Bila pesantren mencoba beridiologi

Pengenalan ajaran Islam tidak lagi cukup secara mendasar. Penguasaan yang mendalam saat ini menjadi hal pokok mengingat begitu gencar dan telitinya paham-paham lain memprogandakan diri. Mereka tidak ragu untuk mengutip dan menafsiri dalil-dalil al-Qur’an dan hadist demi legitimasi.[1] Sangat dimungkinkan orang-orang yang belum memiliki komitmen terhadap Islam ( apalagi orang awam) terbujuk dan terpengaruh melihat wajah luar mereka yang tentu saja menawan.

Hal lain yang lebih fundamental adalah kepedulian para pemerhati Islam melakukan koreksi bersama terhadap ajaran paham lain. Mengadakan dialog terbuka, jujur, dan bertanggungjawab antar pemikiran sehingga bisa diukur validitas dari masing-masing paham. Sehingga tidak akan mudah bagi paham sempalan seperti Ahmadiyah dan komunitasnya Lia Eden untuk memproklamirkan diri. Juga tidak akan membingungkan masyarakat awam yang melihat banyaknya aliran-aliran dalam Islam.

POTRET NU

Meninjau sikap pesantren terhadap fundamentalis-liberalis tercermin dengan mencermati kebijakan para kiai-nya. Sebab kiailah yang memiliki otoritas penuh dalam memberi corak keilmuan yang akan diterima para santri. Lembaga pesantren adalah institusi yang hanya mengajarkan paham yang diyakini benar. Tidak seperti halnya kampus yang akhir-akhir ini cenderung mengajarkan kompleksitas ilmu tanpa meninjau benar-salah.

Menarik untuk mendengar beberapa komentar tokoh NU mengenai hal ini.  Rais syuriah PWNU Jawa Timur KH. Ahmad Masduki Mahfudz mengatakan berbelok atau tidaknya seorang NU itu tergantung pada pengarahan abahnya. Menurutnya seperti apapun pendidikan seorang anak tetap akan menjadi NU kalau ada pengarahan dari ayah. Hemat penulis, pendapat semacam itu lebih sebagai asumsi saja. Selama ini belum ada fakta yang konkret, minimal tentang pengakuan para kiai yang memiliki anak dengan paham berbeda bahwa mereka memang membebaskan anaknya pada aliran apapun.

Sebuah argumentasi lain muncul dari KH. Ahmad Muchith Muzadi. M. Subhan mengutip darinya enam cara ideal agar anak NU tidak lepas kendali. Pertama, disekolahkan di sekolah NU. Kedua, selama di rumah , orang tua selalu menunjukkan ke-NU-annya. Ketiga, meyakinkan bahwa NU itu baik dan bisa diikuti. Keempat, mengajaknya ke forum rapat atau pengajian-pengajian NU. Kelima, intens menyelipkan suasana NU dalam percakapan sehari-hari. Dan langkah terakhir, diikutkan dalam IPNU.[2]

Sekian cara di atas sangat efektif untuk sebuah langkah persuatif dari sebuah institusi atau paham atau ideologi yang sudah mapan. Namun, seberapa konkretkah kondisi NU sekarang? Secara eksplisit Muassis NU Hasyim Asy’ari telah merumuskan landasan ideologi, fikih, dan prinsip NU yang selalu menempatkan diri di tengah-tengah. Tapi kenyataannya saat ini dalam struktural elit NU saja sudah diduduki orang-orang dengan ‘paham’ yang berlainan (baca: liberalis).

Ada langkah yang lebih urgen untuk dilakukan. Yakni merepresentasikan kembali dasar Jam’iyah NU. Memperjelas ragam pemikiran mana yang mu’tabar di NU dan yang tidak. Serta memperjelas konsep dari toleransi terhadap perbedaan dalam Islam. Setelah itu baru bergiat ‘mengakrabkan’ NU pada generasinya. Sebagaimana ujar KH. Hasyim Muzadi tentang langkah peng-NU-an kadernya sebagai prioritas program NU tahun ini.[3]

TARIK ULUR IDIOLOGI

Tidak bisa dipungkiri, posisi NU sebagai paham yang berada di tengah-tengah memiliki sisi negatif berupa kecondongan pada salah satu aliran. Karena itu reinterpretasi ajaran NU sudah sedemikian pentingnya dilakukan agar konsepsi dari ajaran itu tidak semakin bias. Setidaknya saat ini ada tiga problem utama NU yang perlu segera dicari kesepahaman.

Pertama, masih adanya ketidaksepakatan tentang tema-tema Islam berbau fundamentalis. Misalnya tentang sejauh mana arti penerapan syariat di Negara Indonesia, pemaknaan jihad, pemaknaan amar ma’ruf nahi munkar, dan seterusnya.[4] Kedua, terjebak dalam kekhawatiran stigma liberalis atau fundamentalis. Belum diadakannya reorientasi syariah (dalam artian tauhid, fikih, dan akhlak) menjadikan warga NU sebagai korban rasa sentimen. Sedikit progresif dituding liberal. Sedikit keras bersikap dicap fundamental. Bahkan untuk yang disebut terakhir, NU saat ini lebih dekat ke arah mereka.

Ada sejumlah latar belakang yang menjadi pendorong hal tersebut. Di antaranya memiliki kesamaan pandangan dari sisi tertentu. Seperti sikap mendukung RUU APP dan menentang liberalisme. Kesamaan seperti itu sebenarnya tidak menjadi masalah penting. Bagaimanapun adanya anggapan bahwa NU adalah bagian dari fundamentalisme Islam tidak perlu dihiraukan. Islam yang dipahami dan diyakini oleh NU terang perbedaannya dengan Islam fundamentalis.

Islam as-salafi yang dijadikan acuan NU adalah Islam yang berorientasi pada salaf ash-shalih dengan cara merujuk pada pendapat para ulama terdahulu yang terkodifikasi dalam kitab kuning, menerima sistem bermadzhab kecuali bagi mereka yang kapabel menjadi mujtahid,[5] dan luwes untuk berakulturasi dengan budaya lokal sebagai bagian dari wajah universal Islam. Klaim kesamaan dengan corak fundamentalis baru bisa menjadi masalah ketika hal itu menumbuhkan sikap permisivisme terhadap golongan tersebut. Namun hal itu tidak akan terjadi ketika generasi NU mengenal dengan baik perbedaan dari Islam fundamentalis yang berprinsip istinbath langsung tanpa mengenal madzhab dan menganggap budaya lokal sebagai bid’ah yang tidak pernah terjadi di masa Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, pengaburan makna fundamentalisme. Awal mulanya istilah fundamentalisme dimunculkan oleh Curtis Lee Law pada tahun 1920. Ia menamakannya pada golongan Kristen, American Protestant, yang menentang modernisme dan Darwinisme yang liberal. Akibatnya fundamentalisme identik dengan radikal, militan, dan ekstrimis. Istilah fundamentalisme ini mulai disebut-sebut dalam Islam ketika aktifis militan golongan Syiah di Iran memprotes segala aktivitas Barat dan mempromosikan penentangan terhadap Barat dan kepentingannya.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan istilah fundamentalisme telah dipelintir ke arah terorisme. James Veitch—sebagaimana Khurshid Ahmad—menyebutkan istilah fundamentalisme telah digunakan dengan sewenang-wenangnya oleh media Barat dan penulis-penulis Barat sehingga tidak hanya melingkupi golongan radikal dan ekstrim tetapi juga golongan yang dinamakan reformis atau revivalis. (James Veitch, 1993).[6]

Berbagai media dan tulisan lepas di tanah air turut serta meramaikan pengaburan makna fundamentalisme. Kompas (31/1/2002) menurunkan judul ” AS mulai perang terorisme di Filipina. Di dalamnya tertulis kata-kata; “Kamis,(31/1) mereka mulai memberi pelatihan memerangi kelompok militan.” Abdul A’la menulis artikel dengan judul: Kekerasan Sumbangan Modernisasi dan Fundamentalisme Agama. M. Alfan Alfian M. dalam tulisan berjudul: “Momentum Kebangkitan Islam Moderat,” mencatat bahwa karena lebih mendahulukan “nahi munkar,” maka gerakan-gerakan fundamentalis-radikal lebih massif dan cenderung memakai kekerasan.” Majalah Tempo (27/2/2002) dalam “Catatan Pinggirnya” yang diisi oleh Gunawan Muhammad ditutup dengan kalimat; “Fundamentalisme memang aneh, keras, dan menakutkan. Ia mendasarkan diri pada perbedaan, tapi pada gilirannya membunuh perbedaan.”[7]

Penggiringan opsi ini tanpa disadari akan menciptakan wajah Islam yang lembek, apriori dengan penindasan karena terlanjur trauma dengan stigma fundamentalis. Atau akan menjadikan khalayak umum salah paham terhadap setiap usaha nahi munkar dan menudingnya sebagai gerakan liar, ekstrimis, radikal, bahkan teroris. Padahal secara harfiah fundamentalis adalah ushulliyah. Pemahaman untuk senantiasa kembali pada ajaran-ajaran Islam yang mulia. Ajaran yang seimbang adalah adzillatun ala al-mukminin a’izzatun ala al-kafirin (lemah lembut terhadap sesama muslim dan tegas terhadap orang kafir). Islam tidak bisa dilepaskan dari jihad dan nahi munkarnya. Tanpa keduanya Islam tidak lebih daripada seperangkat norma pajangan yang tidak memiliki ketegasan sanksi. Hanya saja yang perlu dicermati setiap muslim  sekarang ini adalah bagaimana cara memahami jihad dan nahi munkar yang arif dan efektif. Wallahu a’lam

Muhasinul Umam

http://www.lirboyo.com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • M Shodiq Mustika  On Agustus 3, 2010 at 2:41 am

    “Pengenalan ajaran Islam…”???
    Bagaimana kalau kita berusaha lebih mempopulerkan istilah lain yang menurut Alquran dan Alhadits lebih istimewa daripada istilah islam/muslim? Untuk bahan pertimbangan, silakan simak “Inilah PENGGANTI ISLAM sebagai Agama Menurut Al-Qur’an!

  • Muhasinul Umam  On Januari 6, 2011 at 2:26 am

    Sungguh bukan kesengajaan bila saya bisa menemukan situs ini.
    Link yang anda tampilkan sudah saya baca, lengkap dengan perdebatan testimoni di bawahnya. Sebelumnya ada feedback sebagai persamaan landasan berpikir kita; apa definisi agama (religion) yang anda pahami?

    Saya kunjungi blog ini seminggu sekali untuk melihat respon balik. Terima kasih.

    • osingkertarajasa  On Februari 5, 2011 at 2:07 pm

      trims kunjunganya kegubuk reyot sy..sy rasa untuk mendefinisikan agama akan panjang. saya rasa intinya setuju yg pean ulas bahwa,sekarang telah terjadi pengkaburan makna fundamentalis.dan saya sangat menghormati KH Hasyim Muzadi dan para sesepuh lirboyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: