hindustan adalah beberapa raja pada dulu-kala yang asal turunan dari orang-orang budak belian. Diantara yang lain-lainnya, maka raja Kutubuddin yang ketika masih anak-anak menjadi budak belian, telah memerintahkan negeri yang amat besar dengan segala kebijaksanaan. Beberapa orang dari pada raja-raja yang tersebut itu, ialah pemimpin yagn sangat bijaknya dan mashur karena tinggi pelajarannya.

Menara Kutub Minar di kota Delhi (Hindustan), yang didirikan oleh raja yang pertama-tama asal budak belian di Hindustan pada permulaan abad yang ke 13, sekarang ini masih berdiri sebagai protes terhadap kepada pengarang-pengarang bangsa Eropa yang dengan buta-tulinya senantiasa membusuk-busukkan aturan budak belian Muslim. Kutub Minar itulah satu tanda peringatan yang gagah menunjukkan betapa besar jasanya Islam kepada orang-orang budak Islam.

Islam dan Anasir-anasir Sosialisme
Menurut pendapatan saya di dalam faham sosialisme adalah tiga anasir, yaitu: kemerdekaan (virjheid-liberty), persamaan (gelijkheid-equality) dan persaudaraan (broederschap-fraternity). Ketiganya anasir ini adalah dimasukkan sebanyak-banyaknya di dalam peraturan-peraturan Islam dan di dalam perikatan hidup bersama yang telah dijadikan oleh Nabi kita yang suci Muhammad s.a.w.

a. Kemerdekaan
Tiap-tiap orang Islam tidak harus takut kepada siapa atau apa pun juga, melainkan diwajibkan takut kepada Allah saja. “Lahaula wala kuwwata illa billah” (Tidak ada pertolongan dan kekuatan, melainkan dari pada Allah belaka). “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (Hanyalah Tuhan saja yang kita sembah dan hanyalah Tuhan sendiri yang kita mintai pertolongan).

Beberapa orang Arab, yang tidak biasa tinggal berumah yang tetap, belum pernah melihat rumah batu, yang dulu dengan pakaiannya yang buruk dikirmkan menghadap raja-raja Persi dan Roma yang berkuasa, meskipun raja-raja ini mempertunjukkan kekuasaan dan kebesarannya, orang-orang Arab tadi tiadalah menundukkan badannya dan kelihatan tidak bertakut sedikit pun juga di mukanya raja-raja tadi.

Sesungguhnya di dunia ini tidak ada barang sesuatu yang menakutkan mereka. Mereka merasa tidak menanggung jawab kepada apa pun juga, melainkan kepada mereka ampunya persaan batin sendiri, kepad mereka ampunya Allah yang Maha Kuasa, Maha Besar dan Maha Tinggi. Mereka itu merdekalah seperti hawa dan merasakan seluas-luasnya kemerdekaan yang orang dapat memikirkannya.
Quran yang suci menyatakan:

“Kemurahan, yang Tuhan akan mengaruniakan sebanyak-banyak kepada manusia, tiadalah dapat dicegahkan oleh siapa pun juga; barang apa yang Tuhan mempertegahkan, tiadalah dapat dikaruniakan kepada manusia kalau tidak dengan perantaraan Tuhan, dan Dialah yang kuasa dan berpengetahuan.” (Surah XXXV).

b. Persamaan
Tentang “persamaan” maka orang-orang Muslimin dalam zaman dulu bukan saja semua anggap dirinya sama, tetapi mereka semua anggap menjadi satu. Diantara orang-orang Muslimin tidak ada sesuatu perbedaan yang mana pun juga macamnya. Dalam pergaulan hidup bersama diantara mereka tidak ada perbedaan derajat dan tidak ada pula sebab-sebab yang boleh menimbulkan perbedaan klas. Tentang hal ini Khalifah Sayidina Umar r.a. adalah sangat kerasnya. Salah satu suratnya menceritakan satu perkara yang menunjukkan asas-asasnya dengan seterang-terangnya. Kecuali yang lain-lainnya maka ia telah menulis kepada Abu Ubaidah, yang salinannya kurang lebih begini:

…Begitulah bicara saya disebabkan oleh Jabalah Ibn Ayhim dari suku bangsa Gassan, yang datang pad kita dengan sanak saudaranya dan kepala dari suku bangsanya, yang saya terima dan saya jamu dengan sepatutnya. Di muka saya mereka menyatakan pengakuan memeluk agama yang benar, sayapun bermuka-cita bahwa “Allah telah menguatkan agama yang hak dan bertambah banyak orang yang memeluknya, lantaran mereka itu datang masuk dan mengetahui apa yang ada di dalam rahasia. Kita bersama pergi ziarah ke Mekkah, dan Jabalah pergi mengelilingi ka’bah tujuh kali. Ketika ia pergi keliling, maka kejadianlah ada seorang laki-laki dari suku bangsa Fizarah menginjak dia punya vest hingga jatuh dari pundaknya. Jabalah membelukkan diri sambil berkata: “Celakalah kamu! Kamu telah menelanjangkan belakangku di dalam ka’bah yang suci”. Si penginjak bersumpah, bahwa ia berbuat yang demikian itu tidak dengan sengaja. Tetapi lalu dipukul oleh Jabalah, dipecahkan hidungnya dan dicabut empat giginya yang sebelah muka. Si miskin yang teraniaya segeralah datang pada saya dan mengadukan keberatannya sambil meminta pertolongan saya. Maka saya perintahkan membawa Jabalah di muka saya, dan saya tanya apakah yang menyebabkan padanya telah memukul saudaranya Islam dengan cara yang demikian ini, mencabut gigi dan memecahkan hidungnya. Ia pun menjawab, bahwa orang tadi telah menginjak vest dan menelanjangkan belakangnya, dengan ditambah perkataan: kalau tidak mengingat hormat yang ia harus tunjukkan kepada ka’bah yang suci, niscaya orang itu telah dibunuh olehnya. Saya pun menjawab, bahwa ia telah melahirkan pengakuan yang terang memberatkan dirinya sendiri; dan apabila orang yang menanggung kerugian itu tidak memberi ampun padanya, saya mesti menuntut perkara padanya selaku pembalasan. Ia menjawab, bahwa ia raja dan orang yang lainnya itu orang tani”. Saya menyatakan padanya, bahwa hal itu tidak dapat diperdulikan, mereka keduanya adalah orang Islam dan oleh karenanya mereka bersamaanlah adanya. Sesudahnya itu ia minta, supaya dia punya hukuman dipertangguhkan sampai keesokan harinya. Saya menanya kepada orang yang mendapat kerugian, apakah ia suka menunggu selama itu; iapun melahirkan mufakatnya. Tetapi pada waktu malam Jabalah dan teman-temannya sama melarikan dirinya”.

Gibbon, seorang pengarang riwayat bangsa Inggris yang terkenal namanya (meninggalkan dunia dalam tahun 1794) telah berkata yang salinannya kurang lebih begini:

“Tetapi berjuta orang Afrika dan Asia yang sama berganti agama (memeluk agama Islam-pen) dan sama menguatkan tali ikatannya orang-orang Arab yang percaya (beragama Islam.—pen); mereka telah menyatakan kepercayaannya kepada satu Allah dan kepada utusan Allah, itulah niscaya dari sebab tertarik oleh barang yang indah, tetapi dari sebab dipaksanya. Dengan lantaran mengulangi ucapan satu kalimat dan kehilangan sepotong daging, maka orang hamba rakyat atau budak belian, orang hukuman atau penjahat, dalam sekejap mata berdirilah menjadi sahabat yang merdeka dan bersamaan derajatnya yang mengikat dipecahkan, sumpah tidak berkawin dihapuskan oleh pelajaran yang sesuai dengan keadaan ‘alam, kekuatan-kekuatan batin yang tidur di dalam gedung terungku menjadi bangunlah karena mendengar terompetnya orang-orang Arab, dan di dalam mengumpulkan dunia jadi satu, tiap-tiap anggotanya satu pergaulan hidup bersama yang baru itu naiklah sampai kepada muka yang dijadikan oleh ‘alam menurut dia punya kekuatan dan keberanian”. (Tidak dirintangi oleh wet-wet yang memperbedakan bangsa, klas atau warna kulit, seperti yang lumrahnya ada di dalam pergaulan hidup bersama yang bersifat kapitalistik ini. –pen).

Persamaan yang ‘adil serupa itu telah menyebabkan segenap umat Islam menjadi satu badan, satu nyawa. Cita-cita persamaan yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. adalah seperti berikut:

“Segala orang Islam adalah sebagai satu orang. Apabila seorang-orang merasa sakit dikepalanya, seluruh badannya merasa sakit juga, dan kalau matanya sakit, segenap badannya pun merasa sakit juga”. “Segala orang Islam adalah sebagai satu bina-bina, beberapa bahagian menguatkan bahagian yang lain-lainnya, dengan laku yang demikian itu juga yang satu menguatkan yang lainnya”.

Orang Islam tidak memperkenankan juga orang-orang yang tidak Islam membuat perbedaan antara orang dengan orang. Apabila mereka menerima utusan-utusannya raja Kristen, dan ketika utusan itu menurut ‘adat kebiasaannya sendiri berjongkok di mukanya kepala-kepala Muslimin, maka kepala-kepala ini tidak meluluskan utusan tadi berjongkok, sebab mereka itu sama-sama makhluk Tuhan belaka.

c.Persaudaraan
Persaudaraan diantara orang-orang Islam satu sama lain adalah sangat bagusnya. Rasa cinta diantara mereka itu seperti rasa cinta diantara saudara yang sebenar-benarnya. Di dalam Quran ada sabda Tuhan, menyatakan bahwa Tuhan sendiri menaroh kecintaan dan rasa persaudaraan di dalam hatinya tiap-tiap orang Islam akan mencintai dan merasa bersaudara kepada sesama saudara Islam. “Dan Tuhan menaruh kecintaan di dalam hati mereka itu. Meskipun kamu (Muhammad) telah memberikan segala apa yang ada di dalam dunia, tiadalah kamu akan dapat menjadikan kecintaan di dalam hati mereka. Tetapi Tuhan telah menjadikan kecintaan diantara mereka itu”, begitulah sabda Tuhan di dalam Al Quran.

Adalah pula satu dua ayat di dalam Quran, yang maksudnya harus saya buka disini, seperti yang berikut:

“Peganglah kokoh tali Tuhan yang mengikat semuanya, janganlah menimbulkan percerai-beraian, dan ingatlah akan kemurahan Tuhan kepada kamu, ketika Tuhan menaruh kecintaan di dalam hatimu pada kalanya kamu bermusuhan satu sama lain, dan sekarang kamu menjadi saudara karena karunia Tuhan”.

Sabda Nabi kita tentang persaudaraan:

“Orang-orang Islam adalah saudara di dalam agama dan tidak boleh tindas-menindas satu sama lain, juga tidak boleh melalaikan tolong-menolong satu sama lain, juga tidak boleh hina menghina satu sama lain”.

“Barang siapa tidak bercinta kepada makhluk Tuhan dan kepada anak-anaknya sendiri, Tuhan tidak akan mencintai dia”.

“Tidak seorang mempunyai kepercayaan yang sempurna, sebelum ia mengharapkan bagi saudaranya barang apa yang dia mengharap bagi dirinya sendiri”.

Cita-cita persaudaraan yang disiarkan oleh Nabi kita muhammad s.a.w. adlah bagietu luasnya, sehingga Nabi kita telah minta kepada orang-orang yang mengikuti dia, hendaklah mereka berlaku di atas dia sebagai saudaranya sendiri.

Kekuatannya persaan sama-sama dan persaudaraan Islam adalah begitu besar, sehingga Faridduin Attar, seorang Sufi Islam besar, pada suatu waktu telah melahirkan pengharapannya begini: “Mudah-mudahanlah kesusahan sekalian orang ditarohkan di dalam hatiku, agar supaya sekalian mereka itu terhindar dari kesusahannya”.
Dengan sebenarnyalah Tuan M. A. Hamid Snow boleh berkata dengan suka citanya, kira-kira seperti berikut:

“Satu warnanya Islam yang nyata, ialah satu pelajaran yang menyatakan halnya persaudaraan dan Persamaan. Pada pintunya Islam, segala apa saja adalah terhindar dari pada bau-bau yang menunjukkan klas atau kecongkakan dalam pergaulan hidup bersama. “

Dengan sebenar-benarnyalah persaudaraan di dalam Islam adalah sesempurna-sempurnanya persaudaraan, baik didunia maupun persaudaraan di akherat.

Referensi : “Islam & Sosialisme”, HOS Tjokroaminoto, Penerbit TriDe, Yogyakarta, 2003
serbasejarah.wordpress.com

KASAD : WASPADAI IDEOLOGI KOMUNIS

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo mengatakan, berbicara tentang komunis, kita sepakat bahwa ideologi komunis merupakan bahaya laten yang harus terus diwaspadai, yang dalam sejarahnya telah menorehkan tinta hitam dan sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut dikatakan pada Seminar kesejarahan 2009 yang diselenggarakan oleh Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat” di Museum A.H. Nasution Jl. Tengku Umar No. 40 Jakarta Pusat, Rabu (30/9).

Lebih lanjut Kasad mengatakan, sejarah mengajarkan betapa kejamnya kaum komunis terhadap mereka yang tidak sepaham, baik pengkhianatan PKI di Madiun tahun 1948 maupun pemberontakan Gerakan 30 September PKI di Jakarta tahun 1965. Sebagai fakta sejarah, dua peristiwa itu, adalah noktah-noktah hitam historisitas kita sebagai bangsa. Keduanya selalu jadi bahan ingatan agar tidak terjadi lagi di masa depan.

Dalam konteks itu, perlu memahami mengapa akhir-akhir ini dimunculkan isu Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Selain mengingatkan kita tentang “noktah-noktah hitam” di masa lalu, kita disadarkan tentang kegunaan sejarah. Sejarah mendidik kita untuk bertindak bijaksana.

Peristiwa sejarah memang bisa menimbulkan kontroversi dan penafsiran yang subyektif dari berbagai kalangan, khususnya bagi para penulisnya. Menurut sejarawan Taufik Abdullah dari LIPI, perdebatan mengenai sejarah adalah hal yang lumrah. Apalagi terhadap peristiwa penting seperti pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 dan G 30 S/PKI di Jakarta tahun 1965. Kebengisan dan kekejaman kedua peristiwa besar itu sudah menjadi trauma bagi bangsa Indonesia. Sangatlah wajar, jika peristiwa kekejaman tersebut harus selalu diingatkan. Sudah seharusnya kalau kita kemudian tersen-tak ketika ada isu-isu upaya memutar-balikkan sejarah.

Peristiwa Madiun, bukan hanya pemberontakan tetapi pengkhianatan PKI, bukan hanya memberontak tetapi mengkhianati perjuangan bangsa, karena waktu itu bangsa Indonesia sedang menghadapi penjajah yang ingin kembali ke Indonesia. Peristiwa itu berulang kembali pada tahun 1965, dengan korban ribuan manusia, di antaranya tujuh Pahlawan Revolusi sebagai bukti kekejaman dan kebengisan PKI. Kedua pengkhianatan PKI itulah yang paling traumatis, yang menorehkan noktah paling hitam, paling dalam, dan paling berdampak besar dan lama hingga sekarang. Dikatakan, Upaya pembelokan sejarah Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia semakin gencar dengan munculnya beragam versi dan peristiwa yang berpotensi membingungkan masyarakat.

Upaya mengubah sejarah G 30 S/PKI dengan memposisikan PKI sebagai korban dan bukannya pelaku atau dalang kini terus berlanjut dan semakin intensif, seperti munculnya buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI sebagai pelaku dari gerakan pemberontakan pada tanggal 30 September 1965 itu.Modus dari upaya pihak-pihak yang ingin menghapus jejak sejarah itu, dilakukan dengan menimbulkan keraguan di tengah masyarakat, terhadap siapa sebenarnya yang melakukan gerakan pemberontakan pada tahun 1965 itu.

Oleh karena itu, apabila ada kelompok atau golongan tertentu yang secara sistematis ingin mengkaburkan peristiwa tersebut, sudah barang tentu menjadi kewajiban kita bersama untuk mengembalikan kepada peristiwa yang sebenarnya terjadi secara faktual. Memang sangat sulit untuk mendeteksi gerakan mereka secara kasat mata, karena mereka berada disekeliling kita, bahkan mereka telah membaur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun apabila kita cermati dari cara-cara yang mereka lakukan, baik berbentuk penyampaian gagasan, ide, cara bertindak dan lain sebagainya bahkan secara terbuka membuat pengakuan kebanggaannya melalui tulisan, maka semakin meyakinkan kita bahwa mereka telah membentuk diri menjadi Komunis Gaya Baru.

Untuk mengetahui indikator-indikator gerakan Komunis Gaya Baru dan langkah-langkah apa yang mesti kita tempuh, maka melalui seminar sejarah ini diharapkan dapat membedah persoalan tersebut dan dapat dirumuskan solusi yang tepat, untuk dijadikan sebagai senjata dalam rangka melawan gerakan mereka, sehingga sejarah kelam di masa lampau yang sempat menghiasi negeri ini tidak perlu terulang dan terjadi lagi.

Sumber: Dispenad

Membuka Hub Diplomatik dengan Israel????

Belum usai perhitungan suara Pemilu 1999, PDI Perjuangan (PDI-P) sudah menampilkan rencana kontroversialnya: Membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Anggota Balitbang PDI-P, Subagio Anam, mengatakan kepada koran Israel Ha’aretz bahwa pihaknya akan mengembangkan hubungan dengan Israel untuk membawa kesejahteraan keseluruh wilayah.Kepada Republika tokoh PDI-Pberagama Nasrani, Aberson Marle Sihaloho, juga
menegaskan bahwa PDI-P berpandangan tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Menurut Aberson, membuka hubungan dan mengakui Israel merupakan sikap yang sesuai dengan UUD 1945. Aberson mengecam sikap Menlu Alatas yang hanya mengakui Palestina, tetapi tidak mau mengakui Israel.Seruan agar Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel sudah lama terdengar. Di antara tokoh yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Israel adalah LB Moerdani dan Abdurrahman Wahid. Selain beberapa kali mengunjungi Israel, Abdurrahman Wahid juga sering mengeluarkan pernyataan yang mendesak agar Pemerintah RI segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Terakhir, ketika tampil dalam acara Partai-Partai di TPI 24 Mei 1999, Abdurrahman Wahid mengatakan: ”Anda bayangkan, coba Indonesia mengakui UniSoviet dan mengakui RRC. Itu suatu negara di mana anggarandasarnya mengatakan bahwa Atheisme itu adalah bagian dari kehidupan negara, kita akui sebagai negara. Israel itu masih mengakui Tuhan. Anda tidak mau mengakui. Siapa yang bodoh?”Sejak Perjanjian Damai antara Pemerintah Israel dengan PLO ditandatangani pada bulan September 1993, di Indonesia sudah muncul beberapa desakan agar
Indonesia segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tanggal 13 September 1993, Harian Kompas menulis pernyataan Menhankam Edi Sudradjat yang mengatakan bahwa jika negara-negara Arab sudah menjalin hubungan dengan Israel, maka mengapa Indonesia tidak menyusulnya.Kelihatannya, yang ”bernafsu” untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel bukan hanya orang Indonesia. Pihak Israel selama ini juga sangat aktif dalam melobi Indonesia, agar membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Awal Oktober 1993, dalam sidang WTO (World Tourism Organization) di Denpasar Bali, Israel mengirimkan dua pejabat tingginya, yaitu Daniel Megiddo (Dubes Israel di Singapura) dan Mordechai Ben Ari (Deputi Direktur Jenderal Departemen Pariwisata Israel).

Tak lama kemudian, pada tanggal 15 Oktober 1993, Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin mampir ke Jakarta dan menemui Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Selama satu jam, Rabin berbicara dengan Presiden Soeharto dan mendesak Indonesia agar bersedia membuka hubungan dengan Israel. Kunjungan Rabin itu begitu tiba-tiba, sehingga terkesan mendadak dan rakyat Indonesia tidak sempat bereaksi.Pada tanggal 22 Februari 1994, Republika memberitakan bahwa lima senator Amerika Serikat yang berkunjung ke Jakarta juga ikut-ikutan mendesak
Indonesia agar segera membuka hubungan dengan Israel. Pada bulan Februari 1994, Israel mengundang empat wartawan Indonesia untuk berkunjung ke Tel Aviv dan melakukan wawancara eksklusif dengan Rabin. Dalam kesempatan tersebut, Rabin mengungkapkan harapannya agar hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Israel segera direalisasikan. Gara-gara ikut dalam rombongan wartawan itu, pengurus ICMI Nasir Tamara akhirnya didemo mahasiswa.Masih dalam tahun itu juga, pada bulan Oktober 1994, empat tokoh masyarakat diketahui berkunjung ke Israel. Mereka adalah Abdurrahman Wahid (NU), Habib
Chirzin (Muhammadiyah), Djohan Effendi (Departemen Agama), dan Bondan Gunawan (Forum Demokrasi). Keempatnya diundang untuk menghadiri sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Institut Harry S Truman, dan sekaligus menyaksikan penandatanganan perjanjianperdamaian antara Jordania dan Israel.Sepulang dari Israel, Abdurrahman Wahid menyerukan perlunya Indonesia segera
membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Langkah itmenurutWahid, akan menguntungkan posisi Indonesia di dunia internasional. Jika Arab saja sudah menjalin hubungan dengan Israel, maka mengapa Indonesia — yang tidak terlibat konflik denganIsraeljustrumempermasalahkannya? (Garta, 26 November 1994).

Berbagai desakan dari kalangan ”koalisi pro-Zionis-Israel” agar Indonesia
segera membuka hubungan dengan Israel, membuat posisi Indonesia cukup sulit.
Bagi Israel, hubungan diplomatik dengan Indonesia tentunya menjadi sangat
berarti, sebab Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di
dunia. Ketika itu, Indonesia juga sedang menduduki jabatan sebagai Ketua
Gerakan Non-Blok.

Selama ini, desakan agar Indonesia segera membuka hubungan diplomatik dengan
Israel senantiasa mendapat tantangan keras di dalam negeri Indonesia.
Tanggal 19 September 1993, sekitar 15.000 kaum Muslim Indonesia melakukan
protes dan apel anti-Israel di halaman Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru,
Jakarta.

Menyambut kedatangan Yitzak Rabin di Jakarta, juga muncul aksi demonstrasi
yang dilakukan oleh HIPMAZ (Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Anti-Zionis) di
Jakarta. Mensesneg Moerdiono akhirnya menjelaskan bahwa dalam menerima
kedatangan Rabin di Jakarta, Presiden Soeharto bukan bertindak sebagai
Presiden RI, melainkan sebagai Ketua Gerakan Non-Blok. Tentang kedatangan
dua petinggi Israel di Denpasar, Menko Polkam Soesilo Soedarman menjelaskan
bahwa mereka datang bukan atas undangan Indonesia, melainkan atas undangan
WTO.

Dari kalangan Islam, almarhum Lukman Harun termasuk yang sangat gigih dalam
menolak untuk membuka hubungan dengan Israel. Desakan lima senator Amerika
Serikat juga segera mendapat respons dari kalangan kaum Muslimin Indonesia.
Lukman Harun memprotes keras aksi lima senator Amerika Serikat. Sebelumnya,
dalam seminar di UII Yogyakarta, 13-18 Januari 1992, Lukman Harun sudah
mengatakan: ”Kalau ada orang Indonesia yang berusaha untuk mengakui Israel
serta untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel, maka kami segera
menjawab atau pun membantah usaha-usaha atau pun pernyataan yang akan
mengakui Israel tersebut.”

Pada tanggal 19 September 1993, KISDI mengeluarkan pernyataan: ”Pembukaan
hubungan diplomatik antara RI dengan Israel bertentangan dengan
prinsip-prinsip Gerakan Non Blok. Karena itu, membuka hubungan diplomatik
berarti mengakui eksistensi kolonialisme serta menyakiti perasaan umat Islam
sedunia, dan umat Islam Indonesia khususnya.

Sejauh ini Pemerintah Indonesia masih dapat bertahan dari desakan ”koalisi
pro-Zionis-Israel” tersebut. Pada 30 November 1987, Presiden Soeharto
menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah hanya dapat diselesaikan jika
rakyat Palestina mendapatkan kemerdekaan untuk mendirikan negara yang
berdaulat di tanah airnya yang dicaplok oleh Israel. Presiden menegaskan
bahwa Israel harus angkat kaki dari wilayah yang didudukinya dalam Perang
1967, termasuk Yerusalem.

Dalam Sidang KTT OKI ke-6 di Dakar, Senegal, tahun 1991, Presiden Soeharto
mengatakan: ”Perdamaian hanya dapat ditegakkan dengan memberikan hak
menentukan nasib sendiri kepada rakyat Palestina dan penarikan tanpa syarat
pasukan pendudukan Israel dari seluruh wilayah Arab yang diduduki, termasuk
Al Quds Al-Syarif, Dataran Tinggi Golan, dan Lebanon Selatan.”

Sikap Indonesia tersebut masih dipegang erat hingga kini. Dasarnya adalah
konstitusi negara RI, yang menegaskan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu
adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan. Bagi Indonesia, pendudukan Israel atas wilayah yang
didudukinya adalah suatu bentuk penjajahan, dan karena itu, menjalin
hubungan diplomatik dengan Israel dapat diartikan sebagai ”dukungan”
terhadap Sang Penjajah. Sejak awalnya, Israel didirikan dengan teror dan
pengusiran warga Palestina. Apalagi, Israel juga tidak pernah mau mentaati
Resolusi DK PBB No 242 dan 338 yang meminta agar Israel mundur dari wilayah
yang didudukinya dalam perang tahun 1967.

Sampai sekarang, negara Zionis Israel masih tetap konsisten dengan ”watak
abadinya”, yaitu ingkar janji (khianat). Sesuai dengan Perjanjian Oslo
tahun 1993, tanggal 4 Mei 1999 merupakan batas terakhir pemerintahan otonomi
Palestina. Tetapi, Arafat ditekan oleh Israel dan induk semangnya, Amerika
Serikat, agar tidak memproklamasikan negara Palestina. Pada tanggal 29 April
1999, Netanyahu dengan sombongnya mengatakan: ”Hari ini Arafat telah
mundur. Dia mundur karena dia tahu tak akan memberikan apa yang dimintanya.
Selama saya masih menjadi Perdana Menteri, dia tahu bahwa negara Palestina
tak akan terbentuk.”

Masalah Jerusalem Timur, yang dituntut oleh Arafat untuk menjadi ibukota
negara Palestina Merdeka, sampai sekarang masih menjadi masalah rumit. Tahun
1947, PBB telah memutuskan Jerusalem menjadi kota internasional di bawah
naungan PBB. Tetapi Israel tidak peduli. Pada tahun 1967, Israel sudah
mencaplok seluruh Jerusalem dan menjadikannya sebagai ibukota negara Israel.

Tanggal 5 Desember 1949, David Ben Gurion sudah menegaskan: ”Jerusalem
adalah jantung dari jantungnya Israel.” PBB menolak klaim Israel tersebut.
Tetapi, negara Zionis itu malah menantang, dan pada tanggal 11 Desember
1949, menyatakan bahwa Jerusalem telah menjadi ibukota Israel sejak hari
pertama berdirinya. Semula, negara-negara Barat sendiri tidak mau
memindahkan Kedubesnya ke Jerusalem. Tetapi, dengan modal kesabaran,
kelicikan, dan budaya suap khas Zionis Yahudi, lama-lama negara-negara Barat
takluk terhadap Israel. Tahun 1990, Senat dan Kongres AS mengeluarkan
resolusi bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel dan harus tetap menjadi
ibukota Israel.

Mencermati bernafsunya PDI Perjuangan dan Abdurrahman Wahid untuk membuka
hubungan diplomatik dengan Israel, kita patut bertanya, apakah sudah saatnya
Indonesia jatuh ke dalam pelukan Zionis? Apakah hal itu merupakan imbalan
yang harus dibayar oleh ”koalisi pro-Zionis-Israel” atas kemenangan Pemilu
1999 ini? Jika hal itu benar, alangkah malangnya bangsa ini.

Jangan hanya karena membela suara minoritas,suara mayoritas jadi terabaikan………….