Monthly Archives: Juni 2010

Wong using

Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten yang terletak di ujung timur P. Jawa. Kabupaten ini terletak diantara 7º 43’- 8º 46’ Lintang Selatan dan 113º 53’-114º 38’ Bujur Timur. Secara administratif sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Situbondo, sebelah timur Selat Bali, sebelah selatan Samudra Indonesia, dan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Jember dan Bondowoso.
Umumnya daerah bagian selatan, barat, dan utara merupakan daerah pegunungan sehingga pada daerah ini memiliki tingkat kemiringan tanah rata-rata mencapai kurang dari 40º dengan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan daerah yang lain.

Daerah Banyuwangi yang banyak dialiri sungai-sungai yang bermanfaat untuk me-ngairi hamparan sawah yang luas. Dari gambaran kondisi yang demikian menjadikan Kabupaten Banyuwangi pernah mendapat peringkat sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur sebagai daerah lumbung padi. Berdasarkan data statistik meng-indikasikan bahwa Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi pertanian yang relatif besar setelah Kabupaten Malang dan Jember, dibanding dengan kabupaten lain di Propinsi Jawa Timur.

Bila diperhatikan menurut penggunaannya, luas Kabupaten Banyuwangi sekitar 5.782,50 km2, sebagian besar masih merupakan daerah kawasan hutan. Bahkan kawasan hutan ini mencapai 193.684,73 ha, daerah persawahan sekitar 66.553 ha, perkebunan dengan luas sekitar 57.707 ha, dan dimanfaatkan sebagai daerah pemukiman dengan luas sekitar 28.971,59 ha. Sedangkan sisanya dipergunakan sebagai ladang dan jalan. Kabupaten Banyuwangi dibagi menjadi 24 kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah 1) Pesanggaran, 2) Bangorejo, 3) Purwoharjo, 4) Tegaldlimo, 5) Muncar, 6) Cluring, 7) Gambiran, 8) Glenmore, 9) Kalibaru, 10) Genteng, 11) Srono, 12) Rogojampi, 13) Kabat, 14) Singojuruh, 15) Sempu, 16) Songgon, 17) Glagah, 18) Banyuwangi, 19) Giri, 20) Kalipuro, 21) Wongsorejo, 22) Licin, 23) Cluring, dan 24) Songgon.
Komunitas Using atau lebih dikenal sebagai wong Using oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian1 dianggap sebagai penduduk asli2 Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif merupakan kecamatan-kematan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, dan Srono. Di tiga kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Using, migran berasal dari bagian barat Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta (wong Using menyebutnya Jawa-Kulon). Di luar kecamatan-kecamatan tersebut, komunitas Using bukan lagi merupakan penduduk yang dominan (teramat sedikit), bahkan di kecamatan-kecamatan Kalibaru, Glenmore, dan Wongsorejo hampir pasti tidak dijumpai orang Using.

Narasi tentang Using biasa menghubungkan komunitas ini dengan kerajaan Blambangan,3 sebuah wilayah kekuasaan politik bagian dari kerajaan Majapahit. Prasasti Gunung Butak, pada tahun 1294, menyebutkan adanya perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam perintisan dan pembentukan kerajaan Majapahit bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru yang semua itu belakangan dikenal dengan Blambangan. Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai adipati pertama (Lekkerkerker, 1923:220).

Kurang lebih 16 tahun Arya Wiraraja memerintah Blambangan kemudian digantikan oleh Arya Nambi yang memerintah pada tahun 1311-1331; sementara di Majapahit, dalam rentang waktu itu pula, telah terjadi pergantian kekuasaan dari Raden Wijaya kepada anaknya, Jayanegara. Arya Nambi menganggap bahwa Jayanegara, tidak seperti ayahnya, banyak melakukan pelanggaran, penindasan, dan menyengsarakan rakyat, dan oleh karena itu sekitar tahun 1316 ia melancarkan serangkaian pemberontakan terhadap Jayanegara, serentetan peristiwa yang kemudian diwarisi oleh penguasa-penguasa berikutnya di kedua wilayah tersebut.

Hubungan Blambangan-Majapahit semakin keruh dan rumit ketika Bhre Wirabumi, anak Hayam Wuruk dari salah satu isteri selirnya, berkuasa di Blambangan (1364-1406). Selain masalah-masalah sebelumnya yang tidak mendapatkan penyelesaian politik, penyerahan tampuk kekuasaan politik kepada Wikrawardhana oleh isterinya, putri Kusumawardhani yang mendapat mandat dari ayahnya, Hayam Wuruk dipandang sebagai kesalahan politik dan tradisi yang termaafkan oleh Bhre Wirabumi. Sebagai keturunan langsung Hayam wuruk, meski dari istri selir, Bhre Wirabumi merasa lebih berhak untuk menduduki tahta Majapahit dibanding Wikrawardhana dan, karenanya, ia berusaha menempuh dengan berbagai macam cara untuk dapat mendudukinya.

Perang Blambangan-Majapahit yang banyak mengalirkan darah dan melayangkan jiwa tersebut memuncak dalam perang saudara yang dikenal dengan Paregreg (1401-1404), sebuah perang panjang untuk memperebutkan tahta politik. Bhre Wirabhumi yang telah mendeklarasikan sebagai raja Blambangan dengan basis wilayah politik Kedaton Wetan berhadapan secara keras dengan Wikrawardhana yang berbasis wilayah politik Kedaton Kulon. Dan akhirnya, perang itu, mengakibatkan terpenggalnya Bhre Wirabhumi oleh Narapati Raden Gajah Mada sebagaimana dikisahkan dalam kitab Pararaton (Brandes, 1920:1-15; Muljana, 1983:219).

Tahta Blambangan kemudian digantikan oleh Menak Dedali Putih yang berkuasa pada 1406-1447. Pada masa Menak ini, Blambangan nyaris tidak bersuara dan hampir sepenuhnya berada dalam cengkeraman Majapahit dalam segala aspek kehidupan (sosial, politik, ekonomi, dan budaya). Bahkan ketika Majapahit runtuh pada abad ke-16 atas desakan kekuatan Islam Demak, para petingginya, termasuk raja terakhir, Prabu Brawijaya V, beringsut ke arah timur dan memanfaatkan Blambangan sebagai salah satu pertahanan penting sebelum mereka menuju Bali. Haagerdal (1995:106-107) dan Beatty (2001:17) menyebut bahwa Blambangan saat itu menjadi tempat pengungsian bangsawan dan cendekiawan Majapahit yang melarikan diri dan penguasanya berpaling ke Bali, untuk membangun aliansi. Ketika hampir seluruh wilayah tengah dan timur pulau Jawa menjadi Islam, Blambangan tetap merupakan zona Hindu yang berperan penting dalam menghadapi Islamisasi Demak maupun kerajaan-kerajaan Islam se-sudahnya seperti Mataram.

Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Di dalam kekuasaan Mataram inilah penduduk Blambangan mulai diislamisasi, suatu perkembangan kultural yang banyak pengaruhnya di kemudian hari dalam membentuk struktur sosial dan kebudayaan. Perebutan Blambangan oleh Mataram dan Bali terus berlangsung dan saling bergantian menguasai hingga berakhir ketika VOC berhasil menduduki Blambangan pada tahun 1765.

ImageJika di masa kekuasaan Bali maupun Mataram, Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati5 yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi6 dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.

Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.

Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:

“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”.
Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Using.

SEJARAH ARYA BLAMBANGAN

Catatan Rekonstruksi Sejarah Belambangan
oleh : Sumono abdul hamid

Sebuah Catan artikel yang menarik meskipun COPY & PASTE namun Artikel ini adalah artikel yang menurut saya layak untuk dijadikan baca’an setiap Orang yang mengaku ASELI OSING….

LELUHUR SAYA ,ORANG BLAMBANGAN

Sejak kecil saya telah diberitahu oleh mbak saya, ayah saya, dan Kakek Lilir seorang sepuh dari Paiton, orang “pintar” , yang menyembuhkan ketika saya sakit, bahwa leluhur orang Banyuwangi adalah orang seperti Kakek Lilir, Kakeek Latief, dan orang yang berperawakan seperti beliau,yaitu orang yang berperawakan tinggi besar , kukuh , sawo matang, berhidung mancung dan perempuannya seperti mbah wadon (nenek) ,langsing, berhidung mbangir ( mancung kecil) . Dan saya bertemu banyak orang seperti itu pada saat kecil . Laki 2nya berikat kepala yang mengarah kebawah dan perempuannya tidak lepas memakan sirih. Tidak hanya itu, ayah saya ,telah mengenalkan petilasan leluhur Banyuwangi, patung watu kebo , di halaman S.D Watu Kebo lama, Watu loso di Alasmalang, Watu Kenong ( Batu berbentuk gamelan kenong) di Paiton, Sitinggil di Muncar dan banyak tempat , yang kebanyakan berbentuk batu halus ( Dolmen?).
Oleh karena itu saya selalu menaruh minat yang besar untuk membaca dan mencatat sesuatu yang berkaitan dengan Banyuwangi.
Tetapi ketika dipentaskan Kadung dadi Gandrung, Wis, sebuah kesenian Banyuwangi (Using) di Taman Ismail Marzuki oleh bapak Dedy Luthan tahun 1970 ,saya jadi bertanya tanya, tentang leluhur orang Banyuwangi itu, karena perawakan orang Using yang diajak dalam rombongan itu sungguh berbeda dengan gambaran maupun yang saya temui pada saat kecil saya, karena perawakan mereka lebih cenderung ke Mongolid, sedang perawakan yang pernah saya temui lebih cenderung ke Arya.
Oleh karena itu saya mulai menghimpun data tentang Banyuwang, baik mengenai adat, sejarah maupun pernak perniknya.
Menyadari bahwa saya bukan ahli sejarah , saya hanya mencatat , menyimpan catatan tersebut.
Tetapi ketika saya menjadi facebooker, melihat adik2 yang begitu antusias membicarakan Banyuwangi , adat istiadat, kesenian……saya beranggapan , saya perlu mereconstruksi ingatan dan catatan saya tentang leluhur Banyuwangi.
Apalagi ada kepedihan dalam hati saya , ketika menemukan tulisan Sir Stanford Rafless dalam Hystory of Java yang menulis sbb:

From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.

Dan pada kenyataannya , perawakan orang Banyuwangi seperti yang saya temui waktu kecil , semakin menghilang dari tanah Banyuwangi.

Perang Paregreg dan Negara Kertagama membuka fakta.

Saya akan menyingkap sejarah leluhur saya (Banyuwangi) dari tulisan Prof DR Slamaet MULYANA.
Dengan jelas dan terang bpk Slamet Mulyana, sejarahwan itu , menulis tentang Perang Paregreg. Bahwa perang itu terjadi setelah Prabu Hayamwuruk wafat. Perkawinannya dengan permaisuri Dewi Sori , hanya melahirkan putri sedang dengan selir melahirkan seorang putra. yang kemudian bernama Bhre Wirabumi dan diangkat sebagai raja Majapahit Timur*)(Blambangan dan Bali?),sedang Majapahit Pusat tetap ditangan Prabu Hayamwuruk. Ketika Prabu Hayamwuruk wafat, pewarisan tahta tidak tertata dengan baik dan jatuh ke putrinya Dyah Kusumawardhani yang tidak memiliki kecakapan memerintah , maka suaminya Wikramawhardana secara perlahan dan pasti mengambil alih kekuasaan, dan kekuasaan inipun nanti diwariskan kepada putrinya Dewi Suhita. Sejak diambil alih oleh Wikramawardana, sebenarnya telah timbul masalah, apakah menantu lebih berhak dari putra dari selir, apalagi ketika mahkota diserahkan kepada putrinya Dewi Suhita padahal dasar pewarisan adalah Patrilineal…..Disamping itu Negara Kertagama mengungkap fakta lain, sejak Wikramawardana menjadi raja, kedudukan para pendeta Hindu Siwa mulai tersingkir. Seperti diketahui Wikramawardana adalah seorang penganut Budha, dan diakhir pemerintahannya malah menjadi Bhiksu. Sedangkan prabu Hayamwuruk adalah seorang Hindu Siwa dan telah dinobatkan sebagai Sang Hyang Giri Nata Bathara Siwa( perwujudan dewa Siwa di bumi) sedang Bhree Wirabumi adalah seorang Hindu Siwa yang teguh.
Perselisihan tersebut akhirnya memuncak menjadi Perang Paregreg( Perang yg terjadi berkali kali), Bhree Wirabumi tak terkalahkan, sampai akhirnya pada masa pemerintahan dewi Suhita , ratu majapahit itu mengerahkan seluruh kekuatan yang dipimpin Bhre Narapati.
Bhre Narapati tidak hanya mengalahkan Bhree Wirabumi tetapi juga memancung kepala Bhre Wirabumi.
Dengan beralihnya kekuasaan ke Dewi Suhita, dan kematian Bhre Wirabumi, sejarahwan Slamet Mulyana mencatat sebagai akhir dari wangsa Sanggramamawijaya, dan berakhir kerajaan Hindu di Jawa(Majapahit Timur atau Blambangan).
Pemancungan kepala Bhre Wirabumi oleh Narapati dianggap kesalahan besar. Dia tidak sepantasnya melakukan seperti itu, terhadap putra Sang Hyang Giri Nata Bathara Siwa atau Prabu Hayamwuruk, keturunan darah biru wangsa Sanggramawijaya, penganut dan pelindung brahmana Hindu Siwa. Maka tiga tahun kemudian Narapatipun dipancung dan jenazah Bhre Wirabhumi diagungkan kembali karena makamnya dicandikan yaitu Candi Lung.
Setelah pemancungan Bhre Wirabumi perebutan tahta dan dendam kesumat merontokkan Majapahit

Siapakah wangsa Sanggramawijaya.

Wangsa Sanggramawijaya menurut para sejarahwan adalah raja 2 yang keturunan Ken Dedes dan Ken Arok. Seperti diketahui Ken Arok merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung , seorang akuwu ( bupati) Tumapel.
Perebutan ini sepenuhnya mendapat restu dari Brahmana Hindu Siwa karena perkawinan antara Ken Dedes dan Tunggul Ametung, dianggap para brahmana Hindu Siwa, sebagai perkawinan yang tidak setara, dan merupakan pemaksaan dari Tunggul Ametung. Tunggul Ametung tidak memiliki kepantasan sedikitpun kawin dengan Ken Dedes karena kedudukan dan kastanya lebih rendah. Maka para Brahmana Hindu Siwa , memerintahkan Ken Arok, ksatrya Brahmana merebut kembali Ken Dedes dari Tunggul Ametung.
Pramudya Ananta Toer mendeskripsikan , tentang kelompok Hindu Siwa ini, sebagai ras Arya yang sangat exclusive dan menjaga keturunan dengan ketat dan teguh terhadap agamanya.

Kapan kelompok ini datang ke Jawa

Sejarahwan mencatat mereka (Arya) telah berada di Jawadwipa ( Pulau Jawa) ,sejak wangsa Sanjaya diabad ke tujuh. Malahan ada yang berpendapat wangsa Sanjaya , sebenarnya berasal dari Jambudwipa ( India).Mereka adalah pembangun atau setidaknya terlibat secara langsung dengan pendirian candi Prambanan(Hindu Siwa) dan candi Borobudur.( Budha) .
Ada sejarahwan yang berpendapat semula candi Borobudurpun dipersiapkan sebagai candi Hindu Siwa, seperti terlihat bentuk pada bangunan dasar dan konsep kontruksinya, tetapi karena wangsa Sanjaya (Hindu Siwa) kalah dengan wangsa Syailendra (Budha Mahayana) , maka candi Borobudur diteruskan sebagai candi Budha.
Maka kelompok ini dengan jelas keberadaaannya terlacak mulai dari wangsa Sanjaya,Syaelendra, Singhasari, Majapahit , Blambangan dan Bali

Bagaimana nasib kelompok Arya (Hindu Siwa ) di Blambangan ,setelah perang Paregreg

Setelah perang Paregreg , dengan sendirinya tamatlah kerajaan Hindu Siwa di Jawa. Dan seperti dicatat oleh Negara Kertagama , karena perlakuan yang tidak pantas raja 2 sesudah Hayamwuruk, terhadap Brahmana dan penganut Hindu Siwa maka mereka sebagian exodus ke Bali.
Meskipun begitu kerajaan Blambangan masih mampu menghadang expansi kerajaan Demak Islam, dan mengalahkan pasukan Demak di Penarukan, karena dalam pertempuran itu Sultan Tranggono gugur . Oleh karena itu peranan Blambangan dalam menjaga existensi Bali sangat besar .
Maka pantas kiranya pendiri kerajaan Mengwi( dari Bali Selatan),I Gusti Agung Anak Agung mengangkat dirinya dengan gelar kebesaran Tjokorde Sakti Blambangan . Beliau tidak saja mencantumkan Blambangan sebagai namanya tetapi juga membangun Pura Paibon ( yaitu Pura yang diperuntukan untuk ibu suri) yang dikenal sekarang sebagai Taman Ayun.
Para sejarahwan menganggap taman ini lebih bernuansa Jawa Kuno ( Hindu Siwa Jawa) daripada Hindu Siwa Bali , Pura ditempat itu tidak menghadap ke Gunung Agung dan lebih dari itu ditaman ini terdapat 64 tugu leluhur ( batu dengan permukaan halus atau Dolmen yang mirip dengan watu loso,yang ada di daerah Rogojampi ke barat).
Dengan itu saya agak ragu mengatakan bahwa kerajaan Mengwi menguasai Blambangan tetapi .mungkin ada istilah yang lebih tepat.atau barangkali sebenarnya Mengwi adalah peralihan kerajaan Majapahit Timur /Blambangan ke Bali. Ini terbukti dengan keterlibatan Mengwi mengusir penjajah Belanda dari Bumi Blambangan sangat jelas dan intens.
Wong Agung Wilis yang menjadi adipati dan panglima perang di Blambangan dididik dan dibesarkan di kerajaan Mengwi. dan mendapat dukungan penuh dari kerajaan Mengwi ,sehingga mampu mengerahkan 4000 pasukan yang terdiri pasukan Blambangan, Bali , China,dan Bugis dalam satu perang frontal yang amat dahsyat yang kemudian kita kenal Perang Puputan Bayu.
Berakhirnya perang Puputan Bayu,berakibat fatal pada kelompkok Arya di Blambangan juga bagi kerajaan Mengwi di Bali.
Setelah perang Puputan Bayu pemusnahan orang Arya di Blambangan ( Banyuwangi)) dilakukan secara sistematis , Sir Stanfford Raffles dalam buku terkenalnya : History Of Java “ menulis
From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.
Sebuah survey demographie setelah perang Puputan Bayu menjadi bukti tulisan Sir Stanford Raffles tsb Blambangan hanya memiliki 120 sampai 130 kampung asli,dan tiap kampong hanya dihuni paling banyak 35 keluarga, malahan ada kampong yang tidak berpenghuni ( antara lain Tabanan).
Desolating system yang dilakukan Belanda sendiri, maupun Penguasa Local (boneka Belanda) terhadap kelompok Arya Blambangan pada saat itu sungguh mengerikan,mulai dari kerja rodi, membentuk persepsi yang jelek melalui cerita Menakjinggo Damarwulan ( Serat Kanda, serat Blambangan, Serat Damarmulan) sampai perlakuan yang sadis terhadap para ksatrya Arya Blambangan( ada novel yang menceritakan masalah ini).Akibat tindakan ini selain jumlah populasi yang menyusut drastis juga berakibat populasi perempuan kelompok Arya Blambangan lebih banyak dari kelompok laki laki.
Pemerintahan Sir Stanford Raflles 1811 sd1816,( ada bukti lain sebenarnya Inggris tetap menguasai Bengkulu dan Banyuwangi sampai Raffles menguasai Singapore yaitu 1819) memberi sedikit bernafas lega kelompok ini. Pembangunan mulai digerakkan , para pendatang dari segala suku dan bangsa berdatangan ke Banyuwangi. Maka terjadilah perkawinan campuran gadis Arya Blambangan yang cantik dengan para pendatang, demikian pula para prianya.
Tidak heran jumlah mereka yang asli semakin mengecil, dan penulis hanya menjumpai mereka yang sudah tua pada tahun 1950an. Mungkin zaman revolusi dan kemerdekaan telah mematahkan exclusive mereka , dan mereka sekarang malah menjadi pluralis kawin dengan suku Nusantara maupun dengan suku bangsa lainnya.

Kesimpulan
Itulah leluhur kita orang Banyuwangi, ras Arya yang telah menempuh perjalanan panjang dibumi Jawadwipa Sebagian telah pindah ke Bali, sebagian terbunuh dalam Perang Puputan Bayu, dan lebih banyak lagi yang mati karena desolating system Belanda Sebagian masih tinggal di Banyuwangi ,dalam jumlah kecil danterpencar dalam diam dan sunyi dan kemudian kawin dengan para pendatang. Saya pernah menggapai tangannya dan berada dalam pangkuannya…Kakek Lilir , kakekek Latief , dan orang yang berudeng batik yang menjurai kebawah, tubuh kekar , kulit sawo matang, mata tajam , hidung agak mancung dan perempuan yang langsing , hidung bangir, warna kulit lebih cerah, dengan peninggalan watu loso, watu kebo, watu kenong …..Meninggalkan exclusivenya, menjadi Pluralis , tetapi tidak pernah kehilangan Dignity( bahasanya tetap digunakan siapapun yang tinggal di Banyuwangie walau populasinya kecil), begitu juga Kreativitasnya dalam kebudayaan dan kesenian tidak pernah punah seperti ketika dia hadir dulu di bumi Jawadwipa, dalam pendirian candi2 , karya satra Ramayana, Bharatayuda, Arjuna Wiwaha,NegaraKertagama, Sri Tanjung yang terpahat di candi
Mudah2an kita mampu memeliharan Nilai2 tersebut.
Kemudian siapakah orang Using yang berwajah Mongolid dengan kesenian gandrungnya?

Sejarah perang/puputan bayu

Pangeran jagapati dalan perang bayu

oleh : Hasan Basri, lahir di Banyuwangi, pendidikan; MI, MTs, MA sambil mondok di Pesantren ASHTRA Jember yang diasuh oleh KH. Achmad Shidiq, kemudian melanjutkan kuliah di IAIN Malang. Meminati persoalan budaya utamanya budaya Using Banyuwangi, sejarah. Aktifitas; Guru, Sekretaris DKB (Dewan Kesenian Blambangan), mengelola majalah Seblang (berbahasa Using), anggota Tankinaya Institute dan Desantara.

Bayu merupakan bagian dari wilayah Blambangan yang sekarang masuk dalam daerah administratif Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi. Sebuah kawasan hutan sekitar 20 km arah barat daya kota Banyuwangi. Peperangan tersebut dikobarkan dan dipimpin oleh seorang tokoh yang bernama Mas Rempek yang gugur di medan tempur.

Peranan tokoh Mas Rempek dalam perang ini sangat penting. Bersama para pengikutnya dan pendukungnya ia mampu memobilisir dan menumbuhkan jiwa patriotik dan nasionalisme seluruh lapisan rakyat Blambangan.

Selain itu, faktor sosial politik dan ekonomi sebagai akibat tindakan yang ditempuh VOC merupakan faktor penyebab pecahnya peperangan ini. Sebagaimana dikemukakan Neil J. Smelser yang mengemukakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku kolektif ialah adanya ketegangan sosial yang disebabkan karena adanya transformasi politik, sosial ekonomi dan kultural. Situasi tegang itu akhirnya dibuat bermakna oleh “aktor” atau tokoh gerakan.[1]
A. Latar Belakang Terjadinya Perang Bayu

Pada tahun 1743 secara sepihak terjadi perjanjian antara Paku Buwana dengan Gubernur Jendral Van Imhoff di Surakarta yang isinya Paku Buwana melepaskan “haknya” di Jawa sebelah timur dari Pasuruan, yang sebenarnya Belanda sendiri menyadari bahwa yang merasa melepaskan haknya itu sebenarnya tak pernah berkuasa secara sungguh-sungguh atas daerah tersebut dan penguasa daerah itu menolak untuk tunduk patuh.[2] Berdasarkan perjanjian ini berarti Blambangan telah menjadi wilayah kekuasaan Belanda. Sementara di Blambangan, Mengwi telah mengambil alih kekuasaan dengan menempatkan Gusti Kuta Beda dan Gusti Ketut Kabakaba sebagai penguasa.

Orang Inggris yang sejak lama melakukan perdagangan di Ulupampang mengadakan kerja sama dengan Mengwi dengan konsesi memberikan ijin kepada pihak Inggris untuk mendirikan kantor dagang. Ulupampang menjadi daerah perdagangan yang sibuk. Agresifitas perdagangan Inggris di Blambangan akhirnya mencemaskan VOC, ditambah keamanan yang kacau di jalur tepi laut Jawa yang menjadi jalan utama perdagangan VOC, mendorong Johanes Vos, gubernur VOC di Semarang mengeluarkan perintah tanggal 12 Agustus 1766 agar mengadakan patroli di Selat Bali dan sekitarnya. Pemerintah Belanda di Batavia memutuskan untuk menangkapi kapal-kapal Inggris dan elemen-elemen lain yang tidak disukai serta mengambil tindakan-tindakan pengamanan terhadap batas-batas wilayah yang dianggap miliknya.[3]
Keadaan di Blambangan yang genting tak terkendalikan menjadikan VOC mengirimkan ekspedisi militer besar-besaran di bawah pimpinan Erdwijn Blanke terdiri atas 335 serdadu Eropa, 3000 laskar Madura dan Pasuruhan, 25 kapal besar dan sejumlah yang kecil lainnya. Tanggal 20 Pebruari 1767, ekspedisi Belanda berkumpul di pelabuhan Kuanyar Madura. Pada tanggal 27 Pebruari 1767 Panarukan diduduki dan didirikan benteng. Pada tanggal 11 Maret pasukan inti di bawah komandan dari Semarang Erdwijn Blanke bergerak melalui darat sepanjang pantai. Tanggal 23 Maret 1767 ekspedisi Belanda tiba di Banyualit. Pertempuran meletus. Ratusan laskar Blambangan pimpinan Gusti Kuta Beda terbunuh. VOC menguasai benteng di Banyualit. Selat Bali mulai dari Meneng sampai Grajagan diblokir.[4]

Mas Anom dan Mas Weka memperoleh kesempatan memberontak terhadap penguasa Bali Gusti Ketut Kabakaba dan Gusti Kuta Beda. Mas Anom memberontak karena pemimpin Bali tersebut menjalankan kekuasaan di Blambangan secara tidak simpatik dan menimbulkan rasa benci rakyat. Orang-orang Bali dibantu orang-orang Bugis dan Mandar melakukan penyerangan terhadap orang-orang Blambangan di bawah pimpinan Mas Anom dan Mas Weka di Logenta yang berakhir dengan kemenangan Mas Anom. Kuta Beda ditawan dan dibunuh. Ketut Kabakaba melarikan diri ke Ulupampang. Ia beserta keluarga dan pengikutnya yang terdesak, melakukan puputan dan akhirnya Kutha Bedhah beserta semua pengikutnya terbunuh. Mas Anom dan Mas Weka diangkat menjadi regen (bupati) pertama di Blambangan. Namun tidak berapa lama ia membelot dan mendukung perjuangan Wong Agung Wilis. Wong Agung Wilis terlibat peperangan di Ulupampang, benteng VOC di Banyualit, namun akhirnya ia kalah di Kuta Lateng pada tanggal 18 Mei 1768.[5]

Setelah Blambangan dikuasai, VOC mengangkat Suta Nagara dengan patih Sura Teruna dan Wangsengsari dengan patih Jaksanegara sebagai regen. Untuk memutuskan hubungan dengan Bali, bupati “dwitunggal” itu diajak memeluk agama Islam. Taktik VOC soal agama ini tidak berpengaruh apa-apa terhadap orang Blambangan. Mereka tidak menaruh perhatian agama apa yang dipeluk pemimpin. Yang mereka inginkan hanya hidup merdeka tanpa dirampas oleh orang-orang asing. Mereka memang anti Jawa, ingatan tentang pengrusakan atas negeri mereka, atas kekejaman yang diperlakukan atas mereka dan atas pengiriman-pengiriman orang-orang Blamba-ngan oleh raja-raja Jawa, masih dalam ingatan mereka yang membeku menjadi rasa benci.[6] Sikap ini di kemudian hari terbukti saat orang-orang Blambangan menolak keras pengangkatan Kertawijaya, patih Surabaya menjadi bupati Blambangan.
Mayor Colmond menggantikan Coop a Groen, sebagai komandan tertinggi pasukan VOC Belanda di Blambangan. Ia adalah sosok penjajah yang berwatak keras. Tindakan-tindakannya yang keras terhadap penduduk menyebabkan kesengsaraan di mana-mana. Rakyat hidup tertekan baik secara sosial maupun ekonomi. Untuk keperluan Belanda ia berpatroli ke pelosok-pelosok kampung untuk menyita semua beras simpanan dan hasil panen, serta bahan makanan lainnya dan mengangkutnya. Dan apabila tidak dapat diangkut, dia menyuruh membakarnya. Kemudian dia menyuruh rakyat menanam padi kembali dengan perintah yang sangat memaksa. Setelah panen, jerih payah penduduk itupun disita lagi.[7] Selain itu Colmond menekan penduduk untuk kerja paksa membangun dan memperkuat benteng VOC di Ulupampang dan Kota Lateng. Memerintahkan mereka membuat jalan-jalan, membersihkan pepohonan yang ada di antara laut dan benteng di Ulupampang. Membuat penangkis air dalam membangun pos pengintaian di Gunung Ikan (yaitu jazirah yang menutupi Teluk Pangpang). Tetapi ia tidak menyediakan makanan bagi rakyat yang bekerja dengan kelaparan dan kekurangan dan kesengsaraan penyakit. Kelaparan, serba kekurangan, penyakit, jumlah kematian yang tinggi, pelarian ke hutan adalah akibat dari tindakan-tindakan tersebut.[8] Keadaan inilah yang menyebabkan bupati Suta Nagara dan Wangsengsari serta Patih Sura Teruna mengajak Gusti Agung Menguwi untuk menyerang Kompeni. Sebelum penyerangan terjadi, ketiga orang tersebut dibuang ke Ceylon (Srilangka).[9]

Keadaan tambah parah ketika penetrasi VOC semakin berat, misalnya setiap bekel (lurah) harus menyerahkan dua ekor kerbau. Selain itu VOC menuntut 3,5 gulden kepada setiap kepala keluarga, dan harus diserahkan setiap tahun. Sesuatu yang sangat berat di tengah sedikitnya waktu untuk pergi ke sawah dan ladang karena kewajiban kerja paksa tanpa upah dan makan.[10]

Tindakan Belanda tersebut menyebabkan munculnya kebencian di mana-mana. Rakyat dalam keadaan sengsara dan kekurangan. Belanda melakukan segala hal untuk tindakan penjajahannya baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Termasuk tindakan yang diambil kepada Suta Negara dan Wangsengsari dan Sura Teruna.

Kedudukan Belanda yang kuat, kemudian membentuk pemerintahan baru di Blambangan dengan bupati Jaksanegara bekas patihnya Wangsengsari, satu-satunya orang yang masih setia kepada Kompeni. Tetapi pengangkatan Jaksanegara ini tidak disukai oleh Gubernur Vos yang menginginkan bupati di Blambangan harus orang yang cakap dan berpengalaman. Blambangan yang merupakan daerah konflik, memerlukan bupati yang mampu mengendalikan rakyat. Maka ditunjuklah Kertawijaya dari Surabaya sebagai bupati di Blambangan.. Namun tidak lama kemudian pergolakan muncul, karena rakyat Blambangan bersikap keras untuk tidak menerima seorang Jawa sebagai bupatinya. Setelah kejadian itu Jaksanegara tetap menjadi bupati tunggal di Blambangan. Ternyata pengangkatan Jaksanegara inipun tidak memuaskan rakyat. Rakyat tidak menyukai pemimpin yang takluk kepada Kompeni. Rakyat menuntut agar Suta Nagara yang dibuang dipulangkan kembali.[11]
Penetrasi VOC yang sedemikian keras mengakibatkan rakyat memilih untuk menyingkir ke hutan. Tempat yang paling banyak menampung pengungsian itu adalah dusun Bayu. Sebuah tempat yang subur di lereng Gunung Raung sebelah barat Songgon dan Derwana. Di Bayu berkumpul para penentang Belanda di bawah pimpinan Mas Rempek yang didukung oleh para guru atau ajar yaitu Bapa Rapa, Bapa Endha dan Bapa Larat. Rakyat yang miskin yang tak punya harapan-harapan lagi, bersatu dalam tekad yang besar melawan Belanda.

B. Pangeran Jagapati Sebagai Sosok Pemimpin Anti Belanda

Karena berbagai peristiwa dan keadaan yang dialami masyarakat itulah Mas Rempek, memutuskan untuk menyingkir ke Bayu. Di Bayu ia memperdalam agama kepada Bapa Rapa. Kemudian ia menyusun kekuatan untuk menyerang dan mengusir VOC Belanda dari Blambangan.[12]
Mas Rempek adalah sosok anti Belanda yang keras. Ia adalah putra Mas Bagus Dalem Wiraguna atau Mas Bagus Puri dari isteri selirnya orang Pakis. Mas Bagus Puri adalah putra Mas Dalem Wiraguna anak Susuhunan Tawang Alun dari jalur selir. Mas Bagus Puri mempunyai putra-putri: Mas Suratman, Mas Alit, Mas Talib, Mas Ayu Nawangsari, Mas Ayu Rahinten, Mas Ayu Patih, dan dari isteri selir: Mas Rempek.[13] Jadi Mas Rempek adalah keturunan Tawang Alun murni dari jalur selir. Karena ia anak dari jalur selir, maka kehidupannya tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Mas Rempek tidak hidup di lingkungan kadipaten. Ia hidup di kalangan masyarakat biasa di luar kadipaten di Pakis selatan Banyuwangi.

Maka ketika Mas Bagus Dalem Wiraguna dan anak-anaknya bersama Danuningrat dibawa ke Mengwi (dan akhirnya hampir semuanya terbunuh) Mas Rempek tidak ikut dibawa ke Bali. Karena ia dianggap tidak penting sebagai anak Mas Bagus Dalem Wiraguna.

Agaknya, karena ia sebagai anak dari selir, menyebabkan kehidupannya berbeda dengan saudara-saudaranya. Tercatat dalam sejarah, tokoh-tokoh dari keturunan selir cenderung memiliki sikap memberontak. Ini bisa dimengerti, karena dalam dirinya ada semacam keinginan untuk menunjukkan keberadaannya untuk dihargai dan diakui. Bisa dimengerti pula misalnya, apabila sikap pemberontakannya itu juga ditujukan kepada saudara-saudaranya.

Di sisi lain sebagai anak seorang selir, ia memiliki kehidupan yang lebih bebas, yang memberinya kesempatan untuk menempa dirinya lebih keras tanpa proteksi dan pemanjaan kebangsawanan. Ia memiliki kesempatan yang luas bergaul dengan masyarakatnya, mengetahui penderitaan dan persoalan masyarakatnya dengan dasar pandang kesadaran jalur keturunan ningratnya.

Sebagai seorang biasa Mas Rempek bekerja sebagai abdi di rumah seseorang yang bernama Bapa Samila, orang yang mempunyai hubungan dekat dengan Jaksanegara, bupati tunjukan Belanda.[14] Karena ia bekerja sebagai abdi yang kesehariannya penuh kerja kasar dan keras, maka bisa digambarkan bahwa Mas Rempek memiliki tubuh yang kuat.

Karena ia orang biasa yang hidup bersama masyarakat, maka jiwanyapun tertempa oleh keadaan di sekitarnya, masyarakat Blambangan yang sengsara. Mas Rempek mengetahui hal-hal yang terjadi di masyarakat, patroli-patroli VOC ke pelosok Blambangan, penyitaan beras dan bahan makanan lainnya, pembakaran-pembakaran bahan makanan yang tidak dapat diangkut. Kesengsaraan rakyat yang disuruh dengan paksa menanami sawah-sawah, namun setelah panen, semuanya disita lagi. Selain itu dia juga melihat rakyat kerja paksa tanpa makanan. Penduduk banyak yang meninggal dan lari ke hutan. Melihat semuanya itu maka, jiwanya menjadi sensitif terhadap semua bentuk kesengsaraan, penindasan dan kesewenang-wenangan.
Sejak remaja Mas Rempek telah tertempa dalam peperangan dan perlawanan terhadap VOC. Ia adalah pengikut dan kader binaan Wong Agung Wilis. Kedekatannya dengan Wong Agung Wilis menjadikan ia sangat anti Belanda. Wataknya sangat keras dan kukuh pada pendiriannya. Saat Suta Nagara dan Wangsengsari bersedia diangkat menjadi bupati, ia memprotes sikap kooperatif tersebut. Karena ia pemberani, sikap protesnya itu ia wujudkan dalam bentuk perlawanan secara terbuka. Ia membunuh seorang mantri pemimpin kota dan lima orang tamtama karena dianggap anteknya Belanda. Suta Nagara, bupati baru, dalam suatu peristiwa ia lukai karena didorong oleh sikap anti Belanda yang keras. Ia juga terlibat dalam suatu gerombolan yang melabrak Letnan Biesheuvel dan para pengawalnya, yang menyebabkan meninggalnya beberapa anggota gerombolan, namun beberapa tamtama pasukan Biesheuvel malah bergabung dengan Mas Rempek.[15]

Mas Rempek ikut berperang bersama Wong Agung Wilis melawan VOC pada tahun 1768. Ia adalah mantri muka Wong Agung Wilis. Maka ia menjadi orang pertama dalam peperangan-peperangan jaman Wong Agung Wilis, baik waktu penyerangan benteng Banyualit, pertempuran di Ulupampang maupun perlawanan mempertahankan Lateng. Setelah Wong Agung Wilis tertangkap, perjuangan melawan VOC terus ia lanjutkan. Pengangkatan Jaksanegara dianggap hanya menjadi alat VOC dan karenanya Mas Rempek tidak membedakannya dengan VOC. Kekecewaannya terhadap penangkapan dan pembuangan Wong Agung Wilis, pengalaman terdesak dan kalah dalam perang serta kejengkelannya terhadap VOC yang sedemikian kuat, mendorongnya pergi ke Bayu. Kepergiannya ke Bayu diperkirakan setelah tanggal 18 Mei 1768, sebab pada waktu Wong Agung Wilis tertangkap para jagabela dan orang-orang dekat Wong Agung Wilis menyingkir ke Bayu. Mas Rempek datang ke Bayu bersama seorang lurah dari Kuta Lateng.[16]

Demikianlah, setelah menetap di Bayu dan didukung oleh para ajar, sosok Mas Rempek menjadi kepercayaan rakyat. Dengan didukung oleh Bapa Rapa, Mas Rempek mengatakan bahwa dalam dirinya bersemayam roh Wong Agung Wilis.[17] Kemasukan roh di sini dapat dimaknai bahwa terdapat kesamaan ide dan perjuangan antara kedua tokoh itu. Dengan cara ini Mas Rempek berusaha menarik rakyat Blambangan ke pihaknya. Pada waktu itu Mas Rempek berjanji akan membebaskan wadwa alit dari semua penyerahan wajib yang dilakukan VOC. Selain itu Mas Rempek berjanji melanjutkan perjuangan Wong Agung Wilis. Maka itulah untuk mendapat legitimasi Mas Rempek menyatakan dirinya kemasukan roh Pangeran Wilis sehingga bentuk pakaian dan tindakannya menyerupai Wong Agung Wilis.[18]

Ketika menyadari bahwa kekuatan senjata yang dimiliki masih terbatas, hanya mempunyai senjata yang sedikit, yakni tombak, lembing, keris serta pedang, sedangkan senapan dan meriam yang dibanggakan waktu itu telah jatuh ke tangan VOC waktu perang Ulupampang, Banyalit dan Lateng, sedang orang Cina dan Bugis yang dulunya bersedia memberikan senjata juga sudah ditangkap pada waktu Ulupampang jatuh, maka dengan cerdik untuk menambah moral dan kepercayaan rakyat, Mas Rempeg berkata kepada pengikutnya bahwa Gusti Allah akan menganugerahkan meriam kepadanya.[19] Jelas sandaran dalam bentuk kepercayaan agama sangat penting dan dimanfaatkan dengan efektif oleh Mas Rempek pada saat-saat genting dalam peperangan.

Maka banyak penduduk Ulupampang dan dari daerah-daerah lain di seluruh Blambangan berbondong-bondong sambil membawa senjata bergabung dengan Mas Rempek di Bayu. Dukungan tidak hanya datang dari rakyat kecil wadwa alit, namun juga datang dari para bekel agung yaitu pembantu regen yang berkedudukan di Kuta Lateng seperti Wiramanggala dan Jagakrasa, serta Lembu Giri dari Tomogoro selain menyatakan bergabung dengan Mas Rempek juga memberikan sejumlah senjata. Datang juga rombongan orang-orang Lateng di bawah pimpinan lurah Manowadi dan Bapa Cele dari Grajagan di pesisir selatan.[20]

Dukungan untuk Mas Rempek juga datang dari para bekel dari 62 desa; 25 desa di bagian barat, 14 desa di wilayah selatan, 9 desa di wilayah timur dan 2 desa di sebelah utara. Kemudian masih datang lagi 12 bekel dari desa lainnya.[21]

Dengan dukungan tersebut Bayu berkembang menjadi suatu kekuatan yang berbahaya. Bayu dibuatnya semacam satu negara, tidak kurang 2000 orang berada di belakang Mas Rempek. Dibangun benteng yang sangat kuat, di depan terdapat pagar yang terbuat dari batang-batang pohon besar yang bagian atasnya dibuat runcing dan batang-batang pohonnya berjajar sangat rapat satu sama lain yang disebut palisada. Di belakang pagar terdapat lubang-lubang perlindungan di dalam tanah. Di dalam benteng, cadangan pangan sangat melimpah serta dilengkapi dengan gamelan beserta pemainnya sebagai lambang kekuasaan dan kekuatan. Perlengkapan perang sudah lengkap untuk memulai peperangan. Atas pengaruhnya yang kuat ia oleh pengikutnya dianugrahi gelar Pangeran Jagapati.[22]

Bayu terletak di barat-laut dari kota Ulupampang di lereng timur Gunung Raung, dekat desa Songgon, kira-kira masih 2 jam (jalan kaki) di atas dusun Derwana. Bekas bangunan tembok yang diketemukan dekat Songgon itu rupanya masih merupakan sisa dari Bayunya Mas Rempek tersebut.[23]

Pengikut Pangeran Jagapati dengan demikian berasal dari seluruh wilayah Blambangan baik di ibukota (nagari) Lateng maupun di luar ibukota (jawikuta). Dukungan yang sangat besar dari luar terutama dari Blambangan sendiri membuat kedudukan Pangeran Jagapati sangat kuat, sehingga mampu menguasai sember daya yang lain. Pangeran Jagapati dapat menguasai daerah penghasil beras di seluruh Blambangan. Lurah Manowadi berhasil menimbun beras yang dihasilkan dari seluruh Blambangan di Tomogoro di sebelah selatan Bayu. Para pedagang yang telah memindahkan pusat kegiatannya ke pantai selatan di Nusa Barung mengirimkan telur, garam dan ikan kering yang diangkut memakai kuda ke Bayu.[24] Dengan demikian penguasaan atas daerah penghasil padi di seluruh Blambangan membuat kedudukan ekonomis Pangeran Jagapati sangat kuat. Dengan dukungan ekonomi yang kuat maka dengan mudah akan membangun kekuatan militer dan cadangan logistik perang. Maka berkobarnya peperangan tinggal menunggu waktu saja.

C. Jalannya Peperangan

Pada tanggal 2 Agustus 1771, Kertawijaya dan Jaksanegara berangkat bersama serombongan pasukan dari Ulupampang menuju Bayu. Kepergian mereka bermaksud memisahkan penduduk Blambangan dari pengaruh Mas Rempek. Setibanya di Bayu orang-orang Blambangan pengikut kedua pemimpin itu justeru membelot dan memihak kepada Pangeran Jagapati. Kedua pemimpin ditinggal pengikutnya dan hanya ditemani beberapa orang yang berasal dari Surabaya, yaitu Mindoko, Bawalaksana dan Semedirono. Kemudian para pembelot mengamuk terhadap para Tumenggung dan pengikutnya yang tinggal beberapa itu. Kertawijaya terluka tembak di bahu kirinya dan kaki kanannya terkena tombak. Mantri Semedirono mati tertembak di kepalanya, yang lainnya terluka. Sementara rakyat Blambangan terus bergerak ke Bayu sambil membawa harta benda yang mereka miliki.[25]

Peristiwa di atas diceritakan dalam Babad Bayu pupuh ii 5-20 sebagai berikut:

Ketika pasukan Kertawijaya dan Jaksanagara tiba di Bayu, Pangeran Jagapati bersama 30 orang pengikutnya menempatkan diri di sebelah menyebelah bagian jalan yang sempit. Jayaleksana memberikan aba-aba menembak, tapi ia dan pasukannya segera terkurung. Meskipun begitu, ia masih juga menuntut supaya Pangeran Jagapati takluk. Kalau mau takluk, orang Bayu akan diampuni dan selamat, mereka tak usah bekerja untuk Kompeni dan akan menerima hadiah sarung pedang dari baja dua warna, dan akan disambut dengan segala penghormatan apabila datang berseba. Tiba-tiba pasukan Jayalaksana kabur masuk hutan, maka para punggawa sendirilah yang harus mengangkut pulang jenazah patih. Gegerlah seluruh kota.[26]

Tanggal 5 Agustus 1771, VOC mengirim pasukan bersenjata menuju ke benteng Bayu. Di luar dugaan VOC pada waktu terjadi pertempuran awal, terdapat sebagian prajurit VOC dari pribumi membelot memihak kepada Pangeran Jagapati. Biesheuvel Residen Blambangan beserta pasukan VOC bergerak menyerang Benteng Bayu. Namun, mereka dikalahkan Pangeran Jagapati karena pertahanan benteng Bayu yang ternyata sangat kuat. Pada waktu yang bersamaan, Schophoff, Wakil Residen Biuscheuvel masuk ke berbagai desa di Blambangan, bermaksud mempengaruhi penduduk untuk tidak memihak Pangeran Jagapati. Pada hari yang sama pasukan VOC menyerang Gambiran, sebuah dusun penghasil beras yang sangat subur yang menjadi salah satu penyangga logistik beras benteng Bayu. Tujuannya agar Pangeran Jagapati yang berkedudukan di Bayu kekurangan bahan makanan. Namun, ketika ia beserta pasukannya berada di Desa Gambiran, mereka diserang oleh sekitar 200 pasukan Blambangan sambil meneriakkan kata-kata: “Amok! Amok!”. Pasukan VOC kemudian menuju Tomogoro yang terletak sekitar 6 km di sebelah tenggara Bayu merupakan penghasil beras yang paling dekat dengan Bayu dan Tomogoro merupakan tempat yang sangat penting bagi Pangeran Jagapati. Selain itu Tomogoro juga menjadi tempat menimbun semua persediaan yang diperlukan sebelum diangkut ke Bayu.[27]

Melihat posisi Tomogoro yang strategis, VOC mendirikan kubu pertahanan dengan maksud untuk memudahkan penyerangan ke Bayu. Rakyat Blambangan yang mengetahui aktivitas VOC berusaha menghindarinya serta membawa semua perbekalan ke Bayu bergabung dengan Pangeran Jagapati. Sementara di sepanjang jalan menuju Bayu yang menanjak dan licin, Pangeran Jagapati memerintahkan pejuang Bayu untuk menebangi pohon agar menutup jalan sehingga tidak bisa dilewati. Pasukan VOC yang sudah kelelahan dalam menempuh perjalanan yang sulit dan kehabisan perbekalan terpaksa mengehentikan penyerangan dan mundur ke Ulupampang.[28]

Keadaan yang mengkhawatirkan memaksa Biesheuvel minta dikirim 300 pasukan pribumi dari Jawa Timur dan satu pasukan tentara Eropa berkekuatan 40 prajurit.

Di Bayu Pangeran Jagapati membicarakan tentang pasukan-pasukan Kompeni yang terpaksa berhenti di tengah jalan, mundur ke Ulupampang. Kemudian Pangeran Jagapati menyusun strategi perang dengan membagi pasukan menjadi dua sayap. Sayap kiri yang terdiri dari 3.000 orang diserahkan kepada Keboundha, sayap kanan dipercayakan kepada Kidangsalendhit. Kedua pemimpin pasukan ini ingin membalas kekalahan yang telah dialami di Gegenting (Gambiran dan Tomogoro).[29]

Pada tanggal 22 September 1771 malam pukul 20.00 WIB, Biesheuvel Residen Blambangan menerima laporan dari Sersan Rood yang membawa berita dari Letnan Imhoff komandan VOC di Kuta Lateng yang menyatakan bahwa pagi hari, 22 September 1771, kereta VOC telah mulai bergerak maju dalam medan perang yang memuat berbagai keperluan untuk menyerang Bayu. Misi pasukan VOC itu adalah mengusir pejuang Blambangan dan memusnahkan semua yang ada. Pasukan VOC telah masuk dalam kubu pertahanan bagian luar pejuang Bayu dengan pasukan pribumi di depan, sehingga keselamatan pasukan orang Eropa VOC terjamin. Namun ternyata dukungan orang-orang prajurit pribumi tidak dapat diharapkan. VOC menambah pasukan Eropa untuk melindungi penyerangan. Yang terjadi malah pasukan pribumi VOC mengelompokkan dirinya menjadi 2 kelompok. Satu pihak berdiri di sebelah kiri pasukan VOC, sedang kelompok satunya lagi di sebelah kanan. Tiba-tiba mereka berlari-lari bersamaan masuk ke dalam hutan dan menghilang. Pimpinan pasukan VOC memanggil-manggil dan mengancam pasukannya yang masuk ke hutan itu namun tak dihiraukannya. Dengan begitu pasukan VOC ditinggal begitu saja oleh pasukan pribumi. Akibat larinya pasukan pribumi, maka serdadu VOC asal Eropa saja yang terlibat perang dalam 3 jam terus menerus. Sampai-sampai semua peluru, termasuk persediaan yang terakhir dikeluarkan dari peti penyimpanannya untuk dibagikan. Juga amunisi untuk senjata berat, semuanya telah terpakai habis untuk menembak. Banyak serdadu Eropa yang tewas dan terluka. Diantaranya yang terluka adalah Letnan Imhoff setelah 2 jam dihujani tembakan terus menerus oleh pejuang Blambangan dari tempat persembunyiannya. VOC terpaksa meninggalkan semua perlengkapannya termasuk sebuah kanon berukuran satu pon dan dua buah mortir. Tukang pikul perbekalan semua mati.[30]

Hari itu juga, 22 September 1771 dilakukan penghitungan berapa sisa pasukan VOC asal pribumi. Oleh para pemimpinnya dilaporkan bahwa 13 orang tewas yang terdiri dari 5 komandan dan 8 tamtama, 94 orang terluka tembakan kena duri karena tatkala mundur mereka tergesa-gesa. Sisanya 87 orang luka kena sungga (ranjau/sunggrak). Datang kapal dari Pasuruan dengan mengangkut beras. [31]

Biesheuvel mengirim surat pada atasannya di Surabaya tertanggal Ulupangpang, 22 September 1771 guna memohon bantuan militer sebanyak 1000 laskar Sumenep dengan 150 serdadu Belanda. Juga diminta sepuluh peti peluru karena empat peti sebelumnya telah habis dalam penyerangan yang gagal. Pasukan ekspedisi bantuan itu direncanakan untuk merusak segala jenis makanan di daerah Bayu. Karena tidak ada cara lain bagi VOC selain mengadakan aksi yang membuat orang Bayu kelaparan dan kekurangan.[32]

Babad Bayu menceritakan peristiwa di atas sebagai berikut:

Berkecamuklah perang. Tanda pertempuran dibunyikan dengan tambur, beri, kendang dan gong. Jayasengara, adipati Bangil maju berkuda, diikuti yang lain. Pasukan Kompeni membentuk segi empat. Bunyi bedil, meriam dan tiktak (meriam kecil) mereka memekakkan telinga. Udara gelap karena asapnya. Jayasengara berpendapat, mustahil orang Bayu menang. Jayasengara kena peluru meskipun kebal dan berlindung di belakang sebuah pohon. Ia melihat Kompeni kehilangan banyak prajurit, ada yang luka banyak yang mati. Dan hilanglah harapannya untuk menang. Di pihak Belanda hanya kumendanlah yang masih hidup. Orang Surabaya, apalabi orang Bangil, mendapat kekalahan dan lari tunggang-langgang, disoraki orang Bayu. Komandan Kompeni terluka perutnya oleh peluru Keboundha. Kudanya dicambuknya sehingga lari terus sampai Ulupampang. Patih Jatasengara yang paling akhir pulang meninggalkan medan perang, menyusuri kali. Orang Bayu yang mabuk kejayaan mengejar musuh di jalan-jalan sampai Gegenting, bahkan sampai Cendhana. Maka orang Bayu pulang sambil menembang atau meniru suara gamelan dan menandak.[33]

Ketika bala bantuan datang untuk VOC, bersamaan dengan itu Pangeran Jagapati mendapatkan bantuan 300 orang dari Bali lengkap dengan senjata dan bahan makanan, dan berhasil mengepung benteng VOC di Kuta Lateng. Jalan-jalan ke Panarukan oleh para pejuang Bayu dijaga dengan ketat dan diberi penghalang-penghalang dari kayu gelondongan, jembatan-jembatan dirusak untuk mempersulit tranportasi pasukan dan perbekalan VOC. Penyerbuan Pangeran Jagapati ke Lateng ini mampu menangkap dan menawan banyak serdadu VOC dan merebut sepeti misiu dan 1200 peluru serta senjata.[34]

VOC mengerahkan seluruh kekuatannya dengan mendatangkan bantuan tentara dari garnisum-garnisum Batavia, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Pasuruhan dengan pasukan “Dragonders” dari Semarang sebagai pasukan inti.[35]

Karena kekalahan yang ditimbulkan oleh Pangeran Jagapati dan para pejuang Bayu itu maka memaksa Gubernur vander Burgh mengirim surat ke Pieter Luzac, agar penduduk Senthong (dekat Bondowoso) dicegah berhubungan dengan penduduk Blambangan dan Lumajang. Juga agar dilakukan penelitian sebab-sebab kekalahan serdadu VOC.[36]

Biesheuvel pada bulan November 1771 meninggal ia digantikan oleh wakilnya, Hendrik Schophoff. Pada bulan itu, bantuan tentara VOC tiba di Ulupampang di bawah komando Kapten Reygers dan Heinrich. Pasukan VOC berhasil mengalahkan para pejuang Blambangan di Kuta Lateng. Sedangkan kapten Reygers berhasil menghancurkan gudang persediaan makan di Banjar (Kecamatan Glagah), menguasai Grajagan di Pantai Selatan dan membakar sekitar 300 koyan beras (1 koyan sekitar 185 kg = 55,5 ton). Pada waktu yang bersamaan VOC mengeluarkan surat-surat pengampunan bagi penduduk yang mau meninggalkan Bayu.[37]

Kapten Reygers setelah berhasil mendesak para pejuang Blambangan di Kuta Lateng, pada tanggal 13 Desember 1771 beserta pasukannya berangkat menyerang benteng Bayu. Pengalaman pahit VOC menyerang Bayu dari arah selatan, memaksa VOC menyerang Bayu dari arah utara, yaitu Songgon. Keesokan harinya 14 Desember 1771 Reygers memerintahkan penyerangan dengan kekuatan 2000 laskar Madura di bawah pimpinan Alapalap, sebagai laskar terdepan. Di belakangnya dilapisi oleh serdadu Eropa yang dilengkapi dengan meriam yang dipimpin oleh Sersan Mayor van Schaar. Barisan belakang menggempur Bayu sebelum Alapalap bergerak maju. Mendengar penyerbuan VOC dari arah utara, dengan gerak cepat Pangeran Jagapati memimpin sendiri penyerangan ke Songgon pada tanggal 15 Desember 1771, bersama 1000 orang jagabela yang bersenjatakan keris, pedang dan tombak. Kekuatan jagabela yang di Bayu dikerahkan menyerang Songgon.[38]

Taktik perang pejuang Bayu yang terencana matang dan menguasai medan, menyebabkan pasukan VOC yang menyerang dari dua arah, yakni Susukan dan Songgon, telah terjebak dan disergap oleh pasukan Bayu dan dihancurkan sama sekali. Kapten Reygers terluka parah di kepalanya dan kemudian ia meninggal di Ulupampang. Puncak penyerangan para pejuang Blambangan terjadi pada tanggal 18 Desember 1771. Dalam peristiwa itu para pejuang Blambangan melakukan serangan umum dan mendadak terhadap serdadu VOC. Belanda sendiri menyatakannya sebagai “de dramatische vernietiging van Compagniesleger”. Prajurit Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Jagapati maju ke medan tempur dengan membawa senjata golok, keris, pedang, tombak, dan senjata api yang diperoleh sebagai rampasan dari tentara VOC. Serangan pejuang Bayu yang mendadak, membuat pasukan VOC terdesak. Demikian juga pasukan Eropa VOC yang berada di belakang. Ketika posisinya terus terdesak, mereka mundur dan lari meninggalkan semua perlengkapan perang. Pejuang Bayu mengejar pasukan VOC. Saat itulah pasukan VOC banyak yang terjebak dalam jebakan yang dinamakan sungga (parit yang di dalamnya dipenuhi sunggrak) yang telah dibuat oleh pejuang Bayu. Pasukan VOC yang terjebak dan dihujam dari atas. Sersan Mayor van Schaar, komandan pasukan VOC, Letnan Kornet Tinne dan ratusan serdadu Eropa lainnya yang tewas dalam perang itu. Dari serdadu yang tersisa yang sempat melarikan diri, jumlahnya tidak seberapa, umumnya dalam keadaan terluka dan sakit. Namun demikian, di pihak Blambangan harus membayar mahal dengan kehilangan pemimpinnya. Pangeran Jagapati gugur karena luka-lukanya sehari berikutnya yakni tanggal 19 Desember 1771. Sebagai ungkapan balas dendam atas gugurnya Pangeran Jagapati, beberapa jagabela mencincang mayat van Schaar.[39]

Peristiwa ini dikisahkan dalam Babad Tawang Alun xi.5-21, sebagai berikut:

Pangeran Jagapati bertempur melawan Alap-alap dari Madura. Keduanya tak terkalahkan. Lalu ketahuan oleh Pangeran Jagapati bahwa Alap-alap memakai baju zirah. Maka dengan lembing pusakanya, Si Kelabang, dari jenis biring lanangan, ditusuknya Alapalap dari bawah. Dan Alap-alap roboh tetapi masih sempat melukai Pangeran Jagapati. Alap-alap diusung ke perkemahan, lalu meninggal. Jagapati yang luka parah dibawa ke benteng. Dengan luka parah Pangeran Jagapati masih mampu mengatur strategi peperangan dengan menunjuk Jagalara dan Sayu Wiwit sebagai wakilnya untuk melanjutkan peperangan. Keesokan harinya pertempuran dilanjutkan diiringi suara kendang, gong, beri dan tambur dan berlangsung sampai malam tiba. Setelah kembali ke benteng para prajurit Bayu mengetahui bahwa Pangeran Jagapati telah meninggal. Babad Tawang Alun xii.1-2 melanjutkan: Pangeran Sumenep dan Panembahan Bangkalan sangat marah karena kematian Alap-alap. Pasukan Madura dan Kompeni bertempur lagi dan kehilangan 2.000 orang sebagai akibat amukan orang Bayu.[40]
Pada tanggal 20 Desember 1771 pasukan VOC turun kembali ke Kuta Lateng. Orang Eropa yang masih tersisa juga ikut turun, diantaranya Sersan Mayor Ostrousky yang terluka berat. Sebagian terbesar dari mereka sudah tidak bersenjata lagi. Mereka dalam keadaan sangat lelah, letih. Mereka berjalan berkelompok-kelompok kembali ke Kuta Lateng. Mereka menumpahkan kesalahan atas kekalahannya pada diri Sersan Mayor van Schaar yang bersikap pengecut. Ia dipersalahkan karena setalah menembak pejuang Bayu sekali saja, terus melemparkan senjatanya dan melarikan diri pertama kali. Kerugian di pihak VOC prajurit yang gugur dan hilang adalah : Sersan Mayor van Schaar, Peltu kornet Tinne, 41 prajurit Infanteri, 15 prajurit korps khusus Dragonders, para bintara dan tamtama, 1 prajurit arteleri dan sejumlah besar laskar pribumi. [41]

JR Vander Burgh, gubernur VOC urusan pantai timur Jawa pada 13 Januari 1772 di Semarang mengirim laporan pada atasannya, bahwa setelah penyerangan ke Bayu mengalami kekalahan pada 20 Desember 1771, maka banyak anggota pasukan pribumi yang melarikan diri. Bahkan pada 31 Desember 1771 terdapat 300 laskar Madura secara bersama melewati Panarukan kembali ke daerah mereka di Sumenep Madura.[42]

Babad Bayu xvi 1-13 menceritakan:

Bambang Sutama dan Jayareca membawa pasukannya ke Panarukan lewat Watu Dodol, Bajulmati dan Banyuputih. Mereka terpaksa mengaku kepada komandan VOC di Panarukan bahwa Bayu belum jatuh, karena orang Bayu terlalu kuat. Dan bahwa Guntur Geni mati, begitu juga semua orang Belanda. Komandan itu hampir tidak percaya. Rupanya, siapapun yang menaklukkan Bayu tidak akan kembali hidup. Bambang Sutama dan Jayareca minta diri pada komandan VOC, pertama pulang ke Sumenep. Di sini penduduknya keheranan melihat mereka kembali dalam keadaan selamat. Bupati Semenep ingin tahu mengapa dia dan Sutadipa masih hidup. Kedua orang itu menundukkan kepala rendah-rendah, malu takut dapat murka tuan mereka. Adapun Bambang Sutama pergi ke Surabaya untuk menyerahkan surat CVD Biesheuvel, penguasa di Ulu Pampang pada penguasa di Surabaya, Pieter van Luzac. Selanjutnya pulang ke Madura atas izin penguasa VOC itu.[43]

Kekuatan pasukan VOC telah berkurang, membuat VOC menghentikan peperangan. Kemudian para penguasa VOC mengambil sikap berhati-hati dan mendorong pasukannya untuk menggunakan cara-cara lain untuk menangkis serangan yang mendadak demi menyelamatkan bengsanya. Karena itu selama musim hujan, sebagian terbesar pasukan VOC bersikap defensif saja. Pasukan Eropa ditempatkan pada pertahanan di Ulupampang dan Kuta Lateng saja, yang dipandang tempatnya paling sehat.

Sementara itu laskar Madura, Sumenep dan Pamekasan bersama 2 kompi orang pribumi lainnya, pembentukan dan persiapannya sedang diproses. Tatkala itu 118 orang sedang dalam perjalanan ke Blambangan. Mereka ditempatkan di Ulupampang, Kuta Lateng, dan ditempatkan diberbagai benteng yang ada, dan dijalur-jalur jalan ke arah Bayu. Tujuannya adalah untuk menghalangi dan menghentikan penyaluran bahan makanan ke pusat pertahanan Bayu. Segala jenis bahan makanan yang sekiranya dapat digunakan oleh para pejuang Bayu, agar segera dimusnahkan. VOC memerintahkan untuk membunuh siapapun yang mencoba menghalangi-halangi rencananya.[44]

Dengan kemenangan yang dicapai oleh para pejuang Bayu, penguasa VOC mengatur kembali strateginya. Karena itu, maka penguasa VOC telah memperbaharui rekomendasi kedudukannya di darat. Diadakannya patroli di laut dan di sepanjang pantai Blambangan, khususnya disekitar Meneng dan Grajagan untuk menghalangi hubungan Pejuang Bayu dengan oarang Bali. Kemudian VOC mengadakan patroli dengan ketat terhadap segala jenis kapal dan perahu melewati Selat Bali.[45]

Akibat perang selama bulan Desember VOC banyak kehilangan sejumlah pejabat dan perwira militer yang tewas. Karena banyak kehilangan perwira dan prajurit, VOC menjadi depensif dan menarik semua pasukannya ke Kuta Lateng dan Ulupampang. VOC yang mengalami kekalahan besar membutuhkan waktu setahun untuk memulihkan kekuatannya. Dengan kenyataan benteng Bayu yang sangat kuat, VOC harus mempersiapkan pasukan yang lebih besar untuk mengalahkan laskar Blambangan. Untuk keperluan itu VOC mengadakan panggilan umum kepada semua bupati dan penguasa taklukan Belanda untuk mendatangkan bala bantuan. Semua tentara Eropa dari semua garnisum dikonsinyasikan di Blambangan. Kemudian 2000 pasukan Madura segera dikirim ke Jawa. Pada bulan Agustus 1772 Heinrich tiba di Blambangan dengan 5.000 prajurit. Heinrich menjadi komandan dan dibantu residen Schophoff dari Ulupampang. Sedangkan Van der Burgh, Gubernur Jawa Bagian Timur, secara pribadi datang sendiri ke Blambangan.[46]

Pada 1 Oktober 1772, setelah hampir satu tahun gagal menyerang Bayu, VOC mengadakan penyerangan lagi ke Bayu. Songgon yang tidak diduduki sisa pengikut Pangeran Jagapati kembali dijadikan benteng pertahanan untuk menyerang Bayu. Kapten Heinrich beserta pasukan Expedisi V bergerak dari kota Ulupampang. Pada 5 Oktober 1772, pagi hari pasukan VOC itu telah berkemah di Sontong. Untuk menghindari sungga Kapten Heinrich memerintahkan bawahannya membuat jalan dengan cara menumbangkan pepohanan hutan. Kemudian pada Peltu Mirop dan Peltu Dijkman ditempatkan satu pasukan sebanyak 900 orang untuk menguasai daerah ketinggian sebelah kanan dari benteng Bayu, dengan dipersenjatai meriam. Sedang Vaandrig Guttenburger dan Koegel, ditempatkan di Sontong. Kemudian Kapten Heinrich dengan 1.500 orang berikut Vaandrig Ienigen di Sentum berjaga-jaga di posisi antara ketinggian yang saling dapat berhubungan melalui satu jurang yang menganga di antaranya. Benteng Bayu terkepung secara ketat.

Dari tanggal 5 sampai 11 Oktober 1772 itu Kapten Heinrich mengadakan konsolidasi dengan elemen-elemen militer lainnya. Pada tanggal 10 Oktober 1772, Letnan Imdeken meyakinkan Kapten Heinrich bahwa Kapten Heinrich dapat menerobos, sehingga Kapten itu mengadakan perundingan. Kapten Heinrich memutuskan untuk mulai melakukan penerobosan.

Pada 11 Oktober 1772 pagi hari, VOC mengerahkan semua kekuatannya menggempur Bayu dengan tembakan-tembakan meriam. Tetapi selama dua bulan Bapa Endha dapat bertahan bersama 1000 orang pengikutnya yang setia. Pengiriman perbekalan di pihak VOC cukup lancar karena jalan dari Ulupampang menuju Songgon bebas dari halangan pejuang Bayu. Sekitar bulan Desember 1772 Bapa Endha dan pejuang Bayu mengalami kekurangan perbekalan karena bahan makanan yang ada ternyata tak mampu mencukupi kebutuhan semua laskar yang ditarik dan dipusatkan ke Bayu. Bayu sudah sulit dipertahankan lagi. Namun mereka masih mengadakan perlawanan sekuatnya. Vaandrig Mierop sesuai dengan perintah komandannya, membuat alarm tipuan pada sayap kanan dengan membuat api untuk memancing membagi kekuatan musuh supaya tepat didepan dan di sayap kiri Kapten Heinrich. Kemudian Kapten Heinrich dengan kekuatan intinya 1.500 pasukannya menerobos dan menyerang benteng Bayu dari sayap kiri tepat pukul 08.00. Benteng Bayu yang amat kuat akhirnya dapat direbut pasukan VOC. Setelah benteng Bayu dapat direbut VOC merusak dan membakarnya.

Pasukan Kapten Heinrich mendapat rampasan beberapa jenis senjata berupa 1 meriam dan 3 mortir ukuran 4 dim milik pejuang Bayu. Para prajurit pribumi VOC mendapat rampasan 100 pucuk senjata berlaras panjang dan 200 kuda serta masih banyak lainnya dari dalam benteng Bayu.

Para pejuang Bayu telah meloloskan diri ke daerah pegunungan. Kapten Heinrich telah memerintahkan mengejar mereka sampai malam hari. Semua milik para pejuang Bayu agar diambil. Pada pagi hari keesokannya juga dilakukan pengejaran dengan patroli yang kuat. Ternyata memerlukan perjalanan sehari penuh ke pegunungan.

Kapten Heinrich menyuruh bawahannya untuk membunuh para tawanan pria dan memotong kepalanya. kemudian kepala mereka yang terpotong digantung di pepohanan yang tinggi untuk membuat pejuang Bayu lainnya takut. Pengejaran terhadap musuh masih terus dilakukan bagi pejuang Bayu lainnya. Atas perintah dari Residen Schophoff, VOC di Bayu turun tanggal 24 Oktober 1772.[47]

Babad Bayu menceritakan penyerbuan ini sebagai berikut:

Panembahan Madura sanggup memenuhi permintaan VOC Surabaya sebanyak 10.000 orang Madura. Laskar ini dipimpin oleh Suradiwira. Pasukan Madura barat ini berlayar dan berlabuh di Panarukan disambut oleh pasukan VOC. Madura timur di Sumenep telah menyiapkan 3.000 orang laskarnya yang dipimpin langsung oleh Pulangjiwa. Mereka ini berangkat dari pantai Pamaringan menuju Purwasari di Pantai Jawa. Semuanya bertemu di Panarukan. Esok harinya barisan maju seperti badai. Bermalam di Bajulmati, malam berikutnya sampailah mereka di kota Ulupampang.
memerintahkan pasukannya untuk membuat benteng bergerak dan setiap mantri diberi tunggul bambu sebagai pertahanan. Orang Madura mulai menembak lagi, namun pelurunya jauh dari sasaran. Laskar Bayu membalasnya, setiap pelurunya menewaskan orang Madura yang disasar. Suradiwira marahnya tak alang-kepalang. Laskarnya diperintahkan supaya menyerang namun terhalang sungga dan suda. Pulangjiwa dipukul mundur.

Pulangjiwa dan VOC telah menyelesaikan pertahanan mereka. Satu untuk setiap mantri, dan satu benteng bergerak untuk pasukan. Suara gong, gendhang, tambur, dan biring bergema di langit ditambah sorak sorai laskar Madura. Pasukan VOC maju dibelakang pertahanan mereka yang anti tembus peluru. Medan perang dekat benteng Bayu sudah bersih dari sungga dan suda, sehingga VOC dapat membawa meriam-meriam mendekati benteng Bayu. Dengan dilindungi tembakan meriam, laskar Sumenep dan VOC berhasil memasuki beteng Bayu. Atas perintah VOC, rumah-rumah Bayu dibakar habis. Benteng Bayu diratakan dengan tanah..[48]

Sedangkan Babad Tawang Alun memberikan gambaran peristiwa ini sebagai berikut:

Pangeran Sumenep sangat marah mendengar kematian Tumenggung (Alap-alap)nya dalam perang Bayu pertama. Demikian pula Panembahan Bangkalan juga sangat marah. Karena itu, beliau segera mengerahkan balatentaranya. Baik VOC maupun Madura maju perang ke Bayu. Kedua pihak saling menombak dan saling menembak. Mengamuklah para pejuang Bayu, sehingga balatentara VOC banyak yang mati. Kemudian datang lagi 2.000 bala bantuan musuh. Pejuang Bayu kalah dalam perang. Banyak pejuangnya yang gugur. Lamanya perang Bayu itu selama 2 tahun. Maka takluklah Bayu. Banyak rakyat kecil yang mati, yang tersisa menyelamatkan diri, mengungsi kehutan belantara atau ke dalam jurang di hutan pegunungan, sedang yang tertangkap, segera diangkut. Banyak yang diangkut ke daerah Ulupampang. Selanjutnya dibawa ke barat, terutama para tokohnya dibuang ke Selong.[49]

Pemimpin Blambangan banyak yang menyingkir ke Nusa Barung. Schophoff menyuruh mengirimkan 264 orang Blambangan ke Surabaya baik pria, wanita dan anak-anak. Sampai tanggal 7 Nopember 1772 sudah 2.505 orang pria dan wanita yang tertangkap. Schophoff memerintahkan untuk menenggelamkan tahanan laki-laki yang dituduh telah memakan daging mayat van Schaar. Orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak Blambangan sebagai hasil rampasan perang. Sebagian dari mereka telah melarikan diri ke dalam hutan, telah meninggal karena kelaparan dan kesengsaraan yang mereka alami. Sehingga bau mayat-mayat yang membusuk, menggangu sampai jarak yang jauh. Mereka yang masih hidup menetap di hutan-hutan, membuka perladangan baru di Pucangkerep, Kaliagung, Petang dan lain-lain. Mereka tetap bersikeras untuk melepaskan diri dari penjajahan VOC.[50]

Itulah akhir dari Perang Bayu yang mengerikan, yang telah merenggut ribuan kurban, baik di pihak musuh, terutama dipihak rakyat Blambangan.

Perlawanan-perlawanan setelah Perang Bayu

Perang Bayu memang berakhir pada tanggal 11 Oktober 1772, namun perlawanan rakyat dalam bentuk pemberontakan-pemberontakan lokal masih terjadi di berbagai daerah di Blambangan sampai sepuluh tahun kemudian. Pemberontakan-pemberontakan itu antara lain: Pemberontakan yang terjadi di Gendoh yang dipimpin oleh Hanggapati. Pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Mus Aceh. Pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Singo pada tahun 1781 dan sisa-sisa laskar Bayu yang hidupnya masih berpindah-pindah. Pemberontakan yang dipimpin oleh Mas Sekar pada tahun 1797 yang bermaskud membunuh semua orang Belanda yang ada di Blambangan. Untuk menghadapi pemberontakan ini Belanda harus mendatangkan lagi bantuan beberapa kompi tentaranya dari Surabaya dan Semarang. Pemberontakan ini gagal, Mas Sekar tertangkap dan para pengikutnya banyak yang disiksa dan dibuang ke Semarang. Pemberontakan yang dipimpin oleh Berengos Perada pada tahun 1800, yang berpusat di Rajekwesi.[51]

Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Perang Bayu sangat kuat terhadap patriotisme rakyat Blambangan dalam jangka waktu yang lama. Pangeran Jagapati sudah meninggal, namun rakyat Blambangan terus melanjutkan perjuangan.

D. Akibat-Akibat Perang Bayu

Dari uraian di atas, ternyata bahwa perang Bayu adalah perang semesta rakyat. Perang yang berawal dari dukuh kecil yang menggemparkan Belanda. C. Lekkerkerker mengatakan: perang Bayu merupakan perang yang membutuhkan lebih banyak ketegangan dan jumlah jiwa manusia dibanding perang-perang lainnya yang telah pernah dilakukan oleh Kompeni.

Wikkerman (residen di Blambangan pada tahun 1800-1818) melaporkan bahwa sensus penduduk pertama setelah berdirinya kabupaten Banyuwangi jumlah penduduk belum mencapai 300 keluarga.[52]

Akibat perang yang menelan korban sekitar 60 ribu orang, penduduk Blambangan hanya tersisa sekitar 5 ribu jiwa.[53] Hampir habisnya penduduk Blambangan akibat perang, pihak VOC mendatangkan tenaga kerja dari luar Blambangan untuk mengolah tanah-tanah pertanian yang kosong. Mereka ditempatkan di rumah penduduk yang kosong yang ditinggalkan ketika perang.[54] Akibat kedatangan berbagai macam penduduk dari luar Blambangan, menjadikan Blambangan berpenduduk sangat majemuk.

Akibat perang, VOC banyak kehilangan sejumlah pejabat dan perwira militernya. Mereka itu adalah Residen Cornelis van Biesheuvel, Sersan Mayor van Schaar, Letnan Kornet Tine, Vandrig Ostrousley, Kapten Reygers, dan ratusan pasukan Eropa. Sebanyak 10 ribu pasukan yang didatangkan oleh VOC dari berbagai daerah untuk menggempur Blambangan banyak yang tewas.[55]

VOC juga mengeluarkan kebijakan untuk menarik simpati agar orang-orang yang kembali ke Blambangan diberikan hadiah 2,5 rijksdalder ( sekitar 6 gulden). Pada tahun 1773 sebanyak 12 keluarga berhasil diboyong dari Surabaya ke Banyuwangi, sedangkan sebelumnya sebanyak 285 orang telah menetap di Blambangan karena motif untuk mendapatkan hadiah uang. VOC juga membebaskan penarikan pajak selama 15 tahun. Baru pada tahun 1786, VOC bisa menerima 9600 pikul beras, persewaan tempat-tempat sarang burung walet, ikan, teripang, serta kulit mutiara.[56]

DAFTAR PUSTAKA

[1] Neil J. Smelser, Theory of Colective Behavior, Routledge&Keagan Paul, London, 1962, hal. 163.

[2] J.K.J. de Jonge, De Opkomst Van Het Nederlansch Gesag Over Java-XI, ML van Deventer, 1883, hal. 1. C. C. Lekkerkerker, Balambangan, Indische Gids II, 1932, hal.1045.

[3] I Made Sudjana, Nagari Tawon Madu, Larasan-Sejarah, Kuta-Bali, 2001, hal. 61-63.

[4] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. v-vi. I Made Sudjana, op.cit., hal. 63.

[5] I Made Sudjana, ibid., hal. 63-65. C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1048-1052.

[6] C. Lekkerkerker, ibid., hal. 1053-1054.

[7] JKJ de Jonge, op.cit., hal. 17. C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1054.

[8] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 140. C. Lekkerkerker, op.cit., hal 1055.

[9] C. Lekkerkerker, Ibid, hal. 1054.

[10] I made Sudjana, op.cit., hal. 67.

[11] C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1055.

[12] I Made Sudjana, op.cit., hal 68.

[13] Babad Tawang Alun (ditulis pada tahun 1826) dalam Winarsih PA, Babad Blambangan, Bentang, Yogyakarta, 1995, hal. 113, lihat juga Lampiran I. Tempat kediaman (Dalem) Mas Bagus Puri menurut dokumen Belanda terletak di sekitar dusun Pakis, yaitu dusun di selatan Banyuwangi sekarang. I Made Sudjana, op.cit., hal.42. Dengan demikian Pakis Banyuwangi adalah tempat kelahiran Mas Rempek.

[14] C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1056.

[15] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 200.

[16] I Made Sudjana, op.cit., hal. 68.

[17] Babad Tawang Alun, ix-2-4 dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 89.

[18] I Made Sudjana, op.cit., hal. 68-69.

[19] I Made Sujana, Ibid, hal. 69, berdasarkan laporan J.C. Wikkerman, Originele aparte missive van den Gouverneur van den Burg.., ARA, VOC 3337, hal. 3.

[20] Ibid, hal. 69.

[21] Nama desa dan lurahnya sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu pupuh vi 11-20 sebagai berikut: Desa Dhadhap (Kidang Wulung), Rewah-Sanji (Kidang Wulung), Suba/Kuwu (Kidang Wulung), Songgon (Ki Sapi Gemarang), Tulah (Ki Lempu Putih), Kadhu (Ki Sidamarga), Derwana (Ki Kendit Mimang), Mumbul (Ki Rujak Sentul), Tembelang (Ki Lembupasangan), Bareng (Ki Kuda Kedhapan), Balungbang (Ki Sumur Gumuling), Lemahbang (Ki Suranata), Gitik (Ki Rujak Watu), Banglor (Ki Suragati), Labancina (Ki Rujak Sinte), Kabat (Ki Pandholan), Kapongpongan (Ki Kamengan), Welaran ( Ki Jeladri), Tambong (Ki Reksa), Bayalangun (Ki Sukanandi), Desa Penataban (Ki Singadulan), Majarata (Ki Maesandanu), Cungking (Ki Jangkrik Suthil), Jelun (Ki Lembu Singa), Banjar (Ki Bakul). Itulah nama-nama desa di Banglor. Sedang desa bagian selatan adalah: Desa Pegambuiran (Ki Serandil), Ngandong (Ki Seja), Cendana (Ki Kebo Waleri), Kebakan (Ki Kebo Waluratu), Cekar (Ki Gundol), Desa Gagenteng (Ki Kudha Serati), Kadhal (Ki Jaran Sukah), Sembulung (Ki Gagak Sitra), Jajar (Ki Gajah Anguli), Benculuk (Ki Macan Jingga), Pelancahan (Ki Butangerik), Keradenan (Ki Jala Sutra), Gelintang (Ki Maesagethuk), Grajagan (Ki Caranggesing). Sedang desa diwilayah timur: Desa Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan), Lalerangan (Ki Menjangan Kanin), Mamelik (Ki Surya), Papencan (Ki Bantheng Kanin), Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan), Repuwan (Ki Butānguri), Rerampan (Ki Kidang Bunto), Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).

Wilayah utara 2 desa yaitu Desa Jongnila (Ki Gagakngalup) dan desa Konsul (Ki Maesasura). Kemudian kepala desa ayang menyusul: Desa Bubuk (Ki Marga-Supana), Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul), Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul), Gambor (Ki Bajuldahadhi), Gembelang (Ki Butakorean), Muncar (Ki Genok), Bama (Ki Baluran), Geladhag (Ki Margorupit), Susuhan ( Ki Tambakboyo), Ngalian (Ki Kidang-Garingsing), Tamansari (Ki Gajah Metha), Danasuke (Ki Kebowadhuk), Kalisuca (Ki Jaransari). Babad Bayu (ditulis pada tahun 1826) pupuh vi 11-20 dalam Winarsih PA, op.cit., hal.153-154.

[22] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 228. Winarsih PA, Ibid, hal. 89, Babad Tawang Alun pupuh ix 2-4. Menurut I Made Sudjana, Mas Rempek memakai gelar Kyai Mas Rempek (dalam Babad Tawang Alun; Ki Mas Rempek) menunjukkan bahwa Pangeran Jagapati telah mendalami agama Islam, sehingga hampir sama dengan status gurunya, Kyai Rupo (Ajar Rapa). I Made Sudjana, op.cit., hal. 68-69.

[23]Inventaris Hindoe oudheden III, 1923:123 nomer 2547 dalam C. Leckerkerker, op.cit., hal.1056.

[24] I Made Sudjana, op.cit., hal. 70, berdasar dokumen Belanda “Eebidige voordracht…” ARA, VOC 3389 hal. 239-242; “Memorie totnaricht…” ARA, VOC 3589 hal. 1040.

[25] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 175, Surat CVD Biesheuvel (Residen) dan Hendrik Schophoff (Wakil Residen) Blambangan kepada Yang Mulia Penguasa di Surabaya tertanggal Ulupampang, 4 Agustus 1771.

[26] Babad Bayu dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 227.

[27] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal .176. Baca juga I Made Sudjana, op.cit., hal. 78, berdasar dokumen Belanda ARA, VOC 3337 hal. 263-266; “Copie verklaring van Balem-boangsche……”

[28] I Made Sudjana, Ibid, hal. 78, berdasar dokumen Belanda “Originele aparte missive….”

[29] Babad Bayu pupuh v.23-28, dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 231.

[30] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 177, Surat CVD Biesheuvel (Residen) dan Hendrik Schophoff (Wakil Residen) Blambangan dan kepada Yang Mulia Penguasa di Surabaya tertanggal Ulupampang, 22 September 1771.

[31] Ibid.

[32] Ibid

[33] Babad Bayu pupuh v-vi.8, dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 231-232.

[34] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 216.

[35] C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1058.

[36] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 178. Winarsih PA, op.cit., hal. 231-232.

[37] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal.. 223.

[38] I Made Sudjana, op.cit., hal. 79.

[39] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 27 dan 224. C. Lekkerkerker, Balambangan, op.cit., hal. 1058-1059. I Made Sudjana, Ibid, hal 79, berdasarkan laporan J.C. van Wikkerman, “Copie resolutie…”, ARA, VOC 3416, hal. 150. Hasan Ali menyebut peristiwa ini dengan istilah perang puputan, lihat Sekilas Perang Puputan Bayu, Pemda TK II Kabupaten Banyuwangi, 1997.

[40] Winarsih PA, op.cit., hal. 93-95.

[41] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 224.

[42] Ibid, hal. 225.

[43] Babad Bayu dalam Winarsih PA, op.cit.., hal. 239.

[44] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal.. 224-225.

[45] J.K.J. de Jonge, Ibid., hal.. 226..

[46] J.K.J. de Jonge, Ibid, hal. 227 dan hal. 26. C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1059.

[47] J.K.J. de Jonge, Ibid., hal 228-230, Berdasarkan surat laporan Kapten Heinrich, komandan pasukan VOC di Kuta Lateng kepada pada Pieter luzac penguasa VOC di Surabaya, tertanggal Bayu, 12 Oktober 1772 yang dikirimkan dari markas utama Kompeni di Bayu.

[48] Babad Bayu pupuh xvii-xxiii, dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 240-243.

[49] Babad Tawang Alun pupuh xii. 1-4, dalam Winarsih PA, ibid, hal. 114-115.

[50] C. Lekkerkerker, op.cit., hal.1060.

[51] C. Lekkerkerker, Ibid., hal. 1062.

[52] C. Lekkerkerker, ibid., hal. 1064.

[53] F. Epp, Banjoewangi, TNI I/ii/1849, hal. 242-261.

[54] I Made Sudjana, op.cit., hal. 87.

[55] C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1059.

[56] I Made Sudjana, op.cit., hal. 87.

Tata Bahasa Osing

by: Na2nk
Bahasan Pertama kali ini akan saya akan coba mengulas Tentang Sufiks ( akhiran dalam bahasa Osing )

Salah satu contoh kebiasaan berbahasa Osing dengan Struktur Bahasa Osing yang tak lazim adalah… Seringnya kita melupakan fungsi makna akhiran ” -no ” dan ” -akên ” dalam sebuah Kata Kerja dalam Bahasa Osing. Baiklah..pada kesempatan kali ini saya mencoba mengulasnya secara sederhana.
Kata kerja + akhiran ” -no ” dalam bahasa osing berarti ” meminta atau memohon juga memerintahkan kepada lawan bicara kita untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan dari Kata kerja itu sendiri ”
Contoh :
Tulung balèkêno irig iki nyang umahé wak patonah.
Kata kerja + akhiran ” -akên ” dalam bahasa osing berarti ” Si pembicara melakukan suatu tindakan atau perbuatan dari Kata kerja itu sendiri ”

Contoh lazim:
Irigé wis sun balèkakên nyang umahé wak patonah.
Contoh yang tak lazim:
Irigé wis sun balèkêno nyang umahé wak patonah.

Gandrung

Gandrung bagi banyak pengamat dan peneliti tak banyak beda dengan tayub, lengger, gambyong, teledek dan sejenisnya. Sebuah kesenian yang menampilkan seorang sampai empat orang perempuan dewasa menari, menembang, sendirian maupun berpasangan dengan penonton pria (pemaju) pada malam hari dengan iringan orkestra sederhana; gong, kethuk, keluncing (trianggel), biola, kendang. Namun bagi para tokoh di Banyuwangi gandrung tidak sekedar kesenian profan sekedar bersenang-senang menghabiskan malam, tapi sebuah kesenian yang sarat dengan nilai historis dan kepahlawanan.
Kesadaran sejarah atau barangkali lebih tepatnya romantisme historis ini berkembang pada awal tahun 70-an setelah beberapa budayawan mencoba memberikan tafsiran makna dari gending-gending klasik yang dibawakan gandrung seperti gending padha nonton, sekar jenang, seblang lokinto, layar kumendhung dan lain-lain. Kemudian ditambah diperolehnya beberapa dokumen tulisan lawas penulis Belanda dan beberapa tulisan berbahasa Inggris yang membantu upaya penggalian makna tersebut. Berdasar hasil tafsiran makna gending-gending klasik tersebut lahir wacana bahwa gandrung adalah sebuah kesenian yang berfungsi sebagai alat perjuangan melawan Belanda. Analisanya begini; setelah Perang Puputan Bayu pada tahun 1771-1772 rakyat Blambangan yang hampir habis dan sisanya tinggal memencar dalam kelompok-kelompok kecil di pedalaman hutan, maka untuk konsolidasi perjuangan dan membangkitkan lagi semangat juang lahirlah kesenian gandrung yang berkeliling menghubungi sisa-sisa pejuang yang terpencar tadi. Kesimpulan ini berdasar tulisan John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi tahun 1926. Sebenarnya tulisan Scholte ini tidak memberikan data yang cukup jelas. Keyakinan fungsi perjuangan kesenian gandrung sebenarnya lebih bertumpu pada hasil pemaknaan terhadap syair-syair klasik.Wacana gandrung sebagai alat perjuangan ini kemudian berkembang menjadi keyakinan dan kesadaran kolektif di kalangan tokoh-tokoh di Banyuwangi. Hal ini terlihat pada tulisan-tulisan yang terbit di Banyuwangi seperti buku “Gandrung Banyuwangi” yang diterbitkan oleh DKB (Dewan Kesenian Blambangan) tanpa tahun, artikel di majalah Seblang edisi II tahun 2004 yang berjudul “Gandrung Kawitane Alat Perjuwangan” dan banyak tulisan lain yang diangkat di media lokal maupun nasional.
Kesadaran sejarah peran gandrung berjalan seiring dengan upaya pencarian identitas daerah yang mulai giat dilakukan Pemda sejak awal tahun 70-an. Gandrung sebagai kesenian masyarakat Using yang dianggap sebagai masyarakat asli Banyuwangi menjadi pilihan yang paling gampang dari pada kesenian-kesenian lainnya. Selain alasan-alasan estetika, misalnya dari segi performance gandrung pasti lebih menarik dibanding angklung caruk yang seluruh pemainnya laki-laki, gandrung juga lebih populer dibanding kesenian-kesenian lainnya. Maka jadilah gandrung yang awalnya hanya dikenal di lingkungan masyarakat petani, perkebunan, nelayan yang erat dengan ritual, ditarik oleh negara menjadi identitas daerah yang sepenuhnya profan. Tahun 1975 lahirlah koreografi baru tari “Jejer Gandrung“ sebagai tari selamat datang yang digelar untuk acara-acara formal menyambut tamu negara. Sebuah tari yang mencoba merangkum seni pertunjukan gandrung yang terdiri dari babak jejer, paju dan seblang subuh yang dipentaskan semalam suntuk, diringkas hanya dalam durasi waktu 15 menit. Sebagai identitas, negara punya ukuran estetika sendiri yang ketat baik penari maupun panjak (penabuh gamelan) dan pelengkap performance lainnya. Dari sinilah kemudian gandrung sebagai kesenian memiliki dua basis pendukung, yaitu gandrung di komunitas awalnya yaitu gandrung terob dan gandrung sanggar. Gandrung terob adalah komunitas seniman kesenian gandrung dan masyarakat pendukungnya. Sedangkan gandrung sanggar adalah komunitas seniman yang menyuplai pementasan formal yang diminta negara.
Gandrung sebagai identitas bagi Banyuwangi yang multi etnik tidak selalu berada dalam satu kata. Gandrung berada dalam posisi tarik ulur dan diperdebatkan oleh kekuatan yang melingkarinya. Kekuatan tidak hanya dalam pengertian negara atau pemerintah daerah, melainkan juga wacana dominan dan nilai-nilai yang disepakati masyarakat. Dalam hal ini agamawan dengan teksnya sendiri soal ukuran-ukuran moral, budayawan dengan teksnya sendiri yaitu gandrung sebagai warisan sejarah yang luhur, negara dengan teksnya sendiri gandrung sebagai alat negara, semuanya berebut dan berpilin dengan kekuatannya masing-masing. Sedangkan komunitas gandrung terob tidak tahu menahu dan berada di luar kontestasi ini. Mereka berada dalam posisi yang dibaca.
Pergulatan ini berjalan intens walau tidak selalu secara terbuka. Kasus dibongkarnya patung gandrung di pelabuhan Ketapang atas permintaan kaum agamawan Ketapang menunjukkan hal itu. Dalam kasus ini melibatkan juga anggota DPRD yang harus turun meninjau dan menindaklanjuti pengaduan keberatan masyarakat atas adanya patung gandrung yang berada tepat di depan masjid walau sebenarnya masih dalam area pelabuhan. Namun peran dominan negara dan wacana identitas daerah mengalahkan wacana-wacana kontra. Di tengah polemik gandrung sebagai identitas Banyuwangi di sidang-sidang DPRD, pada tahun 2003 keluar SK bupati nomor 147 yang menetapkan tari jejer gandrung sebagai tari selamat datang di kabupaten Banyuwangi. Dengan demikian pemihakan terhadap gandrung yang bersifat politis menimbulkan akibat politis pula. Akibatnya ketika didirikan pusat latihan gandrung di desa Kemiren, program ini hanya berlangsung dua tahun karena pada tahun berikutnya anggarannya tidak disetujui oleh DPRD.
Di tangan negara, gandrung sebagai identitas daerah menjadi wacana dominan. Patung dan gambar gandrung menghiasai kota dan desa. Gambar gandrung menghias tempat sampah, pot bunga di trotoar, brosur pariwisata, baliho di perempatan jalan dan dinding perkantoran. Patung gandrung diletakkan di sudut-sudut taman, gapura kampung sampai pintu masuk kabupaten. Bahkan di pintu masuk dari utara di wana wisata Watu Dodol dibangun patung gandrung setinggi 12 m. Begitulah gandrung telah direngkuh negara dan karena menjadi identitas menghendaki tunggal, maka gandrung sebagai sesuatu yang dilihat, sesuatu yang dinilai semakin berada di tempat tinggi dan semakin kentara untuk diperdebatkan dan diperebutkan.
Setelah gandrung menjadi identitas daerah, menjadi taruhan image daerah, maka Pemda menerapkan standar estetika yang memenuhi unsur kepantasan laik jual dan membanggakan. Pada saat demikianlah kemudian ketika negara mengirimkan muhibah seni baik nasional maupun internasional terjadi proses marjinalisasi secara sistematis. Yang dipilih mewakili negara bukanlah komunitas gandrung terob melainkan gandrung sanggar yang lebih mampu memenuhi standar estetika yang ditetapkan negara. Disaat gandrung menjadi kebanggaan kolektif, justru komunitas aslinya termarjinalkan. Mereka tidak mempunyai kemampuan dan keberanian untuk berbicara, mereka lebih menganggapnya sebagai problem yang tak terucapkan.
Belum lagi problem relasinya dengan agama. Dengan semakin intensifnya proses purifikasi agama menempatkan gandrung berada pada posisi pesakitan. Gandrung distigma sebagai kesenian maksiyat dan tidak layak didekati. Konstruk agama dengan dengan seperangkat standar moralitas telah mereduksi estetika pertunjukan gandrung. Goyang pinggul, minuman keras, berbaurnya laki-laki dengan perempuan, kostum semuanya bertentangan dengan nilai dominan yang dikembangkan agama. Sekali lagi gandrung berada pada posisi yang lemah, sebagai pihak yang dinilai. Walau mereka sebenarnya memiliki ukuran nilai sendiri namun sekali lagi tak terucap dengan lantang. Mereka dalam posisi bertahan dan sering kali secara tak sadar menerima setigma dari luar sebagai kebenaran.
Dalam kaitan membangun tata sosial yang berkeadilan, memberikan kesempatan yang sama terhadap semua elemen masyarakat untuk berekspresi tanpa tekanan dari pihak lain, ketidakseimbangan relasi ini perlu diupayakan agar terjadi relasi yang seimbang antara komunitas gandrung terob dengan kekuatan dominan yang melingkupinya. Mereka diberdayakan agar mampu berfikir secara kritis membaca posisinya sendiri di tengah relasinya dengan kelompok lain. Membangun kemampuan mereka untuk menyadari dan berani menyuarakan kemarjinalannya, dan mampu mengevaluasi kekurangan mereka sendiri sangat penting dalam kerangka berfikir bahwa perubahan sosial akan menjadi lebih sehat dan memiliki daya perlawanan yang kuat apabila tumbuh dari komunitas itu sendiri. Bukan perubahan yang dibangun dari atau oleh pihak luar akan tetapi tumbuh dari kesadaran mereka sendiri.
sumber : hasanbasri08.wordpress.com

Tarian Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen.[1]. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).
Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.[rujukan?] Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan “paju”[2]
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.

Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrungditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker.[3]
Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.
Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.
Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.
Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.

Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.
Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.
Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing.

Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.

Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian:
* jejer
* maju atau ngibing
* seblang subuh

Jejer
Bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan.

Maju
Setelah jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu.

Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi.

Seblang subuh
Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian seblang subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya seblang lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian seblang subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian seblang subuh kerap dihilangkan meskipun sebenarnya bagian ini menjadi penutup satu pertunjukan pentas gandrung.

Perkembangan terakhir
Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari.
Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using.[4]
Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari[5].
Sejak Desember 200, Tari Gandrung resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat seperti Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat[6].

Membuka Hub Diplomatik dengan Israel????

Belum usai perhitungan suara Pemilu 1999, PDI Perjuangan (PDI-P) sudah menampilkan rencana kontroversialnya: Membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Anggota Balitbang PDI-P, Subagio Anam, mengatakan kepada koran Israel Ha’aretz bahwa pihaknya akan mengembangkan hubungan dengan Israel untuk membawa kesejahteraan keseluruh wilayah.Kepada Republika tokoh PDI-Pberagama Nasrani, Aberson Marle Sihaloho, juga
menegaskan bahwa PDI-P berpandangan tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Menurut Aberson, membuka hubungan dan mengakui Israel merupakan sikap yang sesuai dengan UUD 1945. Aberson mengecam sikap Menlu Alatas yang hanya mengakui Palestina, tetapi tidak mau mengakui Israel.Seruan agar Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel sudah lama terdengar. Di antara tokoh yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Israel adalah LB Moerdani dan Abdurrahman Wahid. Selain beberapa kali mengunjungi Israel, Abdurrahman Wahid juga sering mengeluarkan pernyataan yang mendesak agar Pemerintah RI segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Terakhir, ketika tampil dalam acara Partai-Partai di TPI 24 Mei 1999, Abdurrahman Wahid mengatakan: ”Anda bayangkan, coba Indonesia mengakui UniSoviet dan mengakui RRC. Itu suatu negara di mana anggarandasarnya mengatakan bahwa Atheisme itu adalah bagian dari kehidupan negara, kita akui sebagai negara. Israel itu masih mengakui Tuhan. Anda tidak mau mengakui. Siapa yang bodoh?”Sejak Perjanjian Damai antara Pemerintah Israel dengan PLO ditandatangani pada bulan September 1993, di Indonesia sudah muncul beberapa desakan agar
Indonesia segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tanggal 13 September 1993, Harian Kompas menulis pernyataan Menhankam Edi Sudradjat yang mengatakan bahwa jika negara-negara Arab sudah menjalin hubungan dengan Israel, maka mengapa Indonesia tidak menyusulnya.Kelihatannya, yang ”bernafsu” untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel bukan hanya orang Indonesia. Pihak Israel selama ini juga sangat aktif dalam melobi Indonesia, agar membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Awal Oktober 1993, dalam sidang WTO (World Tourism Organization) di Denpasar Bali, Israel mengirimkan dua pejabat tingginya, yaitu Daniel Megiddo (Dubes Israel di Singapura) dan Mordechai Ben Ari (Deputi Direktur Jenderal Departemen Pariwisata Israel).

Tak lama kemudian, pada tanggal 15 Oktober 1993, Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin mampir ke Jakarta dan menemui Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Selama satu jam, Rabin berbicara dengan Presiden Soeharto dan mendesak Indonesia agar bersedia membuka hubungan dengan Israel. Kunjungan Rabin itu begitu tiba-tiba, sehingga terkesan mendadak dan rakyat Indonesia tidak sempat bereaksi.Pada tanggal 22 Februari 1994, Republika memberitakan bahwa lima senator Amerika Serikat yang berkunjung ke Jakarta juga ikut-ikutan mendesak
Indonesia agar segera membuka hubungan dengan Israel. Pada bulan Februari 1994, Israel mengundang empat wartawan Indonesia untuk berkunjung ke Tel Aviv dan melakukan wawancara eksklusif dengan Rabin. Dalam kesempatan tersebut, Rabin mengungkapkan harapannya agar hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Israel segera direalisasikan. Gara-gara ikut dalam rombongan wartawan itu, pengurus ICMI Nasir Tamara akhirnya didemo mahasiswa.Masih dalam tahun itu juga, pada bulan Oktober 1994, empat tokoh masyarakat diketahui berkunjung ke Israel. Mereka adalah Abdurrahman Wahid (NU), Habib
Chirzin (Muhammadiyah), Djohan Effendi (Departemen Agama), dan Bondan Gunawan (Forum Demokrasi). Keempatnya diundang untuk menghadiri sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Institut Harry S Truman, dan sekaligus menyaksikan penandatanganan perjanjianperdamaian antara Jordania dan Israel.Sepulang dari Israel, Abdurrahman Wahid menyerukan perlunya Indonesia segera
membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Langkah itmenurutWahid, akan menguntungkan posisi Indonesia di dunia internasional. Jika Arab saja sudah menjalin hubungan dengan Israel, maka mengapa Indonesia — yang tidak terlibat konflik denganIsraeljustrumempermasalahkannya? (Garta, 26 November 1994).

Berbagai desakan dari kalangan ”koalisi pro-Zionis-Israel” agar Indonesia
segera membuka hubungan dengan Israel, membuat posisi Indonesia cukup sulit.
Bagi Israel, hubungan diplomatik dengan Indonesia tentunya menjadi sangat
berarti, sebab Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di
dunia. Ketika itu, Indonesia juga sedang menduduki jabatan sebagai Ketua
Gerakan Non-Blok.

Selama ini, desakan agar Indonesia segera membuka hubungan diplomatik dengan
Israel senantiasa mendapat tantangan keras di dalam negeri Indonesia.
Tanggal 19 September 1993, sekitar 15.000 kaum Muslim Indonesia melakukan
protes dan apel anti-Israel di halaman Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru,
Jakarta.

Menyambut kedatangan Yitzak Rabin di Jakarta, juga muncul aksi demonstrasi
yang dilakukan oleh HIPMAZ (Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Anti-Zionis) di
Jakarta. Mensesneg Moerdiono akhirnya menjelaskan bahwa dalam menerima
kedatangan Rabin di Jakarta, Presiden Soeharto bukan bertindak sebagai
Presiden RI, melainkan sebagai Ketua Gerakan Non-Blok. Tentang kedatangan
dua petinggi Israel di Denpasar, Menko Polkam Soesilo Soedarman menjelaskan
bahwa mereka datang bukan atas undangan Indonesia, melainkan atas undangan
WTO.

Dari kalangan Islam, almarhum Lukman Harun termasuk yang sangat gigih dalam
menolak untuk membuka hubungan dengan Israel. Desakan lima senator Amerika
Serikat juga segera mendapat respons dari kalangan kaum Muslimin Indonesia.
Lukman Harun memprotes keras aksi lima senator Amerika Serikat. Sebelumnya,
dalam seminar di UII Yogyakarta, 13-18 Januari 1992, Lukman Harun sudah
mengatakan: ”Kalau ada orang Indonesia yang berusaha untuk mengakui Israel
serta untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel, maka kami segera
menjawab atau pun membantah usaha-usaha atau pun pernyataan yang akan
mengakui Israel tersebut.”

Pada tanggal 19 September 1993, KISDI mengeluarkan pernyataan: ”Pembukaan
hubungan diplomatik antara RI dengan Israel bertentangan dengan
prinsip-prinsip Gerakan Non Blok. Karena itu, membuka hubungan diplomatik
berarti mengakui eksistensi kolonialisme serta menyakiti perasaan umat Islam
sedunia, dan umat Islam Indonesia khususnya.

Sejauh ini Pemerintah Indonesia masih dapat bertahan dari desakan ”koalisi
pro-Zionis-Israel” tersebut. Pada 30 November 1987, Presiden Soeharto
menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah hanya dapat diselesaikan jika
rakyat Palestina mendapatkan kemerdekaan untuk mendirikan negara yang
berdaulat di tanah airnya yang dicaplok oleh Israel. Presiden menegaskan
bahwa Israel harus angkat kaki dari wilayah yang didudukinya dalam Perang
1967, termasuk Yerusalem.

Dalam Sidang KTT OKI ke-6 di Dakar, Senegal, tahun 1991, Presiden Soeharto
mengatakan: ”Perdamaian hanya dapat ditegakkan dengan memberikan hak
menentukan nasib sendiri kepada rakyat Palestina dan penarikan tanpa syarat
pasukan pendudukan Israel dari seluruh wilayah Arab yang diduduki, termasuk
Al Quds Al-Syarif, Dataran Tinggi Golan, dan Lebanon Selatan.”

Sikap Indonesia tersebut masih dipegang erat hingga kini. Dasarnya adalah
konstitusi negara RI, yang menegaskan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu
adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan. Bagi Indonesia, pendudukan Israel atas wilayah yang
didudukinya adalah suatu bentuk penjajahan, dan karena itu, menjalin
hubungan diplomatik dengan Israel dapat diartikan sebagai ”dukungan”
terhadap Sang Penjajah. Sejak awalnya, Israel didirikan dengan teror dan
pengusiran warga Palestina. Apalagi, Israel juga tidak pernah mau mentaati
Resolusi DK PBB No 242 dan 338 yang meminta agar Israel mundur dari wilayah
yang didudukinya dalam perang tahun 1967.

Sampai sekarang, negara Zionis Israel masih tetap konsisten dengan ”watak
abadinya”, yaitu ingkar janji (khianat). Sesuai dengan Perjanjian Oslo
tahun 1993, tanggal 4 Mei 1999 merupakan batas terakhir pemerintahan otonomi
Palestina. Tetapi, Arafat ditekan oleh Israel dan induk semangnya, Amerika
Serikat, agar tidak memproklamasikan negara Palestina. Pada tanggal 29 April
1999, Netanyahu dengan sombongnya mengatakan: ”Hari ini Arafat telah
mundur. Dia mundur karena dia tahu tak akan memberikan apa yang dimintanya.
Selama saya masih menjadi Perdana Menteri, dia tahu bahwa negara Palestina
tak akan terbentuk.”

Masalah Jerusalem Timur, yang dituntut oleh Arafat untuk menjadi ibukota
negara Palestina Merdeka, sampai sekarang masih menjadi masalah rumit. Tahun
1947, PBB telah memutuskan Jerusalem menjadi kota internasional di bawah
naungan PBB. Tetapi Israel tidak peduli. Pada tahun 1967, Israel sudah
mencaplok seluruh Jerusalem dan menjadikannya sebagai ibukota negara Israel.

Tanggal 5 Desember 1949, David Ben Gurion sudah menegaskan: ”Jerusalem
adalah jantung dari jantungnya Israel.” PBB menolak klaim Israel tersebut.
Tetapi, negara Zionis itu malah menantang, dan pada tanggal 11 Desember
1949, menyatakan bahwa Jerusalem telah menjadi ibukota Israel sejak hari
pertama berdirinya. Semula, negara-negara Barat sendiri tidak mau
memindahkan Kedubesnya ke Jerusalem. Tetapi, dengan modal kesabaran,
kelicikan, dan budaya suap khas Zionis Yahudi, lama-lama negara-negara Barat
takluk terhadap Israel. Tahun 1990, Senat dan Kongres AS mengeluarkan
resolusi bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel dan harus tetap menjadi
ibukota Israel.

Mencermati bernafsunya PDI Perjuangan dan Abdurrahman Wahid untuk membuka
hubungan diplomatik dengan Israel, kita patut bertanya, apakah sudah saatnya
Indonesia jatuh ke dalam pelukan Zionis? Apakah hal itu merupakan imbalan
yang harus dibayar oleh ”koalisi pro-Zionis-Israel” atas kemenangan Pemilu
1999 ini? Jika hal itu benar, alangkah malangnya bangsa ini.

Jangan hanya karena membela suara minoritas,suara mayoritas jadi terabaikan………….

“Leroban”, Sayur Khas Wong Using yang Terlupakan

Kalau orang Yogyakarta punya Sayur GUDEG, maka orang Banyuwangi (Baca: Using) punya sayur khas bernama LEROBAN. Meski rasanya hampir sama mendekati manis, namun bahan bakunya yang sangat beda. Gudeg hanya berbahan nangka muda, atau Tewel (Kata orang Using Tombol) dengan santan. Namun “Leroban” berbahan aneka sayur, atau disebut dalam Bahasa Using sebagai RAMONAN. Kuahnya menggunakan santan yang telah diambil minyaknya, dengan RAMONAN terdiri dari Kluwih, Lompong (Batang talas), Kacang Panjang, Ontong (Tongkol Pisang), serta penyedap daun “singkil”, kalau Lodeh maupun Gudeg bisanya menggunakan daun salam (Bhs Using godong manting). Bagi orang Banyuwangi yang mempunyai kebon kelapa, sayur Leroban ini tidak asing lagi. Meski tidak dimasak setiap saat, tetapi Lerebon tahan hingga beberapa hari ini (Orang Mataraman menyebut Blendrang). “Leroban” ini dibuat, saat ada orang yang membuat Minyak Kelentik (Minyak Goreng dari santan kelapa). Cairan santan yang dimasak dan diambil minyaknya, menurut orang Using disebut “Blundu”. Namun ampas yang didapat dari proses penyulingan minyak yang warnanya coklat, biasanya disebut “Blothong”. Sejauh ini, “Blundu” tidak diperjual-belikan. Namun akan diberikan secara cuma-cuma, bila ada yang mau. Biasanya, saat ada yang membuat minyak kelapa, atau “ngletik”. Para tetangga sudah inden “blundu” . Namun bila jumlahnya terbatas, maka mereka akan diberi sayur “Leroban” yang yang sudah jadi. Namun mereka biasanya, juga urun sebagian ramonan. Saya tidak tahu persis, apa saja bumbu sayur Leroban itu. Namun yang masih saya ingat, memasaknya di Pendil (Kendil- bhs Jawa). Biasanya pada siang hari, untuk santap sore dan untuk keesokan harinya, karena semakin lama akan semakin meresap. Bahkan hingga kuahnya habis, seperti Gudeg Yogyakarta. Namun saat masih baru, kuah sayur “leroban” ini cukup melimpah. Akibat ketergantungan dengan proses orang mebuat minyak kelapa, sehingga sayur “leroban” ini belum dikomersialkan. Apalagi sekarang sudah jarang lagi orang Banyuwangi membuat minyak kelapa sendiri, dipastikan orang yang memasak sayur “Leroban” pun semakin berkurang. Padahal apabila dimasak secara rutin dan dikomersialkan, saya yakin sayur “Leroban” akan menjadi sayur Khas Banyuwangi yang bisa bersandiong dengan sayutr Gudeg atau Lodeh…… Nah, lauk yang pas untuk “Leroban” bisa aneka ikan laut. Baik segar, pindang, ikan asin atau Gimbal (orang jawa menyebut peyek). Orang Using mengenal peyek berbahan kacang-kacangan, namun jika dari ikan laut atau udang, biasanya disebut Gimbal. Ada juga gimbal jagung….
Sayang saiki heng ono maning kang aran jangan lerobyan ikay,…..

sumber : http://hansen.laros.or.id

Hari Jadi Banyuwangi Digugat

Banyuwangi (Bali Post) –
Dialog budaya bertajuk kumpul gesah di Pelinggihan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya, Minggu (18/10) kemarin, berubah menjadi ajang gugatan terhadap penetapan hari jadi Banyuwangi. Hari jadi Banyuwangi 18 Desember 1771 yang diambil dari perang Puputan Bayu, oleh sebagian narasumber kumpul gesah dianggap tidak relevan dengan Kabupaten Banyuwangi. Mengingat, perang Puputan Bayu terjadi di masa pemerintahan Kadipaten Blambangan yang wilayahnya meliputi Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Jember dan Banyuwangi.
“Banyuwangi nggak bisa mengklaim 18 Desember 1771 sebagai hari jadinya, karena Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Jember juga berhak atas tanggal tersebut. Mereka masih berada di bawah kendali Kadipaten Blambangan,” papar H. Abdul Kadir Armaya, S.H., Ketua STSI Banyuwangi yang didaulat menjadi pembicara pertama dalam kumpul gesah tersebut.
Menurutnya, penetapan hari jadi Banyuwangi mestinya diambil dari peristiwa sejarah yang terkait dengan lahirnya Banyuwangi sebagai wilayah administratif. Misalnya, pengangkatan Mas Alit sebagai Bupati I Banyuwangi pada 7 Desember 1773, atau perpindahan pusat pemerintahan Banyuwangi dari Benculuk ke Banyuwangi pada 24 Oktober 1774. ”Jangan dilihat karena Mas Alit diangkat oleh Belanda, terus nggak diakui. Itu keliru bahkan bisa menghilangkan satu bukti sejarah yang terjadi di Banyuwangi,” tambahnya.
Narasumber lain Drs. Arief Soekowinoto, sejarawan asal Kabupaten Madiun justru menyebut tahun 1777 sebagai hari lahir Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi yang menjadi bagian Kadipaten Blambangan lahir secara administratif pada tahun 1777 setelah kekuasaan Majapahit tumbang. Ini juga ditandai dengan lepasnya Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Jember dari kekuasaan Majapahit. Keterangan mantan dosen IKIP Surabaya itu membuat hadirin tercengang. Mereka tidak menduga Arief Soekowinoto yang juga mertua Bupati Ir. H Samsul Hadi itu menawarkan tahun 1777 sebagai hari jadi Banyuwangi.
“Ini bukan buku sejarah tetapi peta sejarah yang menggambarkan kekuasaan Kerajaan Majapahit. Peta ini menulis rentetan sejarah dari 1773-1830. Di sini disebutkan, nama Banyuwangi ada pada tahun 1777. Sebelumnya masih berbentuk kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit. Peta ini bukan sanggahan, tetapi hanya masukan barangkali diterima masyarakat dan budayawan Banyuwangi,” jelasnya sambil memperlihatkan peta yang dimaksud.
Penjelasan Drs. Arief Soekowinoto tersebut direspons Bupati Ir. H. Samsul Hadi. Bupati yang bertindak sebagai pembicara kunci meminta budayawan dan masyarakat Banyuwangi mengkaji peta Drs. Arief Soekowinoto sebagai pembanding. Apabila dianggap benar, Bupati meminta tahun 1777 ditetapkan menjadi hari jadi Banyuwangi. ”Nggak apa-apa hari jadi Banyuwangi diubah, asal diawali dengan kajian. Kalau masyarakat Banyuwangi tetap menjadikan 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi, ya terserah. Yang penting sudah dikaji dan disepakati oleh budayawan, sejarawan dan masyarakat Banyuwangi,” tegasnya.
Sementara Ir. Azhar Prasetya, ketua panitia seminar ketika 18 Desember 1771 ditetapkan menjadi hari jadi Banyuwangi menjelaskan tanggal 18 Desember 1771 dimunculkan pertama kali oleh pengurus Dewan Harian Cabang (DHC) 1945 Banyuwangi. Mereka menilai, 18 Desember 1771 bernilai patriotik yang diyakini mampu memberi semangat membangun kepada pemerintah dan masyarakat Banyuwangi. ”Jadi yang kami ambil hanya nilai patriotismenya. Soal peristiwa itu terjadi di masa pemerintahan Majapahit memang benar. Tetapi coba lihat, kejadiannya kan di wilayah Kabupaten Banyuwangi tepatnya di Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Di sana (Desa Bayu-red) sudah didirikan monumen perang Puputan Bayu, persis di lokasi yang dulu digunakan perang oleh rakyat Blambangan,” bebernya.
Melihat kuatnya desakan dari budayawan untuk mengkaji ulang hari jadi Banyuwangi, dalam waktu dekat Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Banyuwangi akan menggelar sarasehan hari jadi Banyuwangi. Itu untuk mencari masukan sebelum mengkaji literatur dan referensi yang memuat sejarah Blambangan dan Majapahit. “Kami akan undang pakar sejarah dan budayawan yang pernah melakukan kajian di Banyuwangi untuk mengungkap hari jadi Banyuwangi yang benar-benar bernuansa Banyuwangi. Bukan nuansa Blambangan atau Majapahit,” kata Ketua STSI Banyuwangi H. Abdul Kadir Armaya, S.H. (gik)

Menjejaki Sejarah Keagungan Kerajaan Blambangan

TEMPO/Ika Ningtyas

TEMPO Interaktif, BANYUWANGI – JARUM jam di tanganku menunjukkan angka sembilan pagi. Tanah di Desa Macan Putih, Kecamatan Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, masih basah setelah diguyur hujan sejak subuh. Laju bus yang membawa rombonganku beranggotakan 40 orang berjalan lambat menyusuri jalanan desa yang sempit. Dari kaca jendela bus, saya bisa memandang hamparan sawah di kanan dan kiri jalan.

Saat itu, pertengahan Mei lalu, saya memulai perjalanan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan. Awal penjejakan memang dimulai dari Desa Macan Putih, sekitar 10 kilometer dari Kota Banyuwangi.

Saya merasa tertarik menapaki jejak kerajaan bercorak Hindu terakhir di tanah Jawa itu. Kerajaan yang berdiri sekitar abad XIII hingga abad XVIII itu hampir tidak pernah tercatat dalam buku sejarah nasional. Penelitian sejarah juga tergolong minim. Kerajaan Blambangan lebih populer diceritakan sebagai legenda dan mitos. Sebut saja tentang epos yang cukup terkenal: kisah Damarwulan versus Minakjingga.

Saya berkesempatan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan itu sebagai rangkaian acara Blambangan Heritage Trail yang diselenggarakan sebuah universitas swasta di Banyuwangi. Dosen Sejarah Universitas Gajah Mada Doktor Sri Margana didapuk menjadi pemateri dalam acara itu. Desertasi doktor berusia 40 tahun itu di Universitas Leiden, Belanda, berjudul ‘JAVA’S LAST FRONTIER: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c 1763 – 1813.’ dianggap semakin membuka sejarah Kerajaan Blambangan di era kolonial.

Para petani di Desa Macan Putih tampak sudah sibuk merawat tanaman padinya yang sebentar lagi memasuki masa panen. Berlomba dengan suara mesin bus, lamat-lamat saya mendengarkan bunyi-bunyian yang ditimbulkan dari kiling bambu. Ada sekitar lima kiling setinggi 10 meter ditanam di pinggiran sawah. Kiling itu terbuat dari seruas kayu yang dipasang di ujung bambu. Pada saat ditiup angin, kiling akan berputar dan menghasilkan bunyi, yang oleh petani di Banyuwangi dipercaya bisa mengusir burung.

Sebelum menjadi Desa Macan Putih, kawasan ini diberi nama hutan Sudiamara. Menurut Sri Margana, sekitar tahun 1665, Raja Blambangan ke VIII, yakni Tawang Alun II Danurea, menjadikan daerah yang subur ini sebagai ibu kota kerajaan.

Setelah Kerajaan Majapahit runtuh abad XV, Blambangan menjadi rebutan kerajaan-kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, sebagai bagian ekspansi kerajaan-kerajaan itu ke wilayah Jawa bagian timur. Kerajaan-kerajaan di Bali, seperti Gelgel dan Mengwi juga berkepentingan dengan Blambangan untuk menangkal masuknya Islam. Sehingga, ibu kota Blambangan yang semula di Panarukan (sekarang masuk Situbondo) dan bercorak maritim, semakin terdesak ke pedalaman.

Dari sembilan raja yang pernah berkuasa di Blambangan, Tawang Alun II (1665-1691) merupakan raja terbesar. Wilayah kekuasaannya menjangkau Jember, Lumajang, Situbondo dan Bali. Masyarakat Blambangan saat itu hidup damai dan makmur, setelah sekian lamanya terlibat dalam berbagai peperangan melawan ekspansi kerajaan-kerajaan dari barat dan timur.

Karakter multikultur Sang Raja, tutur Margana, menjadi rahasia kebesarannya. Meskipun Tawang Alun penganut Hindu yang taat, tapi dia tidak melarang komunitas Islam berkembang. “Yang ia tentang adalah dominansi asing,” ujarnya.

Namun, menurut Margana, hanya sedikit sumber sejarah yang menerangkan tentang masa Tawang Alun II ini akibat tidak ada kontak dengan bangsa asing. Riwayat Tawang Alun II banyak ditulis dalam arsip Belanda, justeru pada masa akhirnya tahtanya. Yakni ketika upacara ngaben jenasahnya yang digelar secara spektakuler. Alkisah, dalam upacara sebanyak 271 isteri dari 400 isteri Tawang Alun ikut membakar diri (sati).

Tempat kremasi jenasah Tawang Alun hingga saat ini masih bisa ditemukan. Terletak satu kilometer dari Balai Desa Macan Putih. Area seluas sekitar setengah hektare tersebut dikelilingi tembok putih dengan satu pintu pagar yang lebarnya hanya untuk dilewati satu orang. Di halaman, tumbuh pohon beringin berusia puluhan tahun.

Bangunan utama di lahan tersebut mirip pendopo berbentuk segi enam, berlantai keramik putih. Sebuah batu sebesar kepala manusia tertanam di tengah dengan dua payung di atasnya.

Pagar dan pendopo tersebut sebenarnya bukan bangunan asli. Masyarakat sekitarlah yang berinisiatif memugarnya. Menurut Nuruddin, si juru kunci, bangunan itu dipugar tahun 1968.

Sementara letak bangunan Kerajaan belum diketahui dengan pasti. Masyarakat yang mengatasnamakan Forum Penyelamat Situs Macan Putih pernah melakukan penggalian di 17 titik. Namun kegiatan itu tak sampai rampung, dan akhirnya ditimbun lagi.

Nuruddin mengkisahkan, warga setempat masih sering menemukan sisa-sisa batu bata yang diperkirakan bekas bangunan kerajaan, berukuran dua kali lebih besar dibanding ukuran batu bata saat ini.

Perjalanan dari Desa Macan Putih, berlanjut ke Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Sepanjang perjalanan kami disuguhi aroma durian. Ya, kecamatan yang berbatasan dengan Bondowoso saat itu sedang menikmati masa puncak panen durian.

Sebelum sampai di Desa Bayu, kami menjumpai sebuah monumen peringatan Puputan Bayu. Monumen yang dibangun tahun 2004 ini, sebagai simbol perang puputan masyarakat Blambangan yang dipimpin Rempeg Jagapati melawan VOC Belanda yang pada abad-18 juga berusaha menguasai Blambangan. Prajurit Blambangan memenangkan perang yang berlangsung 18 Desember 1771 itu, dengan ditandai terbunuhnya pimpinan pasukan VOC, Van Schaar. Tanggal tersebut kini dipakai sebagai Hari Jadi Banyuwangi.

Jagapati merupakan keturunan Tawang Alun yang lari dari Kerajaan Blambangan yang saat itu berpusat di Lateng (sekarang kecamatan Rogojampi) karena tidak puas terhadap VOC yang mengangkat raja Islam yang ternyata korup. Dia akhirnya menobatkan diri sebagai Susuhunan Jagapati di Rowo Bayu dengan menghimpun prajurit-prajurit yang kecewa. Di Rowo Bayu, Jagapati membangun tempat mirip kerajaan sehingga membuat VOC marah.

Rowo Bayu saat ini adalah sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas delapan hektare. Rawa yang airnya berwarna hijau ini merupakan pertemuan tiga mata air, yakni Sendang Kaputren, Sendang Wigangga, dan Sendang Kamulyan. Selain hutan pinus, seluas tiga hektare lainnya merupakan hutan dengan berbagai jenis tanaman dan semak belukar, khas hutan tropis yang dihuni berbagai satwa. Hutan ini merupakan bagian Kesatuan Pemangku Hutan Rogojampi, Banyuwangi Barat.

Perlawanan rakyat Blambangan itu merupakan puncak dalam memerangi berbagai dominansi asing. Namun setahun kemudian, tepatnya pada Oktober 1772, VOC membalas kekalahannya dengan mengirim 1.500 pasukan menumpas prajurit Blambangan. Lumbung-lumbung padi di Songgon, dibakar sehingga perlawanan rakyat Blambangan melemah akibat kelaparan.

Menurut Sri Margana, saat itu alam Rowo Bayu tak seindah sekarang, melainkan sangat menyeramkan. Ribuan prajurit Blambangan dibunuh, dan kepalanya digelantungkan di pohon-pohon. Bau anyir darah menyeruap kemana-mana. Rakyat Blambangan yang semula berjumlah 8.000-an jiwa hanya tersisa sekitar 2.000 ribuan jiwa akibat perang itu. “Inilah perang paling sadis di Indonesia,” ucap Margana.

Bekas kerajaan di Rowo Bayu belum ditemukan hingga kini dan membutuhkan penelitian arkeologis lebih lanjut. Situs yang bisa ditemui justeru situs Raja Tawang Alun, yakni Candi Puncak Agung Macan Putih dan Petilasan Pertapaan Tawang Alun.

Dua situs yang dibangun sekitar tahun 2006 lalu itu sebagai pertanda bahwa Tawang Alun pernah menjejakkan diri di Rowo Bayu, jauh sebelum periode Jagapati. Tawang Alun lebih dulu membangun kerajaannya di Rowo Bayu sebelum pindah ke Macan Putih karena diserang oleh adiknya sendiri, Mas Wila.

Selain sebagai tujuan wisata alam, Rowo Bayu sering dikunjungi umat Hindu di Banyuwangi maupun Bali yang ingin bertapa atau mandi membersihkan diri di mata air sekitar situs. Karena itu, menurut Mbah Saji, si juru kunci, kedua situs itu justru dibangun oleh salah seorang warga Hindu asal Bali yang sering mendatangi Rowo Bayu. “Tapi tempat ini tetap terbuka bagi siapa saja,” kisah Mbah Saji.

Hanya satu jam kami berada di Desa Bayu, Songgon. Makan siang kami nikmati di atas bus dengan buah rambutan sebagai pencuci mulut. Lagu-lagu tradisional berbahasa Using, Banyuwangi, terus menemani perjalanan kami menuju tempat ketiga: Kecamatan Muncar, yang kami tempuh dalam 30 menit.

Muncar adalah pusat kerajaan Blambangan yang dibangun VOC setelah kekalahan rakyat Blambangan dalam perang Puputan Bayu. Bisa disebut, di Muncar inilah periode Kerajaan Blambangan II yang bercorak Islam dimulai, dan merupakan ibu kota kerajaan terakhir sebelum akhirnya pindah ke Banyuwangi (saat ini menjadi letak Pendopo Kabupaten).

Kami lebih dulu mampir di Situs Umpak Songo, Desa Tembokrejo. Situs ini dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan. Di dalam areal seluas setengah hektare itu terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah. Si juru kunci, Soimin, menceritakan, batu-batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Karena itulah, situs ini dinamakan Umpak Songo yang artinya sembilan penyangga.

Sri Margana menuturkan, VOC memindahkan ibu kota kerajaan ke wilayah ini karena letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Muncar (dulu bernama Ulupampang). VOC berkepentingan mengawasi Selat Bali itu dari kerajaan-kerajaan di Bali (Gelgel dan Mengwi) yang berusaha merebut Blambangan. Apalagi, kerajaan-kerajaan di Bali itu kerap memberi bantuan kepada Blambangan saat peperangan melawan VOC maupun kerajaan-kerajaan Islam sehingga Blambangan sulit terkalahkan.

Langkah lain, kata Margana, VOC akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Mataram Islam untuk mengislamkan Blambangan sebagai upaya untuk memutus hubungan Blambangan dengan Bali. Islamisasi itu ditempuh dengan menempatkan orang-orang Mataram Islam untuk menjadi raja di Blambangan dengan harapan proses Islamisasi berlangsung cepat.

Situs lainnya yang bisa disaksikan di wilayan ini adalah Situs Sitihinggil yang berarti tanah yang tinggi. Hal ini merujuk pada bahasa Jawa. Siti yang artinya tanah, sedangkan hinggil berarti tinggi. Dulunya, tempat ini dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari kerajaan-kerajaan Bali yang akan melakukan penyerangan. Dari Situs Umpak Songo, kita menempuhnya dalam waktu 10 menit saja ke arah timur.

Ya benar saja, ketika saya naik ke puncak Sitihinggil, pemandangan lautan lepas dengan kapal-kapal nelayan terlihat cukup jelas. Meskipun sedikit terhalangi oleh bangunan rumah susun yang padat di sekitar situs.

Dari Sitihinggil, kami menuju Pelabuhan Muncar. Nampak ratusan kapal yang didominasi warna hijau, kuning dan merah, tengah bersandar di kolam labuh ketika kami tiba sekitar jam 15.00 WIB. Nelayan-nelayan ada yang baru turun dari kapal, mengangkut berton-ton ikan hasil tangkapan.

Pelabuhan inilah, yang menjadi jantung pertahanan sekaligus pusat militer VOC pada abad XVII di Blambangan. VOC mengangkat warga Tionghoa menjadi kepala pelabuhan, yang dulunya bernama Sahbandar Ship. Pelabuhan ini cukup ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari Cina, Arab, dan beberapa wilayah Nusantara. Sehingga, di sekitar pelabuhan terbentuk perkampungan-perkampungan berbagai etnis itu.

Sampai sekarang, Pelabuhan Muncar tetap padat karena menjadi tempat bergantung 13 ribu nelayan mencari ikan dengan 1.700-an unit kapal. Hasil tangkapan nelayan dalam setahun rata-rata mencapai 30 ribu ton ikan yang menjadikan Muncar sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia.

Jam menunjuk pukul 16.00, menjadikan kami tak bisa berlama-lama menikmati kesibukan nelayan. Apalagi, tiba-tiba bulir air jatuh dari langit. Kami bergegas kembali ke dalam bus.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kecamatan Tegaldlimo, dengan waktu tempuh sekitar dua jam.

Melewati hutan seluas 43.420 hektare saat tidak ada sinar matahari, membuat bulu roma berdiri. Gelap. Kanan-kiri jalan pepohonan berdiri rapat. Suara satwa malam seolah berlomba dengan suara mesin bus. Kami harus melewati jalan sejauh 15 kilometer untuk memasuki kawasan Taman Nasional. Kondisi jalan rusak parah, penuh lubang. Perjalanan serasa di atas kapal laut, diayun gelombang ke kanan dan ke kiri.

Setelah melewati perjalanan yang disertai kecemasan, kami tiba di pesanggrahan pantai Trianggulasi yang menjadi tempat kami bermalam. Kami akhirnya bisa bernapas lega. Tidur menjadi agenda yang sangat dinantikan, ditemani suara deburan ombak laut selatan.

Agenda sesungguhnya baru dimulai keesokan harinya. Ketika, sinar matahari mulai menimpa bumi, pemandangan TNAP terlihat amat elok. Pepohonan menjulang dengan daun-daunnya yang basah oleh embun. Suara kicauan burung bersahutan. Ratusan kera berekor panjang, tiba-tiba memenuhi halaman pesanggrahan kami, dan siap mencuri makanan yang diacuhkan pemiliknya.

Alas purwo dianggap sebagai hutan tertua di Jawa. Ada 500-an jenis tanaman yang tumbuh di hutan ini yang menjadi habitat bagi berbagai satwa liar. Menurut Sri Margana, disinilah, dulunya, orang-orang Majapahit yang menjadi pemeluk Hindu yang taat melarikan diri karena menolak pengislaman dari utusan Kerajaan Mataram.

Sebagai peninggalannya, kami menjumpai dua pura yang berdiri di tengah hutan, sekitar satu kilometer dari pesanggrahan pantai Trianggulasi, yakni Pura Kawitan dan Pura Giri Selaka.

Menurut Mangku Adi, seorang pemangku, Situs Kawitan ditemukan secara tak sengaja oleh penduduk sekitar tahun 1965 dan mulai dibuka untuk kegiatan keagamaan pada tahun 1968. Adapun Pura Giri Selaka, yang bersebelahan dengan Pura Kawitan, dibangun tahun 1996.

Pura Giri, katanya, dibangun karena umat yang melakukan ritual semakin banyak. Upacara yang rutin dilakukan adalah upacara Pager Wesi, yang digelar setiap 120 hari sekali. Upacara ini memuji Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta mensyukuri ilmu pengetahuan yang telah diberikan oleh para dewa.

Latar sejarah inilah, yang menjadikan Alas Purwo begitu dikeramatkan. Mereka yang berkunjung di sini tak sekedar menikmati keindahan alamnya yang masih alami. Sebagian besar, mereka datang untuk melakukan wisata spritual. Bukan hanya umat Hindu, melainkan umat agama lain pun berdatangan. Mereka melakukan pemujaan, berdoa, dan bersemedi. Selain dua pura itu, aktivitas spiritual banyak dilakukan di goa-goa, yang jumlahnya sekitar 40 buah. Goa Istana, Goa Basori, dan Goa Mayangkara, adalah goa-goa yang paling banyak dikunjungi.

Ketika bus mulai membawaku pulang, saya merasa bersyukur. Meski perhatiaan pemerintah masih minim terhadap sejarah Kerajaan Blambangan, namun riwayatnya tetap hidup di masyarakat. Peninggalan kerajaan menjadi tempat yang dikeramatkan, sebagai cara masyarakat menghormati leluhurnya. IKA NINGTYAS.

http://www.tempointeraktif.com/hg/surabaya/2010/05/31/brk,20100531-251395,id.html

Kamus boso osing

Oleh :Rofiklaros/ki kuda kedhapan

A

Apalagi : paran maning
Apalagi kamu: Nyalingo hiro
Acap kali : paceke,angger
Alasan : Anggul-anggul
Ada : ono,onok

Aduk : guthek
Ada apa : ono paran
Adu : bombong
Agar supaya : myakne, Myane
Air : byanyu
Air meluap( deras ): Belabur
Akan : Nak
Aku : Isun, sun, hun
Akrab/kenal : Wawuh
Akar : Odod
Ajaran : Wuruk
Ambil : ampet, juwut
Ampas kopi : Gedhoh
Amuk : Imuk
Angkat : Junjung
Anak yang masih kecil/balita : Teek
Anak/pemuda : lare
Anak laki-laki : thulik, lik
Anak perempuan : jebeng, beng
Anak yg blm tahu apa2/hijau : lare buru sore
Ancam : ancas
Ancur : Riyukk
Anda : riko
Anda( yg di hormati) :ndiko
Andai : mungguo,Anggone
Alot : Waled
Apa : paran

B
Bambu : Jajang
Basah : kepos
Babi hutan : Celeng
Basah kuyup : Kelumus
Bablas : larad
Balapan : Gyalapan
Bakar-bakaran : Opor-oporan
Bagusan : anguryan
Bagusan : Banguryan
Bagaimana : kelendhi (kelendhay jika dibelakang kalimat)
Bantah : talar, nalar
Bapak : bapak (byapak)
Baru tumbuh : Merujuk

bandel (tidak bisa diberi nasihat) : cengkal

barusan : buru
Bau badan yg tak sedap : Beledhus

Bawah pintu : jerajabyan
Berenang : Ngeloyong
Bersinar : Mencorot,mencirat
Berlari : Melayu/melayau

Bentak : gemprak
Bertunas : Meltik
Ber(berapa): Jak (berapa orang anaknya=Jak piro larenek)
Bertunas : Merujuk
Berdesak-desakan : Wel- welan
Besar tinggi :Junggrang,jungglang
Biar : makne,myane
Biarkan : genengno
Bermain : memengan .
Berputar kencang sekali : Lenged
Berputar2 lepas kendali : Ngontreng
Bening : Kening
Bibi : Bik

Belok : beluk
Bedug : Jedhor
Begini : gedigi (gedigai)
Begitu : gedigu (gedigau)
Berani sekali : angas

Beramai- ramai = Ompyok-ompyokan

Berangkat  :  Mangkat
Berat :abot
Berkilauan/bercahaya : MUbyar
Berika,taruhkan,tempelkan : ndonono
Berani : wanen

Berserak : Mbelakrak
Besar : Gedhig
Betul-betul : Seru
Beranian : wanenan
Bandel : Mbenu/mbenau
Bandel /ngeyel : Cengkal
Belepotan dimulutnya : gujreh.
Berhenti : ngempos
Berhubung : sarehne
Betah : pernah
Bekas : Pecak
Betis : Kempol

Bersihkan BAB dg air = cewok
Bikin betah : mernahi
Bicara/marah : celathu (untuk perempuan)
Blambangan : blambyangan
Bohong : gubab (gubyab)
Bolos : lencur, melencur
Bubungan : wuwunyan
Buka sedikit : mingis
Buka lebar-lebar : Jemblang
Bukalah; Jemblangen (bukalah pintunya = Jemblangen lawangek)
Bulan : ulan (baca ulyan)
Bunga : kembang (kembyang)
Bodoh : bongol/goblog
Bodoh sekali : lengek
Bodoh sekali : belog
Bodoh dan pelupa : Dongong
Bukakan : Engekno
Buka : Bliyak
Buang : Buyang
Bungkus nasi/kue yg menggunakan daun pisang ; Ethuk
Bukit : Puthuk
Buah kelapa yg masih sangat muda : Cengkir
Buru-buru/tergopoh-gopoh : Gopoh
Busyett : Cerret
Busyeet : Nagud ( Busyet dah = Nagud oro… )
Busyet : Byalakk ( Busyet dah = Byalak aw……. }
Busyet : borrok ( busyet dah = Borrok oro weh….)
Busyet : Celleng oro ( Kasar )

C

Cari : golek golet.
Carikan : golekeno, golekaken
Cepat : gancang (gyancang)
Ceria : gromyoh
Ceroboh : ampah
Cekung/menjorok kedalam : DEkok
Cekung kebawah/berubah bentuk : Jelekong
Celingukan : Perdang-perding
Cemburu : Cupar
Cigukan : Sigunen
Cium : ambung
Mencium: Ngambung
Cincin : gelang alit
Cinta : demen
Ciduk sayur : Erus
Coba : abero
Coba : Aruo
Coba : Acake
Contoh : Tulodho
Condong : Doyong
Cuma : mung

D
Dari pada : ketimbyang, Timbyangeno

Daki : Kathak
Dibiarkan : digenengaken

Debu : Lebu
Dekat : parek
Di bohongi : Di apeni
Depak,sepak,terjang : Ndumpak,dhupak
Dengan : ambi
Dengan : Kambi
Dengan segala upaya : takal-takalan,petakalan

debu= lebu
Di : ring, nong
Di marahi : Di uwel
Diapakan : Dikapak
Dibawa : digowo
Dibawa dan terseret : Diterak
Diseret : diered
Di bawah tempat tidur : Longan
Dipotong-potong menggunakan tangan/tanpa meggunakan alat : Potheng-potheng
Dimasukkan ke air : Nclob
Dia : yane
Disimpan : diparoti
Dulu(waktu) : bengen
Dulu sekali : Wingek
Duluan : sulung ( baca solong)

Dower/menganga: Njebebeh

E
Entah : embuh
Enakan : alung
Encer : Ancang
Enggan : sungkan
Empedu : Amperu (MUtah amperu; mutah sampai terasa di empedu)
Ekor terpotong : Bukung

F
Fasih /jelas : Kecoh

G

Galah panjang : Ganjur
Galah : Sengget
Ganti : Genten
Gantian : Gentenan
Gayamu( Sifat/tingkah) : Abete {kasar)
Garis : Garit
Gurau/merayu : gredoan
Gerah/berkeringt : ongkeb
Gempar : Ontrag
Gemericik : Gemerojhog
Gelap : Jumbleng
Gaya bicara yang ekspresif, dinamis, dan dramatis : Aclak
Gigih : tatak
Giat : Patheng
Guru : gurau
Gurau(canca) : muyab
Gemetar : Nderini
Gosong : Gempung
Gondrong dan kumal : Jibros

H

habis = enteng

Hambar : Campak

Hancur : Ndedek
Hadang : Bebeng
Hati2/sabar : Serantan
Hancur : Empur
Hancur : Lutrek

hantu: cubok
Hanya : Mung
Hajar : Sait
Hajar beramai-ramai : Krutugh
Hangus : Gempung
Heboh : Ruces
Hadapi : depani
Hitam : cemeng
Hitung : Reko
Hitam sekali : nggelinseng
Hilang sedikit : Gothang
Hilang/ pergi : Mamut

I

Ingkar : nyulayani
Ingkar : Suloyo
Ingat : enget
Ibu : mak
Istri : rabi
Impas : pakpok
Injak : idek
Injak dg keras (sengaja) : Gejroh

Ikat : Puket
Ikat : Cancang

ikat (dibuat permainan) :ketheni
Intip : inceng
Ingin Lagi : Kuryangen
Itulah makanya: Prandane

J

Jadi : poco/k
Jalan : lurung
Jalan-jalan keluar rumah : nggeledrek
Jari : driji
Jatuh : temebluk, tibok
Jatuh dari atas : Temebluk, cicir
Jatuh karena salah jalan : Keseliring
Jatuh tersandung/terpelosok: Kejiglang
Juga : Ugo, pisan
Jalan/lari kehilangan kendali dari ketinggian ; Larad
Jatuh tertelungkup : tibo kesereb
Jera : Kawus
Jemput : Papag
Jangankan : ojo papak
Jalan jalan tak menentu : ngelepek
Jalan : lurung

Jalan pelan(u/suara); gemerecek
Berjalan (berirama) : Tayongan
Jotos : Jorong
Jotos : Sontok
Jongkok ; ngogrok
Jumpa : carok

K

Kampak : Perkul
Kamu : Siro
Kain lap : Kusut
Kaku : Kekok
Kepeleset ; geberejed
Kalah sebelum bertanding : Nggeledeg
Kalah sebelum bertanding : Ngelencur
Kacamata : tasemak
Kakak laki2 : kang
Kakak perempuan : Mbok
Kakak yang masih kecil : kang ilik
Karena : Kerono
Karena : Polae
Kagum : kajon
Kalau : kadhung,kocap
Kalah menang urusan belakang : Kalah cacak menang cacak
Kalah menang urusan belakang :Kalah cacak menang apruo
Kakak perempuan : mbok
Kakek : kakik
Kalau : kadung
Kalau : Kadhak,dhak
Kamu : siro, iro, hiro
Kasih, sayang : welas
Kira : Tanggo ( hun tanggo riko mau nyang pasar = sy kira kamu kepasar)
Kemarin : Wingyenanek

kemarin: Sabhane
Kenapa : apuo
Keinginan yg menggebu : kayalen
Kena : Keneng
Ketakutan sekali(terkejut) : Gegeten
Ketagihan : Kuryangen
Kecil/ringan : Rencek

Kecil sekali : cilil
Kecuali : kejobo
Kepala yg berdarah : Bucur
Kebanyakan air : Kimbyang-kimbyang
Kebiasaan/biasa : Tumyan
Kenyang/puas sekali : Mongod-mongod
Kenyang ,sering,puas : Tuwuk
Kental : Kenthel
Keras kepala : wangkot
Kesiangan/kurang tidur : karipan
Keruh : getuh
Ketemu : kecaruk
Kena : Keneng
Keterlaluan : keseron-seron
Kebanyakan : Kejolok
Kebagian : Umyan(tdk kebagian= heng Umyan)
Ketombe : reki

Kekar : dhempak
Keras/alot : Atos
Kipas : ilir
Kipas-kipas : ilir-ilir

Kramas : wowong
Konyol : Kenyab

Korek api : coret
Kothor sekali : Belebegh

KOyak : sbrak

koyak: bongak

koyak  kecil : bered
Kurus : gering
Kurus : Kenci/ai
Kuat : Tatag
Kuat,gagah,berotot : Pethekel
Kupas : Kencet

L

Larang : Penging

lancar : Gyangsar

Lantang(banyak bicara) : Cabyak

lancar: kemelser
Larang /marah: Uwel
Dilarang dgn marah2 : Di uwel
Letoy ,lemas : Lesuh
Lebih baik : anguryan,angur Byangur
Lagi : maning
Lama : lawas
Lama/usang : Luwas
Laris : Gyaros
Lampu : dyamar
Lampu lentera : dyamar telempek
Lelaki belum menikah : lancing
Lepas : coplok
Lempar : benthuk

lempar : uncal

Lemak(gajih) : Lemon

terlempar beberapa kali : muncal- muncal
Lempar dengan sengaja : Clorong

Lemas : Lesuh
Dilemparkan: Diclorongaken
dilempar-lemparkan : Diclorong-clorongaken
Lengket : Jangged

Lebat : sekali miyut
Lari ketakutan = ngepret
Luas : wero/ Werok
Lubang kecil : Jelowokan
Lubang besar : Juglangan
Lunak sekali : Genjur/Nyunyur
Luka /infeksi : Borok
Lumpur : Belethok
Licin : Lunyau
Lidi : Semat
Lewat : liwyat
Lihatlah : delengen tah
Lompat : mlencung,Temencog
Lucu : lucau

M

Main : mengan

dipermainkan(spt barang mainan): diewel-ewel

Mampus : lodhong
Mampus kau : Lodhong iro.
masak ?(kaget) :Endane
Masak iya?( Kaget ): Using tah

Mangkok : jembung

Masak(buah): mateng

masak sekali/lunak(buah): nyunyur

masak sebelum waktunya ; genjur
Mantap sekali : Kesemek-kesemek
Mantra : sowok {ada yang putih dan hitam)
mantra untuk pertandingan : Rapuh
Mantra untk pengobatan : Sowok
Mantra untuk kejahatan : Sowok,tenung,sihir
Mantra untuk pengasihan : Santet
Mantra yg ditempatkan disuatu tempat : Pesengan(mantra dibungkus)
Marah/murka : Moring
Matikan(tiup) : Kebes
Makan : madhyang
Masak? : endyane?
Masak ? : Using tah?
Masih : magih
Mata : moto
Mendidih : gemulyak
Mempermainkan yang lebih tua : Kenyab
Meskipun : masio.ambekno
Meniti jalan agar tdk jatuh(sambil pegangan) : NGampar
Memang : Mulok
Mendingan : Aluk
Memang : Setalangan ( memang ngapain kamu disitu?=setalangan ono paran siro ring konok?)
Memasukkan sesuatu kelobang : Lodhok
Memekakkan telinga : Gumbleng
Menggairahkan : kenyes-kenyes
Menghiraukan /mengindahkan : melengon
Menjemur badan biar kering : Caring
Merunduk : Mungkruk
Mengasah pisau : Ongkal
Tidak menghiraukan : heng melengon.
Menyamakan/tidak membeda-bedakan (terkesan tidak sopan) : Bingkak
Menyebabkan mabok : Muronai
Mengapa : apuwo

Meja : mijo
Melingkar : melekintheng
Menggelikan/memuakkan : Ndol
Menginjak : Mancad
Melepaskan serangan tangan : Sait
Meletus : meledos
Merajuk : Ngambul
Merah muda : Kapuronto
Suka merajuk : Ngambulan
Merona : Mberanang
Menyusut : Kimples
Mempan : tedyas

Memasukkan tangan : Ludhek
Menyelesaikan : Mungkasai
Menyembul : Mungub
Memanggal : Puges,pugel
Membuka yang ditunggu : Ludhang
Membersihkan /memukul ke badan dg alat yg tdk membahayakan : Gebros
Menyebrang : Sabrang
Mati(kasar) : Bongko
Malas makan karena aromanya : Uneg-unegen
Monyet : bojog
Mulut yang ditampar : tempong
Musang : luwyak
Marah gak menentu : emok
Marah : Moreng/moring
Minyak tanah : Lengo gas
Mutar-mutar tersesat: Unyeng-unyengan
Muncrat : Meloncrot
Muntah : Melekok
Monyet : Bojog

N

Nampak : Katon
Nenek : Embyah
Nakal : Tambeng
Nakal : Mbenu/mbenau
Nanti malah : Gulakane
Nanti malah : Tuwyas
Nama : aran
Nikmat : gurih
Nikmat sekali : Enjyong
Nikmat sekali : Sokheh
Nyaman : mernahi
Nafsu sekali,semangat : Gyayab
Nutupi : Ningguli
Ketutupan : Ketinggulyan

O

Oles : boreh
Orang : lare, wong
Orang Osing : wong osing.
Orangtua : wong tuwyek
Ogah : emong/mong

P

Pacar : Sir-siran
Pacaran : Sir-siran
Pacaran : Byakalan
Paha : Pokang
Pasrah : Lilo
Pasrahkan : Lilakeno
Padahal : mongko
Panggung : Tratag
Papan :Belabag
Peras : Wejek
Paha ; Kempol
Padam : kebes
Padahal : Saliho
Paling-paling /mungkin : nai, nawi (nawai)
Paling : seru
Panen padi : Ngyampung
Panggilan pasaran ,Dab(jogja) , Rek (surabaya) : Laré ,Ndoh, pek, thulin (Osing)
Paman ; Man
Patah : Kuthung
Pastinya : Ukuryane
Penakut : Getap
Peyot : Desok
Peyot kebawah : Jelekong

Pecah : bencah

pecah berkepingpkeping : sewelan
Penampilan yg kumuh : Dywhoss
Penuh : Bhekk
Pikiran jadi plong : penyar
Pisau : Lading
Parang : Boding
Pisang selai : Sale, gedhang goreng sabun
Pisah/pecah : Pethal
Peliharaan : rumyatan
Percaya diri : juwyari
Plan-pelan : Edheng-edheng
Penuh : mamblegk

Penutup masakan(terbuat dari tanah ) : kekeb
Perhatian : gyati
Perhatikan : ibuka’en [Ibukeno solong lare ikau = Perhatikan dulu anak itu)
Pelit : melid,Medit
Pelit sekali : Kumed
Pegangan senjata : Pesantikan
Pertama : kawitan
Pertamanya : Maunane
Penakut : Kacangan
penakut : Getap
Pegang : Candhak

pegang -pegang = uchek-uchek
PSK : senuk
Perangkap duri besar : Sunggrak.( benda2 runcing/duri yang mematikan pada perang bayu. banyak dipasang jebakan-jebakan yang dinamakan sungga (parit yang di dalamnya dipenuhi sunggrak)
Pukul pakai barang yg tdk membahayakan : gebros
Pukul pakai kayu : Sampat (biasanya utk anak2 kecil)
Pukul pakai kayu daun kelapa : Mbongkok

pukulan telak : Jhemethot

terkena telak(karena jatuh,pukulan) : jhemekok
Putus : Tugel, Pedhot
Putus : Suwing

putar :  unyeng

putar kencang sekali  : lenged

putar di tempat(orang): ipek-ipek
Putus /Selesai : Campleng
Puas / berulang kali : Towok
Punggung : Boyokk
Pusing : munyer

R
Ranting bambu : Sangkrah
Ragu-ragu: Mang-mangen
Ramai /ricuh : Royak
Ribut : Obyogh
Rakus : kerahang
Rakus sekali : byangsong,kerahang

Rata: rotok

tidak rata : mrongkol
Retak : Bengkah,bengkrah
Ribut : Gomprang
Robek : Suwek,Suwak
Rombak : Bugreh
Rusak(wajah) : Njepopor
Rusak sampai berair : Berrek
Rusak : Lutrek, Lonyod
Rusak : Rencem
Rusak parah : Lekrekan
Rusak : Jebod
Rusak : galir
Rumah : umyah
Ruang tamu : Byalek
Ruang dapur : Pawon

S

Sabuk : Epek
Saja : byaen
Saja : Beloko, Belokon( digu beloko moring yahh = begitu saja marah }
Saking : serang
Salah jalan : Kebabyas
Sampai : taker

Sampai segitunya ; Mesasat

sampai tujuan : gadug

Sampah : deketan

sampah berserakan ; deket

Santet : pengasihan(magis merah/kuning)

tenung/sihir : magis hitam(versi osing)

sowok : magis putih
Sangat : kari (ditempatkan sebelum kata sifat), temenan

sanggup = kaup
Sawi : sawen
Saya : ingsun,isun, hun
Sayup-sayup : lamat-lamat
Sayap : Serwiwi/ai
Sayang : eman
Sayang (cinta) : welas
Sayur : jangan
Sayur nangka : jangan tombol
Sayur dari belondo :Jangan lerobyan {belondo : sisa pengolahan minyak kelentik/kelapa)

seregh =kunci
slorogyan  : laci
sleregyan : slide
sarang : mencegah hujan
suggyal : bertingkah liar

Sedih sekali : keronto-ronto

Sebaya : Sakpantaran
Sebenarnya : Berane
Seret : Ered
Sering/ Kebiasaan : Tumyan
Sembuh : aron
Semerbak : semembrung
Sendiri : dewek
Sedang/ pas lagi : Byangete
Sering : kerep,angger
Sering : Pati
Sendirian : dewekan
Senggama : Ancik
Bersenggama : Ancik-ancikan,ondo-ondoan
Senyum : unyik,monyik
Sembunyi : sengidyan
Sembunyikan : Sengidyakaken
Semoga : Mugi
Sejak/semenjak : Sakat
Sesuai : Bera-i
Seperti ini : gedigEnan
Seperti itu : GedigOnan
Setengah gila : serepet
Siapa : sopo, hopo
Siap : Cawis
Sikap/tingkah : abed
Sikapmu : Abed iro (kasar)
Silau : Kedhapen

silau : ulap
Sisir rambut : Garu/au
sedang menyisir rambut : Garuan
Sirsak : nongko londo
Sudah : wis
Suka taruh barang sembarangan : tembyeler
Sobek menganga : Bongak
Sobek jadi dua : Sibrak
Sompel : guwang
Sombong : Gathak

sombong : anggak
Suara jatuh dengan tiba2 : Gemerubyas
Suara mengagetkan yg tiba2 : Gemerosak
Suka memberi : Awean

supel : gromyoh

T

Tajam : Landhep
Tangga : Ondok

Tata : tap
Tetapi : taping
Tadi : mauko
Tadi : muko
Tamak / rakus : kerahang
Tampar : tempeleng,tabyas
Tampar : tapeng
Tampar : tabyas
Tampar : Tempeleng,Tapuk
Tangan kosong : enthal-enthul
Tangkai : janjang

Tanda jadi : cenceng
Tarik : anyeng
Tarik dengan paksa : Ampred
Tarik-tarikan : anyeng-anyengan

Taruh = ando
Tega : mentolo
Teriak : Berak
Teriak : kauk-kauk
Ternyata : temakno.
Ternyata : Ketang
Terang sekali : Byarak

Terima kasih : terimo

terima kasih nak: trimo ya lik
Tendang : Tanduk
Telak : Jemethot
Tumbang : gemerubyas
Tetapi : taping

tetapi : naming
Tertipu malu : Kepilis
Teriak-teriak : Berak-berak
Tempat duduk panjang/lebar ; Peloncok
Tempat duduk pendek ditanah : Jhodhogh
Terbelalak : moto walangen
Terbirit-birit : ngidit, ngepret
Terkam : Terbas
Tergila-gila : keloyong-loyong
Terjun : temencog
Ternyata : temakno
Ternyata9seumpama) : Cumpune
Ternyata(masih) : Mandaneo
Teguh pendirian tanpa kompromi : Ladhak
Terpeleset : kebelandur
Terperosok : kejelowok

terperosok: kejerongkong
Tergores : bered
Terlempar : Melethuk
Terlalu : Seru
Tergores : Bebres
Teluh : Sowok,sihir
Terlalu kering : merkingking
Terlalu : Ambek-ambekaneo
Tidak menghiraukan : heng melengon.Tersebar : semebyar
Tempat cuci tangan : Kobokan
Terserah : paran jare
Terbahak-bahak : Cekakakan
Tersenyum : monyik
Terlanjur : WEs kadhung

Telanjang : mbyangkang
Telanjang bulat : Mbyangkang kelenthang
Tempat u/ menggiling bumbu yang terbuat dari batu : Jebeg
( Alat untuk menggiling : Canthuk
Tempat sampah umum : Lebuh
Tempat duduk pendek/dingklik : Jodog
Tersangkut : Kesanggleg
Nyangkut: Nyanggleg
Tempat minuman/gelas yg terbuat dari besi/almunium yg ukurannya lebih besar dari gelas biasanya : Bintrong
Tersiksa : kapiliro

tersiksa : keronto-ronto
Terkejut dan salah tingkah : Protongan
Tersedak : Kebeselek
Teringat/termenung : Kantru-kantru
Tertawa : gemuyu
Tertawa terpingkal-pingkal : kekel
Terengah-engah : Ngonsrong
Teriak-teriak : Berak-berak
Terseret : Keli/kelai
Tertipu malu : kepeles
Tiba-tiba : Moro-moro
Tidak sabar(senang): Omes-omes.
Tidak rata : Lebyak medekul
Tidak : osing,oseng,sing, heng,
Tidak tahu apa-apa : Bengok
Tidak apa-apa: sing paran-paran
Tidak apa-apa : Madak paran-paran
Tidak bagus(tdk semestinya) : Heng endo-endo
Tidak bisa diam :ngewod
Tidak ada : nono, sing ono
Tidak suka,muak: Reged
Tidak mau : Emong.
Tidak mau dikasi tahu : Cengkal
Tidak Khas lagi : Camah
Tidak kuat : rempi
Tinggal : Kari
Tikam : Tujes
Tidak percaya :nyaléng,nyalingo,salingo( Tangan isun kang cilik byain heng melebau nyaling tangan iro hang gedigh)
Tongkol Pisang : Ontong
Tiduran : nggelinting, gelintingan,leyek-leyek
Tuli sesaat :gumbleng/ kumpleng
Tua sekali : Nekek

Tutup(u/pintuatau jendela):  Neb
Tumpul : Papak
Tiup : Semprong
Tumpul : Geblugh
Tumbang : gemerubyas

U

Uang : Picis
Uang : Yotro
Ubi kayu : Sawi/ai
Ubi jalar : Sabrang
Untuk : kanggo

Usir(binanang) : Getak
Usang : Bluwek
Usah : Kathik (Heng kathikan weh = gak usah dah )
Usang : Luwas
Umpama : Cumpune

umpama = kadung

dak/ kadak : UMpama
Ugal-ugalan : Mursal
Ular : Ulogk
Urap : Kerawu/au
Umpat/misuh : Celleng

W

Wanita : wadon
Wah! : “byek!(ungkapan)
Wah : “Bebyek(ungkapan)
Wah : “Boros”(ungkapan)
Waktu : Wayah
Wajah kotor(karena baru bangun tidur ) : Korep
Wajar : Mupakat (Tdk wajar : heng mupakat}
Walau : Ambekno
Walau : Masio
Wajah : Praenan
Waspada : Amening

Y

Yang : kang, hang
Ya : yok,Iyok

Berlanjut dan terus revisi…………..

Dialek atau Bahasa osing ?

Dari segi sejarah atau intern dari wong using sendiri baik lapisan bawah dan  atas ,semua sepakat bahwa bahasa osing adalah suatu bahasa tersendiri yang berbeda dengan bahasa yang lainnya walaupun ada kemiripan2 tertentu.. penulis sendiri mengalami /melihat mengapa bahasa osing adalah bahasa tersendiri walaupun kalu dirunut dari atas masih mempunyai kesamaan-kesamaan dengan bahasa jawa kuno. salah satu dasar perbedaan bhs osing dengan bhs jawa adalah ketidakpahaman masyarakat using secara umum berbicara menggunakan bahasa jawa dari turun temurun.ini bisa di lihat dari bagaimana sebuah percakapan sulit  nyambung bila menggunakan bahsa yang berlainan.ini bisa sy lihat sendiri pada era tahun tahun 80 an kebawah……seiring dengan waktu dan kemajuan bukan tidak mungkin bahasa osing bisa berubah menjadi sebuah dialek
sebagian pakar linguistik memaksakan bahwa bahasa osing adalah sebuah dialek..saya terus terang kurang memahami penilaian sepihak ileh linguis.kenapa sebuah bahasa kelompok tertentu yang jelas mempunyai sendiri budaya,kebiasaan, sosial,karakter turun temurun bisa di kategorikan sebagai hanya sebuah dialek???apanya yang salah?mungkin bisa juga dipertanyakan” apakah bahasa Sansekerta bisa juga dikatakan sebuah dialek jawa? juga apakah bahasa minang yang nota bene adalah bahasa indonesia yang hanya banyak diberikan akhiran2 tertentu( kambing= Kambiang) juga dikatakan dialek melayu???dan yg lainnya spt jg bahasa jambi,palembang. untuk menentukan masyarakat bahasa juga tidak bisa hanya dengan dasar linguistik tetapi lebih di tentukan/pendekatan  faktor sejarah,politik dan identifikasi kelompok{Ibrahim,1994).disini seyogyanya melihat/memahami sesuatu tidak hanya dengan disiplin ilmu yang hanya berdasar teori-teori tertentu,tetapi yang lebih penting bagaimana ilmu bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.
menurut Safriandi, S.Pd. ada satutu hal yang menjadi permasalahandialek Permasalahan yang dimaksud adalah dialek memiliki ciri-ciri yaitu adanya rasa saling mengerti di antara penutur. Benarkah suatu ciri-ciri dialek seperti ini? Ketika di Sinabang, penulis berkomunikasi dengan masyarakat setempat dengan menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan masyarakat tersebut berbicara dengan menggunakan bahasa Jamèe. Meskipun berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda, kami tetap dapat saling memahami. Kendala yang saya alami hanya tidak dapat berbicara dengan bahasa Jamèe, begitu pula sebaliknya. Apakah bahasa Indonesia dan bahasa Jamèe merupakan dialek?Sekarang, mari kita cermati kasus yang sama dalam lingkup yang lebih luas lagi yaitu di daerah perbatasan antara Belanda dan Jerman. Dalam berinteraksi, kedua penduduk yang terletak di perbatasan kedua negara ini menggunakan bahasa negara masing-masing. Artinya, penutur yang berbahasa Belanda akan berinteraksi dengan penutur yang berbahasa Jerman dengan menggunakan bahasa Belanda dan penutur berbahasa Jerman akan meresponnya dengan bahasa Jerman. Meskipun dengan bahasa yang berbeda, mereka tetap dapat saling mengerti. Apakah kedua bahasa ini merupakan dialek karena kedua penuturnya dapat saling mengerti terhadap bahasa yang diucapkan oleh masing-masing lawan tutur?kata Safriandi SpdBerkaitan dengan hal ini, Sumarsono (2007:24) menyebutkan bahwa ciri yang paling tepat untuk dialek adalah ciri sejarah dan ciri homogenitas.

Mari kita coba juga menyimak cuplikan ulasan dari Akhmad sofyan Dalam“Bagaimana Seharusnya Linguis Memperlakukan “Bahasa”? (Akhmad Sofyan)
Menurut Akhmad sofyan “Para linguistic menganggap  bahwa  objek  kajian  penelitian  bahasa  berkisar  pada  hal-ihwal struk tur  bahasa  dan  bukan  pada  segi  penggunaannya.  Persepsi  k edua  menilai bahwa  upaya  memahami  makna  dan  manfaat  bahasa  akan  berakhir  sia-sia,  jika penelaahannya  dilepaskan  dari  konteks  penggunaannya  dalam  kehidupan masyarakat dan budaya penuturnya. Begitu  juga  dalam  menentukan  masyarakat  bahasa.  Di  kalangan  linguis sampai sek arang masih terjadi ketidak sepahaman. Ketidaksepahaman di kalangan linguis  itu  terjadi  karena  satu  pihak   menggunakan  pendekatan  linguistis, sedangkan pihak  yang lain menggunakan sudut pandang sosiologis.  Linguis  yang  dapat  dikategorikan  sebagai penganut  persepsi yang  pertama adalah  Bloomfield  dan  Chomsky,  sedangkan  penganut  persepsi  yang  kedua adalah  Hymes.  Sebagai  bukti  bahwa  masih  terjadi  ketidak sepahaman    tentang definisi  masyarakat  bahasa  adalah  seperti  yang  dikemukakan  oleh  Wardhaugh (1988)  bahwa,  “Hymes  (1974,  p.47)  dis agrees  with  both  Chomsk y’s  and Bloomfield’s  definition  of a  speech community. He claims that these simply reduce the  nation  of  speech  community  to  that  of  language  and,  in  effect,  throw  out ‘speech community’ as a worthwhile  concept”.
kedua “bahasa”  terjadi kesalingmengertian (mutual intelligible), maka kedua  orang itu  merupakan  masyarak at  bahasa  yang  sama.  Dengan  demikian,  “bahasa”  yang dipakai  oleh  kedua  penutur  tersebut  tidak  dapat  dikatakan  sebagai  bahasa  yang berbeda, tetapi merupakan dialek dari satu bahasa.  Persepsi  yang  pertama  menganggap  bahwa  apabila  antara  penutur  dari Persepsi  yang  kedua  menganggap  bahwa  penentuan  masyarak at  bahasa tidak  didasarkan  atas  faktor-faktor  linguistik  murni,  tetapi  lebih  ditentukan  oleh faktor  sejarah,  politik,  dan  identifikasi  k elompok  (Ibrahim,  1994).  Hymes  (dalam Wardhaugh, 1988) mengatakan, “… speech  communities cannot be  defined  solely through  the  use  of  linguistic  criteria:  the  way  in  which  people  view  the  language they speak is also important, that is, how they evaluate accents; how they establish the fact that  they  speak one language  rather than another; and how they maintain language  boundaries”.
Maksudnya,  masyarakat  bahasa  tidak  dapat  ditentukan hanya  dengan  menggunak an  kriteria-kriteria  linguistis.  Bagaimana  cara  orang melihat  bahasa  juga  merupakan  sesuatu  yang  perlu  diperhatikan.  Misalnya,bagaimana  orang  melihat  sebuah  aksen;  apakah  mereka  menganggap  atau menetapkan  bahwa  merek a  menggunakan  bahasa  yang  berbeda  dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain, serta bagaimana mereka menetapkan batas-batasbahasa,  merupakan  hal-hal  yang  harus  diperhatikan  dalam  menentukan masyarakat bahasa.  Sejalan  dengan itu, Halliday  (1968) mengatakan  bahwa mas yarakat  bahasa adalah  sekelompok  orang  yang  merasa  atau  menganggap  diri  mereka  memakai bahasa  yang  sama.  Dalam  menentukan  masyarakat  bahasa,  penekanannya adalah  pada  kata  merasa,  sehingga  yang menentuk an apakah  suatu mas yarakat merupakan bagian dari masyarak at bahasa yang lain  atau merupakan  masyarakat tersendiri adalah diri mereka sendiri. Berdasarkan  pendapat-pendapat  tentang  masyarak at  bahasa  tersebut,  kita dapat  mengatakan  bahwa  fakta-fakta  linguistik  tidak  dapat  dipergunakan  sebagai dasar  untuk  menentukan  apakah  bahasa  yang  dipergunakan  oleh  suatu masyarakat  merupakan  satu  bahasa  atauk ah  merupakan  dialek  dari  bahasa  lain. Hal  yang  paling  penting  dalam  penentuan  “bahasa”  adalah  bagaimana kelompok penutur tersebut menyikapi bahasa yang digunakannya.  Kedudukan  linguis  sebagai  makhluk  yang  paling  penting  dalam  bidang kebahasaan  dan  paling  berkepentingan  dengan bahasa menyebabkanpendapatnya  tentang  bahasa  menjadi  pertimbangan  utama  dalam  menentukan kebijakan bahasa. Dengan  dasar itu kita tidak  dapat menyalahkan  Hasan Ali  yang mengatakan  bahwa  para  peneliti  bahasa  (baca:  linguis)  sangat  merugikan masyarakat dan budaya Osing.  Namun demikian, dengan kedudukan itu yang harus kita sadari adalah  bahwa  predikat  itu  membawa  konsek wensi  berupa  tanggung  jawab. Tanggung  jawab  utama  kita  adalah  peles tarian  bahasa.  Kalau  sampai  terjadi sebuah  “bahasa”  (yang  banyak  jumlah  penuturnya)  menjadi  punah—apalagi kepunahan  itu  diak ibatkan oleh  kesalahan kita  dalam  memperlakuk an “bahasa”—maka  linguislah  yang  harus  bertanggung  jawab,  karena  secara  tidak  langsung telah  bertindak   sebagai  “pemerkosa”  bahasa.  Sebab,  menurut  Suriasumantri (2001),  seorang  ilmuwan  mempunyai  tanggung  jawab  sos ial,  dan  sangat berpengaruh  dalam  kelangsungan  hidup  bermasyarakat.  Seorang  ilmuwan  harus memberikan  perspektif  yang  benar  dengan  mempertimbangkan  untung-rugi  dan baik-buruk  dalam menyikapi suatu persoalan.  Dalam  kasus  “bahasa”  Osing,  sudah  jelas  masyarakat  Osing  menganggap diri  mereka  menggunakan  bahasa  yang  berbeda  dengan  dengan  bahasa  Jawa, tetapi para linguis tetap menyebutnya sebagai bahasa Jawa dialek Osing. Padahal kalau  kita  mengacu  pada  persepsi  yang  kedua  dalam  melihat  bahasa  sebagai objek  kajian,  bahwa:  dalam  menentukan  masyarakat  bahas a,  penekanannya adalah pada kata “merasa”.  Hal  yang  paling  menentukan  apakah  suatu  masyarakat  merupakan  bagian dari  masyarakat  bahasa  yang  lain  atau  merupakan  masyarakat  bahasa  tersendiri adalah  diri  mereka  sendiri.    Berkaitan  kriteria  masyarak at  bahasa itu,  yang  harus dijadikan  pertimbangan  utama  dalam  menentukan  “bahasa”  sebagai  bahasa ataukah  sebagai  dialek  dari  bahasa  lain  adalah  bagaimana  para  penuturnya menyikapi bahasa yang digunakannya.    Kalau sampai  terjadi gegeran tentang  penyebutan “bahasa”, dan “bahasa” tersebut  akhirnya  punah,  maka  sebagai  ilmuwan  kita  bukan  hanya  tidak memberikan  kemanfaatan  untuk  masyarakat. Lebih  parah  lagi,  kita  telah  menjadi “pemerkosa”.  Padahal,  menurut  Hoed  (2001),  s edapat  mungkin  kita  harus berupaya  agar  penelitian  yang  dilakukan  memberik an  manfaat  kepada  tiga  hal, yaitu: (1) untuk  peneliti  sendiri,  (2)  untuk  bidang  ilmu  yang bersangk utan,  dan  (3) untuk masyarakat. Penelitian  yang  tidak   memberikan  manfaat  untuk  masyarakat  (menurut  Hoed, 2001)  dapat  dikatakan  sebagai  penelitian  yang  tidak  sempurna.  Ilmu  harus mempunyai  kegunaan  praktis  dalam  menyelesaikan  mas alah-masalah kemanusiaan.  Pandangan  “ilmu  untuk  ilmu”  sudah  ketinggalan  jaman   Sekarang  bagaimana  dengan  komentar  sejawat  saya  bahwa,  “Wong linguistik iku  termasuk jenis  manusia  sing demen onani”?  Saya pikir sejawat saya itu  berk omentar  demikian  karena  ia  melihat  bahwa  para  linguis  hanya memperlakukan  bahasa  dan  pemakai  bahasa  sebagai  objek,  dan  bukan  sebagai subjek.  Para  linguis  a-priori  terhadap  keinginan  dan  sikap masyarakat  penutur bahasa  yang ditelitinya. Para linguis dilihatnya sebagai seorang  yang sangat egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Para linguis hanya memandang bahasa  dan penutur bahasa s ebagai “proyek” untuk dirinya sendiri. Harus kita akui,  bahwa  hasil-hasil  penelitian  linguistik   yang  telah  dilakukan selama ini kurang (kalau tidak dapat dikatakan tidak ada sama sekali) memberikan kemanfaatan  prak tis   untuk  masyarakat. Tetutamapenelitian-penelitian  bahasa yang  melepaskan  bahasa  dari  konteks  sosial  penuturnya.  Pihak  yang mendapatkan  manfaat dan kepuasan dari penelitian linguistik  hanyalah penelitinya  sendiri.  Manfaat  untuk  bidang  ilmu  pun  tampaknya  masih  perlu  dipertanyakan.  jelas Akhmad sofyan dalam “Bagaimana Seharusnya Linguis Memperlakukan “Bahasa”? dalam http://www.unej.ac.id

kelendi kang……….

ki kuda kedhapan

L U R AH JAMANE PUPUTAN BAYU

Nama desa dan lurahnya sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu pupuh vi 11-20 sebagai berikut: Desa Dhadhap (Kidang Wulung), Rewah-Sanji (Kidang Wulung), Suba/Kuwu (Kidang Wulung), Songgon (Ki Sapi Gemarang), Tulah (Ki Lempu Putih), Kadhu (Ki Sidamarga), Derwana (Ki Kendit Mimang), Mumbul (Ki Rujak Sentul), Tembelang (Ki Lembupasangan), Bareng (Ki Kuda Kedhapan), Balungbang (Ki Sumur Gumuling), Lemahbang (Ki Suranata), Gitik (Ki Rujak Watu), Banglor (Ki Suragati), Labancina (Ki Rujak Sinte), Kabat (Ki Pandholan), Kapongpongan (Ki Kamengan), Welaran ( Ki Jeladri), Tambong (Ki Reksa), Bayalangun (Ki Sukanandi), Desa Penataban (Ki Singadulan), Majarata (Ki Maesandanu), Cungking (Ki Jangkrik Suthil), Jelun (Ki Lembu Singa), Banjar (Ki Bakul). Itulah nama-nama desa di Banglor. Sedang desa bagian selatan adalah: Desa Pegambuiran (Ki Serandil), Ngandong (Ki Seja), Cendana (Ki Kebo Waleri), Kebakan (Ki Kebo Waluratu), Cekar (Ki Gundol), Desa Gagenteng (Ki Kudha Serati), Kadhal (Ki Jaran Sukah), Sembulung (Ki Gagak Sitra), Jajar (Ki Gajah Anguli), Benculuk (Ki Macan Jingga), Pelancahan (Ki Butangerik), Keradenan (Ki Jala Sutra), Gelintang (Ki Maesagethuk), Grajagan (Ki Caranggesing). Sedang desa diwilayah timur: Desa Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan), Lalerangan (Ki Menjangan Kanin), Mamelik (Ki Surya), Papencan (Ki Bantheng Kanin), Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan), Repuwan (Ki Butānguri), Rerampan (Ki Kidang Bunto), Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).

Wilayah utara 2 desa yaitu Desa Jongnila (Ki Gagakngalup) dan desa Konsul (Ki Maesasura). Kemudian kepala desa ayang menyusul: Desa Bubuk (Ki Marga-Supana), Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul), Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul), Gambor (Ki Bajuldahadhi), Gembelang (Ki Butakorean), Muncar (Ki Genok), Bama (Ki Baluran), Geladhag (Ki Margorupit), Susuhan ( Ki Tambakboyo), Ngalian (Ki Kidang-Garingsing), Tamansari (Ki Gajah Metha), Danasuke (Ki Kebowadhuk), Kalisuca (Ki Jaransari). Babad Bayu (ditulis pada tahun 1826) pupuh vi 11-20 dalam Winarsih PA, op.cit., hal.153-154.