GEGERAN BAHASA OSING

Bagaimana Seharusnya Linguis Memperlakukan “Bahasa”?
Akhmad Sofyan
Abstract:

Up to the present day there are still some disagreements amongst the linguists on the proper status of the language used by Osing people. Some agree with the status of “language” and others “dialect”. In this brief article, argument on how to determine whether this tool of communication is called language or dialect will be presented. It is belived that the determination, as to whether a language society is a part of other language society or it stands by itself, will be strongly influenced by the attitude of language society itself towards its own verbal tool of communication, not by linguistic factors.

Key Words: masyarakat bahasa, bahasa, dialek.
Pengantar
Sengaja saya menulis bahasa pada judul di atas dengan tanda kutip. Hal itu saya lakukan untuk menandai masih terjadinya ketidaksepahaman tentang penyebutan bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat. Satu pihak menyebut “bahasa” itu sebagai bahasa, sementara pihak lain menyebutnya sebagai dialek. Penulisan dengan cara seperti itu juga digunakan untuk menandai keragu-raguan saya dalam menggunakan istilah bahasa atau dialek. Karena saya khawatir, tulisan—yang saya maksudkan untuk memberikan perspektif yang netral dan berimbang dalam pertentangan penyebutan bahasa yang digunakan oleh masyarakat—ini justru menimbulkan pertentangan baru. Akibatnya, tulisan ini bukannya menjadi jawaban atas persoalan, tetapi justru menjadi bagian dari persoalan.
Sehubungan dengan terjadinya ketidaksepahaman itu, kemudian muncul beberapa pertanyaan yang sangat tidak mudah untuk menjawabnya. Pertanyaan pertama yang muncul adalah mengapa sampai terjadi ketidaksepahaman tentang penyebutan “bahasa”? Dalam konteks pertanyaan itu, bisa jadi para pembaca justru sangat meragukan munculnya pertanyaan itu, sehingga kemudian mengajukan pertanyaan: apa mungkin pernah terjadi ketidaksepahaman tentang “bahasa”? Kalau memang terjadi, untuk apa sampai gegeran masalah “bahasa”? Adakah sesuatu yang penting dalam penyebutan “bahasa” sehingga harus gegeran? Kalau penyebutan “bahasa” dianggap sebagai hal yang penting, mengapa dianggap penting?

Bagaimana Seharusnya Linguis Memperlakukan “Bahasa”? (Akhmad Sofyan)

Untuk menjawab sederetan pertanyaan yang (agak) membingungkan di atas—pertanyaannya saja sudah membingungkan apalagi jawaban dan untuk menjawabnya—terlebih dahulu kita perlu mengajukan pertanyaan: “Acuan apakah yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan sebuah “bahasa” sebagai bahasa atau hanyalah sebuah dialek?” Selanjutnya, kalau kita sudah dapat menjawab pertanyaan itu, yang perlu dipertimbangkan adalah “Bagaimana seharusnya (kita sebagai calon) linguis memperlakukan “bahasa”? Pertanyaan ini sangat penting untuk direnungkan, sebab linguis merupakan “makhluk” yang paling penting dalam bidang kebahasaan dan paling berkepentingan dengan bahasa.
Kasus Gegeran “Bahasa” Suatu ketika, sejawat saya dari Jurusan Sastra Indonesia berkomentar, “Wong linguistik iku termasuk jenis manusia sing demen onani. Wong linguistik iku “kardi”. Kemudian teman saya itu — yang kebetulan aktif dalam penelitian masyarakat dan budaya Osing — menceritakan kepada saya bagaimana kemarahan dan kekecewaan masyarakat Osing terhadap para linguis (khususnya) dari Jember.
Pada mulanya saya sedikit tidak percaya terhadap apa yang diceritakan sejawat saya itu. Saya baru percaya bahwa masyarakat Osing sangat marah dan kecewa kepada para linguis setelah saya mendengar sendiri ungkapan kekecewaan dan kemarahan dari masyarakat Osing. Hal itu saya alami ketika saya berkesempatan mendampingi para peneliti “pemula” dari Balai Bahasa Surabaya dalam penelitian tentang sastra lisan Osing di Banyuwangi pada bulan September 2000. Pada waktu, dua informan kami — Bapak Singodimayan dan Bapak Hasan Ali — berkomentar demikian:

Para peneliti bahasa itu ngawur, masak bahasa Osing dikatakan sebagai dialek dari bahasa Jawa. Hasil penelitiannya itu salah dan menyesatkan. Penyebutan
bahasa Osing sebagai dialek dari bahasa Jawa, terus terang, sangat menyinggung perasaan kami orang Osing. Dan semua orang juga tahu bahwa bahasa yang kami gunakan sangat berbeda dengan bahasa Jawa. Orang luar daerah pun tidak pernah menyebut bahasa orang Osing sebagai dialek bahasa Jawa. Semua juga mengakui kalau bahasa orang Osing itu bahasa. Oleh karena itu, kami pikir pernyataan dari para peneliti tentang bahasa Osing tidak mempunyai dasar dan sangat merugikan masyarakat dan budaya Osing.

Mereka berkomentar demikian mungkin karena menganggap saya bukan linguis, tetapi peneliti di bidang sastra. Mendengar komentar yang cukup memanaskan telinga setiap linguis yang mendengarnya itu, saya hanya diam saja. Saya khawatir, kalau saya menyanggah pendapat mereka, emosi mereka semakin memuncak. Walaupun sebagai seorang linguis sebenarnya saya merasa

Bagaimana Seharusnya Linguis Memperlakukan “Bahasa”? (Akhmad Sofyan)

213

tersinggung. Di dalam hati saya mengatakan bahwa ternyata cerita teman saya itu memang benar.
Di pihak lain, sampai saat ini ada semacam kesepakatan di kalangan linguis (di Jawa Timur) tentang penyebutan “bahasa” Osing sebagai Bahasa Jawa Dialek Osing. Contoh-contoh penyebutan “bahasa” Osing sebagai Bahasa Jawa Dialek Osing di antaranya adalah: (1) “Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Osing di Kabupaten Jember” oleh Sodaqoh Zainuddin dkk. pada tahun 1996, (2) “Perbandingan Antara Bahasa Jawa Dialek Osing di Kabupaten Jember dengan Bahasa Jawa Dialek Osing di Kabupaten Banyuwangi” oleh A. Erna Rochiyati dan Akhmad Sofyan tahun 1997.
Dua contoh penelitian tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa para linguis—yang celakanya saya terlibat aktif di dalamnya—menamakan “bahasa” Osing sebagai dialek. Sementara itu, masyarakat Osing menyebut “bahasa” mereka sebagai bahasa.
Gegeran secara langsung mengenai penyebutan “bahasa” Osing antara para linguis dengan masyarakat Osing terjadi dalam seminar Pengembangan Budaya Lokal dalam Konteks Pembangunan yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis Universitas Jember pada bulan Oktober 2001. Kebetulan yang menjadi pemakalah dalam seminar tersebut Bapak Sodaqoh Zainuddin, dan saya bertugas sebagai moderator.
Pada sesi tanya-jawab, Bapak Hasan Ali—yang diundang secara khusus sebagai budayawan Osing—menyampaikan kekecewaannya terhadap para linguis. Beliau mengatakan:

Penyebutan bahasa Osing sebagai bahasa Jawa dialek Osing bukan hanya tidak tepat, tetapi sangat merugikan dan menghancurkan masa depan bahasa Osing.
Sebab, akibat dari penyebutan bahasa Osing sebagai bahasa Jawa dialek Osing usulan kami untuk menjadikan bahasa Osing sebagai mata pelajaran muatan lokal tidak mendapatkan tanggapan dari Pemda. Dan celakanya lagi, yang dijadikan sebagai mata pelajaran bahasa daerah di Banyuwangi justru bahasa Jawa.

Menanggapi komentar dari Bapak Hasan Ali tersebut, Pak Sodaqoh secara konsisten mengatakan bahwa bahasa yang dipergunakan masyarakat Osing merupakan dialek dari bahasa Jawa dan tidak dapat dikatan sebagai bahasa. Alasan yang digunakan oleh Pak Sodaqoh didasarkan atas (meminjam istilah yang sering digunakan oleh Burhanuddin) terminologi tentang bahasa dan dialek. Bahwa apabila orang Osing dan orang Jawa berkomunikasi, dan masing-masing menggunakan bahasanya sendiri, masih terjadi saling pengertian (mutual intelligibility). Oleh karena itu, maka bahasa yang dipergunakan masyarakat Osing tidak dapat dikatakan sebagai bahasa yang berbeda dengan bahasa Jawa.

JIBS (Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra) Vol. 2/ No. 1/ Januari – Juni 2002

214

Selanjutnya, Pak Sodaqoh memaparkan fakta-fakta linguistik tentang bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Osing dan bahasa Jawa. Dengan paparan fakta-fakta linguistik, memang cukup beralasan kalau beliau tetap bersikukuh kalau “bahasa” Osing bukanlah bahasa, tetapi hanya merupakan dialek dari bahasa Jawa.
Terhadap penjelasan dari Pak Sodaqoh, Hasan Ali tetap tidak dapat menerima bahkan meminta agar Pak Sodaqoh merevisi semua hasil penelitiannya. Permasalahannya sekarang adalah mengapa sampai terjadi gegeran tentang penyebutan “bahasa” Osing antara para linguis dengan masyarakat (budayawan) Osing?
Masyarakat Bahasa dan Bahasa Gegeran atau ketidaksepahaman tentang suatu persoalan pada umumnya diakibatkan oleh penggunaan sudut pandang yang berbeda. Begitu juga dengan gegeran antara para linguis dengan para budayawan Osing. Gegeran itu terjadi karena masing-masing pihak menggunakan sudut pandang dan (mungkin juga) kepentingan yang berbeda.
Terjadinya perbedaan sudut pandang atau persepsi tersebut saya pikir memang wajar. Sebab, jangankan antara linguis dan penutur bahasa, di kalangan ahli-ahli bahasa sendiri sampai sekarang masih terdapat dua persepsi yang berbeda dalam melihat bahasa sebagai objek kajian. Persepsi yang pertama menganggap bahwa objek kajian penelitian bahasa berkisar pada hal-ihwal struktur bahasa dan bukan pada segi penggunaannya. Persepsi kedua menilai bahwa upaya memahami makna dan manfaat bahasa akan berakhir sia-sia, jika penelaahannya dilepaskan dari konteks penggunaannya dalam kehidupan masyarakat dan budaya penuturnya.
Begitu juga dalam menentukan masyarakat bahasa. Di kalangan linguis sampai sekarang masih terjadi ketidaksepahaman. Ketidaksepahaman di kalangan linguis itu terjadi karena satu pihak menggunakan pendekatan linguistis, sedangkan pihak yang lain menggunakan sudut pandang sosiologis.
Linguis yang dapat dikategorikan sebagai penganut persepsi yang pertama adalah Bloomfield dan Chomsky, sedangkan penganut persepsi yang kedua adalah Hymes. Sebagai bukti bahwa masih terjadi ketidaksepahaman tentang definisi masyarakat bahasa adalah seperti yang dikemukakan oleh Wardhaugh (1988) bahwa, “Hymes (1974, p.47) disagrees with both Chomsky’s and Bloomfield’s definition of a speech community. He claims that these simply reduce

Bagaimana Seharusnya Linguis Memperlakukan “Bahasa”? (Akhmad Sofyan)

215

the nation of speech community to that of language and, in effect, throw out ‘speech community’ as a worthwhile concept”.
Persepsi yang pertama menganggap bahwa apabila antara penutur dari kedua “bahasa” terjadi kesalingmengertian (mutual intelligible), maka kedua orang itu merupakan masyarakat bahasa yang sama. Dengan demikian, “bahasa” yang dipakai oleh kedua penutur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai bahasa yang berbeda, tetapi merupakan dialek dari satu bahasa.
Persepsi yang kedua menganggap bahwa penentuan masyarakat bahasa tidak didasarkan atas faktor-faktor linguistik murni, tetapi lebih ditentukan oleh faktor sejarah, politik, dan identifikasi kelompok (Ibrahim, 1994). Hymes (dalam Wardhaugh, 1988) mengatakan, “… speech communities cannot be defined solely through the use of linguistic criteria: the way in which people view the language they speak is also important, that is, how they evaluate accents; how they establish the fact that they speak one language rather than another; and how they maintain language boundaries”. Maksudnya, masyarakat bahasa tidak dapat ditentukan hanya dengan menggunakan kriteria-kriteria linguistis. Bagaimana cara orang melihat bahasa juga merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan. Misalnya, bagaimana orang melihat sebuah aksen; apakah mereka menganggap atau menetapkan bahwa mereka menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain, serta bagaimana mereka menetapkan batas-batas bahasa, merupakan hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan masyarakat bahasa.
Sejalan dengan itu, Halliday (1968) mengatakan bahwa masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa atau menganggap diri mereka memakai bahasa yang sama. Dalam menentukan masyarakat bahasa, penekanannya adalah pada kata merasa, sehingga yang menentukan apakah suatu masyarakat merupakan bagian dari masyarakat bahasa yang lain atau merupakan masyarakat tersendiri adalah diri mereka sendiri.
Berdasarkan pendapat-pendapat tentang masyarakat bahasa tersebut, kita dapat mengatakan bahwa fakta-fakta linguistik tidak dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah bahasa yang dipergunakan oleh suatu masyarakat merupakan satu bahasa ataukah merupakan dialek dari bahasa lain.

JIBS (Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra) Vol. 2/ No. 1/ Januari – Juni 2002

216

Hal yang paling penting dalam penentuan “bahasa” adalah bagaimana kelompok penutur tersebut menyikapi bahasa yang digunakannya.
Tanggapan terhadap Kasus

Kedudukan linguis sebagai makhluk yang paling penting dalam bidang kebahasaan dan paling berkepentingan dengan bahasa, menyebabkan pendapatnya tentang bahasa menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan bahasa. Dengan dasar itu kita tidak dapat menyalahkan Hasan Ali yang mengatakan bahwa para peneliti bahasa (baca: linguis) sangat merugikan masyarakat dan budaya Osing.
Kita juga tidak dapat menyalahkan Pemkab Banyuwangi yang tidak mengabulkan usulan diajarkannya bahasa Osing sebagai mata pelajaran muatan lokal. Dalam kasus tersebut, tampaknya—seperti yang dikemukakan oleh Hasan Ali—pihak Pemkab mendasarkan kebijakannya pada pendapat para ilmuwan bahasa (linguis). Dalam hal ini kita tidak perlu mencurigai pihak Pemkab; bahwa pihak Pemkab tidak mau mengalokasikan dananya untuk masalah kebahasaan.
Sekali lagi, dalam kasus tersebut yang paling bertanggung jawab adalah linguis. Sebab, dengan kedudukannya sebagai “pemegang otoritas” masalah kebahasaan, pendapat dan sikap linguis tentang kebahasaan akan sangat “didengarkan” dan sangat berpengaruh terhadap masa depan dan keberlangsungan sebuah bahasa.
Kedudukan linguis sebagai pemegang otoritas kebahasaan tentunya cukup membanggakan kita (walaupun sangat mungkin pilihan menjadi seorang linguis dilakukan secara). Namun demikian, dengan kedudukan itu yang harus kita sadari adalah bahwa predikat itu membawa konsekwensi berupa tanggung jawab. Tanggung jawab utama kita adalah pelestarian bahasa. Kalau sampai terjadi sebuah “bahasa” (yang banyak jumlah penuturnya) menjadi punah—apalagi kepunahan itu diakibatkan oleh kesalahan kita dalam memperlakukan “bahasa”— maka linguislah yang harus bertanggung jawab, karena secara tidak langsung telah bertindak sebagai “pemerkosa” bahasa. Sebab, menurut Suriasumantri (2001), seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial, dan sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Seorang ilmuwan harus memberikan perspektif yang benar dengan mempertimbangkan untung-rugi dan baik-buruk dalam menyikapi suatu persoalan.
Sehubungan dengan kasus gegeran yang dikemukakan di atas yang perlu kita catat dari pernyataan Hasan Ali adalah: (1) masyarakat Osing merasa

Bagaimana Seharusnya Linguis Memperlakukan “Bahasa”? (Akhmad Sofyan)

217

menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa Jawa dan (2) akibat dari penyebutan “bahasa” Osing sebagai dialek dari bahasa Jawa, Pemkab Banyuwangi tidak mengabulkan usulan digunakannya “bahasa” Osing sebagai mata pelajaran muatan lokal.
Dari dua hal yang dapat dicatat dari pernyataan Hasan Ali tersebut, tergambar jelas bahwa Osing merupakan suatu masyarakat bahasa tersendiri yang harus dibedakan dengan masyarakat bahasa Jawa. Dengan demikian, “bahasa” Osing harus disebut sebagai bahasa Osing dan penyebutan bahasa Osing sebagai bahasa Jawa dialek Osing merupakan penyebutan yang salah.
Dalam kasus “bahasa” Osing, sudah jelas masyarakat Osing menganggap diri mereka menggunakan bahasa yang berbeda dengan dengan bahasa Jawa, tetapi para linguis tetap menyebutnya sebagai bahasa Jawa dialek Osing. Padahal kalau kita mengacu pada persepsi yang kedua dalam melihat bahasa sebagai objek kajian, bahwa: dalam menentukan masyarakat bahasa, penekanannya adalah pada kata merasa.
Hal yang paling menentukan apakah suatu masyarakat merupakan bagian dari masyarakat bahasa yang lain atau merupakan masyarakat bahasa tersendiri adalah diri mereka sendiri. Berkaitan kriteria masyarakat bahasa itu, yang harus dijadikan pertimbangan utama dalam menentukan “bahasa” sebagai bahasa ataukah sebagai dialek dari bahasa lain adalah bagaimana para penuturnya menyikapi bahasa yang digunakannya.
Kalau sampai terjadi gegeran tentang penyebutan “bahasa”, dan “bahasa” tersebut akhirnya punah, maka sebagai ilmuwan kita bukan hanya tidak memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. Lebih parah lagi, kita telah menjadi “pemerkosa”. Padahal, menurut Hoed (2001), sedapat mungkin kita harus berupaya agar penelitian yang dilakukan memberikan manfaat kepada tiga hal, yaitu: (1) untuk peneliti sendiri, (2) untuk bidang ilmu yang bersangkutan, dan (3) untuk masyarakat.
Penutup Penelitian yang tidak memberikan manfaat untuk masyarakat (menurut Hoed, 2001) dapat dikatakan sebagai penelitian yang tidak sempurna. Ilmu harus mempunyai kegunaan praktis dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan. Pandangan “ilmu untuk ilmu” sudah ketinggalan jaman (Spradley, 1997).

JIBS (Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra) Vol. 2/ No. 1/ Januari – Juni 2002

218

Sekarang bagaimana dengan komentar sejawat saya bahwa, “Wong linguistik iku termasuk jenis manusia sing demen onani”? Saya pikir sejawat saya itu berkomentar demikian karena ia melihat bahwa para linguis hanya memperlakukan bahasa dan pemakai bahasa sebagai objek, dan bukan sebagai subjek. Para linguis a-priori terhadap keinginan dan sikap masyarakat penutur bahasa yang ditelitinya. Para linguis dilihatnya sebagai seorang yang sangat egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Para linguis hanya memandang bahasa dan penutur bahasa sebagai “proyek” untuk dirinya sendiri.
Harus kita akui, bahwa hasil-hasil penelitian linguistik yang telah dilakukan selama ini kurang (kalau tidak dapat dikatakan tidak ada sama sekali) memberikan kemanfaatan praktis untuk masyarakat. Tetutama penelitian-penelitian bahasa yang melepaskan bahasa dari konteks sosial penuturnya. Pihak yang mendapatkan manfaat dan kepuasan dari penelitian linguistik hanyalah penelitinya sendiri. Manfaat untuk bidang ilmu pun tampaknya masih perlu dipertanyakan. Kalau sudah begitu … ternyata sejawat saya memang benar.
Sekarang, bagaimana dengan kita? Apakah penelitian—yang telah dan akan—kita lakukan termasuk jenis penelitian yang justru semakin membenarkan komentar sejawat saya tentang linguis? Kalau memang terpaksa kita harus “beronani ria”, apa boleh buat? Yang penting kita tidak sampai menjadi “pemerkosa”.

Pustaka Acuan

Halliday, M.A.K. 1968. “The User and Uses of Language” dalam J.A. Fishman (ed.). Reading in the Sociology of Language. Mouton: The Hague.

Hoed, Benny H. 2001. Dari Logika Tuyul ke Erotisme. Magelang: Indonesia Tera.

Ibrahim, Abd. Syukur. 1994. Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. Surabaya: Usaha Nasional.

Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Terjemahan oleh Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Suriasumantri, Jujun S. 2001. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell.

Bagaimana Seharusnya Linguis Memperlakukan “Bahasa”? (Akhmad Sofyan)

Komentar

  • budiyono  On Januari 27, 2012 at 3:33 pm

    sok tahu saja !bahasa osing itu ada tetapi tetapi masih belum bahasa yang dianggap oleh ilmuan lengkap dalam arti memiliki tulisan2 sastra yang berbahasa osing bahasa standart, contoh bisakah anda berbahasa osing yang sopan kepada orang tua mu ? paling kamu memakai bahasa jawa standart 60% dan sisanya bahasa osing

    • osingkertarajasa  On Januari 29, 2012 at 9:19 am

      haiiyyaaa…………bahasa osing yg asli TIDAK mengenal unggah ungguh,kromo byang .bisa di chek di kantong2 osing yg masih aselai spt desa2 di lereng gunung raung….sy sendiri tidak pernah menggunakan kromo2an ketika berbicara pada orang tua bahkan pada mbyah lan buyut…menentukan bahasa bukan tergantung itung2an persen byang…tapi lebih pada nilai histori kelompok masyarakat tertentu…kalu itung2an persen bahasa ind seharusnya menjadi dialek melayu bukan menjadi bahasa ind yg kita gunakan sekarang.telusuri jg bahasa minang bisakah disebut dialek minang???klu saya cenderung gak sepaham dgn para ilmuan/para linguistik yg “suka onani”menentukan sesuatu sesuai dengan selera mereka sendiri bukan berdasar rasa tanggung jawab memiliki dan melestarikan sisa2 budaya .lha kalu sampai bahasa osing hilang SIAPA YG BERTANGGUNG JAWABBB……….????

    • osingkertarajasa  On Maret 23, 2012 at 9:13 am

      byang budiono……boso using tidak mengenal kromo,inggil….dan klu ditelusuru sebenarnya boso kromo berasal dari basa ngoko sepeti bahasa sansekerta.mungkin yang anda maksud boso using cara besiki…..Cara Besiki adalah ragam Jawa yang ‘diterima’ masyarakat Using Banyuwangi sebagai bentuk ideal dalam berbahasa. Namun hanya bentuk ideal, bukan dalam percakapan sehari-hari. Cara Besiki ini dipakai pada acara perkawinan, kematian, lamaran (tegoran) dan acara-acara bersifat keagamaan. Dalam artian mereka menganggap Cara Besiki ini sebagai bentuk sakral, bukan hirarkis. Cara Besiki serupa dengan Kromo , namun penggunaannya dikurangi sehingga bagi mereka bentuk halus ini hanya untuk “dunia sana” bukan “dunia sini”, selengkapnya baca disinihttp://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/717?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

      • EDO  On Mei 13, 2012 at 5:46 pm

        JIEH…GEDIGU MANING….HANG BENER KAI KELENDI ACAKE SUN DI WENEHI WERUH ULUNG…MAJAPAHIT KAU PAS WEKTUNE ISLAM NGUASAI PULO JAWA KAN AKEH HANG MLAYU MENYANG TENGGER LAN BALI…SAIKAI RING BALI DHEWEK PARAN MANING RING TENGGER KAN MENGENAL BASA ALUS LAN BASA KASAR PRANDANE BLAMBANGAN SING MENGENAL BASA ALUS…IKAI ARANE ANEH KAI…SING BISA DI NALAR

  • budiyono  On Januari 27, 2012 at 3:47 pm

    saya sendiri orang osing bingung untuk membuat terjemahan dari indonesia ke osing contoh : home/ about us/my profile/ browse/trend /populer
    contoh :rumah/tentang kami/profil saya/memilah/kondang/popular
    tolong deh? jangan hanya sibuk debat sok merasa paling tahu padahal anda tidak menyumbangkan sedikitpun ilmu anda untuk kemajuan bahasa osing kami, dan hanya bisa ngomong terus kutip acuan selesai.

    • osingkertarajasa  On Januari 29, 2012 at 9:50 am

      kalau untuk menterjemahkan yg spt yg anda tulis bhs suku lain jg kesulitan pak, tapi bukan berarti tidak bisa lho…lha km sendiri sbagai orang osing moso heng biso ngartekaen.
      acake tah weh paran hang di debataken ???
      trus kamu nyumbang apa untuk kemajuan boso using ?? klu ada waktu silahkan membaca kamus praktis osing tulisan saya http://osingkertarajasa.wordpress.com/2010/06/25/6/. walaupun jauh dari sempurna dan masih trus dilakukan revisi2 mudah2an bisa dijadikan referensi untuk belajar boso osing pemula.

      USING RIKO NDI BYANG..?

  • Sariyanto  On Februari 19, 2012 at 7:28 pm

    ison iki laros, d engo paran rame-rame debataen boso oseng, heng usah percoyo ambi wong selain oseng, wong iku heng ngertai boso oseng, omongane awu-awu. isun banga dadi wong oseng, kadung heng ngerti oseng ojo ngomong oseng kang. menengo bean mangano kono hang wareng, terus turuo, ” jare Gus Dur, digu baen kok repot ”

    Salam Laros , Pasuruan

    • osingkertarajasa  On Maret 23, 2012 at 9:20 am

      bener wyak sariyanto……masiotah sakat bengen/jaman majapahit(wirabumi) blambangan dianggep oposisi/ddidiskritken hampek saikai naming ojo hampek CILIK ATAI…..

  • EDO  On April 28, 2012 at 8:48 pm

    kari seruu yak…digu baeen di debataen lek2..hang penting siro kau dadi uwong kang sing mbeda2aen podo2 titah gusti Alloh, umate nabi Muhammad, podo2 wong indonesia…. digau…podo2 uwong islam….ojo pati tukar wisss.. pikiran baen kemaslahatan ummat…sinau hang rajin… dadiyo uwong kang penter, penter dunyo ya penter akhirat…siro podo mati kesok podo mlebu surgo…acake….gedigu been…tukar been siro kau….. belajar Al-Quran…Sunnah…ojo blajr main…maboook….ring peinggir rurung…bolo2an…sing manpaat

  • yudi darmawan  On Mei 7, 2012 at 3:43 pm

    Bapak shodaqoh zainudin,anda harus bisa membedakan antara bahasa osing dan bahasa jawa.sudah jelas,bahwa bahasa osing bukanlah bahasa jawa logat osing.memang benar kalau ada seorang berbicara jawa dan seorang berbicara osing,masing” akan saling memahami. Karena banyak orang jawa yang tinggal di daerah banyuwangi bagian selatan,dan hidup berdampingan dengan orang asli banyuwangi yaitu suku osing.maka wajar saja kalu diantara kedua bahasa ini saling mengerti.tapi hanya sebatas mengerti dan bukan memahami.coba suruh orang malang,orang nganjuk,orang solo atau orang jogja bicara sama orang osing,apa merewka bisa mengerti bahasa osing???saya curiga anda sebagai orang jember merasa iri kepada orang banyuwangi,yg memiliki kebudayaan tersendiri,dan menjadi kebanggaan indonesia.

    • osingkertarajasa  On Mei 11, 2012 at 5:31 pm

      bener wyak yudi…coba wong jowo utun ditemukan sama osing utun…yoro blongo-blongoh..

  • mayanufari  On Juli 24, 2012 at 6:54 am

    hang jelas boso oseng iku asli banyuwangen

  • mayanufari  On Juli 24, 2012 at 6:56 am

    sepurane ya, isun iki pelajar ring salah siji SMA ring banyuwangi, isun nggolet tugas tentang bhs oseng kok ketemu debat gdigai. bapak2, mohon dilurusaken nggih

  • Arie Putranto™ (@AriePutranto)  On Agustus 20, 2012 at 5:10 pm

    Bahasa Osing iku wes terdaftar ISO 628-3 [http://en.wikipedia.org/wiki/ISO_639-3] kodene OSI [http://www.sil.org/iso639-3/documentation.asp?id=osi] berarti yo iku bahasa dudu dialect.

  • Marto Kliwon  On Agustus 25, 2012 at 1:40 am

    setuju bos! bener sampeyan, yang berhak menentukan apakah itu bahasa tersendiri atau cuma logat adalah para penuturnya sendiri. Bahkan wong jowo utun dari Kediri Jatim dan wong Jawa utun dari Purbalingga Jateng juga akan mlonga-mlongo walau sama-sama mengklaim basa yang digunakan adalah “bahasa Jawa”. (Apalagi kalau orang Kebumen ketemu orang Rogojampi ya?)

    • osingkertarajasa  On September 3, 2012 at 5:59 pm

      setuja wyak klowon….

      • Aris Sariyanto  On November 12, 2012 at 5:05 am

        yo iku kang nawi heng weroh paleng wong-wong liyane oseng, kadong boso oseng ono lan exis sampek saikai, nawi heng weroh kadong saiki wes di ajaraken nang sekolah-sekolah banyuwangai ( Muatan lokal ), mangkane ta wak-wak kang heng weroh osing, nang Banyuwanmgai mane weroh Oseng iku kelendai,oseng iku koyo paran, kebudayaan oseng,lan lya-lyanek.

        Salam Lare Singonjoroh ( Kumbo ), saiki netep nang Pasuruan

      • osingkertarajasa  On November 20, 2012 at 3:34 pm

        salam laros……

  • Aris Sariyanto  On November 8, 2012 at 2:07 pm

    yo iyo kang, paran maneng saiki boso osing wes ono nang muatan lokal sekolah nang banyuwangai kususe SD. Riko, kakang, embok lan kabeh dolor ison nang banyuwangai kudu bnggo dadi wong Osing, Banyuwangi wes tekenal nang monco dolor.

  • adi osing  On November 30, 2012 at 2:40 pm

    hon milu byaen wes. :D salam seduluran kabyeh… isun bonggo dari lare osing. :D
    salam laros jogja :D

  • zen laros  On Desember 20, 2012 at 2:52 am

    oseng oseng jawa jawa smpek kapan seng keneng di podhokaken,,,,
    l
    laros bali

  • banyuwangi possi  On Februari 27, 2013 at 11:34 am

    Linguis – linguis paran byaen lek….!!! kon ngomong usingyan ta linguis iku …bisa tah…? halah.. iku kabyeh mung dienggo golet picis byaen…..UUD…..prettttttttttttt…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s