BLAMBANGAN = OSING

SISA –SISA LASKAR BLAMBANGAN 2

WONG OSING ADALAH WONG BLAMBANGAN

Perjalanan sejarah tidak bisa di belokan .walau pembelokan sejarah/pembunuhan karat er terus mengrogoti.Using adalah sebutan orang luar yang tidak Tahu sebenarnya siapa sebenarnya masyarakat ini…Kalau diselidiki kembali kebelakang menelaah sejarah yang terjadi .
Novi Anoegrajekti, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember, dalam pengantar novel Kerudung Santet Gandrung, punya pendapat menarik tentang bahasa Osing. Masyarakat Osing adalah masyarakat Blambangan, sebuah kerajaan kecil di ujung timur pulau Jawa yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Penyerbuan terus-menerus oleh Majapahit membuat masyarakat Osing cenderung defensif, mengisolasi diri dari pengaruh luar. Dan itulah potensi oposisi terhadap orang-orang Jawa Kulon.
Sikap oposisi ini diwujudkan dalam bentuk sosio-kultural. Masyarakat Osing enggan mengidentifikasi diri sebagai orang Jawa. Mereka menegaskan identitas diri yang berbeda. Salah satunya, “Menggunakan bahasa Osing,” kata Novi. Selain itu, muncul kesenian gandrung yang sebenarnya mirip tayub dan ronggeng di Jawa Tengah. “Ini contoh mereka menegaskan identitas dirinya,” katanya.
Istilah Osing sendiri berasal dari kata sing atau hing, yang berarti “tidak”. Menurut Novi, penduduk “asli” Banyuwangi yang menolak hidup bersama pendatang dari luar, sikap defensif ini buah dari trauma psikologi penyerbuan orang-orang Majapahit ke Kerajaan Blambangan. Penegasan identitas diri itu melahirkan bahasa, tradisi, dan pranata sosial yang berbeda dengan masyarakat Jawa kebanyakan.
Bahasa Osing pernah mencapai masa kejayaan ketika Prabu Tawang Alun (1655-1691) menjadi penguasa Kerajaan Blambangan. Pada 1743, Blambangan harus berada di ketiak VOC gara-gara Pakubuwono II menyerahkan Jawa Bagian Timur kepada VOC.

tidak bisa dipungkiri lagi wong osing adalah sisa wong blambangan.yang masih ada.sebutan wong blambangan bisa kita telusuri dari sejarah tawang alun.sampai Pemberontakan Rempeg jogopati.dimana tawang alun adlah seorang raja besar yang mempunya banyak selir.yang menurunkan tokoh-tokoh blambangan.
Sejarah penguat kanapa wong osing adalah sisa wong blambangan bisa dilihat dari perjalanan sejarah ;

1. sinuhun tawang alun yang mendirikan kerajaan di daerah hutan Sudiamara atau daerah macan putih.daerah tsb berada di wilayah kec kabat.sampai sekarang penduduknya masih penutur bahasa osing.

2. Pemberontakan Rempeg jogopati terkonsentrasi di daerah bayu,songgon.(songgon terletak di kec songgon.dan sampai sekarang masih penutur aktif osing)

3. Pemberontakan wong Agung Willis di banyuwangi.sampai sekarang kota banyuwangi masih banyak pengguna osing aktif

4. Sayu Wiwit yang di tugaskan Rempeg Jogopati menghadang belanda di jember,sampai sekarang menyisakan sebagian masyarakat daerah jember masih menggunakan bahasa osing.yaitu daerah puger.. ……………….

5. Banyaknya nama-nama desa padawaktu pemberontakan Rempeg Jogopati (yang tercantum dalam Babad blambangan)sampai sekarang nama desa tsb masih dipakai dan ada.

6. Susuhunan Tawang Alun yang Nota bene adalah raja blambangan terakhir, melahirkan/mempunyai hubungan keluarga tokoh-tokoh seperti agung wilis,Rempeg Jogopati.

7. Bersambung……………..

Fakta penguat .

1 Traumatik terhadap Kerajaan Majapahit.
Didasari dari pengalaman traumatik terhadap kerajaan Majapahit, masyarakat Using atau Blambangan menutup diri dari pengaruh Jawa. Akibat serangan kerajaan Majapahit yang terus menerus terhadap mereka, membentuk sikap antipati terhadap segala yang identik dengan Majapahit atau Jawa. Ada keinginan dari diri mereka sendiri untuk berkata tidak, dan mengembangkan sebuah bahasa dan budaya sendiri yang berbeda dari tetangga mereka di sebelah barat. Di sinilah terlihat bagaimana sikap isolatif dapat menyebabkan sebuah variasi bahasa yang berbeda dengan sekitarnya. Ada faktor historis yang membentuk sikap seperti ini.

2.Keadaan Geografis yang isolatif.
Secara geografis, wilayah Using Banyuwangi memang agak terisolasi, yaitu tertutup oleh pegunungan Ijen dan raung di sebelah utara, Selat Bali disebelah timur, dan Pesisir Selatan Pantai Selatan di sebelah selatan. Keadaan ini sudah barang tentu menyebabkan frekuensi interaksi sosial suku Using dengan masyarakat di luar tidak terlalu tinggi. Selain karena faktor historis yang sudah dijelaskan sebelumnya, ketertutupan ini membuat bahasa Using yang sama-sama berakar dari bahasa Jawa Kuno, memiliki pembeda bila dibandingkan dengan bahasa Jawa atau Bali. Ada interaksi yang lebih intensif sesama orang Using daripada keluar masyarakat Using. Hal ini menyebabkan masyarakatnya cenderung untuk mengembangkan ciri khasnya sendiri, bukan meniru atau mengadaptasi pengaruh luar. Selain itu, fakta masih adanya kata Maning atau Riko yang merupakan kata asli dari Bahasa Jawa Kuno, menegaskan keadaan isolatif yang mereduksi masyarakat Using dari pengaruh luar.

3. Keinginan untuk Memiliki Identitas.
Faktor sosial inilah yang paling menentukan dalam pencirian Bahasa Using terhadap Bahasa Jawa pada khususnya. Orang Using tidak ingin diidentifikasikan sama dengan orang Jawa atau Majapahit yang secara historis ada relasi tidak baik sebelumnya. Berangkat dari prestige inilah, ada kecenderungan orang Using untuk membentuk identitasnya sendiri. Salah satunya adalah dengan mengembangkan Bahasa Using yang berbeda dengan Bahasa Jawa pada umumnya. Dengan ciri khas Bahasa Using pada pengucapan kosakata Using yang mayoritas mirip dengan Bahasa Jawa, seolah-olah masyarakat Using ingin menyatakan bahwa mereka bukan orang Jawa, dan mereka ini adalah orang Using Banyuwangi.

4. Bahasa sendiri.
Sejarah wong Using atau Osing kabupaten Banyuwangi tidak bisa dipisahkan dari sejarah kerajaan majapahit. Masyarakat Using hakikatnya adalah keturunan dari kerajaan Blambangan yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Kata using sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno Sing atau Hing yang artinya tidak. Sebutan ini menurut Dosen fakultas Sastra Universitas Jember Novi Anoegrajekti(dalam Majalah Tempo on-line, http://www.tempointeraktif.com, mengacu pada pengalaman traumatik masyarakat Blambangan akibat serangan kerajaan Majapahit yang terus-menerus,pemberontakan Rempeg Jogopati, Pengalaman ini mengakibatkan sikap defensif masyarakat Using terhadap orang Majapahit, sehingga kata Using yang berarti tidak itu tercetus. Ada sikap antipati dari orang Blambangan terhadap masyarakat Jawa Kulon yang berbahasa Jawa mataraman itu. Pernyataan ini diperkuat dengan penelitian Prof. Dr. Suparman Heru Santosa yang telah mengadakan uji linguistik terhadap bahasa Using. Dari penelitian Prof. Suparman, disimpulkan bahwa Bahasa Using merupakan dialeg dari bahasa Jawa Kuno. Jadi sama dengan Sunda, atau Bali..
Using bukan istilah yang dipakai untuk menyebut penduduk keseluruhan Kabupaten Banyuwangi. Suku orang orang Using terdapat hanya di bagian tengah dan bagian utara Kabupaten Banyuwangi, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon.Dari ciri vonologis bahasa, dapat terlihat perbedaan dengan pengucapan dalam Bahasa Jawa modern. Meski ada kesamaan secara kosakata, namun cara pengucapan yang berbeda terkadang membuat orang yang biasa berbahasa Jawa tak mengerti ketika mendengar ucapan dalam Bahasa Using (Priantono, 2005). Perbedaan inilah yang menjadi salah satu penciri Bahasa Using dari Bahasa Jawa. Meski sama-sama berasal dari akar Bahasa Jawa Kuna, ada perbedaan yang menghasilkan Bahasa Using sebagai bahasa yang berdiri sendiri.
Dalam teknis penggunaan, pilihan varian dapat digunakan oleh penutur Bahasa Jawa untuk mengidentifikasi status sosial mereka. Ketika digunakan varian bahasa yang semakin tinggi, maka hal tersebut mengindikasikan status sosial yang semakin tinggi pula. Dari sini terlihat jelas perbedaan register antara Bahasa Jawa dan Using. Jika Bahasa Jawa mendasarkan pada status sosial, sedangkan Bahasa Using didasari pada fungsi okasional.
Kosakata Bahasa Using berakar langsung dari bahasa Jawa Kuna, dimana banyak kata-kata kuna masih ditemukan disana, disamping itu, pengaruh Bahasa Bali juga sedikit signifikan terlihat dalam bahasa ini. Seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet). Lebih jauh lagi, ada pula kata seperti maning yang biasanya kita dengar di penduduk daerah Tegal. Kata tersebut merupakan salah satu kata asli dari Bahasa Jawa Kuna yang masih dipergunakan sampai sekarang di masyrakat Using. Sehingga demikian, menurut Bambang Priantono (dalam blognya di http://bambangpriantono.multiply.com/, diunduh pada 21 Maret 2010 jam 19:30 WIB) daerah seperti Banten, Cirebon, Tegal, Tengger, Banyumas, dan Banyuwangi adalah sisa-sisa Bahasa Jawa yang masih kuno dan masih tersimpan di dalamnya kosakata Jawa Kuna.Ciri khas lain dari bahasa Using adalah dalam gaya penggunaan. Tidak seperti Bahasa Jawa yang mengenal unggah-unggahan bahasa seperti Ngoko, Kromo, dan seterusnya, Dalam Bahasa Using tidak ditemukan hal serupa. Yang ada hanya gaya bahasa berbeda untuk situasi yang berbeda, bukan karena status sosial. Selain itu, ada pula perbedaan penggunaan pronomina (kata sapaan) untuk orang dengan umur atau kedudukan yang berbeda, sekali lagi bukan karena status sosialnya.

Klendi wyak………………
Oleh ;Osing.k/Rofik laros

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • arsitek kampung  On Juli 19, 2011 at 6:50 pm

    Tulisan hang bermanfaat, nambyah pengetahuan lan nggarai isun lebih cinta ambi bahasa Using….

  • abedsaragih  On September 19, 2011 at 8:36 am

    kunjungan dan komentar balik gan
    sekalian tukaran link

    salam persahabatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: