Category Archives: Gandrung

Gandrung dan Identitas Daerah

Oleh Hasan Basri
Di Banyuwangi berkembang berbagai jenis kesenian tradisional. Ada janger, kuntulan, kundaran, angklung caruk, barong, rengganis, gandrung dan masih banyak yang lain. Di antara sejumlah kesenian tradisional tersebut, gandrung menempati posisi istimewa sekaligus unik dilihat dari dinamika perkembangannya kaitan relasinya dengan negara, agama dan masyarakat. Gandrung bagi banyak pengamat dan peneliti tak banyak beda dengan tayub, lengger, gambyong, teledek dan sejenisnya. Sebuah kesenian yang menampilkan seorang sampai empat orang perempuan dewasa menari, menembang, sendirian maupun berpasangan dengan penonton pria (pemaju) pada malam hari dengan iringan orkestra sederhana; gong, kethuk, keluncing (trianggel), biola, kendang.
Namun bagi para tokoh di Banyuwangi gandrung tidak sekedar kesenian profan sekedar bersenang-senang menghabiskan malam, tapi sebuah kesenian yang sarat dengan nilai historis dan kepahlawanan. Kesadaran sejarah atau barangkali lebih tepatnya romantisme historis ini berkembang pada awal tahun 70-an setelah beberapa budayawan mencoba memberikan tafsiran makna dari gending-gending klasik yang dibawakan gandrung seperti gending padha nonton, sekar jenang, seblang lokinto, layar kumendhung dan lain-lain. Baca lebih lanjut

Iklan

Gandrung: Tarian Perlawanan Orang Using

Jika dibanding dengan masyarakat lain di Jawa Timur, tampaknya komunitas Using memiliki seni tradisi yang lebih banyak dan beragam. Sebut saja beberapa diantaranya; Gandrung, Jinggoan, Mocoan, Kuntulan, dan Angklung. Masing-masing jenis seni ini pun memiliki maknanya sendiri-sendiri. Dari semuanya mungkin Gandrung menempati posisi yang istimewa. Begitu istimewanya, sehingga pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengukuhkan Gandrung sebagai maskot Kabupaten yang terletak di ujung timur Propinsi Jawa Timur itu, menggantikan lambang sebelumnya; ular berkepala Gatot Kaca. Pengukuhan itu diprakarsai sendiri oleh Bupati Banyuwangi, Samsul Hadi, bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Banyuwangi, 18 Desember 2002 yang lalu. Soal penetapan Gandrung sebagai maskot Banyuwangi tidaklah tanpa kontroversi. Anggota DPRD dari PPP menolak dengan keras keputusan ini, karena menurut mereka, gandrung tidak sesuai dengan Islam, padahal mayoritas masyarakat Banyuwangi pemeluk Islam. Pandangan politisi dari PPP ini mendapat tanggapan serius dari kalangan budayawan yang menganggap bahwa Gandrung tidak melanggar norma-norma Islam, dan justru kesenian inilah yang khas Banyuwangi. Para budayawan juga menganggap bahwa Gandrung mengandung nilai-nilai simbolis perjuangan wong Blambangan sekaligus identik dengan jati diri orang Using dan juga merepresentasikan karakter orang Using yang berakhlak aclak, ladak, dan bingkak (sok tahu, arogan dan tak mau tahu urusan orang lain).

Sebagai tari pergaulan, gandrung tentu saja sangat popular, walaupun dalam beberapa hal mirip dengan tayub, gambyong, jogged, lengger, teledhek, dan ketuk tilu di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura Pendalungan. Secara historis, Gandrung tak dapat dilepaskan dari Seblang, sebuah kesenian yang sarat ritual yang keberadaannya terbatas hanya di dua tempat yang terletak di sebelah barat Banyuwangi, yakni desa Bakungan dan desa Olehsari. Pentas Seblang diselenggarakan setahun sekali sebagai upacara ritual bersih desa atau selamatan desa dalam rangka menolak bala, keselamatan warga desa, penyembuhan, kesuburan, dan mengusir roh-roh jahat yang mengganggu ketentraman warga desa. Meskipun unsur hiburan dalam gandrung tampak menonjol, namun di dalamnya terdapat muatan kepercayaan kolektif yang sangat kuat.
Kekhasan Gandrung Banyuwangi tampak pada lirik lagunya yang berbahasa Using. Sementara tari-gamelan mengesankan perpaduan Jawa-Bali adalah tampilan yang membedakan dari kesenian kesenian Jawa dan Sunda. Gending-gending yang dinyanyikan berkarakter perjuangan. Lirik lagu-lagu tersebut menggambarkan etos perjuangan rakyat Blambangan sejak zaman VOC. Di dalamnya banyak menggunakan simbol yang hanya dimengerti oleh masyarakat Banyuwangi.

Menurut cerita lisan, kesenian gandrung muncul bersamaan dibangunnya kota Banyuwangi pada saat pemerintahan Mas Alit. Antara lain dikisahkan: Setelah perang Bayu usai, Jaksanegara mengundurkan diri sebagai bupati. Atas usul patih Blambangan yang mendapat sebutan Ki Juru kunci, kompeni menunjuk Mas Alit yang ada di Bangkalan sebagai bupati pada tanggal 7 Desember 1773. Sebelum Mas Alit dilantik sebagai bupati dengan gelar Raden Tumenggung Wiraguna pada tanggal 1 Februari 1774, ia mengusulkan agar ibukota Blambangan dipindahkan. Kompeni menyetujui dengan menawarkan tiga tempat, yaitu Kotta, Ulupangpang, dan Pakusiram. Namun Mas Alit menolak dan menawarkan membuat kota baru di sebelah utara dengan membabad hutan Purwaganda. Setelah dilantik Mas Alit mulai mengerahkan tenaga membabat hutan Purwaganda yang kemudian dikenal dengan nama kota Banyuwangi. Bersamaan dengan dibangunnya kota Banyuwangi muncul kesenian yang diberi nama gandrung.

Sejarah mencatat peristiwa puputan (perang habis-habisan) yang heroik itu terjadi di Bayu, Kecamatan Songgon Banyuwangi. Peristiwa ini amat bersejarah sehingga dijadikan sebagai hari lahir Kabupaten Banyuwangi (meski masih menjadi kontroversi hingga sekarang). Peperangan ini pulalah yang melegendakan nama Sayu (Mas Ayu) Wiwit sebagai tokoh pejuang wanita dari Banyuwangi yang menjadi inspirasi munculnya Tarian Seblang. Bahkan oleh sebagian masyarakat, arwah Sayu Wiwitlah yang dipercaya telah menuntun penari Seblang, terutama pada bagian puncaknya ketika penari Seblang sedang melantunkan gending Sukma Ilang.

Perang Bayu sendiri terjadi ketika VOC berkeinginan untuk menancapkan dominasinya di bagian timur Pulau Jawa sebagai upaya untuk merebut Bali. Watak imperialis yang diperlihatkan oleh VOC tentu saja membangkitkan perlawanan dari rakyat Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Jagapati alias Rempeg. Tetapi akhirnya Blambangan jatuh ke tangan VOC setelah benteng pertahanan di Bayu berhasil dikuasai. Episode inilah yang dilukiskan oleh Hasan Ali sebagai satu tragedi bagi sejarah rakyat Blambangan. “Peperangan ini memakan korban tidak kurang dari 60.000 orang rakyat dari jumlah keseluruhan masyarakat Blambangan yang waktu itu tidak sampai 65.000 orang” tulis Hasan Ali dalam Sekilas Puputan Bayu: Tonggak Sejarah Hari Jadi Banyuwangi.

“Betapapun sakitnya kekalahan dalam perang itu, amat lebih sakit lagi melihat kenyataan bahwa yang memerangi rakyat Blambangan saat itu adalah saudara-saudara sesama pribumi dari Jawa dan Madura yang diperalat oleh VOC,” tambah Hasan Ali yang juga ayah artis Emilia Contessa dan kakek artis Denada ini. “Karena itu,” sambung Hasan Ali, “Kekecewaan masyarakat Using sempat membuat suku Using menutup diri terhadap komunitas luar. Bahkan dari kekecewaan sejarah itulah nama ‘Using’ dipergunakan untuk mengidentifikasi masyarakat Blambangan.”

Konon, akibat perang Bayu, sebagian besar pasukan melarikan diri ke hutan atau menyingkir ke pedalaman. Dalam jangka waktu yang lama, mereka bertahan di hutan, melakukan perang gerilya. Komunikasi diantara para gerilyawan dapat terjalin berkat partisipasi gandrung lanang yang pada awal pemunculannya digunakan sebagai media perjuangan. Para gandrung lanang menari sambil membawakan lagu-lagu perjuangan (bahasa sandi) mendatangi tempat-tempat yang dihuni rakyat Blambangan untuk memberi informasi tentang keberadaan tentara Belanda. Selain itu mereka juga mempengaruhi dan menganjurkan rakyat Blambangan agar meninggalkan hutan, keluar dari tempat persembunyiannya untuk segera membentuk masyarakat baru.

Pada masa pemerintahan Mas Alit, kesenian Gandrung banyak mengalami perubahan baik dalam tata busana, instrumen musik, maupun lagu-lagu (gending-gending) paju untuk mengiringi tari dan seni pencak silat. Perubahan juga terjadi pada primadona gandrung, yang semula diperankan oleh pria kemudian diganti perempuan. Pola pementasan gandrung terdiri atas: Jejer, Paju, Seblang-seblang. Musik iringan gending jejer yang semula gegap-gempita beralih menjadi irama lembut dan penari mulai melantunkan tembang Padha Nonton sebagai lagu wajib. Gending Padha Nonton terdiri atas delapan bait dengan tiga puluh dua baris. Biasanya gending dilagukan delapan baris saja dan untuk melagukan delapan baris berikutnya selalu dimainkan dua atau tiga lagu sebagai selingan. Dalam gending selingan banyak dipadati pantun-pantun daerah setempat yang disebut basanan dan wangsalan, seperti tampak dalam syarir Padha Nonton berikut:

Padha nonton

Pundhak sempal ring lelurung

Ya pedhite, pundhak sempal

Lambeyane para putra

Para putra

Kejala ring kedhung liwung

Ya jalane jala sutra

Tampange tampang kencana

Kembang Menur

Melik-melik ring bebentur

Sun siram-siram alum

Sunpethik mencirat ati

Lare angon

Gumuk iku paculana

Tandurana kacang lanjaran

Sak unting kanggo perawan

Kembang gadhung

Sak gulung ditawa sewu

Nora murah nora larang

Kang nawa wong adol kembang

Sumbarisena ring Tenmenggungan

Sumiring payung agung

Lambayano membat mayun

Kembang abang

Selebrang tiba ring kasur

Mbah Teji balenana

Sunenteni ring paseban

Ring paseban

Dhung Ki Demang mangan nginum

Selerengan wong ngunus keris

Gendam gendhis kurang abyur

Gending Padha Nonton sebenarnya puisi yang menggambarkan perjuangan untuk membangkitkan semangat rakyat Blambangan melawan segala bentuk penjajahan. Meskipun demikian, keindahan syairnya juga mampu menciptakan ritme vokal untuk mengiringi tari penghormatan sebagai ucapan selamat datang bagi para tamu, seperti halnya tarian gambyong pada awal pertunjukan tayub atau Kidung Salamat pada pertunjukan jaipong. Pesan perjuangan penuh makna simbolis ini dituangkan melalui kata-kata sandi. Makna pesan inilah yang kemudian menjadi dasar perwatakan masyarakat Using dalam menciptakan identitasnya.

Perlawanan

Kesenian Gandrung, tidak lain adalah gambaran perlawanan kebudayaan sebuah masyarakat. Perlawanan terhadap berbagai ancaman, baik yang bersifat fisik maupun pencitraan negatif yang berulang kali terjadi dalam kesejarahan masyarakat Using. Dalam konteks pencitraan, misalnya tampak bagaimana sejarah nasional menggambarkan sosok Ronggolawe yang memberontak karena menjadi korban intrik internal di lingkaran Prabu Wijaya, Raja Majapahit pertama. Nasib Ronggolawe berakhir sebagai pemberontak di bumi Sadeng. Padahal, masyarakat setempat mencatat nama Ronggolawe sebagai tokoh yang berperan sangat besar dalam membantu Prabu Brawijaya mendirikan kerajaan Majapahit. (Dan nasib serupa pun dialami oleh tokoh-tokoh Majapahit sejamannya: Lembu Sora dan Nambi).

Masyarakat dan budaya Using secara historis adalah masyarakat Blambangan, sebuah kerajaan di wilayah ujung timur Pulau Jawa. Sedangkan lahirnya kota Banyuwangi, sebagai nama kabupaten erat kaitannya dengan kerajaan Blambangan yang pada awalnya lebih merupakan bagian dari kerajaan Majapahit. Tapi daerah yang dikenal subur bahkan merupakan lumbung padi Majapahit, kemudian menjelma menjadi pusat kekuatan oposisi yang dalam versi Majapahit maupun kerajaan Jawa Kulon sesudahnya selalu dikategorikan sebagai “konsentrasi pemberontak” dan memuncak dalam peperangan Paregreg (1401-1404). Perang Paregreg sendiri mengilhami penulis cerita perang antara Damarwulan dan Menakjinggo yang kemudian sering dilakonkan dalam pertunjukan Ketropak Mataram dan Jinggoan Banyuwangi dalam versi yang berlawanan. Jika dalam Ketropak Mataram Menakjinggo ditampilkan sebagai pemberontak, penindas rakyat, bertubuh cacat, maka di Jinggoan Banyuwangi ia ditampilkan sebagai pahlawan, gagah berani, tampan, dan memeperdulikan nasib rakyatnya.

Semua gambaran negatif tentang Minak Jinggo (Bre Wirabumi) itu ditolak keras oleh Budayawan Banyuwangi, Hasan Ali. “Itu tidak benar. Salah besar kalau Bre Wirabumi dikatakan buruk muka. Dia ngganteng, hanya saja memang ada goresan-goresan luka di wajahnya. Itupun karena pertempurannya dengan Kebo Marcuet. Dan ia berangkat ke Majapahit bukan dengan maksud memberontak, tapi sekedar ingin menagih janji Majapahit.”

Senada dengan Hasan Ali, Andang CY, seorang seniman kawakan Banyuwangi menuturkan, ”Menak Jinggo sesungguhnya adalah pahlawan masyarakat Banyuwangi. Pertama, ketika dia menumpas Kebo Marcuet yang lalim. Kedua, ketika ia mengangkat senjata melawan Majapahit yang menurutnya telah mengingkari janji untuk menghadiahinya Putri Kencono Wungu setelah mengalahkan Kebo Marcuet.” Nyatanya, Menak Jinggo dikalahkan oleh Damarwulan, seorang anak bekel (tukang kuda) yang kemudian memperistri Putri Kencono Wungu. Bahkan, kekalahan Menak Jinggo inipun berlanjut sampai pada penulisan sejarah tentangnya.

Hikmah

Sebagai satu daerah strategis untuk berinteraksi dengan Nusantara bagian timur, sejak dulu Blambangan tidak lepas dari incaran kerajaan-kerajaan besar di Jawa, termasuk Mataram Islam. Tercatat beberapa kali Sultan Agung melancarkan ekspedisinya untuk menaklukkan Blambangan, bersaing dengan Kerajaan Buleleng Bali. Meskipun gagal, usaha penaklukan ini toh telah menyakitkan perasaan masyarakat Blambangan.

Bisa jadi, letak Banyuwangi sebagai perlintasan antar kebudayaan –yang menjadikannya menjadi ajang klaim dan perebutan wilayah geografis– membawa hikmah tersendiri bagi pengembangan kebudayaan Using. Pergesekan kebudayaan sebagai implikasi dari pertarungan perebutan geografis telah mendewasakan produk kebudayaan Using sehingga menjadi sangat fleksibel terhadap unsur-unsur kebudayaan dari luat. Maka corak produk kebudayaan masyarakat Using—sebagaimana juga halnya kebudayaan Jawa—sesungguhnya kental dengan nuansa “sinkretik” dan “akulturatif”.

Orang tentu dapat melihat bagaimana maskot Kabupaten Banyuwangi sebelum Gandrung adalah ular naga berkepala Gatotkaca. Ular Naga adalah makhluk dalam mitologi Cina. Sementara Gatotkaca adalah adopsi yang dilakukan seniman wayang era Demak (Sunan Kudus dan Kalijaga) terhadap cerita Mahabarata dari India. Atau hadrah Kuntulan, Barongan Using, Angklung Caruk dan masih sangat banyak lagi.

Adakah ini semacam olok-olok kebudayaan dengan bungkus sanepan yang sangat halus? Bahwa siapapun –dan apapun– yang melintasi wilayah kebudayaan Using harus menerima kenyataan bahwa dirinya sedang dipribumikan oleh masyarakat Using. Seperti Segitiga Bermuda atau Lubang Hitam (Black Hole) di antariksa yang akan menyedot setiap materi yang melintasinya? Desantara

darijajagbanyuwangi.blogspot.com

Perempuan Seni Tradisi dan Problem Teknokras

(sebuah catatan lapangan)
Image “Saya terkadang amat sedih melihat perkembangan seni gandrung Banyuwangi, mengapa hanya gandrung tari saja yang dikembangkan Pemerintah Daerah? Mungkin ini belum rejeki saya, padahal harusnya kalau gandrung itu ditanggap tidak hanya suara saja, tapi juga tarinya. Saya diam saja, saya butuh. Sebetulnya gandrung tari itu tidak bisa menyanyi, hanya bisa tari jejer gandrung saja. Kami sering merasa dipermainkan, makanya dengan suami saya mendirikan grup gandrung sendiri ” ungkap gandrung Siti”.

Ungkapan polos itu meluncur begitu saja dari bibir perempuan setengah baya yang memiliki nama lengkap Siti Astutik. Seketika raut mukanya yang mulai berkeriput berubah merah menutup rona cantik yang masih membekas di wajahnya. Awal tahun 90-an Siti yang baru saja menikah dengan Sutomo, merasa jengkel, pasalnya Siti sering sekali diundang oleh pemerintah daerah untuk pentas di berbagai daerah. Ternyata kepandaiannya menyanyikan syair gandrung saja yang diambil sebagai pengiring tarian gandrung binaan pemerintah daerah.

Ingatan atas peristiwa masa lalu masih menggetarkan ucap kata perempuan berusia 48 tahun ini. Pasalnya peristiwa yang menimpanya pada masa lalu masih tetap saja terjadi hingga sekarang ini “Saya sering bertanya dalam hati, kenapa kok gandrung tari yang di uri-uri bukan gandrung yang asli (gandrung yang mengikuti pakem, jejer, paju, dan seblang-seblang). Sebuah kekecewaan yang sebenarnya umum terdengar di kalangan pelaku seni tradisi Banyuwangi, terlepas tudingan iri terhadap seni gandrung tari hasil kreasi dan teknokrasi pemerintah kabupaten melalui aparat seninya. Saya ini jadi orang nrimo,” sesal Siti melihat perkembangan seni Gandrung Banyuwangi.

Berangkat dari pengalaman itu, Siti dan Sutomo memutuskan untuk membuat grup dan mempunyai alat-alat musik sendiri. “Biar kami tidak selalu dimanfaatkan ketika diperlukan” aku mereka. Kini di rumahnya yang kecil Siti bersama suami yang tidak pernah lelah untuk membina dan mengahasilkan generasi baru gandrung. Bahkan putri tunggalnya, Lia Novitasari (15) sejak tiga tahun yang lalu telah menjalani profesi gandrung mengikuti jejak Siti. “Kami setidaknya habis lima puluh ribu rupiah setiap latihan, itu untuk mengganti uang bensin dan makanan para panjak,” terang Siti. “Kalau Mbok Temu, Pak Ikhsan dan kami tidak mau lagi melatih gandrung, mungkin gandrung akan punah” imbuh Tomo dan Siti.

Kesaksian gandrung Siti terdengar semacam ironi dan lepas dari bayangan kita tentang Banyuwangi yang di kenal sebagai kota gandrung. Namun kegeraman penuh siasat dan resistensi seolah menjadi kata kunci untuk memahami situasi yang sedang terjadi di kota yang terletak di ujung paling timur Jawa. Tanpa memahami suara lain yang jarang sekali terdengar, bahkan diungkapkan, barangkali hanya entitas kosong Banyuwangi yang kita temui. Tidak bisa di pungkiri perkembangan jaman yang begitu pesat dan menguatnya episteme pariwisata telah merubah secara besar-besaran pola pikir laku seni masyarakat Banyuwangi sehari-hari. Berbagai akomodasi nilai-nilai yang sesuai dengan selera pasar dan moralitas agama pun menjadi kewajiban untuk keberlangsungan hidup seni, seperti halnya gandrung.

Apa yang diungkapkan oleh gandrung Siti bisa jadi adalah hal yang lumrah bila kita tilik ke belakang tentang berbagai pola perkembangan seni budaya Banyuwangi. Benih perpecahan antar pelaku seni telah di semai jauh ke belakang, ketika pemerintahan Banyuwangi di pimpin oleh Bupati Joko Supaat Slamet yang mulai merambah aspek seni dan ritual Banyuwangi. Pada pemerintahan bupati yang berlangsung dari tahun 1966 sampai 1978 ini, berbagai proyek teknokrasi budaya Banyuwangi mulai di laksanakan. Dengan jargon pembangunan, penguatan identitas dan belakangan pariwisata pun menjadi kata kunci proyek teknokrasi tersebut. Jelas apa yang di lakukan Joko Supaat Slamet seiring dengan “kebijakan nasional” a la Soeharto pada dasarwarsa itu: pembangunan dan penguatan jatidiri budaya nusantara.

Berbanding lurus dengan konsep Soeharto, untuk menggarap pembangunan Banyuwangi, Bupati Joko Supaat Slamet ini mulai menyentuh aspek budaya Banyuwangi. Berbagai kegairahan seni mulai disokong, terlebih untuk menghapus stigma seni Banyuwangi yang pada dasawarsa sebelumnya dikaitkan dengan PKI. Upaya sokongan itu pun dimulai dari penghargaan Semi, gandrung perempuan pertama, sebagai cikal bakal budaya asli Banyuwangi sampai pendirian Dewan Kesenian Blambangan yang sampai sekarang menjadi “rujukan” seni budaya Banyuwangi. Sejalan dengan perkembangan langkah Joko Supaat Slamet, Dinas Seni dan Kebudayaan pun mulai melancarkan berbagai inovasi dan kreasi terhadap seni tradisi Banyuwangi, seperti yang sampai sekarang ini terkenal semacam “gandrung tari” dan “kundaran.”. Hingga figur seperti Sumitro Hadi, Sahuni, Subari, Zaini dan kawan-kawan pun muncul begitu saja dari lembaga pemerintah ini. Begitu pula dengan Hasan Ali atau juga Hasnan Singodimayan tampil menjadi sosok penting seni budaya Banyuwangi dari kelompok Dewan Kesenian Blambangan (DKB).

Embrio lembaga resmi pemerintah yang di mulai sejak pemerintahan Joko Supaat Slamet inilah kini sering di tuduh menjadi biang kekisruhan dan keresahan pelaku seni semacam gandrung Siti. Berbagai pola intervensi dan otorisasi tunggal seni budaya kerap di arahkan kepada mereka. Tuduhan ini bisa saja terlalu fatalis bila tidak di tengok pula berbagai hal positip eksistensi lembaga seni dan dinas seni budaya yang menjadi “sayap pemerintah” ini. Namun seperti ditemui Desantara banyak sekali pelaku seni tradisi yang merasa tidak sesekali di zalimi oleh institusi ini. Pola biang kekesalan tetaplah sama, ketika hasil teknokrasi seni budaya dijadikan patokan seni budaya yang lebih “beradab” dan luhur ketimbang kreasi yang hidup dan tumbuh di masyarakat. Hingga benih-benih perselisihan antar pelaku seni “lama” dan “baru” tumbuh dengan sendirinya. Fenomena hadirnya gandrung tari yang di kritik keras oleh Siti adalah salah satu konsekuensi logis terjadinya teknokrasi dan otorisasi budaya ini. Meski sepenuhnya otoritas pengetahuan dan klaim orisinalitas itu bukan milik siapa-siapa.

Apa yang dituduh sebagai “teknokrasi” ini sebetulnya adalah masuknya negara melalui aparatnya dan juga elit budaya semacam DKB dalam proyek seni budaya dengan segala otoritas nilai dan kekuasaan yang melekat di dalamnya. Tidak bisa di pungkiri, semenjak dasawarsa 70-an banyak lahir kreasi-kreasi seni budaya baru yang memang tidak ada satu orang pun yang dapat atau boleh melarangnya. Namun ironisnya, keambiguan sikap malah menjadi sifat lembaga terhormat tadi. Seperti dituturkan Slamet Riyadi, pensiunan Angkatan Laut RI yang menikmati hari tuanya dengan menjadi pembina Kuntulan, campur tangan dinas pariwisata dan DKB dalam kesenian lebih banyak merugikan mereka. Setidaknya aparatur institusi yang bekerja pada lembaga itu sering mencurangi kelompok Slamet. Mereka dengan kekuasaannya menyerobot undangan pentas atau kejuaran milik kelompok lain, termasuk kelompok Slamet. Hingga aparat dan lembaga kesenian tadi tampil layaknya raja-raja kecil dalam pangung seni budaya Banyuwangi. Berbagai selisih paham, iri dan kesal yang bermuara pada rasa pemarjinalan pun akhirnya tumbuh pada sosok macam gandrung Siti, Slamet Kuntulan, Endang, gandrung Wiwik, Sri, Rahman dan gandrung Temu. Mereka semua seolah bersepakat kehadiran aparatus elit dalam kehidupan kesenian banyak memberikan efek buruk dalam seni.

Senada dengan pelaku seni tradisi, pelaku ritual mengungkapkan bahwa campur tangan aparat negara ─seperti di ungkap Sahwan dan Ngaisah, pasangan pinisepuh ritual Seblang Olehsari− malah membuat upacara adat desa tersebut sering kisruh antar sesamanya. Bahkan para pelaku ritual dahulu yang dengan suka rela melakukan upacara, bahkan mengeluarkan uang dan tenaga, sekarang terkadang sering merasa enggan untuk melakukan hal yang sama. Hal ini, tutur Sahwan dan Ngaisah, di sebabkan turut serta nya Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya dalam penanganan upacara itu. Otomatis untuk kepentingan “kelayakan wisata” berbagai permakan ritual di lakukan oleh mereka. Parahnya, upacara yang biasanya di lakukan secara komunal tersebut telah di masuki birokratisasi kepanitiaan, yang tidak lepas dengan urusan uang dan “pesanan” kepentingan. Jelas perkara pembagian uang, ketidaktransparanan dana ritual dan juga campur tangan yang dalam pada ritual adat membuat para pelaku semacam Sahwan mutung. Perasaan di manfaatkan dan di perlakukan tidak adil pun hinggap pada diri Sahwan, namun sebagai orang biasa dia hanya bisa diam, bergunjing dan mogok dengan menyingkir.

Pertarungan Elit, Teknokrasi dan dan Pergulatan Identitas

Dalam kenyataan komposisi elit budaya a la pemerintah dan DKB memperlihatkan betapa kokohnya pengaruh mereka di dalam masyarakat. Hal ini di akui sendiri oleh Anwar, seorang panjakPalinggihan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya. Baginya, menari bersama kelompok orang ini menjamin dirinya bisa menembus pementasan yang lebih intens dan melanglang nusantara. Bahkan dia merasa bersyukur, setidaknya Lia bisa selalu di libatkan pada kegitan yang di adakan Pemkab dan Dinas Pariwisata. Tak heran sosok – sosok yang besar dan hidup dalam lingkup dua lembaga ini, menjelma menjadi sumber pengetahuan yang sahih tentang watak dan sejarah seni tradisi “asli” Banyuwangi ini. gandrung yang hatinya merasa tentram dan mantap setelah banyak bertanya dan berguru tentang sejarah gandrung pada seorang Hasnan Singodimayan. Begitu pula dengan perasaan Lia, seorang penari daerah, masa depan keberhasilan tarinya hanya terjamin ketika dia belajar menari dalam bimbingan Zaini dan terkadang Sabar Harianto dalam

Kedigdayaan berlebih dua lembaga sering menjadikan mereka begitu saja men “fatwa” kan kebijakan seni budaya ini menuai kritik keras. Bahkan telah berdiri pula sejak beberapa tahun yang lalu, Dewan Kesenian Blambangan Reformasi yang di isi oleh generasi muda sebagai tandingan DKB yang mereka anggap tidak netral lagi dan mengabdi pada pemerintah. Bagi mereka DKB hanya menjadi kepanjangan tangan Pemkab yang mengeklusifkan diri dengan identitas dan seni yang tertentu. Hingga tidak begitu terbuka dengan hal-hal lain di luar seni dominan Banyuwangi. Di tambah sikap berlebih sosok – sosok yang ada dalam DKB, menambah kegeraman seniman muda Banyuwangi. Seperti sikap yang di lakukan ketua DKB Hamzawi Adnan terhadap Yons DD, salah seorang musikus lokal Banyuwangi. Hamzawi Adnan mengutuk keras penggunaan mahkota gandrung, omprog, dalam sampul album “Polos”-nyaYons. Mungkin sikap konservasionis Adnan ini di latari oleh pendobrakan nilai yang sedang di lakukan oleh Yons yang melawan nilai dominan penggunaan omprog hanyalah untuk perempuan gandrung. Perdebatan keras pun bergulir di kalangan seniman Banyuwangi. Bahkan tidak segan kelompok DKB Reformasi yang di ketuai oleh Fatah Yasin Noor melakukan pembelaan wacana atas Yons DD. Secara khusus Yasin Noor menulis persoalan tersebut dalam majalah budaya Jejak, terbitan resmi DKB Reformasi

ImagePertarungan wacana antar elit budaya Banyuwangi tidak hanya berkutat pada persoalan moralitas seni, namun juga merambah ke persoalan identitas, bahasa Using dan sejarah Banyuwangi. DKB sebagai “komponen dalam” pemerintah daerah, versi dominan yang berkembang tentulah dari DKB, dari masa kepemimpinan Hasan Ali hingga Hamzawi Adnan. Setidaknya fasilitas dan pencukupan kebutuhan finansial pertahun rata-rata 150 juta tersebut mampu menyokong sosialisasi wacana yang di kembangkan lembaga ini. Terbukti berbagai terbitan buku DKB atau Pemkab Banyuwangi menjadi rujukan pelaku seni dan masyarakat Banyuwangi sekaligus menjadi representasi Banyuwangi ke dunia luar. Sebaliknya, kelompok di luar ring pemerintah semacam Fatrah Abal dan A.K. Armaya pun tidak mau ketinggalan dalam diskursus Banyuwangi. Berbagai polemik identitas, bahasa Using dan sejarah Banyuwangi juga bergulir dari sayap ini melalui majalah, koran dan diskusi-diskusi.

Perdebatan sengit yang tidak lebih dari kontestasi semangat teknokrasi elit yang bisa di catat disini salah satunya adalah hari jadi Banyuwangi. Hasan Ali sebagai representasi DKB dan pemerintah berargumentasi titik tolak sejarah Banyuwangi adalah meletusnya perang Puputan Bayu. Sebuah perang yang mencatat kemenangan VOC atas prajurit Blambangan ini diangap sebagai peperangan yang sangat heroik patriotik dan membanggakan, hingga perlu di catat dan di jadikan suri tauladan Banyuwangi masa kini. Berdasar unsur kesejarahan, unsur kejuangan dan filosofi itulah Hasan Ali mencoba menawarkan hari jadi Banyuwangi bertolak pada peristiwa Puputan Bayu 18 Desember 1771. Perdebatan dan pencarian hari jadi Banyuwangi yang telah berlangsung sejak tahun 1977 itu pun akhirnya di restui oleh DPRD Banyuwangi secara aklamasi pada tahun 1995, berbagai buku dan tulisan pun bergulir. Namun perdebatan sengit diskursus hari jadi Banyuwangi masih saja terjadi hingga saat ini. Abdul Kadir Armaya berserta kawana-kawannya yang berada dalam wadah DKB Reformasi dan FDSB2 menolak penetapan hari jadi itu. Menurutnya tanggal perpindahan pemerintahan Banyuwangi-nya Mas Alit dari Lo Pangpang ke Banyuwangi secara rasional lebih bisa di terima. Bahkan secara ekstrim, Fatrah Abal berbicara bahwa kerajaan Balambangan itu tidak pernah ada, dan perang puputan bayu tidak terjadi. Lebih jauh Fatrah Abal mensinyalir istilah puputan bayu baru lahir pada masa Orde Baru, yaitu ketika pada masa pemerintahan Joko Supaat Slamet yang sedang sibuk menyusun buku “Selayang Pandang Blambangan.”

Di masa kini, perayaan hari jadi Banyuwangi pada bulan Desember setiap tahunnya itu malah menjadi ajang pamer pengaruh kebijakan penguasa. Pada masa pemerintahan Samsul Hadi, hari jadi Banyuwangi di jadikan ajang penguatan identitas Banyuwangi yang Using dan konservasi seni tradisi Using. Kirab puluhan gandrung dari masa ke masa di rangkul Samsul untuk merebut perhatian masyarakat, hingga ketika kini tidak menjabat, nama Samsul di sebut-sebut sebagai tokoh seni yang menjadi bupati, seperti halnya Joko Supaat Slamet. Yang paling dramatis dan penuh kecaman adalah peristiwa hari jadi Banyuwangi ke-234 yang jatuh pada Desember 2005. Peringatan hari jadi yang pertama kali di adakan oleh pemerintahan Ratna ini dicibir telah merusak tatanan tradisi Banyuwangi ketika apa yang di tonjolkan pada Harjaba tersebut adalah multikulturalisme Banyuwangi yang penuh simbol-simbol Bali. Sebagian orang berpendapat, Ratna yang tidak mempunyai akar massa yang kuat sangat berkepentingan untuk menonjolkan isu multikultur ini. Setidaknya hal ini akan mampu sedikit menghapus jejak pengaruh sosial budaya Samsul Hadi yang begitu kuat dengan wajah Using-nya. Hasnan Singodimayan, selaku koordinator peringatan itu berkilah tidak ada upaya Balinisasi dan Hinduisasi dalam peringatan hari jadi Banyuwangi ini. “Semua hanya bermula dari kesalahan teknis hingga menyebabkan tampak begitu besarnya jumlah kotingen dengan atribut Bali,” kilahnya. Lepas dari pendapat, Hasnan kita bisa melihat betapa media budaya semacam hari jadi Banyuwangi menjadi ajang kontestasi elit yang strategis.

Hingga tidak salah ketika Samsul Hadi yang menjabat sebagai mantan bupati menggalang wacana perlawanan terhadap “kebijakan budaya” Ratna. Kepada Desantara, Samsul mengungkapkan telah terjadi pembusukan terhadap budaya dan identitas Banyuwangi. Samsul dengan keras mengutuk intervensi budaya terhadap tradisi Banyuwangi. Samsul menuduh masuknya unsur budaya Bali pada perayaan tersebut sebagai pemaksaan, sebuah pemaksaan yang menurutnya tidak terjadi dialektika di dalamnya. Namun Samsul bisa memaklumi ketika DKB yang berada dalam naungan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya itu tidak mengambil langkah atas pemaksaan budaya di luar Banyuwangi menjadi bagian dari Banyuwangi. Peristiwa hari jadi Banyuwangi pun semakin memanas ketika terlontar gandrung tidaklah Islami, jelas langkah blunder ini di tempuh Ratna untuk merangkul kekuatan Islam yang sedari awal kepemimpinannya tidak memberikan dukungan kepadanya.

Jejak teknorasi dan persengketaan elit yang lainnya bisa kita jelajahi pada diskursus identitas Using dan bahasa Using. Sebagai perlintasan Jawa ke Bali, Banyuwangi juga merupakan daerah pertemuan berbagai jenis kebudayaan dari berbagai wilayah. Seni budaya Banyuwangi pun diwarnai oleh budaya Jawa, Bali, Madura, Melayu, Eropa dan budaya lokal yang campur aduk akhirnya menjadi tipikal yang bisa di katakan unik tidak di ketemukan di daerah lain. Penduduk asli Banyuwangi sering di identifikasi sebagai sub suku Jawa, begitu pula dengan bahasanya yang di sebut Banyuwangen atau Using. Namun hingga sampai saat ini pergulatan identitas dan bahasa ibu menjadi proyek yang tidak kunjung selesai.

A.K. Armaya dari DKB Reformasi menggulirkan wacana bahwa Using dan Bahasa Using itu tidak ada. Bagi mereka bahasa Using itu tidak lebih dari dialek dalam bahasa Jawa, bukan sebuah bahasa baru. Hal yang sama juga di akui oleh Fatrah Abal, bahkan beliau mengungkapkan bahwa identitas dan bahasa Using itu adalah temuan para pemuda – pemudi Banyuwangi yang menempuh pendidikan di luar kota. Bahasa dan identitas ini tidak lebih adalah sejenis perlawanan terhadap budaya mainstream Jawa dan nusantara yang selalu memberi label Banyuwangi dengan ilmu sihir, santet, kelicikan dan orang – orang kurang beradab. Hingga bisa di mahfumi terjadinya perlawanan yang keras pada generasi muda Banyuwangi atas pe “Liyan”an terhadap mereka.

Lebih jauh Abal mengungkapkan bahwa generasi muda yang dia sebut itu tidak lain adalah Fatrah sendiri, Hasnan Singodimayan, Hasan Ali dan juga elit budaya Banyuwangi yang hidup saat ini. Fatrah Abal mengaku pada dasarwarsa 80-90-an, dia bersama Hasan Ali dan kawan-kawan DKB menggodok lahirnya bahasa Using dan identitas Using. Bahkan mereka juga sempat menulis buku kecil untuk kamus, namun ternyata Hasan Ali yang berhasil menerbitkan kamus bahasa Using itu. Seperti tercatat pada dokumen “Ejaan Bahasa Using” keluaran DKB, pada 18 Desember 1990, DKB bersama Yayasan Kebudayaan Banyuwangi mengamanatkan pembuatan pedoman bahasa Using untuk penulisan dan percakapan sehari – hari. Namun seperti di ungkap oleh Fatrah Abal, hal ini sebetulnya kurang pas bahkan dalam sebuah seminar, saksinya, Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo mencoba mengetengahi perdebatan ada tidaknya bahasa Using dengan tantangan untuk membuat kamus sendiri supaya bisa di anggap bahasa.

A.K. Armaya pun dengan sengit berbicara, sebetulnya mereka yang getol berbicara identitas dan bahasa Using bukanlah orang Using juga. Bahasa Using yang di sodorkan pada kongres bahasa Jawa di Solo dan Jogjakarta itu tidak lebih akal-akalan elit budaya saja. Dia menelisik, bahwa yang di ajukan dalam kongres itu memang sengaja bahasa murni dialek Using, namun bila di rujukan 100 kata bahasa Jawa dengan 100 bahasa Using tentang benda yang sama ternyata bahasa Using itu tidak lain adalah bahasa Jawa. Pasalnya sedikit sekali yang tidak mengunakan kosakata bahasa Jawa. Jadi menurut A.K. Armaya semua ini tidak lebih dari akal-akalan saja.

Berbeda dengan Armaya, Hasnan Singodimayan, sesepuh DKB, yang lebih dekat dengan pemerintahan yang berkuasa di Banyuwangi, berpendapat bahwa Using adalah sesuatu yang berbeda dengan Jawa, begitu juga dengan bahasanya. Hingga pada kongres kebudayaan Jawa, Hasnan dan Hasan Ali mengotot dan mengupayakan pengakuan bahwa Using adalah bahasa sendiri bukan varian dialek Jawa. Hingga momentum kepemimpinan Samsul Hadi, yang diangapnya bukan hanya bupati tapi juga seniman itu, digunakan untuk meng-gol-kan apa yang selama ini di cita-citakan bersama oleh Hasnan, Hasan Ali dan kawan-kawan DKB untuk pembangunan identitas Banyuwangi. Gayung ternyata bersambut, Samsul Hadi pada masa pemerintahan akhirnya mengeluarkan berbagai kebijakan untuk pembangunan identitas itu.

ImageBagi Samsul, seperti di ungkapkan kepada Srinthil, penguatan budaya itu sangat perlu untuk pembangunan Banyuwangi. Menurut Samsul tidak ada bangsa yang besar, seperti Jepang, tanpa menggunakan kebanggaan budaya. Tidak heran pada masa Samsul Hadi tercetus SK Bupati tentang mars Banyuwangi “Umbul-umbul Belambangan” yang di ciptakan oleh Andang C.Y dan di aransemen oleh Man Basir. “Umbul-umbul Belambangan” ini bagi Samsul adalah sebuah lagu kebesaran yang memberikan semangat pembangunan yang luar biasa bagi Banyuwangi, selain itu lagu ini seolah bersyukur atas keelokan Banyuwangi yang semua telah di sediakan begitu saja oleh Tuhan.

Tidak hanya itu, Samsul kemudian mengeluarkan Sura Keputusan (SK) maskot Banyuwangi adalah Gandrung dan SK untuk Jejer Gandrung sebagai tari penyambutan tamu resmi di Banyuwangi. Ada juga SK muatan lokal bahasa Using yang sampai saat ini menuai kritik. Meski sebetulnya apa yang di kerjakan oleh Samsul Hadi telah ada embrionya sejak pemerintahan Purnomo Sidik. Dan yang paling fenomenal dalam pemerintahan Samsul adalah pendirian sekolah gandrung profesional. Sekolah gandrung ini yang hanya berlangsung dua kali dan hanya menampung 30 siswa per angkatan ini di sesalkan tidak di teruskan oleh pemerintahan Ratna Ani Lestari. Harapan “konservasi” gandrung masih banyak di tumpukan elit budaya pada sekolah ini.

Komodifikasi Perempuan Seni Tradisi

Secara umum kondisi seni tradisi Banyuwangi yang komponen utamanya adalah perempuan menunjukan gejala negoisasi yang luar biasa. Derasnya arus modernisasi lewat jalur televisi dan radio di perkuat kebijakan aparat terkait yang mengakomadasi kepentingan pasar demi kemajuan pariwisata dan juga akomodasi pada gejolak purifikasi moralitas agama maka lahirlah negosiasi itu. Negosiasi yang memunculkan berbagai varian seni yang memadukan tradisionalitas, modernitas bahkan agama pun memunculkan apa yang di sebut gandrung tari / kreasi, gandrung remix, janger campurasi, kundaran dan semacamnya. Namun perubahan semacam ini sebetulnya adalah hal yang wajar terjadi sepanjang masa, seperti juga tampilnya gandrung Semi, gandrung perempuan pertama yang mengantikan tradisi gandrung laki-laki. Namun demikian, sebagian elit budaya mengkhawatirkan seni kreasi ini akan menggeser kesenian lama yang sudah berkembang ratusan tahun sebelumnya.

Di kalangan seni tradisi lama, seperti halnya gandrung memang tersemai bibit ketidaksenangan atas berbagai variasi gandrung yang sedang berlangsung. Seperti halnya gandrung tari yang di ajarkan dalam sanggar-sanggar tari binaan pemerintah daerah atau sanggar sekolah begitu sengit di tanggapi oleh gandrung profesional. Bagi mereka kehadiran gandrung tari yang merupakan hasil kreasi elit lokal tersebut merupakan ancaman atas punahnya seni gandrung asli. Bahkan secara berlebih mereka mengungkapkan gandrung tari yang selalu di perlakukan istimewa oleh pemerintah ini hanyalah sosok-sosok yang mengandalkan kemudaan usia, keindahan tubuh, kecantikan wajah namun secara kemampuan kosong. “Mereka hanya bisa menari, tidak bisa menyanyi, menari pun hanya jejer,” ungkap gandrung wiwik agak kesal melihat kreasi baru tari gandrung tidak mu dan bisa menguasai gandrung secara keseluruhan. “Mungkin gandrung pada jaman yang akan datang hanyalah gandrung jejer,” ungkap Nardi pemain janger yang nyambi jadi tukang becak menanggapi keenganan generasi muda yang mau belajar gandrung profesional.

Kreasi baru pada seni budaya Banyuwangi ini tentu saja tidak semata-mata lahir oleh inisiatif sang pelaku, namun merupakan kesepakatan tidak tertulis hukum pasar dengan aparatus negara dan mungkin juga agama. Seperti halnya negosiasi yang sedang di lakukan para gandrung profesional yang mulai melirik syair campursari dan musik remix dalam pentasnya. Begitu pula yang yang di lakukan oleh aparat seni Dinas Pariwisata yang sedari tahun 70-an selalu merancang variasi tari, dengan berbagai standar moralitas dan estetika protokoler yang mengikuti. Seperti terlihat pada gandrung tari yang di gunakan untuk menyambut tamu dan pentas pada festival tari, babak paju atau tarian berpasangan hanyalah sebatas tari pergaulan biasa, begitu pula dengan pakaiannya yang lebih tertutup. Hal ini bisa di pahami sebagai akomodasi atas standar moralitas agama dan estetika protokoler yang di anut aparat seni Dinas Pariwisata. Dan pastinya juga segi kelayakan jual untuk di tampilkan sebagai tari wisata.

Di sisi lain logika pasar tampakanya telah singgah dalam ranah seni tradisi dalam bentuk industri musik lokal. Sebagai salah satu daerah yang kuat imaji identitas dan kedaerahannya industri rekaman musik lokal memang berkembang pesat di Banyuwangi. Bahkan sejak tahun 70-an usaha lagu lokal ini telah di rintis oleh Fatrah Abal dan nampak perkembangan pesatnya adalah saat ini. Hingga tidaklah sulit bagi kita menemukan beberapa kreasi baru seni ciptaan elit aparat pemerintah itu di terima oleh pasar. Komposisi yang memasukan elekton dalam janger, perempuan dalam kuntulan, gandrung dalam disco remix adalah salah satu contoh yang bisa kita lihat di lapak-lapak musik di Banyuwangi saat ini. Pasar mungkin yang jenuh dengan menu lama semacam“gandrung.” Seperti di akui oleh Sandi, pangsa pasar Banyuwangi atas sangat menerima berbagai kreasi baru seni, begitu pula dengan pelaku seninya “Kami biasanya membayar sampai satu juta, bahkan banyak juga yang tidak meminta bayaran asal bisa rekaman saja,” imbuh Sandi pemilik Sandy Records, usaha rekaman lokal yang banyak memproduksi versi gandrung remix dan disco.

Angka penjualan pun tercatat begitu fantastis dan di akui secara nasional sebagai basis indrustri rekaman lokal yang maju. Untuk album remix dan disco yang mengunakan goyangan dan nyanyian gandrung Temu saja sejumlah 60 ribu kopi terjual ludes di lapangan. “Saya menerima saja berapa bayarannya, dan tidak tahu tenang perihal hak ciptanya, saya tidak mendapatkan tambahannya” ungkap gandrung Temu yang sering pentas bareng dengan Mia peserta Kontes Dangdut Indonesia yang berasal dari Banyuwangi. Nada pasrah Temu yang sekaligus mengadung siasat bertahan hidup di tengah semakin menurunnya pentas itu pun di anggap sebuah kejelian. “Gandrung yang tahu peluang itu gandrung pintar,” tegas gandrung Wiwik tentang rekan-rekannya yang banyak nyambi di seni lain. Senada dengan pola pikir Wiwik dan Temu, gandrung Siti juga menerima pesanan lagu apa saja ketika pentas gandrung di luar Banyuwangi. “Kebanyakan mereka senang dengan gandrung kita, kok bisa menyanyikan lagu apa saja,” jelas Sutomo, suami gandrung Siti yang sekaligus ketua grup seni gandrung Sekar Arum.
Dari keresahan yang terungkap diatas, seolah tergambar betapa kekuatan pasar dengan nama kepentingan wisata itu menjadi determinir atas kebijakan yang di ambil negara. Meski tidak terlupakan juga otoritas agama yang secara tidak langsung berpengaruh dalam pengambilan kebijakan tersebut, terbukti berbagai isu Islamisasi terhadap seni tradisi, semacam gandrung dan kebo-keboan, mulai di akomodir oleh negara dan elit budaya lokal. Namun beberapa kontroversi dan penentangan keras atas masuknya agama pada ranah seni ini juga lahir dari individu-individu pelaku seni budaya. Naifnya, secara tersembunyi DKB menganjukan fatwa atas seni gandrung dan seni tradisi lain di Banyuwangi untuk di bahas oleh MUI Banyuwangi. Tentu pertanyaan besar timbul di kalangan seniman tradisi, ada apa ini? K.H. Maksum Syafi’i, wakil ketua MUI Banyuwangi, atas nama lembaganya, merasa tidak perlu gegabah menanggapi permintaan fatwa DKB itu. MUI merasa perlu takut, jika di kemudian hari menjadi sasaran kambing hitam atas lahirnya fatwa tersebut. Maksum sendiri merasa perlu membedakan apa itu seni dan apa itu agama, agama tidak bisa campur tangan terhadap apa yang sudah menjadi tradisi. “Mungkin hanya mengingatkan saja yang kami bisa,” tandas Maksum.
Desantara / S.B. Setiawa
darijajagbanyuwangi.blogspot.com

Misteri gandrung banyuwangi

(Adakah hubungannya wajah Mongolid dengan Cheng Ho,Ming,Sun Go Kong)
oleh : Sumono abdul Hamid

Seperti saya tulis , pada tulisan Siapakah leluhur orang Banyuwangi/Apakah wangsa Arya leluhur orang Banyuwangi, bahwa saya terkejut ketika dalam pementasan karya tari bapak Dedy Luthan pada Maret 1990”Kadung Dadi Gandrung Wis “, membawa para penabuh /nayaga dan gandrung dari Cungking yang berwajah mongolid, padahal yang diperkenalkan ayah, mbak perempuan , Kakek Lilir ( mbak lanang), orang Blambangan lebih berwajah Arya, maka dalam tulisan ini saya ingin mencapaikan hasil pelacakan saya mengenai rumpun Mongolid tersebut..

Apakah ada hubungan Cungking Banyuwangi dengan China
Dalam catatan sejarah , rumpun Mongolid telah datang ke Swarnadwipa sejak sebelum abad ke 7( Prof DR. Slamet Mulyana; Negara Kertagama dan Tafsir Sejarahnya ) kemudian disusul penyerbuan Kubilai Khan ke Singosari, adanya hubungan yang erat pada masa Sriwijaya ,dan kunjungan resmi utusan dynasti Ming ( Laksamana Cheng Ho) pada masa Majapahit, dan tentu imigrasi besar2an pada masa penjajahaan Belanda.
Tetapi masuknya rumpun Mongolid /China ke Blambangan secara besar2an, dimulai dari keterlibatan armada Cheng Ho dalam perang Paregreg dan zaman penjajahan Belanda dan Inggris.
Pada zaman penjajahan Belanda rumpun China di satukan dalam satu daerah yang kemudian kita kenal dengan Pecinan. Karena desa Cungking berada diluar Pecinan maka saya kemudian mengkonsentrasikan pada kedatangan armada Laksamana Cheng Ho.
Armada raksasa Laksamana Cheng Ho adalah armada muhibah Dynasti Ming keseluruh Asia, tepi timur Afrika ,dan tepi barat Amerika, untuk misi diplomatik dan perdagangan sekaligus mengabarkan tentang direbutnya kekuasaan dari Mongol oleh Dynasti Ming.
Pada saat armada raksasa ini sampai di wilayah kerajaan Majapahit, Majapahit telah mengalami Sandya Kala/ mulai melemah, dan mulai bermunculan kerajaan2 kecil di Swarna Bumi dan,kerajaan Blambangan muncul sebagai kekuatan baru di Swarnadwipa . Dengan adanya perkembangan tersebut armada Cheng Ho di pecah menjadi dua, satu tetap menuju Majapahit (Kedaton Kulon) ,satu lagi menuju Blambangan ( Majapahit kedaton wetan).
Ketika armada Cheng Ho menuju Blambangan , amarah Majapahit tersulut, Majapahit berprasangka Laksamana Cheng Ho mendukung Blambangan untuk menghancurkan Majapahit ( Prasangka tersebut sangat wajar karena ketika R.Wijaya mendirikan Majapahit telah menghancurkan tentara Kubilai Khan yang diutus menundukan Singasari)
Oleh karena itu Dewi Suhita ( Prabu Majapahit) segera mengirim kekuatan tempur ke Blambangan dipimpin Bhre Narapati. Dalam penyergapan pada armada Laksamana Cheng Ho yang menuju Blambangann, pasukan Majapahit telah membunuh lebih dari setengah utusan dari armada Cheng Ho ,dan sisanya melarikan diri ke hutan hutan di Banyuwangi. Oleh karena itu saya berpendapat sisa armada Laksamana Cheng Ho yang melarikan diri kepedalaman Blambangan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal wajah Mongolid orang Cungking.
(Karena tindakannya ini, akhirnya Majapahit harus menelan pil pahit,, Majapahit harus membayar denda dan upeti yang sangat besar pada Dynasty Ming dank arena kesalahan memenggal kepala Bhree Wirabhumi raja Blambangan ( putra dari selir Hayamwuruk jelmaan Dewa Siwa ), maka kepala Bhree Narapatipun di penggal.

Mengapa Cungking.?

Chungking di Main land China bagian Selatan saat ini adalah salah satu kota modern di China dan dari kota Chung King ini pula kemudian ras Mongolid dari main land dikenal sebagai bangsa China .
Chung King didirikan oleh dynasti Ming pada abad ke 14 masehi ,merupakan ibukota kerajaan untuk menggantikan ibukota yang biasanya berada di belahan utara , sebagai usaha untuk menghindari serangan pasukan Mongol.
Sebagai kerajaan baru yang maju pesat, dynasti Ming mengirim misi muhibah raksasa yang dipimpin Laksamana Cheng Ho, maka sudah sewajarnya rombongan armada tsb menyatakan dirinya sebagai orang Chung King karena sebutan China belum muncul. Maka sisa armada Laksamana Cheng Ho yang menetap di pedalaman Banyuwangi kemudian membangun desa Cungking.
Orang Blambangan menerima dengan baik kehadiran mereka, karena mereka setidaknya pernah bersama orang Blambangan melawan gempuran Majapahit, dan peranan mereka juga nampak dalam perang dahsyat Wong Agung Wilis ( sedang dipersiapkanTulisan” AKHIR PERANG DAHSYAT WONG AGUNG WILIS , APAKAH PUPUTAN BAYU. ATAU DESOLATING SYSTEM ATAU GENOCIDE”?

Mystery Gandrung Cungking Banyuwangi.
Gandrung tidak mungkin dipisahkan dengan Cungking, karena didesa inilah asal mula Gandrung di Banyuwangi.Oleh karena itu sangat menarik mempelajari kehadiran Gandrung desa Cungking ini.Keberadaan Gandrung banyak menarik perhatian sejarahwan maupun budayawan dan beliau memberikan hypothesa asal mula gandrung, ada yang menyatakan berasal dari pertunjukan di zaman Majapahit, ada yang menyatakan berasal dari ritual Seblang , ada yang membahas dari namanya dll.
Ketika saya mempelajari Gandrung saya mendapatkan fakta fakta yang menggelitik untuk dicarikan rujukan yang memadai.Inilah fakta tersebut.
1.Sebuah buku yang diterbitkan Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang diprakarsai Dir.Jen Prof DR Edi Sedyawati, dan Pelaksana Prof DR Sri Hastanto mengiringi volume 7 Tradisi Musik Nusantara khusus tentang Gandrung Banyuwangi menulis sbb;
• Walaupun kini telah banyak berubah ,namun sisa sisa wajah ritual itu masih sering terlihat. Misalnya dengan gerak tari yang “aneh”.Kadang kadang gerak demikian tidak sesuai dengan dandanan dan kecantikan serta, karakteristik penari.(hal 66)
• Ketika sedang menghias diri sendiri…..ditulis sbb: Itu semua dilakukan dengan ikhlas dan riang gembira,jauh dari sikap manja yang sering dilakukan oleh para artis……Ketika ditanya tentang sikap tersebut mereka menjawab:INI ADALAH IBADAH( hal 68)
2. Seniman dan Koreografer Nasional Deddy Luthan , dalam booklet Kadung dadi Gandrung Wis suatu pembahasan yang komfrehensif , menolak asal usul gandrung dari Seblang , dan menyatakan pembahasan yang ada sekarang tidak menyentuh essensi keberadaan Gandrung. Disamping itu beliau mengungkapkan bahwa kesenian Gandrung penuh mystery dan banyak sekali yang berunsur ritual.dan Inilah petikan tulisan beliau.
• Sewaktu melagukan puisi delapan bait, baik dibabak pertama maupun babak Seblang .Gandrung tidak menari sebagaimana layaknya namun yang disuguhkan berupa” pantomin” serta hanya diiringi oleh alat musik pembawa melodi ,seperti biola……..dan ketika biola belum digunakan ,….melodi tersebut didendangkan melalui mulut.( tahun 1939) hal 14
• Pada umumnya para pengamat kesenian ini pendapatnya tidak jauh berbeda dengan Joh Scholte ( penulis Belanda yang menulis “ Gandroeng Van Banyuwangi)bahwa sastra ( Syair)yang dibawa gandrung bersifat erotik………Mengomentari pendapat ini,beliau menulis bahwa hal tersebut tidak benar …bagaimana bisa mengatakan tergolong erotis mengingat untuk bisa mengerti maksudnya (Syair yg dinyanyikan dalam Seblang )saja sedemikian sulit”(hal 17). Bapak Dedy Luthan mencoba memberi contoh bagaimana sulitnya memahami dan menterjemahkan Sekar Jenang (nyanyian dalam Seblang) .Penulis juga mencoba melacaknya , syair yang dinyanyikan Gandrung pada saat Seblang dengan menggunakan Kamus Bahasa Osing ,karya Hasan Ali, tetapi hasilnyapun sama………artinya sulit memahami syair tersebut. Pada hal 19 beliau menanggapi penulis yang menyatakan nyanyian pada babak kedua(Paju) tidak mengarah dan tidak berbobot. Beliau membantah .Pada hal pada masa lampau pantun pantun yang memadati gending yang diminta pemaju sangat besar artinya untuk memberi ; pengarahan ,peringatan,nasehat yang menyangkut kegiatan sehari hari pada masyarakat, baik mengenai cinta kasih, rumah tangga, pertanian, pendidikan, agama dsbnya.
3.Pakaian gandrung yang formal yang disertai mahkota menurut penulis juga menimbulkan pertanyaan besar ,mengingat pakaian semacam itu juga tidak ditemui pada penari penghibur sepert Ronggeng ,Tayub, Legong Bali, atau tari hiburan lainnya di Nusantara, , juga tidak memperlihatkan pengaruh Bali /Jawa seperti pada umumnya kesenian yang ada di Banyuwangi..
Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin sebuah budaya rural /pedalaman mengenal pakaian se formal dan sebagus itu ?

Gandrung dan kebudayaan yang dibawa armada Cheng Ho.
Ketika saya training ke Jepang, saya melihat gerakan yang dilakukan oleh bhiksu di Kuil2 Budha ternyata sama dengan yang saya lihat pada tarian gandrung sepuh ( patah2, atau pantomin) dalam pementasan Bpk Dedy Luthan maupun , yaitu gerakan mengangkat tangan setinggi muka, sambil menunduk, dan menekukan lutut kaki dengan mengucapkan Ami Tabha.Begitu juga saya melihat gerakan itu di Korea, Hong Kong ,Malaysia, dan juga saya temui pada tetangga anak saya di Singapore seorang penganut Budha yang saleh .Oleh karena itu saya melacak gerakan tersebut pada khasanah Budhis apalagi setelah ditemukan penemuan patung Budha di gumuk Tingkil Banyuwangi.
Ternyata pada Dynasti Ming., agama Budha berkembang sangat pesat.
Dan pada masa ini ditulis karya sastra yang monumental/besar “Shi Yu” oleh Pujangga Wu Cheng , sebuah novel yang menceritakan perjalanan Bhiksu Budha Thon Sam Chong mencari kitab suci Budha . Novel ini memberi inspirasi dan motivasi kepada bangsa China sejak karya itu ditulis maupun sampai saat ini dimanapun bangsa China berada.
Oleh karena itu karya pujangga Wu Cheng . “Shi You” , dapat dipastikan menjadi mantera atau trigger yang sangat kuat pada armada Laksamana Cheng Ho dalam melakukan muhibah yang spektakular itu, mereka tidak saja mengerti dan menghayati novel tersebut, tetapi mereka juga mengagumi dan mengabadikan karya sastra tersebut.
Dalam pustaka modern novel tersebut dikenal dengan “Journey to the west”, sedang orang China saat ini mengenalnya sebagai Sun Go Kong/ Cerita Monyet yang Lincah.
Sayang dalam cerita yang berkembang sekarang ini justru peran Bhiksu Tong/ Thon Sang Chong kurang diperhatikan. , dan yang diperhatikan malah Sun Go Kong (Monyet Lincah itu), padahal monyet ,babi dll yang mengiringi perjalanan bhiksu Thon Sang Chong, sebenarnya hanya visualisasi /fable dari watak yang dimiliki manusia.
Tetapi rupanya rombongan armada Laksamana Cheng Ho, yang tertinggal di Cungking Banyuwangi, tetap mempertahankan dengan sekuat hati inti cerita tsb , dengan mempertahankan peran utama bhiksu Thon, dalam drama tari yang indah meskipun menghadapi gempuran zaman, dalam bentuk transformasi budaya yaitu “ Gandrung ‘” Banyuwangi.
Inilah persamaan Gandrung Banyuwangi dan karya sastra pujangga Wu Cheng “ Shi Yu’
1. Pakaian yang digunakan sangat mirip dengan pakaian Bhiksu tingkat tinggi yang memimpin upacara. Pakaian itu tentu mengalami anomaly dan distorsi maupun penyesuaian. Tetapi ciri pakaian Bhiksu China / pakaian drama China masih nampak jelas.
2. Gandrung , dan novel” SHI YU” , keduanya terdiri tiga babak. Pada babak pertama Biksu Thong melakukan sembah berpamitan kepada seluruh ummat dan penguasa untuk minta restu melakukan perjalanan, yang antara lain dilakukan dengan mengangkat tangan setinggi muka dan menekukan kaki sambil mengucapkan syair pujian, sedang gandrung pada Jejer juga melakukan gerakan pantomin/patah 2dengan suasana khusyuk yang hanya diiringi melody dengan syair yang masih sulit dipahami , kecuali lagu pembukaan “Pada Nonton”. Pada babak kedua novel “ Shi Yu” , menceritakan bhiksu Thong mendapat ,serangan, gangguan mulai dari musuh , perampok ganas yang tidak menginginkan suksesnya perjalanan tersebut,tetapi bhiksu Thong tetap mengajak mereka pada jalan kebaikan ,sedang dalam Gandrung ,babak kedua Paju adalah kesempatan para penonton memamerkan kemampuan silat baik kepada Gandrung maupun antara penonton dengan penonton disertai syair nasehat dan pengarahan .Hanya pada zaman Belanda babak ini terjadi distorsi dan anomaly, gerak pertempuran menjadi gerak rayuan dan syair nasehat dan pengarahan menjadi syair erotis . Hal ini bisa dipahami karena di Cungking/Glagah pada zaman Belanda menjadi tempat tahanan /celong para pemberontak/ preman /bajingan yang berasal dari seluruh Indonesia, dan ketika itu mereka menganggap kesenian gandrung (Gandrung Lanang)sebagai tarian hiburan dan lebih parah lagi ketika pejabat Belanda(1895) memaksa mbak Midah perias gandrung,untuk menampilkan putrinya Semi sebagai gandrung yang menghibur ,(era gandrung perempuan) .Pada babak ketiga novel “Shi Yu” bhiksu Tong telah menemukan Kitab Suci/SUTERA Budha dan mulai membacakan syair SUTERA kepada ummatnya, sedang pada Gandrung, babak ketiga /Seblang, dilantunkan syair yang mendayu, mengharu biru, tanpa iringan musik, membuat suasana syahdu,sehingga gandrung, pemanjak/niyogo dan menonton duduk tafakur.( mbak perempuan selalu mengajak saya menonton babak ini, beiau duduk menangis tersedu sedu….dan menerangkanbahwa dia sedang mohon ampun pada Yang Maha Kuasa).Karena itu pantaslah seorang seniman nasional Bpk Dedy Luthan kesulitan menerjemahkan maksudnya yang dikandung dalam syair di Seblang,karena ini adalah bahasa kitab suci Budha./Sutera. Maka jelaslah sudah makna kata kata penari Gandrung Cungking, ketika diwawancara pejabat Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film,bahwa menari Gandrung ini adalah IBADAH. Dia akan tetap melakukan walau hal itu tanpa merubah nasibnya dari himpitan hidup dan tiada penghargaan dari khalayak.Meskipun dia tidak mengerti syair tsb , tetapi nilai nilai akan tetap mengalir dalam hatinya, dan terwariskan .

Gandrung

Gandrung bagi banyak pengamat dan peneliti tak banyak beda dengan tayub, lengger, gambyong, teledek dan sejenisnya. Sebuah kesenian yang menampilkan seorang sampai empat orang perempuan dewasa menari, menembang, sendirian maupun berpasangan dengan penonton pria (pemaju) pada malam hari dengan iringan orkestra sederhana; gong, kethuk, keluncing (trianggel), biola, kendang. Namun bagi para tokoh di Banyuwangi gandrung tidak sekedar kesenian profan sekedar bersenang-senang menghabiskan malam, tapi sebuah kesenian yang sarat dengan nilai historis dan kepahlawanan.
Kesadaran sejarah atau barangkali lebih tepatnya romantisme historis ini berkembang pada awal tahun 70-an setelah beberapa budayawan mencoba memberikan tafsiran makna dari gending-gending klasik yang dibawakan gandrung seperti gending padha nonton, sekar jenang, seblang lokinto, layar kumendhung dan lain-lain. Kemudian ditambah diperolehnya beberapa dokumen tulisan lawas penulis Belanda dan beberapa tulisan berbahasa Inggris yang membantu upaya penggalian makna tersebut. Berdasar hasil tafsiran makna gending-gending klasik tersebut lahir wacana bahwa gandrung adalah sebuah kesenian yang berfungsi sebagai alat perjuangan melawan Belanda. Analisanya begini; setelah Perang Puputan Bayu pada tahun 1771-1772 rakyat Blambangan yang hampir habis dan sisanya tinggal memencar dalam kelompok-kelompok kecil di pedalaman hutan, maka untuk konsolidasi perjuangan dan membangkitkan lagi semangat juang lahirlah kesenian gandrung yang berkeliling menghubungi sisa-sisa pejuang yang terpencar tadi. Kesimpulan ini berdasar tulisan John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi tahun 1926. Sebenarnya tulisan Scholte ini tidak memberikan data yang cukup jelas. Keyakinan fungsi perjuangan kesenian gandrung sebenarnya lebih bertumpu pada hasil pemaknaan terhadap syair-syair klasik.Wacana gandrung sebagai alat perjuangan ini kemudian berkembang menjadi keyakinan dan kesadaran kolektif di kalangan tokoh-tokoh di Banyuwangi. Hal ini terlihat pada tulisan-tulisan yang terbit di Banyuwangi seperti buku “Gandrung Banyuwangi” yang diterbitkan oleh DKB (Dewan Kesenian Blambangan) tanpa tahun, artikel di majalah Seblang edisi II tahun 2004 yang berjudul “Gandrung Kawitane Alat Perjuwangan” dan banyak tulisan lain yang diangkat di media lokal maupun nasional.
Kesadaran sejarah peran gandrung berjalan seiring dengan upaya pencarian identitas daerah yang mulai giat dilakukan Pemda sejak awal tahun 70-an. Gandrung sebagai kesenian masyarakat Using yang dianggap sebagai masyarakat asli Banyuwangi menjadi pilihan yang paling gampang dari pada kesenian-kesenian lainnya. Selain alasan-alasan estetika, misalnya dari segi performance gandrung pasti lebih menarik dibanding angklung caruk yang seluruh pemainnya laki-laki, gandrung juga lebih populer dibanding kesenian-kesenian lainnya. Maka jadilah gandrung yang awalnya hanya dikenal di lingkungan masyarakat petani, perkebunan, nelayan yang erat dengan ritual, ditarik oleh negara menjadi identitas daerah yang sepenuhnya profan. Tahun 1975 lahirlah koreografi baru tari “Jejer Gandrung“ sebagai tari selamat datang yang digelar untuk acara-acara formal menyambut tamu negara. Sebuah tari yang mencoba merangkum seni pertunjukan gandrung yang terdiri dari babak jejer, paju dan seblang subuh yang dipentaskan semalam suntuk, diringkas hanya dalam durasi waktu 15 menit. Sebagai identitas, negara punya ukuran estetika sendiri yang ketat baik penari maupun panjak (penabuh gamelan) dan pelengkap performance lainnya. Dari sinilah kemudian gandrung sebagai kesenian memiliki dua basis pendukung, yaitu gandrung di komunitas awalnya yaitu gandrung terob dan gandrung sanggar. Gandrung terob adalah komunitas seniman kesenian gandrung dan masyarakat pendukungnya. Sedangkan gandrung sanggar adalah komunitas seniman yang menyuplai pementasan formal yang diminta negara.
Gandrung sebagai identitas bagi Banyuwangi yang multi etnik tidak selalu berada dalam satu kata. Gandrung berada dalam posisi tarik ulur dan diperdebatkan oleh kekuatan yang melingkarinya. Kekuatan tidak hanya dalam pengertian negara atau pemerintah daerah, melainkan juga wacana dominan dan nilai-nilai yang disepakati masyarakat. Dalam hal ini agamawan dengan teksnya sendiri soal ukuran-ukuran moral, budayawan dengan teksnya sendiri yaitu gandrung sebagai warisan sejarah yang luhur, negara dengan teksnya sendiri gandrung sebagai alat negara, semuanya berebut dan berpilin dengan kekuatannya masing-masing. Sedangkan komunitas gandrung terob tidak tahu menahu dan berada di luar kontestasi ini. Mereka berada dalam posisi yang dibaca.
Pergulatan ini berjalan intens walau tidak selalu secara terbuka. Kasus dibongkarnya patung gandrung di pelabuhan Ketapang atas permintaan kaum agamawan Ketapang menunjukkan hal itu. Dalam kasus ini melibatkan juga anggota DPRD yang harus turun meninjau dan menindaklanjuti pengaduan keberatan masyarakat atas adanya patung gandrung yang berada tepat di depan masjid walau sebenarnya masih dalam area pelabuhan. Namun peran dominan negara dan wacana identitas daerah mengalahkan wacana-wacana kontra. Di tengah polemik gandrung sebagai identitas Banyuwangi di sidang-sidang DPRD, pada tahun 2003 keluar SK bupati nomor 147 yang menetapkan tari jejer gandrung sebagai tari selamat datang di kabupaten Banyuwangi. Dengan demikian pemihakan terhadap gandrung yang bersifat politis menimbulkan akibat politis pula. Akibatnya ketika didirikan pusat latihan gandrung di desa Kemiren, program ini hanya berlangsung dua tahun karena pada tahun berikutnya anggarannya tidak disetujui oleh DPRD.
Di tangan negara, gandrung sebagai identitas daerah menjadi wacana dominan. Patung dan gambar gandrung menghiasai kota dan desa. Gambar gandrung menghias tempat sampah, pot bunga di trotoar, brosur pariwisata, baliho di perempatan jalan dan dinding perkantoran. Patung gandrung diletakkan di sudut-sudut taman, gapura kampung sampai pintu masuk kabupaten. Bahkan di pintu masuk dari utara di wana wisata Watu Dodol dibangun patung gandrung setinggi 12 m. Begitulah gandrung telah direngkuh negara dan karena menjadi identitas menghendaki tunggal, maka gandrung sebagai sesuatu yang dilihat, sesuatu yang dinilai semakin berada di tempat tinggi dan semakin kentara untuk diperdebatkan dan diperebutkan.
Setelah gandrung menjadi identitas daerah, menjadi taruhan image daerah, maka Pemda menerapkan standar estetika yang memenuhi unsur kepantasan laik jual dan membanggakan. Pada saat demikianlah kemudian ketika negara mengirimkan muhibah seni baik nasional maupun internasional terjadi proses marjinalisasi secara sistematis. Yang dipilih mewakili negara bukanlah komunitas gandrung terob melainkan gandrung sanggar yang lebih mampu memenuhi standar estetika yang ditetapkan negara. Disaat gandrung menjadi kebanggaan kolektif, justru komunitas aslinya termarjinalkan. Mereka tidak mempunyai kemampuan dan keberanian untuk berbicara, mereka lebih menganggapnya sebagai problem yang tak terucapkan.
Belum lagi problem relasinya dengan agama. Dengan semakin intensifnya proses purifikasi agama menempatkan gandrung berada pada posisi pesakitan. Gandrung distigma sebagai kesenian maksiyat dan tidak layak didekati. Konstruk agama dengan dengan seperangkat standar moralitas telah mereduksi estetika pertunjukan gandrung. Goyang pinggul, minuman keras, berbaurnya laki-laki dengan perempuan, kostum semuanya bertentangan dengan nilai dominan yang dikembangkan agama. Sekali lagi gandrung berada pada posisi yang lemah, sebagai pihak yang dinilai. Walau mereka sebenarnya memiliki ukuran nilai sendiri namun sekali lagi tak terucap dengan lantang. Mereka dalam posisi bertahan dan sering kali secara tak sadar menerima setigma dari luar sebagai kebenaran.
Dalam kaitan membangun tata sosial yang berkeadilan, memberikan kesempatan yang sama terhadap semua elemen masyarakat untuk berekspresi tanpa tekanan dari pihak lain, ketidakseimbangan relasi ini perlu diupayakan agar terjadi relasi yang seimbang antara komunitas gandrung terob dengan kekuatan dominan yang melingkupinya. Mereka diberdayakan agar mampu berfikir secara kritis membaca posisinya sendiri di tengah relasinya dengan kelompok lain. Membangun kemampuan mereka untuk menyadari dan berani menyuarakan kemarjinalannya, dan mampu mengevaluasi kekurangan mereka sendiri sangat penting dalam kerangka berfikir bahwa perubahan sosial akan menjadi lebih sehat dan memiliki daya perlawanan yang kuat apabila tumbuh dari komunitas itu sendiri. Bukan perubahan yang dibangun dari atau oleh pihak luar akan tetapi tumbuh dari kesadaran mereka sendiri.
sumber : hasanbasri08.wordpress.com

Tarian Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen.[1]. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).
Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.[rujukan?] Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan “paju”[2]
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.

Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrungditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker.[3]
Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.
Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.
Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.
Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.

Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.
Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.
Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing.

Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.

Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian:
* jejer
* maju atau ngibing
* seblang subuh

Jejer
Bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan.

Maju
Setelah jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu.

Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi.

Seblang subuh
Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian seblang subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya seblang lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian seblang subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian seblang subuh kerap dihilangkan meskipun sebenarnya bagian ini menjadi penutup satu pertunjukan pentas gandrung.

Perkembangan terakhir
Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari.
Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using.[4]
Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari[5].
Sejak Desember 200, Tari Gandrung resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat seperti Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat[6].