“Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan”

Click here to enlarge

Sutan Sjahrir

Ada dua pola pikir yang sampai detik ini sangat mempengaruhi jalan pikiran ideologis orang Indonesia. Pertama : Feodalisme Fasis ala Suhartorian dan yang kedua adalah Sosialisme Demokrat ala Sjahririan. Sementara ideologi-ideologi lain tidak memiliki pengaruh kuat sama sekali dalam aplikasi pemikiran ideologi yang sekarang. Sosialisme Demokrat ala Sjahririan ini dikenalkan oleh Sutan Sjahrir, pemikir dan politisi besar Indonesia yang namanya kemungkinan sekali sudah asing bagi generasi muda. Gaung kenangan kolektif sjahrir jauh berada dibawah Suharto, Sukarno, Hatta bahkan Tan Malaka sekalipun. Namun pada diri Sjahrir-lah lanskap intelektualitas tentang sosialisme di Indonesia terbentuk : Harian Kompas, Majalah Prisma, Majalah Tempo, dan Media-media intelektual lainnya sangat dipengaruhi oleh gagasan Sjahrir tentang Sosialisme dan Kebebasan Intelektual.

Sjahrir sendiri lahir dari keluarga elite pribumi yang menyukai ilmu pengetahuan, ayahnya Mohammad Rasad, adalah penasihat ahli Kesultanan Deli yang berwawasan luas, Rasad juga bekerja sebagai Kepala Jaksa (Landraad) di Medan. Berkat kedudukan ayahnya ini, Sjahrir bisa bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) dan MULO (SMP) terbaik di kota Medan. Dunia Sjahrir kecil adalah dunia buku, ia membacai banyak buku sejak dia masih di SD, sampai SMP ia sudah menamatkan buku-buku filsafat, sejarah politik dan sastra dalam bahasa Belanda. Sjahrir sendiri sepanjang sejarah hidupnya kebanyakan bicara dalam bahasa Belanda tapi ia kerap mengeritik orang yang Hollandophil (ke belanda-belandaan). Sukarno sendiri sering menyerang Sjahrir dengan perkataan, “Halah, Sjahrir itu bermimpi saja pakai bahasa Belanda”.

Setelah menyelesaikan sekolah di Medan, Sjahrir berlayar ke Jawa dan bersekolah di AMS (Setingkat :SMA) di Bandung. Ia bersekolah di AMS paling elite se Jawa. Di masa-masa itulah golden time bagi Sjahrir, ia banyak dipuja banyak wanita dan disukai teman-temannya karena senang berdebat dan terlalu cerdas. Ia masuk ke dalam tim debat AMS dan selalu memenangkan lomba perdebatan. Di AMS ia dilatih berpikiran sistematis, mengenal diplomasi dan menikmati kehidupan anak muda elite. Disini fase hidup Sjahrir memasuki masa pendewasaan sebelum akhirnya dia bertemu dengan serombongan anak muda dari Batavia (sekarang : Jakarta) seperti : M. Yamin, Sugondo Djojopuspito, Maruto dll yang akan berjumpa dengan Bung Karno dirumahnya di Pangkur, Bandung. Pertemuan dengan anak-anak muda itu mengubah pandangan secara total tentang sebuah bangsa. Sjahrir terpengaruh oleh ajakan anak2 muda tersebut untuk berpikir tentang sebuah bangsa. Anak-anak umur 16-19 tahun ini berdebat bagaimana mendirikan sebuah bangsa di di sebuah kafe di Jalan Braga Bandung. Lalu muncullah ide untuk membentuk satu kesatuan pemuda guna menyadarkan sebuah bangsa “Tanpa kesadaran tidak akan ada tindakan, pada hakikatnya sebuah bangsa adalah kumpulan kesadaran-kesadaran manusia yang ada di dalam komunitas dan mereka membentuk bangsa. Maka buatlah satu statement tentang kesadaran itu” kata Sjahrir yang saat itu masih berusia 18 tahun. Dan Sugondo langsung menyahut “Menurut anda baiknya apa yang dilakukan”… Sjahrir menatap Sugondo sambil menyeruput es limunnya “Sumpah Pemuda, coba kelen buat itu”. sahut Sjahrir dengan logat Medan-nya. Tak lama kemudian anak-anak muda berkumpul, untuk merancang sumpah pemuda. Namun Sjahrir tidak ikut sumpah pemuda di Jakarta karena saat itu ia sedang mengikuti ujian sekolahnya.

Saat pemberontakan Komunis meletus antara desember 1926-januari 1927, Sjahrir menyelundupkan koran berita-berita tentang pemberontakan dan memajangnya di majalah dinding sekolah, suatu saat ia tertangkap oleh polisi gubernemen, sejak saat itu majalah sekolah dijaga ketat oleh polisi. Setelah menamatkan pendidikannya di Bandung, Sjahrir seperti anak bangsawan elite lainnya bersekolah ke Belanda, disana ia berkenalan banyak hal-hal baru. Ia berdiskusi dengan banyak kelompok dari yang komunisme garis keras dan sedang terbakar semangat revolusi Bolsjewik sampai yang beraliran moderat, Sjahrir masuk sendiri ke dalam lingkungan yang paling radikal untuk menghantam kapitalisme ia masuk ke satu kelompok yang mengharamkan hak milik dan menggunakan semua barang secara kolektif, -kecuali sikat gigi- dari berbagai spektrum tersebut ia belajar banyak hal. Karakter Sjahrir yang paling jelas adalah ia tidak suka terjebak pada satu pemikiran dan membangun polanya lalu menjadi fanatis, ia berpikir melompat-lompat dan mencari peluang untuk terus mengasah daya kritis, ia memandang semua hal ada lucutan tentang pemaknaan, anatomi apa yang terjadi dalam ruang pemikiran. Sjahrir selalu menulis catatan-catatan pemikirannya. – Kita sendiri yang membaca catatan-catatan pribadi Sjahrir pasti akan tercengang bila membaca catatan itu ditulis antara tahun 1920-1947, bagaimana sebuah pemikiran begitu maju melampaui jamannya- Ia adalah seorang pemikir, bukan saja pemikir yang berdiri di pinggir sejarah, ia bertarung di dalam sejarah.

Suatu saat di pinggir pelabuhan Amsterdam ia berjumpa dengan Hatta, perjumpaan dengan Hatta inilah yang juga banyak mengubah jalan hidup Sjahrir. Beda dengan Sjahrir yang menikmati kehidupan, berdansa dansi. Hatta hidup layaknya seperti pendeta, ia tidak mau menikah sebelum kemerdekaan tercapai, ia tidak suka makan enak, hidupnya spartan untuk ilmu pengetahuan. Hatta adalah jenis manusia yang mampu menahan diri. Namun kelemahan satu-satunya Hatta adalah terlalu cinta dengan buku sehingga ia agak terasingkan dengan lingkungan pergaulan anak muda. Hatta membuka mata Sjahrir tentang kekerasan komunisme di Rusia, memperlihatkan aspek kemanusiaan dalam sebuah revolusi, pada dasarnya Hatta memperingatkan bahwa bahaya terbesar umat manusia bukan pada kapitalisme justru pada kekerasan melawan kapitalisme yang tidak tersistematis. Sjahrir menekuni uraian Hatta. Dari sini kemudian Sjahrir mempelajari sosialisme yang dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia berkenalan dengan gagasan Marx namun juga memperluasnya dengan perkembangan masyarakat setelah Marx. Sjahrir telah menentukan pilihannya : Sosialisme, Individualisme yang bebas yang bisa menjadikan manusia sebagai manusia dan tidak terasingkan oleh apapun. Itulah landasan terpenting dalam memahami pemikiran Sjahrir.

Sjahrir tidak menyelesaikan kuliahnya, ia terlalu asik dengan politik. Sjahrir memutuskan pulang ke Indonesia setelah melihat perkembangan politik di Indonesia pasca penangkapan Sukarno membuat gerakan redup. Oleh Hatta, Sjahrir diminta membantunya membentuk pengganti PNI Sukarno menjadi PNI Pendidikan. Hatta mengubah cara kerja politik Sukarno yang agitasi massa ke arah politik kader. Titik yang tidak pernah bertemu dengan Sukarno sepanjang waktu, sementara penentang Hatta mendirikan Partindo dibawah Mr.Sartono. Kaum Partindis (sebutan anggota2 Partindo) selalu menyerang gagasan PNI Pendidikan. Hatta dan Sjahrir akhdan dirinya dibungkam pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digoel, disana ia melihat penderitaan luar biasa tahanan-tahanan politik, karena ia masuk dalam kelas elite ia agak mendapat fasilitas beda dengan tahanan lain yang hidupnya sengsara. Dari digoel ia kemudian dipindahkan ke Banda Neira, disana ia satu lokasi dengan tahanan politik lain seperti : dokter Ciptomangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri. Dokter Cipto adalah veteran intelektual pergerakan yang sudah berusia tua dan sakit-sakitan juga agak tidak sabaran, Sjahrir agak segan bila berdebat dengan dokter cipto ia cukup menjadi pendengar saja. Dari seluruh masa hidupnya (1936-1942) masa hidup di Banda Neira ini adalah masa paling indah secara spiritual bagi Sutan Sjahrir, ia adalah pribadi penggembira, penyuka anak-anak, ia selalu bermain dengan banyak anak-anak di pantai, wajahnya pun sampai tua berwajah kekanak-kanakan, ia bukan orang yang serius seperti Hatta ia tidak suka dengan sikap terlalu serius. Ia penikmat kehidupan. Sjahrir mengambil banyak anak angkat di Banda Neira, bahkan ia datang sendiri ke keluarga seorang Arab untuk mengangkat tiga anak, kelak salah satu anaknya ini menjadi salah satu tokoh di Indonesia bernama Des Alwi, hampir tiap hari dia memberikan anak pelajaran, ia adalah seorang guru yang gembira. Ketika Jepang masuk, pemerintah Belanda mengirimkan pesawat Catalina untuk mengangkut tahanan politik. Hatta dan Sjahrir harus dibawa ke Jakarta yang rencananya setelah itu dibawa ke Australia sebagai tempat pemerintahan pengasingan Hindia Belanda. Hatta mengangkut berpeti-peti buku sementara Sjahrir membawa ketiga anak angkatnya itu. Pilot Belanda marah-marah karena kapasitas kapal tidak muat, akhirnya setelah berdebat panjang lebar, berpeti-peti buku Hatta itulah yang ditinggalkan sementara anak Hatta ikut Sjahrir. Sampai jauh lama di kemudian hari Hatta sering mengeluhkan buku2nya yang ditinggal di Banda Neira.

Di Jakarta ternyata Jepang cepat sekali masuk, Belanda tidak keburu membawa tahanan2 politik ke Australia. Hatta dan Sjahrir dibiarkan terus di Jakarta. Disini Sukarno, Hatta berdebat dengan Sjahrir tentang pilihan politik. Bung Karno lebih memilih untuk bergabung dengan pemerintahan Jepang dan mengonsolidasi kekuatan rakyat “Saya yakin Jepang tidak akan lama di Indonesia, bila saya bergabung dengan Jepang maka saya bisa memanfaatkan kekuatan Jepang untuk mengonsolidasi rakyat kekuatannya sendiri agar siap dengan kemerdekaan” kata Bung Karno, tapi Sjahrir keras kepala ia mau tetap di bawah tanah. Hatta menyetujui Bung Karno.

Sjahrir memilih rumah kakaknya di Jalan Jawa, Menteng (sekarang jalan HOS Tjokroaminoto) sebagai sarang gerakan bawah tanah. Ia juga menggunakan sebuah villa keluarga di Puncak sebagai tempat membina gerakan bawah tanah, radio dia miliki lengkap, kerjanya tiap hari hanya mendengarkan radio terus BBC dan VOA. Ia mengikuti jalannya perang dan memberikan suplai informasi ke pergerakan pemuda.

Ketika 17 Agustus 1945, Sjahrir ngambek pada Sukarno, ia baru muncul beberapa minggu setelah itu di muka rumah Sukarno karena diajak Hatta. Akhirnya setelah melihat sendiri bagaimana suasana batin rakyat pikiran Sjahrir terbuka bahwa ‘satu-satunya alasan terbesar Indonesia berdiri adalah Sukarno’ patokan inilah yang dia pegang dan dijadikan kartu penting permainan politiknya dikemudian hari. Ketika Tan Malaka melakukan manuver politik, Sjahrir berkata pada Tan Malaka : “Kalau anda memiliki sepersepuluh saja daya pengaruh Bung Karno maka saya akan memihak pada anda” ucapan ini sangat terkenal di kalangan sejarawan dan menjadi bahan analisa tentang kenapa Sjahrir tidak pernah mau memberontak pada Bung Karno sepanjang hidupnya. Sjahrir dekat dengan Van Der Post yang kemudian membangun kanal komunikasi dengan pihak sekutu, kanal-kanal inilah yang kemudian dijadikan senjata Sjahrir dalam politik diplomasi, Sjahrir melihat bahwa masa revolusi harus segera dihentikan, memperpendek perang jadi salah satu syarat utama mengembangkan sebuah bangsa agar jangan terlalu banyak royan-royan revolusi timbul di tubuh masyarakat. Sjahrir menulis dalam risalahnya yang berjudul Perdjoangan Kita. Risalah ini menjadi pegangan kelompok Sjahrir, dalam risalah ini Sjahrir banyak menyerang cara kerja Sukarno dalam mengagitasi massa. “Tiap kesatuan hanya bersikap taktis, temporer dan karena itu insidental. Persatuan yang dipaksakan hanya akan menghasilkan anak banci, persatuan semacam itu akan menjadi sakit, tersesat dan merusak pergerakan” Sjahrir menganatomi secara detil tentang ukuran-ukuran kekuatan Indonesia dengan cara yang paling rasional. Tanpa Sjahrir Sukarno akan terbakar habis oleh api yang ia nyalakan pada pidato2nya, tapi tanpa Sukarno, tindakan Sjahrir tidak akan mendapatkan dukungan rakyat. Sjahrir-Sukarno suatu sudut berlawanan tapi saling menopang.

Sukarno gantung leher ketika membela Sjahrir dalam kasus Muso. Sukarno pula yang habis-habisan memihak Sjahrir dalam politik diplomasi, bahkan itupun harus mengorbankan kelompok Tan Malaka. Ketika pasukan Belanda masuk Yogyakarta Desember 1948, kota Yogya dihujani bom oleh Belanda termasuk tempat Sjahrir tinggal. Sjahrir kelaparan karena dari pagi ia harus ikut rapat kabinet, saat orang berlarian kesana kemari, Sjahrir tetap duduk di meja makan dan lahap mengunyah nasi. Ketika diteriaki ajudannya ia hanya berkata : “Mati soal nanti, yang penting saya makan dulu” sikap ini adalah gambaran karakter Sjahrir yang total menikmati hidup.

Ketika revolusi selesai, dan Indonesia memasuki dasawarsa kedua kemerdekaan. Partai politik yang dibangun Sjahrir mengalami keterpurukan. Orang2 Sjahrir dianggap sebagai tempat elite main sirkus intelektual, tidak punya koridor langsung ke massa. Namun justru disitulah kekuatan Sjahrir, ia selalu menempatkan orang2 pentingnya ke dalam formasi kabinet, Sjahrir menerapkan politik hegemoni yang diajarkan Gramschi pada tahun 1930-an. Sampai pada pemberontakan PRRI 1958. Suatu saat Sumitro Djojohadikusumo datang ke tempat Sjahrir sambil ngedumel soal Sukarno, namun Sjahrir menjawab :”Sukarno itu Presiden saya, jadi saya tidak mungkin melawan Sukarno”. Namun karena intrik politik, pihak Angkatan Darat mendapatkan laporan bahwa Sjahrir terlibat dalam jaringan Roma yang akan menjatuhkan Bung Karno. Ia digelandang ke penjara, Bung Karno yang mendengar hal itu langsung bicara ke ajudannya agar tentara tidak melakukan tindakan keji terhadap Sjahrir : “Tahanan politik itu terhormat, bila saya kalah mereka-lah yang akan menjadi pemimpin kalian”. Di RTM Salemba Sjahrir mengalami stroke dan ketika Sukarno mendengar ia langsung memerintahkan orang untuk memberikan pengobatan ke Swiss. Sukarno memanggil sahabat dekat Sutan Sjahrir sejak muda Sugondo Djojopupito yang juga pernah menjadi anak didik Bung Karno di masa lalu : “Antarkan Sjahrir, aku sedang mengalami kesulitan sekarang, waktuku terbatas” saat itu Bung Karno sedang dibelit masalah Gestapu 1965. Sugondo mengantarkan Sjahrir sampai bandara Kemayoran, dia memeluk Sjahrir dengan air mata bercucuran. Ada perasaan di hati Sugondo bahwa umur sahabat dekatnya ini tak akan lama. Dan memang benar pada 9 April 1966 Sjahrir meninggal di Swiss, jenasahnya dibawa pulang ke Djakarta, ratusan ribu orang berjajar di jalan menyambut jenasah Sjahrir. Orang Djakarta masih banyak mengenang ramainya prosesi pemakaman ini. Sjahrir adalah mutiara bangsa ini, ia mengajari pada kita tentang intelektualitas yang menghormati kemanusiaan karena disitulah hakikat martabat manusia.

-suatu waktu Sjahrir menulis catatan hariannya dengan menciteer penyair Jerman, Friedrich Schiller : und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein, Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan. – Dan Sjahrir benar.

sumber: FB Anton

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: