Arkeolog UGM menyayangkan benda sejarah Kerajaan Blambangan yang dijual

By: hindunesia.com

Banyaknya situs sejarah Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur yang terbengkalai mengundang perhatian arkeolog dari UGM, Yogyakarta untuk ”turun gunung”. Kepala Jurusan Arkeolog UGM, Prof. Dr. Injati Adirisijanti, melakukan penggalian langsung peninggalan Kerajaan Blambangan di Desa Macanputih, Kabat, Minggu (4/7) kemarin. Hasilnya, ditemukan ribuan bekas gerabah dan reruntuhan tembok raksasa peninggalan kerajaan.

Proses penggalian dilakukan secara acak. Lokasi yang dipilih adalah tempat yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Blambangan dengan Raja Tawangalun II sekitar tahun 1655. Banyak ditemukan pecahan kendi dari tanah liat dan alat keramik kuno, kata Injati usai memimpin proses penggalian. Dia menambahkan kedatangannya ke Banyuwangi setelah mendapat kabar banyaknya situs dan peninggalan Kerajaan Blambangan yang terbengkalai. Bahkan, sudah banyak tertimbun tanah.

Selain gerabah kuno, arkeolog senior ini menemukan tumpukan batu raksasa yang memanjang. Diyakini, bangunan ini adalah bekas istana besar. Dilihat struktur bahannya adalah tatanan bata tanpa space. Ini banyak digunakan masa kerajaan sebelum penjajahan kolonial Belanda.

Gerabah yang ditemukan juga membuktikan tingginya seni masa kerajaan tersebut. Menariknya, gerabah justru banyak ditemukan berserakan di ladang warga. Beberapa di antaranya digali sedalam tidak lebih dari satu meter. Ada yang ditemukan masih utuh, sisanya kebanyakan sudah hancur.

Beberapa gerabah yang ditemukan akan diteliti di laboratorium arkeolog UGM. Rencananya, penggalian akan dilanjutkan jika data tentang Kerajaan Blambangan tersebut bisa ditemukan dengan baik.

Saat ini, Injati juga menggandeng sejarawan dari UGM untuk mencari keutuhan data dari bekas kerajaan tersebut. ”Saya sangat menyayangkan banyak temuan situs dan benda sejarah yang dijual,” kritiknya.

Sejarawan UGM yang juga mengikuti penggalian, Sri Margana, mengatakan Kerajaan Blambangan masih berkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit. Sesuai silsilahnya, Blambangan pernah berpindah sebanyak 7 kali. Pertama dibangun di sekitar Pasuruan, Jawa Timur. Karena terjadi pemberontakan, pusat kerajaan pindah ke Macanputih, Kabat dengan Raja Tawangalun II. ”Dahulu Desa Macanputih dikenal dengan sebutan Sudiamala,” tegas doktor sejarah lulusan Leiden, Belanda ini.

Dijelaskan, kerajaan Prabu Tawangalun II ini dikenal sebagai Kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa. Kerajaannya berjaya selam 36 tahun, periode 1655-1691. Setelah rajanya wafat, kerajaan ini hancur dan berubah menjadi kerajaan kecil di bawah kekuasaan Bali. Menurut buku yang ada di perpustakaan Leiden, Raja Tawangalun II meninggal pada 25 Oktober 1691 dan diaben dengan upacara besar. Dari 400 permaisurinya, 270 di antaranya mengikuti upacara masatya (bakar diri bersama sang raja).

Pusat Kerajaan Blambangan di Macanputih memiliki luas 4,5 kilometer persegi dengan jumlah pasukan 36.000 orang dan pelayan kerajaan 1.000 orang. ”Kehebatannya mirip Kerajaan Majapahit. Namun belum pernah diungkap di dalam sejarah nasional,” tegas Sri Margana.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • lukman  On Maret 12, 2012 at 3:40 pm

    tolong digali lebih dalam tentang sejarah kerajaan belambangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: