Gredoan

GREDOAN
(STUDI TENTANG UPACARA PERJODOHAN
DI DESA MACAN PUTIH KECAMATAN KABAT
KABUPATEN BANYUWANGI)
Gray literature from GDLHUB / 2008-02-13 12:59:53
Oleh : Budianto Sugianto , FISIP/ Sosiologi
Dibuat : 2008-02-13, dengan 1 file

Keyword : UPACARA PERJODOHAN

Pada masyarakat Using Banyuwangi proses pencarian jodoh atau perjodohandilakukan dengan berbagai cara dan telah menjadi tradisi serta warisan dari nenekmoyangnya. Tradisi perjodohan tersebut diantaranya tradisi Gredoan, Bathokan, danMlayokaken. Bentuk perjodohan dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol yang
bertujuan untuk menunjukkan kasih sayangnya, seperti penggunaan Basanan atauWangsalan.Tradisi perjodohan yang hingga sekarang masih tetap eksis dalam masyarakatUsing secara keseluruhan adalah tradisi Gredoan. Gredoan dalam bahasa Usingberarti saling menggoda (Nggridu = goda) antara jejaka dan gadis. Dalam hal tesbut
dilakukan dengan artian positif karena Gredoan yang dilakukan adalah dengan carabaik-baik untuk mencari pasangan. Gredoan dipahami sebagai sebuah mekanismebudaya lokal dalam proses melakukan gidaan terhadap lawan jenis, untuk kemudianmenuju jenjang pacaran dan perkawinan.Gredoan sebenarnya berkisar pada masalah jalinan rasa senang dan cintaantara seorang laki-laki dan wanita muda, sehingga sifatnya dapat dikatakan sangatuniversal sekali. Meskipun demikian Gredoan mempunyai keistimewaan tersendiriyang terletak pada perilaku pelaku dan dialognya.Pada masyarakat Using Banyuwangi, perilaku demikian digambarkan denganmengadakan suatu upacara perjodohan atau Gredoan. Pada masyarakat Using di DesaMacan Putih, Gredoan setiap tahun dilaksanakan tepat pada bulan Maulud NabiMuhammad SAW. Upacara perjodohan tersebut memanfaatkan kegiatan-kegiatan
dalam peringatan Maulud Nabi seperti karnaval. Karnaval merupakan salah satu bentuk peringatan Maulud Nabi padamasyarakat Using yang bentuknya berupa pertunjukan seni dan atraksi. Pada kegiatan
ini mengundang banyak perhatian orang bayak baik dari dusun/desa lain. Hal yangdemikian menyebabkan kemudaia dimanfaatkan oleh para jejaka gredo ataumenggoda para gadis pada saat melihat karnaval baik yang ada di teras rumahmaupun di tempat umum.Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi upacara perjodohan padamasyarakat Using yang selama ini selalu dilaksanakan atau masih eksis. Dalam
tujuan tersebut penulis akan mendeskripsikan beberapa permasalahan yangdiantaranya prosesi, makna dan perubahan tradisi tersebut.
Penelitian yang mengambil tempat di Desa Macan Putih Kabat Banyuwangi,data-data yang diperoleh berasal dari data primer maupun sekunder. Data primerdiperoleh dengan cara pengamatan dan wawancara langsung, sedangkan datasekunder diperoleh melalui dokumen-dokumen dan jurnal-jurnal yang berkaitan dengan fokus penelitian. Dokumen danjurnal tersebut diperoleh dari data desa dantokoh masyarakat serta lembaga studi.
Teknik penentuan informan dilakukan dengan menggunakan Snowball
sampling, yaitu peneliti hanya menentukan beberapa informan kunci yang kemudiandari informan kunci tersebut akan diberikan informan pertama, dan dari informanpertama aka ditentukan informan kedua dan seterusnya sampai data telah benar danvalid. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik partisipanterbatas yaitu peneliti hanya mengorek data dan menganalisanya dan mengikuti
kegiatan dari tradisi tersebut.Dalam penelitian ini, yang menjadi key informan pertama adalah tokohmasyarakat yaitu kepala desa dan kepala dusun. Kemudian ditentukan key informanpokok yaitu tokoh adat atau tokoh masyarakat yang mengetahui tentang asal usul
terjadinya Gredoan hingga perkembangannya sekarang. Dari tokoh masyarakattersebut kemudian akan diberitahu informan pertma, dan dari informan tersebut akanditentukan juga informan kedua dan seterusnya hingga data yang diperoleh sudah dianggap cukup dan valid. Informan-informan tersebut merupakan orang-orang yang
pernah mengikuti tradisi tersebut, dan mereka yang telah menikahdari tradisi tersebut.Informan tersebut diantaranya orang tua, anak lelaki (jejaka), dan anak perempuan(gadis). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah mengenai keterkaitan antaratradisi Gredoan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, bentukprosesinya serta makna dan simbol-simbol yang dipergunakan yang menyebabkantradisi tersebut tetap eksis dalam masyarakat khususnya di Desa Macan Putih, KabatBanyuwangi.
Gredoan merupakan salah satu budaya lokal masyarakat Using tentang
mekanisme perjodohan. Gredoan yang terjadi sekarang menjadi peristiwa adat yangberdampingan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Pada peringatanMaulud Nabi yang terdapat berbagai macam kegiatan-kegiatan khusunya padakegiatan karnaval, selalu mengundang banyak perhatian dari banyak orang baik dari
luar desa maupun dusun. Hal tersebut yang kemudian dimanfaatkan oleh para jejakauntuk melakukan gredo atau menggoda para gadis pada saat melihat karnaval baikyang ada di teras rumah maupun di jalan-jalan.Kegiatan gredo tersebut tidak hanya dilakukan secara terang-terangan tetapijuga menggunakan berberapa simbol-simbol dalam memikat hati gadis. Simbol-simbol tersebut berupa pantun atau Basanan. Istilah Basanan tersebut berisikan kata-kata yang bermakna merayu atau menggoda para gadis. Apabila jejaka mengirimkan
atau mengucapkan basanan maka gadis akan membalas dengan menggunakan patunatau basanan yang serupa atau sama.
Gredoan saat ini mengalami perubahan yaitu antara lain Pertama, tempatpertemuan untuk gredo, jejaka dan gadis tidak selalu bertemu didalam rumahmelainkan sekarang dapat dilakukan diluar rumah atau di tempat umum ketikadiadakan hiburan seperti: melihat karnaval, panggung musik atau orkestra. Kedua,proses komunikasi yang dilakukan tidak lagi dilakukan dengan menggunakan pantun, atau dengan menggunkan sodho atau lidi melainkan berubah dengan menggunakan alat komunikasi modern seperti Hand Phone (HP) yaitu dengan cara mengirim sejumlah pesan-pesan atau SMS (Short Mesage System) yang memiliki makna gredo.,
selain itu juga gredoan yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua.
Secara teoritik makna simbol dalam setiap interaksi dalam tradisi Gredoantelah mengalami pergeseran atau perkembangan sesuai dengan perkembanganteknologi. Simbol-simbol yang mengalami perubahan tersebut seperti: penggunaanSodho atau lidi sebagai media perantara komunikasi tidak lagi digunakan. Saat iniyang menghubungkan si jejaka dan gadis lebis memiliki sifat universal, jejakalangsung bertemu dengan gadis di rumahnya dan juga ada yang menggunakanperantara alat komunikasi modern seperti Hand Phone (HP).
Pergeseran atau perkembangan simbol-simbol tersebut selalu mengikuti
perkembangan budaya masyarakat. Dengan masuknya ilmupengetahuan danteknologi modern menyebabkan simbol-simbol tersebut berubah dan berganti. Tetapipada intinya perkembangan dan pergeseran simbol-simbol tersebut dimaksudkansebagai adaya tarik masyarakat untuk tidak melupakan tradisi atau budaya lokal yangmereka miliki atau menjaga eksistensi budaya lokal masyarakat.
Gredoan memiliki dua makna yaitu makna secara kultural dan secara
sosiologi. Secara kultural, Gredoan bermakna sebagai upaya menjaga danmempertahankan budaya lokal masyarakat Using. Sedangkan secara sosiologi yaitusebagai upaya menjaga dan mempertahankan komunitas Suku Using melalui bentukperkawinan secara endogami.

Deskripsi Alternatif :
Pada masyarakat Using Banyuwangi proses pencarian jodoh atau perjodohandilakukan dengan berbagai cara dan telah menjadi tradisi serta warisan dari nenekmoyangnya. Tradisi perjodohan tersebut diantaranya tradisi Gredoan, Bathokan, dan Mlayokaken. Bentuk perjodohan dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol yang
bertujuan untuk menunjukkan kasih sayangnya, seperti penggunaan Basanan atauWangsalan.Tradisi perjodohan yang hingga sekarang masih tetap eksis dalam masyarakat Using secara keseluruhan adalah tradisi Gredoan. Gredoan dalam bahasa Using berarti saling menggoda (Nggridu = goda) antara jejaka dan gadis. Dalam hal tesbutdilakukan dengan artian positif karena Gredoan yang dilakukan adalah dengan cara baik-baik untuk mencari pasangan. Gredoan dipahami sebagai sebuah mekanisme budaya lokal dalam proses melakukan gidaan terhadap lawan jenis, untuk kemudianmenuju jenjang pacaran dan perkawinan.
Gredoan sebenarnya berkisar pada masalah jalinan rasa senang dan cinta antara seorang laki-laki dan wanita muda, sehingga sifatnya dapat dikatakan sangat universal sekali. Meskipun demikian Gredoan mempunyai keistimewaan tersendiriyang terletak pada perilaku pelaku dan dialognya.
Pada masyarakat Using Banyuwangi, perilaku demikian digambarkan dengan mengadakan suatu upacara perjodohan atau Gredoan. Pada masyarakat Using di Desa Macan Putih, Gredoan setiap tahun dilaksanakan tepat pada bulan Maulud Nabi Muhammad SAW. Upacara perjodohan tersebut memanfaatkan kegiatan-kegiatan dalam peringatan Maulud Nabi seperti karnaval. Karnaval merupakan salah satu bentuk peringatan Maulud Nabi pada masyarakat Using yang bentuknya berupa pertunjukan seni dan atraksi. Pada kegiatan
ini mengundang banyak perhatian orang bayak baik dari dusun/desa lain. Hal yang demikian menyebabkan kemudaia dimanfaatkan oleh para jejaka gredo atau menggoda para gadis pada saat melihat karnaval baik yang ada di teras rumah maupun di tempat umum.
Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi upacara perjodohan padamasyarakat Using yang selama ini selalu dilaksanakan atau masih eksis. Dalamtujuan tersebut penulis akan mendeskripsikan beberapa permasalahan yangdiantaranya prosesi, makna dan perubahan tradisi tersebut.Penelitian yang mengambil tempat di Desa Macan Putih Kabat Banyuwangi,data-data yang diperoleh berasal dari data primer maupun sekunder. Data primerdiperoleh dengan cara pengamatan dan wawancara langsung, sedangkan datasekunder diperoleh melalui dokumen-dokumen dan jurnal-jurnal yang berkaitandengan fokus penelitian. Dokumen danjurnal tersebut diperoleh dari data desa dan
tokoh masyarakat serta lembaga studi.Teknik penentuan informan dilakukan dengan menggunakan Snowballsampling, yaitu peneliti hanya menentukan beberapa informan kunci yang kemudian
dari informan kunci tersebut akan diberikan informan pertama, dan dari informanpertama aka ditentukan informan kedua dan seterusnya sampai data telah benar danvalid. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik partisipanterbatas yaitu peneliti hanya mengorek data dan menganalisanya dan mengikutikegiatan dari tradisi tersebut.
Dalam penelitian ini, yang menjadi key informan pertama adalah tokoh
masyarakat yaitu kepala desa dan kepala dusun. Kemudian ditentukan key informanpokok yaitu tokoh adat atau tokoh masyarakat yang mengetahui tentang asal usulterjadinya Gredoan hingga perkembangannya sekarang. Dari tokoh masyarakat tersebut kemudian akan diberitahu informan pertma, dan dari informan tersebut akan
ditentukan juga informan kedua dan seterusnya hingga data yang diperoleh sudah dianggap cukup dan valid. Informan-informan tersebut merupakan orang-orang yang pernah mengikuti tradisi tersebut, dan mereka yang telah menikahdari tradisi tersebut. Informan tersebut diantaranya orang tua, anak lelaki (jejaka), dan anak perempuan
(gadis).Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah mengenai keterkaitan antaratradisi Gredoan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, bentukprosesinya serta makna dan simbol-simbol yang dipergunakan yang menyebabkantradisi tersebut tetap eksis dalam masyarakat khususnya di Desa Macan Putih, Kabat Banyuwangi.Gredoan merupakan salah satu budaya lokal masyarakat Using tentangmekanisme perjodohan. Gredoan yang terjadi sekarang menjadi peristiwa adat yangberdampingan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Pada peringatanMaulud Nabi yang terdapat berbagai macam kegiatan-kegiatan khusunya pada kegiatan karnaval, selalu mengundang banyak perhatian dari banyak orang baik dari
luar desa maupun dusun. Hal tersebut yang kemudian dimanfaatkan oleh para jejakauntuk melakukan gredo atau menggoda para gadis pada saat melihat karnaval baikyang ada di teras rumah maupun di jalan-jalan.Kegiatan gredo tersebut tidak hanya dilakukan secara terang-terangan tetapijuga menggunakan berberapa simbol-simbol dalam memikat hati gadis. Simbol-simbol tersebut berupa pantun atau Basanan. Istilah Basanan tersebut berisikan kata- kata yang bermakna merayu atau menggoda para gadis. Apabila jejaka mengirimkanatau mengucapkan basanan maka gadis akan membalas dengan menggunakan patunatau basanan yang serupa atau sama.
Gredoan saat ini mengalami perubahan yaitu antara lain Pertama, tempatpertemuan untuk gredo, jejaka dan gadis tidak selalu bertemu didalam rumahmelainkan sekarang dapat dilakukan diluar rumah atau di tempat umum ketika diadakan hiburan seperti: melihat karnaval, panggung musik atau orkestra. Kedua,proses komunikasi yang dilakukan tidak lagi dilakukan dengan menggunakan pantun,atau dengan menggunkan sodho atau lidi melainkan berubah dengan menggunakan alat komunikasi modern seperti Hand Phone (HP) yaitu dengan cara mengirimsejumlah pesan-pesan atau SMS (Short Mesage System) yang memiliki makna gredo.,
selain itu juga gredoan yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua.
Secara teoritik makna simbol dalam setiap interaksi dalam tradisi Gredoantelah mengalami pergeseran atau perkembangan sesuai dengan perkembanganteknologi. Simbol-simbol yang mengalami perubahan tersebut seperti: penggunaanSodho atau lidi sebagai media perantara komunikasi tidak lagi digunakan. Saat ini yang menghubungkan si jejaka dan gadis lebis memiliki sifat universal, jejakalangsung bertemu dengan gadis di rumahnya dan juga ada yang menggunakanperantara alat komunikasi modern seperti Hand Phone (HP).
Pergeseran atau perkembangan simbol-simbol tersebut selalu mengikuti
perkembangan budaya masyarakat. Dengan masuknya ilmu pengetahuan danteknologi modern menyebabkan simbol-simbol tersebut berubah dan berganti. Tetapipada intinya perkembangan dan pergeseran simbol-simbol tersebut dimaksudkansebagai adaya tarik masyarakat untuk tidak melupakan tradisi atau budaya lokal yang
mereka miliki atau menjaga eksistensi budaya lokal masyarakat.
Gredoan memiliki dua makna yaitu makna secara kultural dan secara
sosiologi. Secara kultural, Gredoan bermakna sebagai upaya menjaga danmempertahankan budaya lokal masyarakat Using. Sedangkan secara sosiologi yaitusebagai upaya menjaga dan mempertahankan komunitas Suku Using melalui bentuk perkawinan secara endogami.

sumber

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: