Arsip Kategori: Sejarah Wong osing

Sejarah Kerajaan Blambangan

Sebagian dari kita tentu tahu kisah berjenis Panji berjudul Damarwulan-Minakjinggo. Kisah yang dianggap legenda ini begitu popular di Jawa Timur karena mengungkapkan perseteruan antardua kerajaan, yang satu sebuah kerajaan besar bernama Majapahit, yang satu lagi kerajaan yang tak pernah tunduk terhadap hegemoni kerajaan besar itu, yakni Kerajaan Blambangan. Perseteruan ini melahirkan Perang Paregreg.
Kerajaan Blambangan terletak di timur Kota Banyuwangi di Jawa Timur. Bila kita melihat peta, letak Blambangan berbatasan langsung dengan Selat Bali, dengan begitu kita yakin bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan pesisir. Bila melihat namanya, Blambangan berasal dari kata bala yang artinya “rakyat” dan ombo yang artinya “besar” atau “banyak”. Dengan begtu, kita dapat pahami bahwa Blambangan adalah “kerajaan yang rakyatnya cukup banyak”.
Tak ada berita yang pasti sejak kapan kerajaan ini berdiri. Dari kisah Damarwulan-Minakjinggo diketahui bahwa pada masa Majapahit kerajaan ini telah ada dan berdaulat. Namun demikian, ada beberapa sumber yang memuat nama Blambangan, yakni Serat Kanda (ditulis abad ke-18), Serat Damarwulan (ditulis pada 1815), dan Serat Raja Blambangan (ditulis 1774), di mana proses penulisannya dilakukan jauh setelah masa kejayaan Blambangan, yakni ketika masa Mataram-Islam dan kekuasaan Kompeni Belanda di Jawa tengah relatif kukuh. Di samping mengacu kepada sumber berjenis sekunder seperti ketiga serat tadi, kita masih memiliki sumber primer yang bisa dikaitkan dengan keberadaan Blambangan, yakni Pararaton, yang meski tak menyebutkan nama Blambangan namun kemunculan nama Arya Wiraraja dan Lamajang akan membantu kita menyibakkan kabut yang menyelimuti sejarah awal Kerajaan Blambangan.
Istana Timur Majapahit
Untuk melacak sejarah kemunculan Kerajaan Blambangan diakui cukup sulit. Minimnya data dan fakta membuat para ilmuwan kesukaran untuk menentukan sejarah awal kerajaan ini. Namun, bila kita memetakan sejarah awal Majapahit pada masa Sri Nata Sanggramawijaya alias Raden Wijaya, maka sedikit celah akan terkuak bagi kita guna menuju pencarian awal mula Blambangan.
Pelacakan ini bisa dimulai dari peristiwa larinya Sanggramawijaya (R. Wijaya) dan kawan-kawan ke Songeneb (kini Sumenep) di Madura guna meminta bantuan kepada Arya Wiraraja dalam usaha menjatuhkan Jayakatwang yang telah menggulingkan Kertanagara di Singasari. Menurut Pararaton, Raden Wijaya berjanji, bahwa jika Jayakatwang berhasil dijatuhkan, kelak kekuasaannya akan dibagi dua, satu untuk dirinya, satu lagi untuk Arya Wiraraja. Arya Wiraraja ini ketika muda merupakan pejabat di Singasari, yang telah dikenal baik oleh Raden Wijaya yang tak lain menantu dan keponakan Kertanagara.
Ketika Raden Wijaya berhasil mendirikan Majapahit tahun 1293, Arya Wiraraja diberi jabatan sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Namun, rupanya Wiraraja pada tahun 1296 sudah tidak menjabat lagi, hal ini sesuai dengan isi Prasasti Penanggungan yang tak mencatat namanya. Muljana menjelaskan bahwa penyebab menghilangnya nama Wiraraja dari jajaran pemerintahan Majapahi karena pada 1395, salah satu putranya bernama Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan lalu tewas. Peristiwa ini membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri, seraya menuntut janji kepada Raden Wijaya mengenai wilayah yang dulu pernah dijanjikan. Pada 1294, raja pertama Majapahit itu mengabulkan janjinya dengan memberi Wiraraja wilayah Majapahit sebelah timur yang beribukota di Lamajang (kini Lumajang).
Babad Raja Blambangan memberi tahu kita bahwa wilayah Lumajang yang diberikan pada Arya Wiraraja adalag berupa hutan, termasuk Gunung Brahma (kini Gunung Bromo) hingga tepi timur Jawi Wetan (Jawa Timur), bahkan hingga Selat Bali (”Wit prekawit tanah Lumajang seanteron ipun kedadosaken tanah Blambangan”). Menurut teks Babad Raja Blambangan, Arya Wiraraja memerintah di Blambangan sejak 1294 hingga 1301. Ia digantikan putranya, Arya Nambi, dari 1301 sampai 1331. Setelah Nambi terbunuh karena intrik politik pada 1331, takhta Kerajaan Blambangan kosong hingga 1352. Yang mengisi kekosongan ini adalah Sira Dalem Sri Bhima Chili Kapakisan, saudara tertua Dalem Sri Bhima Cakti di Pasuruan, Dalem Sri Kapakisan di Sumbawa, dan Dalem Sri Kresna Kapakisan di Bali.
Kesaksian Babad Raja Blambangan berkesesuaian dengan apa yang tertulis pada Pararaton. Dikisahkan, pada 1316 Nambi, seorang pengikut setia Raden Wijaya sekaligus Patih Amamangkubhumi Majapahit yang pertama, memberontak pada masa pemerintahan Jayanagara, seperti yang dijelaskan Pararaton. Riwayat lain, yakni Kidung Sorandaka, menceritakan pemberontakan Nambi terjadi setelah kematian ayahnya yang bernama Pranaraja (sementara Kidung Harsawijaya menyebut ayah Nambi adalah Wiraraja). Pararaton mengisahkan, Nambi tewas dalam benteng pertahanannya di Desa Rabut Buhayabang, setelah dikeroyok oleh Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang. Sebelumnya, benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan yang dibangun Nambi, dapat dihancurkan oleh pasukan Majapahit. Akhirnya Nambi sekeluarga tewas dalam peperangan itu. Menurut Nagarakretagama, yang memimpin penumpasan Nambi adalah Jayanagara sendiri. Dalam peristiwa ini, jelas Nambi berada di Lamajang dan dibantu oleh pasukan Majapahit Timur, wilayah yang menjadi kekuasaan Wiraraja. Namun belum jelas, apakah Wiraraja masih hidup saat peristiwa Nambi berlangsung.
Pemaparan di atas, dalam upaya menjelaskan keberadaan Blambangan, tentu belum dirasakan memuaskan, karena walau bagaimana pun, semua data di atas tak menyebutkan nama Blambangan. Untuk itu, kita langkahkan lagi penelesuran kita ke masa yang lebih kemudian, yakni masa Perang Paregreg, peperangan antara “Keraton Barat” versus “Keraton Timur” di wilayah Majapahit.
“Kedaton Wetan” dan Perang Paregreg 1406 M
Bila merujuk ke Pararaton, kita akan mengetahui bahwa ayah angkat sekaligus kakek dari istri Bhre Wirabhumi, yakni Bhre Wengker yang bernama Wijayarajasa (suami Rajadewi), mendirikan keraton baru di Pamotan dan bergelar Bhatara Parameswara ring Pamotan. Bhatara Parameswara ini juga adalah mertua Hayam Wuruk karena putrinya yang bernama Paduka Sori meikah dengan raja ini. Setelah Bhatara Parameswara wafat tahun 1398 M, keraton di Pamotan diserahkan kepada Bhre Wirabhumi.
Bila menghubungkan berita Pararaton dengan berita pada Sejarah Dinasti Ming, kita bisa melihat adanya kesesuaian. Kronik Cini memberitakan bahwa pada 1403 M di Jawa terdapat “Kerajaan Barat” dan “Kerajaan Timur” yang tengah berseteru. Diberitakan bahwa pada tahun itu Bhre Wirabhumi, penguasa Kerajaan Timur, mengirim utusan kepada Cina guna mendapatkan pengakuan Kaisar Cina. Hal ini membuat Wikramawardhana, penguasa Kerajaan Barat, marah dan segera ia membatalkan masa kependetaannya yang telah dimulai sejak 1400. Selama itu yang menjalankan roda pemerintahan adalah istrinya, Kusumawardhani. Dengan begitu jelas, bahwa penguasa “Kerajaan Timur” yang diperikan oleh Sejarah Dinasti Ming ini mengacu pada penguasa di Pamotan, yakni Bhre Wirabhumi. Namun kemudian, muncul masalah baru: apakah istilah Kerajaan Timur pada masa Bhre Wirabhumi sama dengan istilah “Istana Timur” pada masa Arya Wiraraja?
Pada 1403 Kaisar Yung Lo di Cina mengirim utusan ke Jawa guna memberitahukan bahwa dirinyalah yang menjadi Kaisar Cina. Hubungan Cina-Jawa makin mesra ketika Wikramawardhana menerima stempel perak berlapis emas dari Kaisar Yung Lo. Sebagai terima kasih, Wikramawardhana mengirim utusannya ke Cina dengan membawa upeti. Rupanya kiriman stempel perak-emas itu membangkitkan keinginan Bhre Wirabhumi untuk mengirimkan upeti ke Cina. Pengirim utusan oleh Wirabhumi ini memiliki maksud yang lebih khusus: meminta pengakuan dari Kaisar Cina. Pengesahan resmi dari Kaisar Cina terhadap Bhre Wirabhumi di Kerajaan Timur membuat geram Wikramawardhana yang tengah bertapa. Ketika mendengar Bhre Wirabhumi diakui oleh Kaisar Cina, pada 1403 Wikramawardhana kembali mengemban pemerintahan. Tiga tahun berikutnya, 1406, baik Kerajaan Barat maupun Kerajaan Timur sama-sama meminta dukungan kepada kerabat istana Majapahit lain untuk mendukung mereka.
Pararaton mencatat, Perang Paregreg (“perang yang berangsur-angsur”) antara Wikramawardhana-Bhre Wirabhumi terjadi pada tahun Saka naga-loro-anahut-wulan atau 1328 Saka (1406). Setelah Wikramawardhana berhasil mengalahkan Kerajaan Timur, Bhre Wirabhumi melarikan diri saat malam dengan menumpang perahu. Namun ia berhasil dikejar oleh Bhra Narapati Raden Gajah, kepalanya dipancung lalu dibawa ke Majapahit untuk dipersembahkan kepada Bhra Hyang Wisesa. Kepala Bhre Wirabhumi kemudian ditanam di Desa Lung. Candinya dibangun pada tahun itu juga (1406), bernama Grisapura.
Perang ini berawal dari ketidaksetujuan Bhre Wirabhumi, anak Sri Rajasanagara atau Hayam Wuruk dari selir, atas penunjukan Suhita, putri pasangan Kusumawardhani (putri Hayam Wuruk) dengan Wikramawardhana, menjadi penguasa Majapahit. Sebelumnya, pada 1389 Wikramawardhana, menantu sekaligus keponakan Hayam Wuruk, dinobatkan menjadi raja, lalu setelah 12 tahun memerintah, Wikramawardhana turun takhta dan menjadi pendeta. Penunjukan Suhita oleh Wikramawardhana tidak disetujui Bhre Wirabhūmi. Wirabhumi, walau sebatas anak dari seorang selir, merasa lebih berhak atas takhta Majapahit karena ialah satu-satunya anak lelaki dari Hayam Wuruk. Ia melihat bahwa Suhita kurang berhak atas takhta tersebut karena hanya seorang wanita dari seorang putri Hayam Wuruk, yakni Kusumawardhani. Bhre Wirabhumi sendiri, menurut Nagarakretagama, menikah dengan Nagarawardhani, sedangkan menurut Pararaton ia menikah dengan Bhre Lasem yakni Sang Alemu alias Indudewi, kemenakan Hayam Wuruk sekaligus anak dari Rajadewi (Rajasaduhitendudewi). Rajadewi dalam Nagarakretagama, yang identik dengan Bhre Daha menurut Pararaton, ini adalah bibi Hayam Wuruk.
Setelah Bhre Wirabhumi tewas, Bhre Daha, ibu angkat Bhre Wirabhumi yakni Rajasaduhitendudewi, diboyong oleh Hyang Wisesa ke Kedaton Kulon, Majapahit. Siapa orang yang menggantikan Bhre Wirabhumi menjadi penguasa Daha, tidak diketahui. Pararaton hanya menceritakan bahwa pada 1359 Saka (1437 M), yang menjadi penguasa Daha adalah Jayawardhani Dyah Jayeswari, putri bungsu Bhre Pandan Salas.
Setelah Perang Paregreg, takhta Majapahit masih dipegang oleh Wikramawardhana hingga 11 tahun kemudian. Pada 1349 Saka (1427 M) Wikramawardhana wafat, takhta Majapahit lalu diserahkan kepada Suhita. Setelah Bhre Wirabhumi tewas, Kerajaan Timur bersatu dengan Kerajaan Barat. Namun, di laih pihak banyak daerah bawahan di luar Jawa yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
Dari uraian di atas, sama, bahwa sumber-sumber tertulis yang lebih tua, yakni Nagarakretagama pada abad ke-14 tidak mencantumkan nama “Blambangan” untuk wilayah yang dikuasai Arya Wirajaja; pun Pararaton yang ditulis sekitar abad ke-15 dan 16 tidak menyebutkan nama itu, melainkan “Istana Timur” untuk wilaya yang dikuasai oleh Bhre Wirabhumi. Istilah “Blambangan” sebagai sebuah kerajaan baru muncul pada abad-abad selanjutnya, yakni abad ke-18 pada masa Mataram-Islam, dua abad setelah era Paregreg. Namun ada pengecualian, naskah Bujangga Manik yang ditulis sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 menyebutkan nama tempat “Balungbungan” yang terletak di ujung timur Jawa Timur sebagai tempat ziarah kaum Hindu (hal ini akan dibahas pada uraian selanjutnya).
Panarukan, Pelarian Dyah Ranawijaya Raja Kediri
Namun, sebelum putus asa, ada data menarik yang akan membimbing kita menelusuri kabut sejarah kerajaan ini. Data itu menguraikan sebuah peristiwa yang terjadi pada akhir abad ke-16, setengah abad setelah masa Paregreg, yakni penyerangan pasukan Demak ke Daha, ibukota Kediri. Saat itu, Kediri merupakan kerajaan utama setelah berhasil menyerang Majapahit.
Muljana (1986: 300) menuturkan, pasukan Demak yang Islam menyerang Tuban pada 1527; setelah Tuban, laskar Demak menyerang Daha, ibukota Kediri pada tahun itu juga. Raja Kediri, Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (diidentifikasikan sama dengan tokoh Bhatara Wijaya atau Brawijaya dalam serat) melarikan diri ke Panarukan, sementara Kediri jatuh ke tangan Demak. Dyah Ranawijaya sendiri sebelumnya pernah mengalahkan Bhre Kertabhumi Raja Majapahit pada 1478. Penyerangan itu dalam rangka balas dendamnya, karena ayahnya, Suraprabhawa Sang Singawikramawardhana yang duduk di keraton Majapahit diserang oleh Bhre Kretabhumi, sehingga menyebabkan Suraprabhawa mengungsi ke Daha, Kediri. Pendapat ini didukung oleh Prasasti Petak yang menyebutkan, keluarga Girindrawardhana pernah berperang melawan Majapahit lebih dari satu kali.
Berita dari Serta Kanda yang menyebutkan bahwa Dyah Ranawijaya, setelah Daha jatuh ke pasukan Demak, melarikan diri ke Bali, menurut Muljana, tak dapat dibuktikan oleh data sejarah yang lebih sahih. Sebaliknya, Dyah Ranawija melarikan diri ke Panarukan (kini nama kecamatan di Kab. Situbondo, Jawa Timur, utara Banyuwangi). Panarukan sendiri ketika itu merupakan sebuah pelabuhan yang cukup ramai dan sejak abad ke-14 telah menjadi salah satu pangkalan kapal terpenting bagi Majapahit. Dengan tibanya Ranawijaya ke kota pelabuhan ini, Kerajaan Panarukan ini bisa dianggap sebagai kelanjutan Kediri. Dan berdasarkan penuturan orang Belanda kemudian, kerajaan Panarukan ini dapat diidentifikasi sebagai Kerajaan Blambangan.
Hal ini sesuai berita Portugis yang menyebutkan adanya utusan Kerajaan Hindu di Panarukan ke Malaka pada 1528—setahun setelah Dyah Ranawijaya diserang Demak. Utusan dari Panarukan ini bermaksud mendapatkan dukungan orang-orang Portugis, yang tentunya bermaksud menghadang pengaruh Islam di Jawa. Bukti lain bahwa Panarukan adalah (bagian dari) Blambangan adalah peristiwa terbunuhnya Sultan Trenggana raja ke-3 Demak pada 1546. Hanya saja, belum ada kepastian, sejak kapan pusat pemerintahan Blambangan pindah dari Panarukan ke wilayah yang lebih timur.
Pada saat Kerajaan Demak memperlebar wilayah kekuasaannya di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana, sebagian wilayah Jawa Timur berhasil dikuasainya. Pasuruan ditaklukan pada 1545 dan sejak saat itu menjadi kekuatan Islam yang penting di ujung timur Jawa. Akan tetapi, usaha Demak menaklukkan Panarukan/Blambangan mengalami kendala karena kerajaan ini menolak Islam. Bahkan, pada 1546, Sultan Trenggana sendiri terbunuh di dekat Panarukan, setelah selama tiga bulan tak mampu menembus kota Panarukan. Barulah ketika Pasuruan berhasil dikuasai Demak, posisi Blambangan makin terdesak. Pada 1601 ibukota Blambangan dapat direbut oleh pasukan Pasuruan yang dibantu Demak. Setelah dikalahkan oleh aliansi Demak-Pasuruan, Kerajaan Blambangan mulai dimasuki budaya dan ajaran Islam. Pusat pemerintahan pun bergeser ke selatan, ke daerah Muncar.
Pada masa Kesultanan Mataram, penguasa Blambangan kembali menyatakan diri sebagai wilayah yang merdeka. Usaha para penguasa Mataram dalam menundukkan Blambangan mengalami kegagalan. Hal ini mengakibatkan kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk ke dalam budaya Jawa Tengahan. Maka dari itu, sampai sekarang kawasan Banyuwangi memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali-lah yang lebih menonjol pada berbagai bentuk kesenian dari wilayah Blambangan.
Dari uraian di atas terkesan bahwa cikal bakal Blambangan terdapat di Panarukan, jadi bukan berasal dari “Istana Timur” di Lumajang peninggalan Arya Wiraraja atau istana pada masa Perang Paregreg. Namun demikian, diperlukan sejumlah pertimbangan lain untuk memutuskan apakah tepat bila kita menyebutkan bahwa Panarukan merupakan awal mula Kerajaan Blambangan. Hal ini akan lebih terkuak pada uraian-uraian di bawah ini.
Pangeran Tampauna (Pangeran Kedhawung) dan Tawang Alun (Sinuhun Macan Putih)
Pada abad ke-16, Blambangan berada dalam kekuasaan Bali. Kerajaan Gelgel di Bali yang dirajai Dalem Waturengong (1460-1550) mampu memperluas wilayahnya hingga ke bagian timur Jawa Timur, Lombok dan Sumbawa. Setelah Dalem Waturenggong digantikan oleh putranya yakni Dalem di Made, satu persatu wilayah kekuasaan Gelgel melepaskan diri, di antaranya Blambangan dan Bima (tahun 1633) dan Lombok (tahun 1640). Pada 1651, muncul pemberontakan Gusti Agung Maruti atas Gelgel. Ketika Dewa Agung Jambe menggantikan Dalem Di Made, kembali Gelgel merebut wilayahnya yang terlepas pada 1686. Raja ini lalu memindahkan pusat kerajaan ke Samarapura di Klungkung.
Pada abad ke-17, Blambangan sendiri dipimpin oleh Santaguna. Setelah Blambangan ditaklukkan pada 1636 oleh Sultan Agung Mataram, Santaguna digantikan oleh Raden Mas Kembar alias Tampauna pada 1637. Ketika itu, ibukota masih di Lumajang. Pada 1639, raja ini memindahkan keraton ke Kedhawung, sekitar Panarukan, Situbondo, sehingga bergelar Pangeran Kedhawung. Kalimat ini menjelaskan bahwa cikal bakal Blambangan adalah Lumajang—dan untuk ini kita bisa menarik garis ke masa Arya Wiraraja.
Pada masa Mas Tampauna ini, Blambangan selalu menjadi rebutan antara Bali dan Mataram. Perebutan pengaruh antardua kerajaan itu berakhir setelah kedua penguasa kerajaan itu wafat, Sultan Agung pada 1646 dan Dewa Agung pada 1651. Pada 1649, setelah berusia sepuh, Mas Tampauna bertapa di hutan Kedhawung menjadi begawan.
Setelah Mas Tampauna menjad begawan, pemerintahan digantikan oleh putranya yakni Tawang Alun pada 1652. Menurut cerita, raja ini melakukan semedhi dan memunyai gelar baru, Begawan Bayu. Di tempat bertapanya, ia mendapat petunjuk untuk berjalan “ngalor wetan” bila ada “macan putih”. Ia pun harus duduk di atas macan putih dan mengikuti perjalanan macan putih tersebut menuju hutan Sudhimara (Sudhimoro). Tawang Alun lalu mengelilingi hutan seluas 4 km2. Tempat itulah yang selanjutnya dijadikan pusat pemerintahan dan diberi nama keraton Macan Putih (tahun 1655).
Ketika di bawah kepemimpinan Raja Tawang Alun atau Sinuhun Macan Putih, Blambangan berusaha melepaskan diri dari Mataram. Tulisan Raffles (2008: 511) menerangkan bahwa pada 1659 M atau 1585 Saka, raja Blambangan yang baru dilantik (tidak disebut namanya), dengan dibantu angkatan perang dari Bali, kembali melakukan pemberontakan. Susuhunan Amangkurat I (Sunan Tegal Arum), pengganti Sultan Agung dari Mataram, lalu mengirimkan pasukannya untuk mengatasi pemberontakan laskar Blambangan-Bali ini dan berhasli menguasai ibukota Blambangan. Diberitakan, raja Blambangan—yang dipastikan adalah Tawang Alun—dan para pengikutnya melarikan diri ke Bali. Sementara itu, pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Wiraguna terserang wabah penyakit yang memaksa dirinya menarik pasukannya kembali. Mendengar itu, Amangkurat memutuskan untuk menghukum sang tumenggung dengan alasan hendak memberontak.
Pada masa, Tawang Alun memerintah, wilayah kekuasaan Blambangan meliputi Jember, Lumajang, Situbondo. Dikisahkan bahwa Raja Tawang Alun berwawasan terbuka, karena meski merupakan penganut Hindu yang taat, raja ini tidak melarang komunitas Islam berkembang. Yang menjadi fokusnya dalah bagaimana caranya melawan arus dominasi asing.
Sebelum memindahkan ibukota ke Macan Putih, Tawang Alun sempat mendirikan ibukota di wilayah Rowo Bayu (kini termasuk Kec. Songgon, Banyuwangi)—jauh sebelum Mas Rempeg Jagapati menetap di Rowo Bayu. Kepindahan ini diakibatkan serangan adik Tawang Alun sendiri, yakni Mas Wila, yang memberontak. Menurut cerita penduduk setempat, tawang Alun mendirikan sebuah tempat bertapa di Rowo Bayu ini.
Petilasan Tawang Alun bertapa di Rowo Bayu
Sumber: http://ikaningtyas.blogspot.com/2010_06_01_archive.html
Sepak terjang Tawang Alun ini banyak tercatat dalam arsip Belanda, ketika masa terakhir pemerintahannya. Arsip Belanda itu, misalnya, mencatat prosesi pembakaran jenazah (ngaben) Tawang Alun (meninggal 18 September 1691) yang begitu spektakuler. Bagaimana tak spektakuler jika dalam upacara ngaben itu sebanyak 271 istri dari 400 istri Tawang Alun ikut membakar diri (sati) ke dalam kobaran api?
Tempat kremasi jenazah Tawang Alun masih bisa ditemukan hingga sekarang, posisinya berada satu kilometer dari Balai Desa Macan Putih, luasnya sekitar setengah hektar dan dikelilingi tembok putih dengan satu pintu pagar yang lebarnya hanya untuk dilewati satu orang. Bangunan utamanya mirip pendopo berbentuk segienam, berlantai putih dari keramik.
Pendopo yang dipercayai sebagai tempat penyimpanan abu Tawang Alun di Desa Macan Putih, Kec. Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur.
Sumber: http://ikaningtyas.blogspot.com/2010_06_01_archive.html
Mengenai nama Tawang Alun sebagai wilayah administratif, catatan Bujangga Manik memerikan sebuah tempat bernama Padang Alun. Padang Alun ini dilewatinya sehabis menapaki Balungbungan atau Blambangan (setelah sebelumnya menyeberang dulu dari Bali), menuju wilayah Jawa Barat melalui jalur pantai selatan Jawa. Toponimi Padang Alun di sini tentu mengingatkan kita pada nama Tawang Alun. Dilihat dari segi semantis (makna kata), kata padang berdekatan dengan kata tawang: padang dalam bahasa Jawa berarti “cahaya, terbuka”, tawang berarti “terbuka, tidak tertutup bayang-bayang” (Noorduyn, J dan A. Teeuw, 2009: 512). Dari jabaran ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Padang Alun pada abad ke-15/ke-16 tak lain adalah nama alternatif dari Tawang Alun. Deskripsi ini memperkuat dugaan bahwa nama Tawang Alun untuk penguasa wilayah ini diambil dari nama tempat di mana ia memerintah, atau mungkin saja sebaliknya. Kemungkinan besar, penguasa “Padang Alun” pada masa Bujangga Manik melewati wilayah ini tak lain adalah Tawang Alun.
Reruntuhan Candi Tawang Alun di Desa Buncita, Kec. Sedati, Sidoarjo, Jawa Timur, yang tidak terawat. Masyarakat setempat memercayai bahwa candi ini didirikan oleh Resi Tawang Alun untuk dipersembahkan kepada salah seorang selirnya, Putri Alun. Kebenaran kisah tersebut masih harus diselediki, dan apakah berhunungan dengan keberadaan Raja Tawang Alun dari Blambangan.
Sumber: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2010/01/candi-tawangalun.html
“Puputan Bayu” Melawan VOC
Setelah Tawang Alun meninggal, Blambangan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Buleleng di Bali. Setelah itu, VOC Belanda berusaha menguasai Blambangan. Perang pun meletus pada 25 Maret 1767 dan pusat Blambangan dapat dikuasai VOC. Namun, perjuangan rakyat Blambangan tak pernah padam. Pangeran Agung Wilis atau Wong Agung Wilis, yang baru dilantik menjadi raja Blambangan, langsung angkat senjata melawan VOC. Sayang, Pangeran Agung Wilis dapat ditangkap VOC dan diasingkan ke Selong, dekat Pasuruan.
Perjuangan rakyat Blambangan dilanjutkan oleh Mas Rempeg Jagapati. Pada 18 Desember 1771, laskar Blambangan berhasil membunuh pimpinan pasukan VOC, Van Schaar. Tanggal inilah yang didipakai sebagai Hari Jadi Banyuwangi. Pada 2004, pemerintah Banyuwangi membangun sebuah monument guna memperingati perang Puputan Bayu tersebut yang dipimpin oleh Rempeg Jagapati itu.
Jagapati merupakan keturunan Tawang Alun. Saat itu pusat Kerajaan Blambangan berada di Lateng (sekarang Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi). Ia melarikan diri karena tidak puas terhadap VOC yang mengangkat raja Islam yang ternyata korup. Jagapati segera menobatkan diri sebagai Susuhunan Jagapati di Rowo Bayu dengan menghimpun prajurit-prajurit Blambangan yang kecewa. Di Rowo Bayu, Jagapati membangun tempat yang mirip kerajaan. Kini, Rowo Bayu sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas delapan hektar. Rawa yang airnya berwarna hijau ini merupakan pertemuan tiga mata air, yakni Sendang Kaputren, Sendang Wigangga, dan Sendang Kamulyan.
Pemandangan di sekitar Rowo Bayu di Desa Bayu, Kec. Songgon, di kaki Gunung Raung.
Sumber: http://ikaningtyas.blogspot.com/2010_06_01_archive.html
Perlawanan Pangeran Jagapati ini diramaikan oleh seorang pejuang wanita bernama Mas Ayu Wiwit. Pada 1771 pejuang ini bersama rakyat Blambangan melawan serbuan Belanda yang bermarkas di Desa Songgon dan juga melawan serangan rakyat Madura pesisir Jawa Timur yang dipimpin oleh Ki Suradiwirya dan Ki Pulangjiwa. Mas Ayu Wiwit, Mas Jagapati, bersama para pemimpin pasukan seperti Ki Keboundha, Ki Tumbhakmental, Ki Kebogegambul, Ki Kidang Salendhit, Ki Sudukwatu, dan Ki Jagalara dengan sekuat tenaga mempertahankan tanah Blambangan. Perang Puputan Bayu berlangsung sejak 2 Agustus 1771 sampai 18 Desember 1771.
VOC yang marah segera mengirimkan 1.500 pasukannya guna menumpas prajurit Blambangan, pada Oktober 1772. VOC membakar lumbung-lumbung padi di Songgon, sehingga perlawanan rakyat Blambangan melemah karena kelaparan. Perang pun pecah kembali. Kali ini, ribuan prajurit Blambangan dibunuh, kepala mereka digantungkan di pohon-pohon di sekitar Rowo Bayu. Rakyat Blambangan yang semula berjumlah 8.000-an hanya tersisa sekitar 2.000 ribuan jiwa akibat serangan VOC itu. Penduduk Blambangan lainnya memilih menyebrang ke Bali atau ke wilayah pegunungan di sebelah selatan atau baratdaya.
Diperkirakan, setelah Puputan Bayu selesai, lebih dari separuh penduduk Blambangan lenyap. Untuk menutupi kekurangan jumlah penduduk ini, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan penduduk dari wilayah lain untuk mendiami Blambangan. Sementara itu, penduduk Blambangan yang tidak melarikan diri kini dikenal sebagai masyarakat “sing”. Kata sing berarti “tidak”, dan di sini bermakna “orang yang tidak ikut mengungsi”. Baru seabad kemudian, pada masa Thomas Raffles, penduduk Banyuwangi tercatat berkisar 8.554 jiwa.
Muncar, Ibukota Baru
Setelah Perang Puputan Bayu berakhir, VOC memindahkan ibukota kerajaan ke wilayah Muncar karena letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Ulupampang (kini bernama Pelabuhan Muncar). Hak ini dilakukan VOC atas pertimbangan guna mengawasi Selat Bali dikarenakan kerajaan-kerajaan Gelgel dan Mengwi di Bali berusaha merebut Blambangan kembali. Keinginan raja-raja Bali untuk merebut Blambangan dapat dimengerti mengingat sebelumnya kerajaan-kerajaan di Bali itu selalu memberikan bantuan kepada Blambangan saat peperangan melawan VOC maupun melawan kerajaan-kerajaan Islam.
Melihat ancaman yang serius dari Selat ini membuat VOC akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Mataram. Tujuannya: agar untuk memutus hubungan Blambangan dengan Bali dengan jalan islamisai Blambangan. Mulailah pihak Mataram menempatkan orang-orang Islam untuk dijadikan raja di Blambangan dengan harapan proses islamisasi berlangsung lebih cepat.
Di Muncar inilah periode Kerajaan Blambangan bercorak Islam dimulai. Dari Muncar, ibu kota Kerajaan kemudian berpindah ke Banyuwangi (saat ini menjadi letak Pendopo Kabupaten Banyuwangi). Pada masa ibukota di Muncar ini, otomatis eksistensi Blambangan sebagai kerajaan telah lenyap.
Ketika islamisasi makin berkembang di Blambangan, banyak warga yang memilih untuk menyeberang ke Bali. Mereka masuk sebuah hutan bernama Alas Purwo, karena bersiteguh memegang agama Hindu dan menolak pengislaman dari pihak Mataram yang ada di Blambangan.
Sementara itu, Pelabuhan Muncar sendiri merupakan jantung pertahanan sekaligus pusat militer VOC pada abad ke-17 dan ke-18 di Blambangan. VOC mengangkat warga Tionghoa menjadi kepala pelabuhan. Pelabuhan ini cukup ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari Cina, Arab, dan beberapa wilayah Nusantara, sehingga di sekitar pelabuhan terdapat perkampungan-perkampungan berbagai etnis tersebut.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka sebuah garis bisa kita tarik untuk memetakan wilayah-wilayah Kerajaan Blambangan ini. Bila dirunut dari masa Lumajang, sebagai tempat asal, hingga Muncar sebagai ibukota terakhir, jelas bahwa pusat Blambangan terus bergeser ke arah timur, dan jelas pula bahwa Kerajaan Blambangan merupakan negara yang selalu berada dalam kondisi politik yang bersitegang dan penuh dengan konflik luar negeri.
Letak Istana
Membicarakan letak istana(-istana) Blambangan tentu tak mudah. Hal ini, pertama, dikarenakan pusat kerajaan ini berpindah-pindah. Bila kita menetapkan bahwa pusat pemerintahan pertama kerajaan Blambangan adalah Lumajang lalu Panarukan, maka sepatutnya kita menelusuri jejak-jejak budaya di dua kota tersebut. Namun, sejauh ini, belum ada temuan yang bisa menuntun kita ke arah sana. Maka dari itu, penelusuran kita alihkan ke arah yang lebih timur/tenggara, tepatnya ke Banyuwangi.
Masyarakat yang mengatasnamakan Forum Penyelamat Situs Macan Putih pernah melakukan penggalian di 17 titik, namun kegiatan itu tak sampai rampung. Walau begitu, bukannya tak ada bukti sama sekali mengenai bangunan pada masa Kerajaan Blambangan ini. Warga sekitar Desa Macan Putih masih sering menemukan sisa-sisa batu bata yang diperkirakan bekas bangunan kerajaan, berukuran dua kali lebih besar dibanding ukuran batu bata saat ini. Mengenai fungsi dari sisa-sisa batu bata itu masih belum jelas, apakah sebagai pagar keraton, benteng, atau dinding keraton. Yang bisa dipastikan, batu-batu itu berasal dari masa prakolonial Belanda.
Selain di Desa Agung Macan Putih, ada pula Situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, yang dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan atau benteng kerajaan yang memiliki panjang sekitar 5 km. Di dalam situs ini terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah. Kesembilan batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau penyangga, karena itulah situs ini dinamakan Umpak Songo (Sembilan Penyangga). Ketika ditemukan, situs ini terpendam pada kedalaman 1 – 0,5 m dari permukaan tanah, membentang dari Masjid Pasar Muncar hingga area persawahan Desa Tembokrejo. Diduga, benteng atau istana ini merupakan peninggalan Blambangan pada saat ibukota pindah ke Muncar.
Bangunan lain yang merupakan peninggalan Kerajaan Blambangan pada periode Muncar adalah Siti Hinggil (Setinggil) yang bermakna “Tanah yang Ditinggikan” (siti adalah tanah, hinggil/inggil adalah tinggi). Siti Hinggil ini berada di sebelah timur pertigaan Pasar Muncar. Fungsi Siti Hinggil adalah sebagai pos pengawasan VOC untuk memata-matai musuh dari kerajaan-kerajaan Bali yang akan melakukan penyerangan, yakni berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan batu tebing guna mengawasi keadaan di sekitar Teluk Pangpang. Jarak Sitihinggil ini dari Situs Umpak Songo cukup ditempuh dalam waktu 10 menit ke arah timur.
Ada pula kolam dan sebuah sumur kuno yang ditemukan di sekitar Pura Agung Blambangan, yakni di Desa Tembok Rejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Beberapa benda peninggalan sejarah Blambangan yang lainnya terdapat di Museum Daerah berupa guci dan asesoris gelang lengan.
Blambangan, Pusat Keagamaan
Dari teks Bujangga Manik yang ditulis sekitar abad ke-16, kita dapat memperoleh sebuah nama daerah sebagai tempat bertapanya kaum agamawan Hindu, yakni “Balungbungan” yang, bila merujuk teks naskah tersebut, terletak di ujung timur Pulau Jawa. Sangat mungkin sekali bahwa nama Blambangan pada abad ke-16 (dan juga abad-abad sebelumnya) adalah Balungbungan, atau Balungbungan merupakan penulisan lain dari Blambangan atau Balambangan.
Ada pun tokoh dalam Bujangga Manik adalah seorang bangsawan Sunda dari keraton Pakuan yang bercita-cita menjadi pertapa yang mencari jalan menuju kehidupan abadi. Tokoh ini menolak menikah dan memilih untuk bertapa di Balungbungan, guna mencari tempat peristirahatan terakhir. Setiba di Balungbungan, setelah berhari-hari berjalan menapaki wilayah utara Jawa dari Pakuan (di sekitar Bogor, Jawa Barat), tokoh ini melakukan laku tapa, mendirikan pesanggrahan, berkebun, dan mendirikan lingga. Di tempat ini ia tinggal selama setahun lebih setelah didatangi oleh seorang biarawati (“ebon”) yang ingin ikut bertapa. Tokoh ini memilih untuk melanjutkan perjalanannya ke Bali daripada harus ditemani seorang yang wanita—karena takut akan godaan melakukan hal-hal yang dilarang.
Dari keterangan yang diperoleh dari naskah berbahasa Sunda Kuno tersebut, jelas bahwa Balungbungan merupakan salah satu tujuan kaum agama kala itu yang ingin menjadi pertapa dan tujuan para peziarah dari berbagai pelosok. Meski tak ada keterangan lain yang diperoleh dari naskah tersebut mengenai Balungbungan kecuali sebagai tempat keagamaan, namun kiranya kita dapat memahami sepenggal peranan Balungbungan pada masa bersangkutan. Dari uraian Bujangga Manik kita diyakinkan bahwa agama yang dipeluk oleh sebagian masyarakat Blambangan pra-Islam adalah Hindu.
Pada abad ke-16, ketika kerajaan-kerajaan di Jawa telah bercorak Islam, hanya ada dua kerajaan yang berpegang teguh pada coraknya yang Hindu, yakni Sunda-Pajajaran dan Blambangan. Dua kerajaan ini pula yang melakukan hubungan politik dengan Portugis yang bermarkas di Malaka. Persekutuan ini merupakan usaha politis dua kerajaan tersebut dalam menahan penetrasi kerajaan-kerajaan Islam yang justru tengah berusaha menghalau pengaruh Portugis di kawasan Nusantara.
Setelah pengaruh Mataram dan terlebih-lebih setelah VOC mengalahkan perjuangan masyarakat Blambangan, eksistensi keberagamaan Hindu di Blambangan pun berubah. Sejak saat itu, perlahan-lahan Islam mulai diimani oleh sebagian masyarakat Blambangan—juga agama Nasrani yang diperkenalkan oleh Belanda.

Kehidupan Sosial dan Ekonomi
Tak banyak sumber yang memberitakan mengenai sistem sosial dan ekonomi yang dianut oleh masyarakat Blambangan. Tome Pires (Lombard, 2008: 171) menulis bahwa pada abad ke-15 dan 16, Pulau Jawa banyak memprosuksi hamba atau hulun alias budak, dan Blambangan merupakan salah satu pengekspor golongan masyarakat tersebut.
Ada pun kehidupan ekonomi-sosial masyarakat Blambangan sangat bergantung pada padi. Hal ini berkesesuaian dengan berita bahwa pasukan VOC membakar lumbung-lumbung padi saat menyerang Blambangan. Fakta bahwa baik Panarukan maupun Muncar adalah kota-pelabuan menimbulkan anggapan bahwa kehidupan ekonomi kawula Blambangan bergantung pula pada penghasilan laut. Selanjutnya, belum diketahui pasti apa lagi hasil bumi yang dikelola oleh masyarakat Blambangan, namun kiranya dapat disejajarkan dengan apa yang digarap oleh masyarakat Majapahit.
Blambangan dalam Roman Damarwulan-Minakjinggo
Muljana menulis bahwa cerita roman Damarwulan dan Minakjinggo muncul setelah meletusnya Perang Paregreg yang terjadi pada 1406. Perang inilah yang menginspirasi sastrawan Jawa—yang entah siapa orangnya—untuk membuat kisah Damarwulan-Minakjinggo. Tak terhitung sudah berapa kali kisah Damarwulan-Minakjinggo dipentaskan dalam seni sendratari, ketoprak, dan teater.
Kisah Damarwulan-Minakjinggo sendiri tercatat sedikitnya dalam tiga buah serat: Serat Kanda, Serat Damarwulan, dan Serat Blambangan. Penulis Serat Kanda, yakni sastrawan keraton Yogya, menurut Muljana, tak mengetahui pasti fakta-fakta sejerah seputar Perang Paregreg. Maka dari itu, cukup beresiko pula bila kita menghubungkan kisah Damarwulan-Minakjinggo ini dengan peristiwa Paregreg. Apalagi semua serat itu ditulis pada masa kerajaan Islam, berabad kemudian setelah peristiwa berlangsung.
Dikisahkan, penguasa Blambangan bernama Minakjinggo ingin mempersunting Ratu Majapahit Kenya Kencanawungu. Ia menaikkan statusnya, dari adipati menjadi raja Blambangan dengan gelar Prabu Urubisma. Sang Ratu yang tak ingin diperistri oleh Minakjinggo (yang digambarkan bertabiat kasar, buruk rupa, dan berbadan besar) yang sudah memiliki dua orang istri, Dewi Puyengan dan Dewi Waita. Sang Ratu segera mengadakan sayembara: barang siapa yang bisa mengalahkan Minakjinggo, ia akan diberi hadiah berlimpah. Raja Minakjinggo pun mengobrak-abrik Majapahit dengan Gada Wesi Kuningnya. Sebelum ke Majapahit, pasukan Blambangan menyerang Lumajang; bahkan dikirim pula utusan ke Ternate untuk diminta bantuan oleh Minakjingo. Para prajurit dan pejabat Majapahit banyak yang gugur, termasuk Ranggalawe. Tatkala situasi tak menentu ini, datanglah Damarwulan. Damarwulan adalah putra dari Patih Majapahit bernama Udara. Setelah dewasa ia mengabdi kepada pamannya, Patih Loh Gender di Majapahit, bekerja sebagai tukang rumput. Putri sang Patih, Dewi Anjasmara, terpikat pada Damarwulan.
Singkat cerita, Damarwulan menghadap Kencanawungu dan diangkat menjadi panglima Majapahit. Berangkatlah Damarwulan menghadapi Minakjinggo. Berkat bantuan kedua istri Minakjinggo, Waita dan Puyengan, Damarwulan berhasli mengalahkan Minakjinggo, memenggal kepalanya sebagai bukti kepada Ratu kencanawungu. Damarwulan membawa kepala Minakjinggo ke Majapahit. Namun, di tengah jalan ia dikhianati oleh dua orang anak Loh Gender, yakni Layang Seta dan Layang Kumitir, yang mengaku sebagai utusan Ratu Kencanawungu. Tanpa curiga, kepala Minakjinggo diserahkan oleh Damarwulan. Cerita selanjutnya gampang ditebak. Layang Seto dan Layang Kumitir pun dianggap pahlawan oleh ratu dan rakyat Majapahit. Namun, akhirnya kedok mereka berdua terkuak, Damarwulan pun menikah dengan Kencanawungu dan menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Mertawijaya. Pernikahan Damarwulan dengan Ratu Kencanawungu membuahkan seorang putra bernama Brawijaya.
Raffles menulis (2008: 234) bahwa pada abad ke-19 cerita Damarwulan-Minakjingo merupakan cerita favorit orang Jawa dan kerap dipentaskan dalam bentuk wayang klitik (wayang dari kayu dengan tinggi 10 inci) dan wayang beber (sosok wayang digambar pada lembaran kertas yang keras di mana dalang memberikan dialog).
Sebagian masyarakat percaya bahwa Ratu Kencanawungu merupakan perwujudan sosok Ratu Suhita, sedangkan Minakjinggo adalah Bhre Wirabhumi. Pandangan ini tentu bersifat ahistoris dan memang bertolak belakang dengan kajian di lapangan (misalnya terdapat nama Ranggalawe sebagai Adipati Tuban, yang seharusnya hidup pada masa Sanggramawijaya). Akan tetapi, terlepas dari sifatnya yang sastrawi, ada satu hal yang perlu diperhatikan mengenai kisah roman ini: keberpihakan para penulis serat tersebut sangat terasa, yakni berpihak kepada pihak yang menang (Majapahit, yang diwakili oleh sosok Damarwulan) dan seolah-olah memperolok pihak yang kalah, yakni Blambangan yang diwakili oleh sosok Minakjinggo. Mengapa? Karena dalam seni Banyuwang dan Janger, sosok Minakjinggo ditampilkan dengan wajah rupawan dan ia memberontak karena Ratu Kencanawungu membatalkan rencananya untuk dinikahi oleh Minakjinggo.
Dan tentu: serat-serat tersebut dibuat untuk mengukuhkan pengetahuan masyarakat awam bahwa raja atau sultan Mataram-Islam (juga Pajang dan Demak) merupakan keturunan raja-raja Majapahit, dan dengan begitu mereka merasa lebih percaya diri untuk membangun kekuasaan mereka.
Kepustakaan

* Damayanti, Nuning dan Haryadi Suadi. 20 Mei 2009. “Ragam dan Unsur Spiritualitas pada Ilustrasi Naskah Nusantara 1800-1900-an”. Diambil 29 September 2010. [online]. Tersedia di http://www.wacananusantara.org/1/382/ragam-dan-unsur-spiritualitas-pada-ilustrasi-naskah-nusantara-1800-1900-an?mycustomsessionname=f92184768c5154ba2855048acf688ba7.
* Ningtyas, Ika. “Menjejaki Keagungan Kerajaan Blambangan”. [online]. Tersedia di http://ikaningtyas.blogspot.com/2010_06_01_archive.html.
* Noorduyn, J dan A. Teeuw. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Terjemahan oleh Hawe Setiawan. Jakarta: Pustaka Jaya.
* Lombard, Denys. 2008. Nusa Jawa: Silang Budaya 2—Jaringan Asia. Terjemahan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
* Raffles, Thomas Stamford. 2008. History of Java. Terjemahan. Yogyakarta: Narasi.
* “Damarwulan.” Terdapat [online] http://id.wikipedia.org/wiki/Damar_Wulan.
* _____ . “Pura di Bali“. [online]. Tersedia di http://candi.pnri.go.id/bali/index.htm
* _____ . “Memuja Mantra: Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi”. [online]. Tersedia di http://books.google.co.id/books?id=gHpGFM_O_V0C&pg=PA54&lpg=PA54&dq=kedhawung&sou.
* “Sultan Trenggana”. [online]. Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Trenggana

Sumber Tulisan; http://www.wacananusantara.org/content/view/category/6/id/739

SISLSILAH SUSUHUNAN TAWANG ALUN

Rofiklaros

PEMBERONTAKAN BAYU /BABAD BLAMBANGAN

keluarga istana Blambangan yang terlibat dalam
pemberontakan:

1. Mas Dawak (30 tahun), putra Bagus Sutawainada bin Bagus Warti

2. Mas Bagus Maninrana (30 tahun), putra dari Mas Bagus Sulasari, Mantri, kepala ayah
Pangeran Pati’s. Mas Bagus Sulasari adalah anak dari Mas Dalem (Wiraguna), juga
ayah Mantri kepala Pangeran Pati’s.
3. Mas Bagus Nangkan (17 tahun), saudara Mas Bagus Maninrana

4. Mas Rempeg (17 tahun), anak dari Mas Bagus Wali, Baca lebih lanjut

Arkeolog UGM menyayangkan benda sejarah Kerajaan Blambangan yang dijual

By: hindunesia.com

Banyaknya situs sejarah Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur yang terbengkalai mengundang perhatian arkeolog dari UGM, Yogyakarta untuk ”turun gunung”. Kepala Jurusan Arkeolog UGM, Prof. Dr. Injati Adirisijanti, melakukan penggalian langsung peninggalan Kerajaan Blambangan di Desa Macanputih, Kabat, Minggu (4/7) kemarin. Hasilnya, ditemukan ribuan bekas gerabah dan reruntuhan tembok raksasa peninggalan kerajaan. Baca lebih lanjut

Pembasmian wong osing(wong Blambangan)

AKHIR PERANG WONG AGUNG WILIS, PUPUTAN BAYU atau GENOCIDA WONG BLAMBANGAN

Sir Thomas Stanford Rafless dalam bukunya Hystory of Java menulis tentang adanya disolating system orang Banyuwangi pada page 68 sbb:

From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000

Benarkah pembunuhan itu terjadi? Baca lebih lanjut

Makam Rempeg jogopati di Tosari

Angin sepoi- sepoi menerpa,seakan -akan mau berbisik dan bercinta dengan awan hitam yang putih bergulung-gulung perkasa. diantara mendung dan hujan yang ingin mencari kejelasan turunnya air perjalanan terus memasuki desa tosari .
sambil terus berjalan mencari lokasi situs, Baca lebih lanjut

Makam Mbah Rembug/Rempeg jogopati di bunder

Desa bunder berasal dari kata “munder ” . munder yaitu buah yg bentuknya seperti apel yang rasanya asam meski sudah masak .pohon ini dulu banyak tumbuh hanya di daerah ini sehingga di namakan desa bunder.yaitu yang berasal dari kata buah” munder”.

Desa Bunder tidak bisa lepas dari kisah heroik para bangsawan keturunan Blambangan dalam mengusir penjajah Belanda. Lokasinya berdekatan dengan bekas istana kerajaan Tawangalun, Baca lebih lanjut

MISTERI ANTOGAN

Semilir angin menerpa pagi yang dingin,menambah dingin suasana di lereng pegunungan raung. Ayam hitam kaki dan kepalanya kuning terus mematuk gabah yg berserakan di tanah

Sebelum di renovasi Antogan adalah sebuah tempat alami,semak belukar,rumput dan sungainya yang jernih diantara batu-batuan sungai yang besar,penulis waktu kecil hampir setiap hari mandi ditempat ini apalagi hari liburan.

Aliran sungai di lihat dari hulu

 

salah satu aliran anak sungai

setiap memasuki antogan dada berdebar sendiri…tetapi dgn niat hanya ingin mandi rasa takut hilang ditelan keinginan bersenang-senang .tapi maklum masa kanak yang penting senangnya dulu tanpa menghiraukan hal-hal yang lainnya…padahal aroma mistis terasa pd waktu itu

menurut masyarakat tempat ini salah satu Rongga batu tempat bertapa

Baca lebih lanjut

Laskar Tangguh dari Ujung Timur Jawa

SOROT ketiga pasang mata itu sangat tajam. Raut muka mereka menunjukkan watak yang keras. Dua di antaranya tampak masih berusia muda. Mereka memakai ikat kepala layaknya kesatria. Baca lebih lanjut

Blambangan yang Disingkirkan

Reruntuhan bangunan setinggi satu meter itu terlihat jelas begitu tanah di area persawahan digali. Terbuat dari batu bata, dengan struktur rapat tanpa spasi. Satu batu bata memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari batu bata yang dipakai orang sekarang. Baca lebih lanjut

Blambangan

Banyuwangi tak bisa dipisahkan dengan nama Blambangan. Karena secara historis di Banyuwangilah kekuasaan kerajaan Blambangan terakhir berada. Blambangan adalah sebuah kerajaan yang sering luput dari perhatian para ahli sejarah. Lebih kuat kesannya sebagai dongeng dari pada kenyataan sejarah. Padahal Blambangan memiliki peranan yang berarti dalam percaturan politik sosial budaya jawa pada khususnya. Sering tidak disadari bahwa kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Blambangan adalah kerajaan yang paling gigih bertahan terhadap serangan Mataram dan VOC serta Blambanganlah kerajaan yang paling akhir ditaklukkan penjajah Belanda di pulau Jawa. Akibat peperangan yang tiada henti baik dengan Mataram, Bali maupun Belanda menyebabkan tanah Blambangan kehilangan penduduk dalan jumlah yang besar, baik meninggal karena peperangan maupun sebagai tawanan perang, sedemikian rupa hingga kejayaannya di masa lampau terlupakan.[1] Baca lebih lanjut

SEKILAS TENTANG MASYARAKAT USING

Oleh: Ayu Sutarto

Pendahuluan
Secara administratif orang Using (Osing) bertempat tinggal di Kabupaten Banyuwangi, sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur Provinsi Jawa Timur. Beberapa abad yang lalu, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Banyuwangi ini merupakan wilayah utama Kerajaan Blambangan. Wilayah pemukiman orang Using makin lama makin mengecil, dan jumlah desa yang bersikukuh mempertahankan adat-istiadat Using juga makin berkurang. Baca lebih lanjut

CERITANE MBAH BUYUT SAUBENGE TELATAH BAYU

Telatah Bayu sing keneng dipedhot sesambungan sejarahe ambi merujuk mekare Blambangan. Sedurunge kraton Macanputih ngadeg kelawan retune Prabu Tawang Alun, perujuk kawitane teka Bayu. Ya ring telatah Bayu Prabu Tawang Alun mertapa lan ulih wahyu perlu ngedegaken keraton anyar, saperlu nguweni giliran nyang adhike kang ran Mas Wilabrata dadi ratu ring Kedhawung. Prabu Tawang Alun sabar lan ngalahan, sing tau lara ati nyang adhike kang sing leren-leren nyerintungi iyane. Naming adile Gusti Pengeran sing perlu dirandhu. Ya ring telatah Bayu pisan Mas Wilabrata nemu pati  lan dipetek ring salah sijine puthuk ring Bayu. Sing iku baen, sak abad seteruse ring telatah Bayu kedaden perang gedhe kang kesebut Perang Puputan Bayu.

Dongengane mbah buyut kang nguwati kedaden Perang Bayu keneng diular-ular nyang anak putu. Lan dongenagan iku sampek saiki keneng ditelusr panggonane lan sesambungane ambi sejarah.

Kaya kang ditulis ambi para ahli sejarah kang nganggo dhasar sumber primer cathetane VOC kang ditulis ring markas kompeni ring Bayu, kantor VOC ring Ulupampang kang dikumpulaken ring buku de Opskomst lan diringkes ambi C. Lekkerkerker, nyeritakaken ga prajurit Bayu kang dipimpin ambi Pangeran Jagapati nerapaken perang gerilya kelawan nggawe pelengan-pelengan kang mateni rupa juglangan kang akeh sunggrake kang diarani sungga. Kerana sungga iki pasukan kompeni kang nganggo bedhil lan meriyem kalah melayu sipat kuping.

Nurut ceritane mbah buyut kala iku wong Bayu perang kelawan nggawe sumur. Akehe puluhan sampek atusan. Arane sumur upas. Sumur kang bisa mateni, sumur kang ana racune. Serang akehe sumur ring palagan perang Bayu, panggonan sumur-sumur upas iku saiki diarani Desa Sumur. Teka desa Sumur sampek nyang Songgon sampek saiki mageh akeh sisa-sisane sumur upas iku. Tandha-tandhane, sumur-sumur iku sing keneng diurug nganggo lemah. Angger diurug lemahe ambles.jaman bengen akeh mbah-mbah kang nemokaken pelor lan kendhaline jaran ring njerone sumur-sumur iku. Pantesane baen pelor lan kendhaline jaran iku duweni pasukane VOC. Polahe kang duwe senjata bedhil nganggo pelor ya pasukane Landa. Semono uga kendhaline jaran. Waktu iku kaya ring dhokumene VOC pasukane VOC nyerang Bayu kelawan nggawa kereta kang isine mimis, lan nunggang jaran. Kadhung perajurit Bayu kang wis ngerti nyang kahanan palagan kang rapet wit-witan sing perlu nganggo jaran kang malah nyerimpedi. Prajurit Bayu kaya kang diceritakaken dokumen VOC perang nganggo senjata tulup lan pelencatan teka wit siji nyang wit liyane. Perajurit Landa kang sing paham nyang palagan, pasrah nerima kalah nalika prajurit Bayu perang kaya wong memengan, prajurit Landa dienggo amik-amik diuntal malang.

sumber : http://basausing.wordpress.com

ring kampung isun ono pisan kang aran sumur ikay…wong deso ngarani “sumur gemuling” angger wes di urug lemah ambles terus…..

sumur-sumur ini sampai sekarang masih ada dan menjadi saksi bisu sejarah.

Sekilas sejarah Banyuwangi

Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger ( putra Wong Agung Wilis ) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.

Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda ( Lekkerkerker, 1923 ).

Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan ( Ibid.1923 :1045 ).

Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur ( termasuk Blambangan ) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).

Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi ( yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 ( 5 tahun ) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi ( puncaknya ) pada tanggal  Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat18 yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.




Cikal bakal wong osing

Sejarah Suku Using diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Using) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Using yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.

Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Using mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Using mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya, termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Using dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan.Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. SEJARAH PERANG BAYU ini jarang di ekspos oleh media sehingga sejarah ini seperti tenggelam.

Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Di dalam kekuasaan Mataram inilah penduduk Blambangan mulai diislamisasi, suatu perkembangan kultural yang banyak pengaruhnya di kemudian hari dalam membentuk struktur sosial dan kebudayaan. Perebutan Blambangan oleh Mataram dan Bali terus berlangsung dan saling bergantian menguasai hingga berakhir ketika VOC berhasil menduduki Blambangan pada tahun 1765.

Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.

Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.

Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:

“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”. Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Using.

ULUPAMPANG

Jaman bengen Ulupampang dadi panggonan penting. Manggone kang nong pesisir wetan Blambangan, persisise ring kidule kutha Muncar saiki, ndadekaken Ulupampang gelis mekar dadi kutha gedhe. Kerana para dagang bengen akeh-akehe nganggo dalan jalur segara. Lurung durung pati ana. Mula ring Ulupampang tumplek blek para dagang dol tinuku. Ana wong teka Mandar, Cina, Medura lan wong Blamabangan dhewek. Sing kelalen wong Inggris kang nggawa dagangan candhu, lembaran, sutra, bedhil lan barang dagangan liyane. Pokoke jaman semana Ulupampang dadi kutha metropolitan multi etnik nurut ukuran jaman bengen. Ulupampang ring dhokumen Landa uga dadi pathokan kanggo nduduhaken panggonan liya. Misale, Bayu iku arahe teka Ulupampang ngulon ngalur sekira 45 km. iki dadi bukti ga Ulupampan mula dadi kutha gedhe. Lan kerana Ulupampang iki VOV ahire njajah Blambangan ngelaiaraken perang gedhe ring Ulupampang, Lateng, Banyualit, Logonto, Gambiran, lan kang edan-edanan ring Bayu.

Ring dhokumen-dhokumen sejarah aran Ulupampang akeh maceme. Babad Bayu karangane Wiraleksana kang ditulis taun 1827 nyebut Lupangpang. Ring pupuh v-49 unine gedigi: “….lumintang prapta lupangpang aglis wus pinapak…”. Babad Tawang Alun kang ditulis taun 1828 nganggo aran Pangpang yaiku ring pupuh ix-1 muni: “…. Kacapa tuwan rek ika pindah ring Pangpang…”. Babad Notodiningrat kang ditulis taun 1915 nganggo aran Pampang. Penulis Landa kaya C. Lekkerkerker, Pegeaud, Stoppelar lan ring buku de Opskomst nganggo aran kanga hire kesuwur yaiku Ulupampang.

Nelusur aran Ulupampng seru ndhemenaken maning kadhung nganggo kar (peta) kuna. Ring Karte der Residenzie Banjoewangi in Ost Java kang digambar taun 1874 tulisan “Pampang” kanggo aran panggonan magih ana, uga tulisan kang karepe Teluk Pampang. Ring kar iki lurung Dendles wis ana nyambung sampek Alas Purwa, lurung kang liwat Kumitir durung ana. Terus ring Atlas der Nederlandsch Bezittingen in Oost Indie 1897-1904 tulisan “Pampang” kang kanggo aran panggonan wis ilang, naming tulisan kang karepe Teluk Pampang tetep ana. Ring kar iki lurung kang tembus Jember liwat Kumitir wis ana. Teka kar iki mau keneng disiget ga sakat taun 1897 Ulupampang kanggo aran panggonan wis ilang. Embuh kerana wis dianggep sing penting kerana sing ana manggon ngkono kalah ambi mekare kutha Muncar, utawa sebab-sebab liyane kang butuh diteliti lebih jeru. Saiki iki baen kecaman Muncar kang duwe 10 desa siji-sijia sing ana desa kang aran Ulupampang utawa aran liyane kang memper-memper. Iki artine, Ulupampang kang duwe sejarah penting jaman bengen saiki sing ana pecake maning. Panggonan kang tau dadi pusere dedagangan, lan kang ndadekaken Blambangan diweruhi wong Eropa saiki wis dilalekaken. Anak putu ring Muncar saiki wis sing weruh kadhung ring telatahe iku bengen tau ana panggonan kanga aran Ulupampang kang kesuwur nyang manca.

Ring Teluk Ulupampang saiki dadi panggonan selametan Pethik Laut kang luhur dadi kumpule para nelayan muji sukur lan nggantungaken nasibe nyang Kang Maha Kuwasa Gusti Pengeran. Atusan perau perayaan ring segara, ewuan wong nyemut ning pesisir kaya kaya ngengetaken kahanan Ulupampang bengen nalika dadi kutha agul-agule Blambangan lan dadi palagan perange wong Blamabangan.

sumber

SAYU WIWIT SRIKANDHI BLAMBANGAN

Sapa bain mongkog atine kadhung niti sejarahe Sayu Wiwit. Wanita turunan bangsawan kang lila urip uled ambi rakyat, ninggalaken urip enak ring puri. Urip sara teka alas siji nyang alas liyane ngelawan Kompeni kanggo mbela tanah kelairane. Sing iku bain, Sayu Wiwit iku wong wadon kang bisa dadi panglima perang mimpin perajurit lanang lan wadon. Sayu Wiwit duwe wibawa gedhe lan sagah ngobong amuk perang ring akeh panggonan. Ring Blambangan kulon, Sayu Wiwit mimpin perang ring Puger, Senthong lan Nusa Barong. Ring Blambangan wetan yaiku ring Bayu lan Lateng. Pantes mula kadhung Sayu Wiwit kejuluk Srikandhi Blambangan.

Sayu Wiwit iku anake Mas Gumuk Jati. Iyane laki ulih anake Wong Agung Wilis yaiku Mas Surawijaya. Dadi Sayu Wiwit iku anak mantune Wong Agung Wilis. Mas Surawijaya lan Sayu Wiwit padha-padha bareng bela pati ngelawan Kompeni.

Sayu Wiwit ngawiti bela patine mbantu Leboksamirana ring Jember. Leboksamirana iku wong Medura kang sengit nyang Welanda. Nalika Sayu Wiwit gadug Jember, rakyat pating girang nemu pemimpin kang diarep-arep lan gedhe pengarepane bisa ngerasakaken urip merdheka. Mula sing sepira suwe rakyat Puger lan Senthong dipimpin Sayu Wiwit nyerang pos Steenbergen. Serdhadhu Landa akeh kang mati, pos Steenbergen bisa dikuwasani. Sayu Wiwit lan perajurite nerusaken serbuan nyang garnisum Nusa Barong. Ning kana serdhadhu Landa uga akeh kang nemu pati.

Serta mari ngerebut pos Steenbergen lan garnisum Nusa Barong, Sayu Wiwit lan perajurite nuju Senthong, Jember lor. Ewonan rakyat ring Gunung Raung mudhun milu bela pati. Welanda sing sanggup ngadhepi ewonan pejuang, ahire nyingkrih teka Jember. Makene Welanda sing balik maning nyang Jember, dalan kang nuju Jember dirusak, wit-wit ditegor kanggo nebeng lurung.

Nalika ring Bayu rakyat Blambangan kumpul dadi siji ancang-ancang perang ngelawan Kompeni, Sayu Wiwit lan keluwargane boyongan nyang Bayu perlu aweh tulung nyang Pangeran Jagapati. Kelawan sunar wibawane, para bekel kang ditemoni sak dawane dalan nuju Bayu diejak milu perang. yaiku bekel Utun teka Bedhewang, bekel Undhuh teka Lemabangdewa, bekel Runtep teka Lemabangkidul lan akeh maning liyane.

Gadug benteng Bayu, Sayu Wiwit dipapag ambi Pangeran Jagapati. Kerana pengalamane perang ring Blambangan kulon, Sayu Wiwit dijaluki gelem nularaken bab olah polah perang nyang perajurit Bayu. Sing iku bain Sayu Wiwit uga dijaluki piduduhe kapan dina kang apik kanggo nyerang Kompeni. Polahe Sayu Wiwit iku dipercaya duwe ilmu kaweruh kang jeru.

Serta wis gadug wayahe, kabeh wong Bayu lanang wadon maju perang. Perajurit wadon nganggo penganggo kaya dene wong lanang. Sayu wiwit nggawa gaman patrem lan tumbak pengawinan. Perajurit Bayu berangkat perang sinambi tetembangan gendhing perjuwangan. Gadug Tegalperangan Songgon, Sayu Wiwit pidhato kanggo ngobong lan mbombong semangete perajurit. Asile, serangan kang ndadak lan edan-edanan, nggawe pasukan Landa morat-marit melayu sipat kuping. Naming ring perang iki Pangeran Jagapati nyandhang tatu kang seru. Sedurunge ninggal, Pangeran Jagapati ngangkat Sayu Wiwit dadi gantine. Sakteruse Sayu Wiwit kang mimpin perajurit Bayu.

Tengah-tengahe Sayu Wiwit ring Bayu, mara-mara ana kabar, lakine yaiku Mas Surawijaya ninggal ring Puger. Sayu Wiwit sakkal nggawa perajurite nyang Puger ngadhepi pasukane Kapten Marhaelu. Marhaelu tiwas, naming Sayu Wiwit ninggal keneng meriyeme Kapten Heinrich. Rungu kabar iki wong sak werane bumi Blambangan sing bisa nyingedakaken susahe. Lan kabeh rumangsa kelangan pemimpin kang wis lawas lega lila ngabdi nyang rakyat. Lan kabeh rakyat Blambangan weruh kadhung Sayu Wiwit lawas ngidham kepingin weruh rakyate urip seneng.

Iku mau perjuwangane Sayu Wiwit, wong wadon kang bela pati ngungkuli kodrat wadone. Kabeh nduduhaken kadhung wong wadon Blambangan duwe aji lan ngerti kelendi kudune mbelani tanah kelairane.

sumber : Hasanbasri08.wordpress.com

Wong using

Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten yang terletak di ujung timur P. Jawa. Kabupaten ini terletak diantara 7º 43’- 8º 46’ Lintang Selatan dan 113º 53’-114º 38’ Bujur Timur. Secara administratif sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Situbondo, sebelah timur Selat Bali, sebelah selatan Samudra Indonesia, dan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Jember dan Bondowoso.
Umumnya daerah bagian selatan, barat, dan utara merupakan daerah pegunungan sehingga pada daerah ini memiliki tingkat kemiringan tanah rata-rata mencapai kurang dari 40º dengan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan daerah yang lain.

Daerah Banyuwangi yang banyak dialiri sungai-sungai yang bermanfaat untuk me-ngairi hamparan sawah yang luas. Dari gambaran kondisi yang demikian menjadikan Kabupaten Banyuwangi pernah mendapat peringkat sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur sebagai daerah lumbung padi. Berdasarkan data statistik meng-indikasikan bahwa Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi pertanian yang relatif besar setelah Kabupaten Malang dan Jember, dibanding dengan kabupaten lain di Propinsi Jawa Timur.

Bila diperhatikan menurut penggunaannya, luas Kabupaten Banyuwangi sekitar 5.782,50 km2, sebagian besar masih merupakan daerah kawasan hutan. Bahkan kawasan hutan ini mencapai 193.684,73 ha, daerah persawahan sekitar 66.553 ha, perkebunan dengan luas sekitar 57.707 ha, dan dimanfaatkan sebagai daerah pemukiman dengan luas sekitar 28.971,59 ha. Sedangkan sisanya dipergunakan sebagai ladang dan jalan. Kabupaten Banyuwangi dibagi menjadi 24 kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah 1) Pesanggaran, 2) Bangorejo, 3) Purwoharjo, 4) Tegaldlimo, 5) Muncar, 6) Cluring, 7) Gambiran, 8) Glenmore, 9) Kalibaru, 10) Genteng, 11) Srono, 12) Rogojampi, 13) Kabat, 14) Singojuruh, 15) Sempu, 16) Songgon, 17) Glagah, 18) Banyuwangi, 19) Giri, 20) Kalipuro, 21) Wongsorejo, 22) Licin, 23) Cluring, dan 24) Songgon.
Komunitas Using atau lebih dikenal sebagai wong Using oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian1 dianggap sebagai penduduk asli2 Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif merupakan kecamatan-kematan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, dan Srono. Di tiga kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Using, migran berasal dari bagian barat Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta (wong Using menyebutnya Jawa-Kulon). Di luar kecamatan-kecamatan tersebut, komunitas Using bukan lagi merupakan penduduk yang dominan (teramat sedikit), bahkan di kecamatan-kecamatan Kalibaru, Glenmore, dan Wongsorejo hampir pasti tidak dijumpai orang Using.

Narasi tentang Using biasa menghubungkan komunitas ini dengan kerajaan Blambangan,3 sebuah wilayah kekuasaan politik bagian dari kerajaan Majapahit. Prasasti Gunung Butak, pada tahun 1294, menyebutkan adanya perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam perintisan dan pembentukan kerajaan Majapahit bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru yang semua itu belakangan dikenal dengan Blambangan. Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai adipati pertama (Lekkerkerker, 1923:220).

Kurang lebih 16 tahun Arya Wiraraja memerintah Blambangan kemudian digantikan oleh Arya Nambi yang memerintah pada tahun 1311-1331; sementara di Majapahit, dalam rentang waktu itu pula, telah terjadi pergantian kekuasaan dari Raden Wijaya kepada anaknya, Jayanegara. Arya Nambi menganggap bahwa Jayanegara, tidak seperti ayahnya, banyak melakukan pelanggaran, penindasan, dan menyengsarakan rakyat, dan oleh karena itu sekitar tahun 1316 ia melancarkan serangkaian pemberontakan terhadap Jayanegara, serentetan peristiwa yang kemudian diwarisi oleh penguasa-penguasa berikutnya di kedua wilayah tersebut.

Hubungan Blambangan-Majapahit semakin keruh dan rumit ketika Bhre Wirabumi, anak Hayam Wuruk dari salah satu isteri selirnya, berkuasa di Blambangan (1364-1406). Selain masalah-masalah sebelumnya yang tidak mendapatkan penyelesaian politik, penyerahan tampuk kekuasaan politik kepada Wikrawardhana oleh isterinya, putri Kusumawardhani yang mendapat mandat dari ayahnya, Hayam Wuruk dipandang sebagai kesalahan politik dan tradisi yang termaafkan oleh Bhre Wirabumi. Sebagai keturunan langsung Hayam wuruk, meski dari istri selir, Bhre Wirabumi merasa lebih berhak untuk menduduki tahta Majapahit dibanding Wikrawardhana dan, karenanya, ia berusaha menempuh dengan berbagai macam cara untuk dapat mendudukinya.

Perang Blambangan-Majapahit yang banyak mengalirkan darah dan melayangkan jiwa tersebut memuncak dalam perang saudara yang dikenal dengan Paregreg (1401-1404), sebuah perang panjang untuk memperebutkan tahta politik. Bhre Wirabhumi yang telah mendeklarasikan sebagai raja Blambangan dengan basis wilayah politik Kedaton Wetan berhadapan secara keras dengan Wikrawardhana yang berbasis wilayah politik Kedaton Kulon. Dan akhirnya, perang itu, mengakibatkan terpenggalnya Bhre Wirabhumi oleh Narapati Raden Gajah Mada sebagaimana dikisahkan dalam kitab Pararaton (Brandes, 1920:1-15; Muljana, 1983:219).

Tahta Blambangan kemudian digantikan oleh Menak Dedali Putih yang berkuasa pada 1406-1447. Pada masa Menak ini, Blambangan nyaris tidak bersuara dan hampir sepenuhnya berada dalam cengkeraman Majapahit dalam segala aspek kehidupan (sosial, politik, ekonomi, dan budaya). Bahkan ketika Majapahit runtuh pada abad ke-16 atas desakan kekuatan Islam Demak, para petingginya, termasuk raja terakhir, Prabu Brawijaya V, beringsut ke arah timur dan memanfaatkan Blambangan sebagai salah satu pertahanan penting sebelum mereka menuju Bali. Haagerdal (1995:106-107) dan Beatty (2001:17) menyebut bahwa Blambangan saat itu menjadi tempat pengungsian bangsawan dan cendekiawan Majapahit yang melarikan diri dan penguasanya berpaling ke Bali, untuk membangun aliansi. Ketika hampir seluruh wilayah tengah dan timur pulau Jawa menjadi Islam, Blambangan tetap merupakan zona Hindu yang berperan penting dalam menghadapi Islamisasi Demak maupun kerajaan-kerajaan Islam se-sudahnya seperti Mataram.

Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Di dalam kekuasaan Mataram inilah penduduk Blambangan mulai diislamisasi, suatu perkembangan kultural yang banyak pengaruhnya di kemudian hari dalam membentuk struktur sosial dan kebudayaan. Perebutan Blambangan oleh Mataram dan Bali terus berlangsung dan saling bergantian menguasai hingga berakhir ketika VOC berhasil menduduki Blambangan pada tahun 1765.

ImageJika di masa kekuasaan Bali maupun Mataram, Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati5 yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi6 dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.

Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.

Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:

“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”.
Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Using.

SEJARAH ARYA BLAMBANGAN

Catatan Rekonstruksi Sejarah Belambangan
oleh : Sumono abdul hamid

Sebuah Catan artikel yang menarik meskipun COPY & PASTE namun Artikel ini adalah artikel yang menurut saya layak untuk dijadikan baca’an setiap Orang yang mengaku ASELI OSING….

LELUHUR SAYA ,ORANG BLAMBANGAN

Sejak kecil saya telah diberitahu oleh mbak saya, ayah saya, dan Kakek Lilir seorang sepuh dari Paiton, orang “pintar” , yang menyembuhkan ketika saya sakit, bahwa leluhur orang Banyuwangi adalah orang seperti Kakek Lilir, Kakeek Latief, dan orang yang berperawakan seperti beliau,yaitu orang yang berperawakan tinggi besar , kukuh , sawo matang, berhidung mancung dan perempuannya seperti mbah wadon (nenek) ,langsing, berhidung mbangir ( mancung kecil) . Dan saya bertemu banyak orang seperti itu pada saat kecil . Laki 2nya berikat kepala yang mengarah kebawah dan perempuannya tidak lepas memakan sirih. Tidak hanya itu, ayah saya ,telah mengenalkan petilasan leluhur Banyuwangi, patung watu kebo , di halaman S.D Watu Kebo lama, Watu loso di Alasmalang, Watu Kenong ( Batu berbentuk gamelan kenong) di Paiton, Sitinggil di Muncar dan banyak tempat , yang kebanyakan berbentuk batu halus ( Dolmen?).
Oleh karena itu saya selalu menaruh minat yang besar untuk membaca dan mencatat sesuatu yang berkaitan dengan Banyuwangi.
Tetapi ketika dipentaskan Kadung dadi Gandrung, Wis, sebuah kesenian Banyuwangi (Using) di Taman Ismail Marzuki oleh bapak Dedy Luthan tahun 1970 ,saya jadi bertanya tanya, tentang leluhur orang Banyuwangi itu, karena perawakan orang Using yang diajak dalam rombongan itu sungguh berbeda dengan gambaran maupun yang saya temui pada saat kecil saya, karena perawakan mereka lebih cenderung ke Mongolid, sedang perawakan yang pernah saya temui lebih cenderung ke Arya.
Oleh karena itu saya mulai menghimpun data tentang Banyuwang, baik mengenai adat, sejarah maupun pernak perniknya.
Menyadari bahwa saya bukan ahli sejarah , saya hanya mencatat , menyimpan catatan tersebut.
Tetapi ketika saya menjadi facebooker, melihat adik2 yang begitu antusias membicarakan Banyuwangi , adat istiadat, kesenian……saya beranggapan , saya perlu mereconstruksi ingatan dan catatan saya tentang leluhur Banyuwangi.
Apalagi ada kepedihan dalam hati saya , ketika menemukan tulisan Sir Stanford Rafless dalam Hystory of Java yang menulis sbb:

From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.

Dan pada kenyataannya , perawakan orang Banyuwangi seperti yang saya temui waktu kecil , semakin menghilang dari tanah Banyuwangi.

Perang Paregreg dan Negara Kertagama membuka fakta.

Saya akan menyingkap sejarah leluhur saya (Banyuwangi) dari tulisan Prof DR Slamaet MULYANA.
Dengan jelas dan terang bpk Slamet Mulyana, sejarahwan itu , menulis tentang Perang Paregreg. Bahwa perang itu terjadi setelah Prabu Hayamwuruk wafat. Perkawinannya dengan permaisuri Dewi Sori , hanya melahirkan putri sedang dengan selir melahirkan seorang putra. yang kemudian bernama Bhre Wirabumi dan diangkat sebagai raja Majapahit Timur*)(Blambangan dan Bali?),sedang Majapahit Pusat tetap ditangan Prabu Hayamwuruk. Ketika Prabu Hayamwuruk wafat, pewarisan tahta tidak tertata dengan baik dan jatuh ke putrinya Dyah Kusumawardhani yang tidak memiliki kecakapan memerintah , maka suaminya Wikramawhardana secara perlahan dan pasti mengambil alih kekuasaan, dan kekuasaan inipun nanti diwariskan kepada putrinya Dewi Suhita. Sejak diambil alih oleh Wikramawardana, sebenarnya telah timbul masalah, apakah menantu lebih berhak dari putra dari selir, apalagi ketika mahkota diserahkan kepada putrinya Dewi Suhita padahal dasar pewarisan adalah Patrilineal…..Disamping itu Negara Kertagama mengungkap fakta lain, sejak Wikramawardana menjadi raja, kedudukan para pendeta Hindu Siwa mulai tersingkir. Seperti diketahui Wikramawardana adalah seorang penganut Budha, dan diakhir pemerintahannya malah menjadi Bhiksu. Sedangkan prabu Hayamwuruk adalah seorang Hindu Siwa dan telah dinobatkan sebagai Sang Hyang Giri Nata Bathara Siwa( perwujudan dewa Siwa di bumi) sedang Bhree Wirabumi adalah seorang Hindu Siwa yang teguh.
Perselisihan tersebut akhirnya memuncak menjadi Perang Paregreg( Perang yg terjadi berkali kali), Bhree Wirabumi tak terkalahkan, sampai akhirnya pada masa pemerintahan dewi Suhita , ratu majapahit itu mengerahkan seluruh kekuatan yang dipimpin Bhre Narapati.
Bhre Narapati tidak hanya mengalahkan Bhree Wirabumi tetapi juga memancung kepala Bhre Wirabumi.
Dengan beralihnya kekuasaan ke Dewi Suhita, dan kematian Bhre Wirabumi, sejarahwan Slamet Mulyana mencatat sebagai akhir dari wangsa Sanggramamawijaya, dan berakhir kerajaan Hindu di Jawa(Majapahit Timur atau Blambangan).
Pemancungan kepala Bhre Wirabumi oleh Narapati dianggap kesalahan besar. Dia tidak sepantasnya melakukan seperti itu, terhadap putra Sang Hyang Giri Nata Bathara Siwa atau Prabu Hayamwuruk, keturunan darah biru wangsa Sanggramawijaya, penganut dan pelindung brahmana Hindu Siwa. Maka tiga tahun kemudian Narapatipun dipancung dan jenazah Bhre Wirabhumi diagungkan kembali karena makamnya dicandikan yaitu Candi Lung.
Setelah pemancungan Bhre Wirabumi perebutan tahta dan dendam kesumat merontokkan Majapahit

Siapakah wangsa Sanggramawijaya.

Wangsa Sanggramawijaya menurut para sejarahwan adalah raja 2 yang keturunan Ken Dedes dan Ken Arok. Seperti diketahui Ken Arok merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung , seorang akuwu ( bupati) Tumapel.
Perebutan ini sepenuhnya mendapat restu dari Brahmana Hindu Siwa karena perkawinan antara Ken Dedes dan Tunggul Ametung, dianggap para brahmana Hindu Siwa, sebagai perkawinan yang tidak setara, dan merupakan pemaksaan dari Tunggul Ametung. Tunggul Ametung tidak memiliki kepantasan sedikitpun kawin dengan Ken Dedes karena kedudukan dan kastanya lebih rendah. Maka para Brahmana Hindu Siwa , memerintahkan Ken Arok, ksatrya Brahmana merebut kembali Ken Dedes dari Tunggul Ametung.
Pramudya Ananta Toer mendeskripsikan , tentang kelompok Hindu Siwa ini, sebagai ras Arya yang sangat exclusive dan menjaga keturunan dengan ketat dan teguh terhadap agamanya.

Kapan kelompok ini datang ke Jawa

Sejarahwan mencatat mereka (Arya) telah berada di Jawadwipa ( Pulau Jawa) ,sejak wangsa Sanjaya diabad ke tujuh. Malahan ada yang berpendapat wangsa Sanjaya , sebenarnya berasal dari Jambudwipa ( India).Mereka adalah pembangun atau setidaknya terlibat secara langsung dengan pendirian candi Prambanan(Hindu Siwa) dan candi Borobudur.( Budha) .
Ada sejarahwan yang berpendapat semula candi Borobudurpun dipersiapkan sebagai candi Hindu Siwa, seperti terlihat bentuk pada bangunan dasar dan konsep kontruksinya, tetapi karena wangsa Sanjaya (Hindu Siwa) kalah dengan wangsa Syailendra (Budha Mahayana) , maka candi Borobudur diteruskan sebagai candi Budha.
Maka kelompok ini dengan jelas keberadaaannya terlacak mulai dari wangsa Sanjaya,Syaelendra, Singhasari, Majapahit , Blambangan dan Bali

Bagaimana nasib kelompok Arya (Hindu Siwa ) di Blambangan ,setelah perang Paregreg

Setelah perang Paregreg , dengan sendirinya tamatlah kerajaan Hindu Siwa di Jawa. Dan seperti dicatat oleh Negara Kertagama , karena perlakuan yang tidak pantas raja 2 sesudah Hayamwuruk, terhadap Brahmana dan penganut Hindu Siwa maka mereka sebagian exodus ke Bali.
Meskipun begitu kerajaan Blambangan masih mampu menghadang expansi kerajaan Demak Islam, dan mengalahkan pasukan Demak di Penarukan, karena dalam pertempuran itu Sultan Tranggono gugur . Oleh karena itu peranan Blambangan dalam menjaga existensi Bali sangat besar .
Maka pantas kiranya pendiri kerajaan Mengwi( dari Bali Selatan),I Gusti Agung Anak Agung mengangkat dirinya dengan gelar kebesaran Tjokorde Sakti Blambangan . Beliau tidak saja mencantumkan Blambangan sebagai namanya tetapi juga membangun Pura Paibon ( yaitu Pura yang diperuntukan untuk ibu suri) yang dikenal sekarang sebagai Taman Ayun.
Para sejarahwan menganggap taman ini lebih bernuansa Jawa Kuno ( Hindu Siwa Jawa) daripada Hindu Siwa Bali , Pura ditempat itu tidak menghadap ke Gunung Agung dan lebih dari itu ditaman ini terdapat 64 tugu leluhur ( batu dengan permukaan halus atau Dolmen yang mirip dengan watu loso,yang ada di daerah Rogojampi ke barat).
Dengan itu saya agak ragu mengatakan bahwa kerajaan Mengwi menguasai Blambangan tetapi .mungkin ada istilah yang lebih tepat.atau barangkali sebenarnya Mengwi adalah peralihan kerajaan Majapahit Timur /Blambangan ke Bali. Ini terbukti dengan keterlibatan Mengwi mengusir penjajah Belanda dari Bumi Blambangan sangat jelas dan intens.
Wong Agung Wilis yang menjadi adipati dan panglima perang di Blambangan dididik dan dibesarkan di kerajaan Mengwi. dan mendapat dukungan penuh dari kerajaan Mengwi ,sehingga mampu mengerahkan 4000 pasukan yang terdiri pasukan Blambangan, Bali , China,dan Bugis dalam satu perang frontal yang amat dahsyat yang kemudian kita kenal Perang Puputan Bayu.
Berakhirnya perang Puputan Bayu,berakibat fatal pada kelompkok Arya di Blambangan juga bagi kerajaan Mengwi di Bali.
Setelah perang Puputan Bayu pemusnahan orang Arya di Blambangan ( Banyuwangi)) dilakukan secara sistematis , Sir Stanfford Raffles dalam buku terkenalnya : History Of Java “ menulis
From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.
Sebuah survey demographie setelah perang Puputan Bayu menjadi bukti tulisan Sir Stanford Raffles tsb Blambangan hanya memiliki 120 sampai 130 kampung asli,dan tiap kampong hanya dihuni paling banyak 35 keluarga, malahan ada kampong yang tidak berpenghuni ( antara lain Tabanan).
Desolating system yang dilakukan Belanda sendiri, maupun Penguasa Local (boneka Belanda) terhadap kelompok Arya Blambangan pada saat itu sungguh mengerikan,mulai dari kerja rodi, membentuk persepsi yang jelek melalui cerita Menakjinggo Damarwulan ( Serat Kanda, serat Blambangan, Serat Damarmulan) sampai perlakuan yang sadis terhadap para ksatrya Arya Blambangan( ada novel yang menceritakan masalah ini).Akibat tindakan ini selain jumlah populasi yang menyusut drastis juga berakibat populasi perempuan kelompok Arya Blambangan lebih banyak dari kelompok laki laki.
Pemerintahan Sir Stanford Raflles 1811 sd1816,( ada bukti lain sebenarnya Inggris tetap menguasai Bengkulu dan Banyuwangi sampai Raffles menguasai Singapore yaitu 1819) memberi sedikit bernafas lega kelompok ini. Pembangunan mulai digerakkan , para pendatang dari segala suku dan bangsa berdatangan ke Banyuwangi. Maka terjadilah perkawinan campuran gadis Arya Blambangan yang cantik dengan para pendatang, demikian pula para prianya.
Tidak heran jumlah mereka yang asli semakin mengecil, dan penulis hanya menjumpai mereka yang sudah tua pada tahun 1950an. Mungkin zaman revolusi dan kemerdekaan telah mematahkan exclusive mereka , dan mereka sekarang malah menjadi pluralis kawin dengan suku Nusantara maupun dengan suku bangsa lainnya.

Kesimpulan
Itulah leluhur kita orang Banyuwangi, ras Arya yang telah menempuh perjalanan panjang dibumi Jawadwipa Sebagian telah pindah ke Bali, sebagian terbunuh dalam Perang Puputan Bayu, dan lebih banyak lagi yang mati karena desolating system Belanda Sebagian masih tinggal di Banyuwangi ,dalam jumlah kecil danterpencar dalam diam dan sunyi dan kemudian kawin dengan para pendatang. Saya pernah menggapai tangannya dan berada dalam pangkuannya…Kakek Lilir , kakekek Latief , dan orang yang berudeng batik yang menjurai kebawah, tubuh kekar , kulit sawo matang, mata tajam , hidung agak mancung dan perempuan yang langsing , hidung bangir, warna kulit lebih cerah, dengan peninggalan watu loso, watu kebo, watu kenong …..Meninggalkan exclusivenya, menjadi Pluralis , tetapi tidak pernah kehilangan Dignity( bahasanya tetap digunakan siapapun yang tinggal di Banyuwangie walau populasinya kecil), begitu juga Kreativitasnya dalam kebudayaan dan kesenian tidak pernah punah seperti ketika dia hadir dulu di bumi Jawadwipa, dalam pendirian candi2 , karya satra Ramayana, Bharatayuda, Arjuna Wiwaha,NegaraKertagama, Sri Tanjung yang terpahat di candi
Mudah2an kita mampu memeliharan Nilai2 tersebut.
Kemudian siapakah orang Using yang berwajah Mongolid dengan kesenian gandrungnya?

Sejarah perang/puputan bayu

Pangeran jagapati dalan perang bayu

oleh : Hasan Basri, lahir di Banyuwangi, pendidikan; MI, MTs, MA sambil mondok di Pesantren ASHTRA Jember yang diasuh oleh KH. Achmad Shidiq, kemudian melanjutkan kuliah di IAIN Malang. Meminati persoalan budaya utamanya budaya Using Banyuwangi, sejarah. Aktifitas; Guru, Sekretaris DKB (Dewan Kesenian Blambangan), mengelola majalah Seblang (berbahasa Using), anggota Tankinaya Institute dan Desantara.

Bayu merupakan bagian dari wilayah Blambangan yang sekarang masuk dalam daerah administratif Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi. Sebuah kawasan hutan sekitar 20 km arah barat daya kota Banyuwangi. Peperangan tersebut dikobarkan dan dipimpin oleh seorang tokoh yang bernama Mas Rempek yang gugur di medan tempur.

Peranan tokoh Mas Rempek dalam perang ini sangat penting. Bersama para pengikutnya dan pendukungnya ia mampu memobilisir dan menumbuhkan jiwa patriotik dan nasionalisme seluruh lapisan rakyat Blambangan.

Selain itu, faktor sosial politik dan ekonomi sebagai akibat tindakan yang ditempuh VOC merupakan faktor penyebab pecahnya peperangan ini. Sebagaimana dikemukakan Neil J. Smelser yang mengemukakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku kolektif ialah adanya ketegangan sosial yang disebabkan karena adanya transformasi politik, sosial ekonomi dan kultural. Situasi tegang itu akhirnya dibuat bermakna oleh “aktor” atau tokoh gerakan.[1]
A. Latar Belakang Terjadinya Perang Bayu

Pada tahun 1743 secara sepihak terjadi perjanjian antara Paku Buwana dengan Gubernur Jendral Van Imhoff di Surakarta yang isinya Paku Buwana melepaskan “haknya” di Jawa sebelah timur dari Pasuruan, yang sebenarnya Belanda sendiri menyadari bahwa yang merasa melepaskan haknya itu sebenarnya tak pernah berkuasa secara sungguh-sungguh atas daerah tersebut dan penguasa daerah itu menolak untuk tunduk patuh.[2] Berdasarkan perjanjian ini berarti Blambangan telah menjadi wilayah kekuasaan Belanda. Sementara di Blambangan, Mengwi telah mengambil alih kekuasaan dengan menempatkan Gusti Kuta Beda dan Gusti Ketut Kabakaba sebagai penguasa.

Orang Inggris yang sejak lama melakukan perdagangan di Ulupampang mengadakan kerja sama dengan Mengwi dengan konsesi memberikan ijin kepada pihak Inggris untuk mendirikan kantor dagang. Ulupampang menjadi daerah perdagangan yang sibuk. Agresifitas perdagangan Inggris di Blambangan akhirnya mencemaskan VOC, ditambah keamanan yang kacau di jalur tepi laut Jawa yang menjadi jalan utama perdagangan VOC, mendorong Johanes Vos, gubernur VOC di Semarang mengeluarkan perintah tanggal 12 Agustus 1766 agar mengadakan patroli di Selat Bali dan sekitarnya. Pemerintah Belanda di Batavia memutuskan untuk menangkapi kapal-kapal Inggris dan elemen-elemen lain yang tidak disukai serta mengambil tindakan-tindakan pengamanan terhadap batas-batas wilayah yang dianggap miliknya.[3]
Keadaan di Blambangan yang genting tak terkendalikan menjadikan VOC mengirimkan ekspedisi militer besar-besaran di bawah pimpinan Erdwijn Blanke terdiri atas 335 serdadu Eropa, 3000 laskar Madura dan Pasuruhan, 25 kapal besar dan sejumlah yang kecil lainnya. Tanggal 20 Pebruari 1767, ekspedisi Belanda berkumpul di pelabuhan Kuanyar Madura. Pada tanggal 27 Pebruari 1767 Panarukan diduduki dan didirikan benteng. Pada tanggal 11 Maret pasukan inti di bawah komandan dari Semarang Erdwijn Blanke bergerak melalui darat sepanjang pantai. Tanggal 23 Maret 1767 ekspedisi Belanda tiba di Banyualit. Pertempuran meletus. Ratusan laskar Blambangan pimpinan Gusti Kuta Beda terbunuh. VOC menguasai benteng di Banyualit. Selat Bali mulai dari Meneng sampai Grajagan diblokir.[4]

Mas Anom dan Mas Weka memperoleh kesempatan memberontak terhadap penguasa Bali Gusti Ketut Kabakaba dan Gusti Kuta Beda. Mas Anom memberontak karena pemimpin Bali tersebut menjalankan kekuasaan di Blambangan secara tidak simpatik dan menimbulkan rasa benci rakyat. Orang-orang Bali dibantu orang-orang Bugis dan Mandar melakukan penyerangan terhadap orang-orang Blambangan di bawah pimpinan Mas Anom dan Mas Weka di Logenta yang berakhir dengan kemenangan Mas Anom. Kuta Beda ditawan dan dibunuh. Ketut Kabakaba melarikan diri ke Ulupampang. Ia beserta keluarga dan pengikutnya yang terdesak, melakukan puputan dan akhirnya Kutha Bedhah beserta semua pengikutnya terbunuh. Mas Anom dan Mas Weka diangkat menjadi regen (bupati) pertama di Blambangan. Namun tidak berapa lama ia membelot dan mendukung perjuangan Wong Agung Wilis. Wong Agung Wilis terlibat peperangan di Ulupampang, benteng VOC di Banyualit, namun akhirnya ia kalah di Kuta Lateng pada tanggal 18 Mei 1768.[5]

Setelah Blambangan dikuasai, VOC mengangkat Suta Nagara dengan patih Sura Teruna dan Wangsengsari dengan patih Jaksanegara sebagai regen. Untuk memutuskan hubungan dengan Bali, bupati “dwitunggal” itu diajak memeluk agama Islam. Taktik VOC soal agama ini tidak berpengaruh apa-apa terhadap orang Blambangan. Mereka tidak menaruh perhatian agama apa yang dipeluk pemimpin. Yang mereka inginkan hanya hidup merdeka tanpa dirampas oleh orang-orang asing. Mereka memang anti Jawa, ingatan tentang pengrusakan atas negeri mereka, atas kekejaman yang diperlakukan atas mereka dan atas pengiriman-pengiriman orang-orang Blamba-ngan oleh raja-raja Jawa, masih dalam ingatan mereka yang membeku menjadi rasa benci.[6] Sikap ini di kemudian hari terbukti saat orang-orang Blambangan menolak keras pengangkatan Kertawijaya, patih Surabaya menjadi bupati Blambangan.
Mayor Colmond menggantikan Coop a Groen, sebagai komandan tertinggi pasukan VOC Belanda di Blambangan. Ia adalah sosok penjajah yang berwatak keras. Tindakan-tindakannya yang keras terhadap penduduk menyebabkan kesengsaraan di mana-mana. Rakyat hidup tertekan baik secara sosial maupun ekonomi. Untuk keperluan Belanda ia berpatroli ke pelosok-pelosok kampung untuk menyita semua beras simpanan dan hasil panen, serta bahan makanan lainnya dan mengangkutnya. Dan apabila tidak dapat diangkut, dia menyuruh membakarnya. Kemudian dia menyuruh rakyat menanam padi kembali dengan perintah yang sangat memaksa. Setelah panen, jerih payah penduduk itupun disita lagi.[7] Selain itu Colmond menekan penduduk untuk kerja paksa membangun dan memperkuat benteng VOC di Ulupampang dan Kota Lateng. Memerintahkan mereka membuat jalan-jalan, membersihkan pepohonan yang ada di antara laut dan benteng di Ulupampang. Membuat penangkis air dalam membangun pos pengintaian di Gunung Ikan (yaitu jazirah yang menutupi Teluk Pangpang). Tetapi ia tidak menyediakan makanan bagi rakyat yang bekerja dengan kelaparan dan kekurangan dan kesengsaraan penyakit. Kelaparan, serba kekurangan, penyakit, jumlah kematian yang tinggi, pelarian ke hutan adalah akibat dari tindakan-tindakan tersebut.[8] Keadaan inilah yang menyebabkan bupati Suta Nagara dan Wangsengsari serta Patih Sura Teruna mengajak Gusti Agung Menguwi untuk menyerang Kompeni. Sebelum penyerangan terjadi, ketiga orang tersebut dibuang ke Ceylon (Srilangka).[9]

Keadaan tambah parah ketika penetrasi VOC semakin berat, misalnya setiap bekel (lurah) harus menyerahkan dua ekor kerbau. Selain itu VOC menuntut 3,5 gulden kepada setiap kepala keluarga, dan harus diserahkan setiap tahun. Sesuatu yang sangat berat di tengah sedikitnya waktu untuk pergi ke sawah dan ladang karena kewajiban kerja paksa tanpa upah dan makan.[10]

Tindakan Belanda tersebut menyebabkan munculnya kebencian di mana-mana. Rakyat dalam keadaan sengsara dan kekurangan. Belanda melakukan segala hal untuk tindakan penjajahannya baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Termasuk tindakan yang diambil kepada Suta Negara dan Wangsengsari dan Sura Teruna.

Kedudukan Belanda yang kuat, kemudian membentuk pemerintahan baru di Blambangan dengan bupati Jaksanegara bekas patihnya Wangsengsari, satu-satunya orang yang masih setia kepada Kompeni. Tetapi pengangkatan Jaksanegara ini tidak disukai oleh Gubernur Vos yang menginginkan bupati di Blambangan harus orang yang cakap dan berpengalaman. Blambangan yang merupakan daerah konflik, memerlukan bupati yang mampu mengendalikan rakyat. Maka ditunjuklah Kertawijaya dari Surabaya sebagai bupati di Blambangan.. Namun tidak lama kemudian pergolakan muncul, karena rakyat Blambangan bersikap keras untuk tidak menerima seorang Jawa sebagai bupatinya. Setelah kejadian itu Jaksanegara tetap menjadi bupati tunggal di Blambangan. Ternyata pengangkatan Jaksanegara inipun tidak memuaskan rakyat. Rakyat tidak menyukai pemimpin yang takluk kepada Kompeni. Rakyat menuntut agar Suta Nagara yang dibuang dipulangkan kembali.[11]
Penetrasi VOC yang sedemikian keras mengakibatkan rakyat memilih untuk menyingkir ke hutan. Tempat yang paling banyak menampung pengungsian itu adalah dusun Bayu. Sebuah tempat yang subur di lereng Gunung Raung sebelah barat Songgon dan Derwana. Di Bayu berkumpul para penentang Belanda di bawah pimpinan Mas Rempek yang didukung oleh para guru atau ajar yaitu Bapa Rapa, Bapa Endha dan Bapa Larat. Rakyat yang miskin yang tak punya harapan-harapan lagi, bersatu dalam tekad yang besar melawan Belanda.

B. Pangeran Jagapati Sebagai Sosok Pemimpin Anti Belanda

Karena berbagai peristiwa dan keadaan yang dialami masyarakat itulah Mas Rempek, memutuskan untuk menyingkir ke Bayu. Di Bayu ia memperdalam agama kepada Bapa Rapa. Kemudian ia menyusun kekuatan untuk menyerang dan mengusir VOC Belanda dari Blambangan.[12]
Mas Rempek adalah sosok anti Belanda yang keras. Ia adalah putra Mas Bagus Dalem Wiraguna atau Mas Bagus Puri dari isteri selirnya orang Pakis. Mas Bagus Puri adalah putra Mas Dalem Wiraguna anak Susuhunan Tawang Alun dari jalur selir. Mas Bagus Puri mempunyai putra-putri: Mas Suratman, Mas Alit, Mas Talib, Mas Ayu Nawangsari, Mas Ayu Rahinten, Mas Ayu Patih, dan dari isteri selir: Mas Rempek.[13] Jadi Mas Rempek adalah keturunan Tawang Alun murni dari jalur selir. Karena ia anak dari jalur selir, maka kehidupannya tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Mas Rempek tidak hidup di lingkungan kadipaten. Ia hidup di kalangan masyarakat biasa di luar kadipaten di Pakis selatan Banyuwangi.

Maka ketika Mas Bagus Dalem Wiraguna dan anak-anaknya bersama Danuningrat dibawa ke Mengwi (dan akhirnya hampir semuanya terbunuh) Mas Rempek tidak ikut dibawa ke Bali. Karena ia dianggap tidak penting sebagai anak Mas Bagus Dalem Wiraguna.

Agaknya, karena ia sebagai anak dari selir, menyebabkan kehidupannya berbeda dengan saudara-saudaranya. Tercatat dalam sejarah, tokoh-tokoh dari keturunan selir cenderung memiliki sikap memberontak. Ini bisa dimengerti, karena dalam dirinya ada semacam keinginan untuk menunjukkan keberadaannya untuk dihargai dan diakui. Bisa dimengerti pula misalnya, apabila sikap pemberontakannya itu juga ditujukan kepada saudara-saudaranya.

Di sisi lain sebagai anak seorang selir, ia memiliki kehidupan yang lebih bebas, yang memberinya kesempatan untuk menempa dirinya lebih keras tanpa proteksi dan pemanjaan kebangsawanan. Ia memiliki kesempatan yang luas bergaul dengan masyarakatnya, mengetahui penderitaan dan persoalan masyarakatnya dengan dasar pandang kesadaran jalur keturunan ningratnya.

Sebagai seorang biasa Mas Rempek bekerja sebagai abdi di rumah seseorang yang bernama Bapa Samila, orang yang mempunyai hubungan dekat dengan Jaksanegara, bupati tunjukan Belanda.[14] Karena ia bekerja sebagai abdi yang kesehariannya penuh kerja kasar dan keras, maka bisa digambarkan bahwa Mas Rempek memiliki tubuh yang kuat.

Karena ia orang biasa yang hidup bersama masyarakat, maka jiwanyapun tertempa oleh keadaan di sekitarnya, masyarakat Blambangan yang sengsara. Mas Rempek mengetahui hal-hal yang terjadi di masyarakat, patroli-patroli VOC ke pelosok Blambangan, penyitaan beras dan bahan makanan lainnya, pembakaran-pembakaran bahan makanan yang tidak dapat diangkut. Kesengsaraan rakyat yang disuruh dengan paksa menanami sawah-sawah, namun setelah panen, semuanya disita lagi. Selain itu dia juga melihat rakyat kerja paksa tanpa makanan. Penduduk banyak yang meninggal dan lari ke hutan. Melihat semuanya itu maka, jiwanya menjadi sensitif terhadap semua bentuk kesengsaraan, penindasan dan kesewenang-wenangan.
Sejak remaja Mas Rempek telah tertempa dalam peperangan dan perlawanan terhadap VOC. Ia adalah pengikut dan kader binaan Wong Agung Wilis. Kedekatannya dengan Wong Agung Wilis menjadikan ia sangat anti Belanda. Wataknya sangat keras dan kukuh pada pendiriannya. Saat Suta Nagara dan Wangsengsari bersedia diangkat menjadi bupati, ia memprotes sikap kooperatif tersebut. Karena ia pemberani, sikap protesnya itu ia wujudkan dalam bentuk perlawanan secara terbuka. Ia membunuh seorang mantri pemimpin kota dan lima orang tamtama karena dianggap anteknya Belanda. Suta Nagara, bupati baru, dalam suatu peristiwa ia lukai karena didorong oleh sikap anti Belanda yang keras. Ia juga terlibat dalam suatu gerombolan yang melabrak Letnan Biesheuvel dan para pengawalnya, yang menyebabkan meninggalnya beberapa anggota gerombolan, namun beberapa tamtama pasukan Biesheuvel malah bergabung dengan Mas Rempek.[15]

Mas Rempek ikut berperang bersama Wong Agung Wilis melawan VOC pada tahun 1768. Ia adalah mantri muka Wong Agung Wilis. Maka ia menjadi orang pertama dalam peperangan-peperangan jaman Wong Agung Wilis, baik waktu penyerangan benteng Banyualit, pertempuran di Ulupampang maupun perlawanan mempertahankan Lateng. Setelah Wong Agung Wilis tertangkap, perjuangan melawan VOC terus ia lanjutkan. Pengangkatan Jaksanegara dianggap hanya menjadi alat VOC dan karenanya Mas Rempek tidak membedakannya dengan VOC. Kekecewaannya terhadap penangkapan dan pembuangan Wong Agung Wilis, pengalaman terdesak dan kalah dalam perang serta kejengkelannya terhadap VOC yang sedemikian kuat, mendorongnya pergi ke Bayu. Kepergiannya ke Bayu diperkirakan setelah tanggal 18 Mei 1768, sebab pada waktu Wong Agung Wilis tertangkap para jagabela dan orang-orang dekat Wong Agung Wilis menyingkir ke Bayu. Mas Rempek datang ke Bayu bersama seorang lurah dari Kuta Lateng.[16]

Demikianlah, setelah menetap di Bayu dan didukung oleh para ajar, sosok Mas Rempek menjadi kepercayaan rakyat. Dengan didukung oleh Bapa Rapa, Mas Rempek mengatakan bahwa dalam dirinya bersemayam roh Wong Agung Wilis.[17] Kemasukan roh di sini dapat dimaknai bahwa terdapat kesamaan ide dan perjuangan antara kedua tokoh itu. Dengan cara ini Mas Rempek berusaha menarik rakyat Blambangan ke pihaknya. Pada waktu itu Mas Rempek berjanji akan membebaskan wadwa alit dari semua penyerahan wajib yang dilakukan VOC. Selain itu Mas Rempek berjanji melanjutkan perjuangan Wong Agung Wilis. Maka itulah untuk mendapat legitimasi Mas Rempek menyatakan dirinya kemasukan roh Pangeran Wilis sehingga bentuk pakaian dan tindakannya menyerupai Wong Agung Wilis.[18]

Ketika menyadari bahwa kekuatan senjata yang dimiliki masih terbatas, hanya mempunyai senjata yang sedikit, yakni tombak, lembing, keris serta pedang, sedangkan senapan dan meriam yang dibanggakan waktu itu telah jatuh ke tangan VOC waktu perang Ulupampang, Banyalit dan Lateng, sedang orang Cina dan Bugis yang dulunya bersedia memberikan senjata juga sudah ditangkap pada waktu Ulupampang jatuh, maka dengan cerdik untuk menambah moral dan kepercayaan rakyat, Mas Rempeg berkata kepada pengikutnya bahwa Gusti Allah akan menganugerahkan meriam kepadanya.[19] Jelas sandaran dalam bentuk kepercayaan agama sangat penting dan dimanfaatkan dengan efektif oleh Mas Rempek pada saat-saat genting dalam peperangan.

Maka banyak penduduk Ulupampang dan dari daerah-daerah lain di seluruh Blambangan berbondong-bondong sambil membawa senjata bergabung dengan Mas Rempek di Bayu. Dukungan tidak hanya datang dari rakyat kecil wadwa alit, namun juga datang dari para bekel agung yaitu pembantu regen yang berkedudukan di Kuta Lateng seperti Wiramanggala dan Jagakrasa, serta Lembu Giri dari Tomogoro selain menyatakan bergabung dengan Mas Rempek juga memberikan sejumlah senjata. Datang juga rombongan orang-orang Lateng di bawah pimpinan lurah Manowadi dan Bapa Cele dari Grajagan di pesisir selatan.[20]

Dukungan untuk Mas Rempek juga datang dari para bekel dari 62 desa; 25 desa di bagian barat, 14 desa di wilayah selatan, 9 desa di wilayah timur dan 2 desa di sebelah utara. Kemudian masih datang lagi 12 bekel dari desa lainnya.[21]

Dengan dukungan tersebut Bayu berkembang menjadi suatu kekuatan yang berbahaya. Bayu dibuatnya semacam satu negara, tidak kurang 2000 orang berada di belakang Mas Rempek. Dibangun benteng yang sangat kuat, di depan terdapat pagar yang terbuat dari batang-batang pohon besar yang bagian atasnya dibuat runcing dan batang-batang pohonnya berjajar sangat rapat satu sama lain yang disebut palisada. Di belakang pagar terdapat lubang-lubang perlindungan di dalam tanah. Di dalam benteng, cadangan pangan sangat melimpah serta dilengkapi dengan gamelan beserta pemainnya sebagai lambang kekuasaan dan kekuatan. Perlengkapan perang sudah lengkap untuk memulai peperangan. Atas pengaruhnya yang kuat ia oleh pengikutnya dianugrahi gelar Pangeran Jagapati.[22]

Bayu terletak di barat-laut dari kota Ulupampang di lereng timur Gunung Raung, dekat desa Songgon, kira-kira masih 2 jam (jalan kaki) di atas dusun Derwana. Bekas bangunan tembok yang diketemukan dekat Songgon itu rupanya masih merupakan sisa dari Bayunya Mas Rempek tersebut.[23]

Pengikut Pangeran Jagapati dengan demikian berasal dari seluruh wilayah Blambangan baik di ibukota (nagari) Lateng maupun di luar ibukota (jawikuta). Dukungan yang sangat besar dari luar terutama dari Blambangan sendiri membuat kedudukan Pangeran Jagapati sangat kuat, sehingga mampu menguasai sember daya yang lain. Pangeran Jagapati dapat menguasai daerah penghasil beras di seluruh Blambangan. Lurah Manowadi berhasil menimbun beras yang dihasilkan dari seluruh Blambangan di Tomogoro di sebelah selatan Bayu. Para pedagang yang telah memindahkan pusat kegiatannya ke pantai selatan di Nusa Barung mengirimkan telur, garam dan ikan kering yang diangkut memakai kuda ke Bayu.[24] Dengan demikian penguasaan atas daerah penghasil padi di seluruh Blambangan membuat kedudukan ekonomis Pangeran Jagapati sangat kuat. Dengan dukungan ekonomi yang kuat maka dengan mudah akan membangun kekuatan militer dan cadangan logistik perang. Maka berkobarnya peperangan tinggal menunggu waktu saja.

C. Jalannya Peperangan

Pada tanggal 2 Agustus 1771, Kertawijaya dan Jaksanegara berangkat bersama serombongan pasukan dari Ulupampang menuju Bayu. Kepergian mereka bermaksud memisahkan penduduk Blambangan dari pengaruh Mas Rempek. Setibanya di Bayu orang-orang Blambangan pengikut kedua pemimpin itu justeru membelot dan memihak kepada Pangeran Jagapati. Kedua pemimpin ditinggal pengikutnya dan hanya ditemani beberapa orang yang berasal dari Surabaya, yaitu Mindoko, Bawalaksana dan Semedirono. Kemudian para pembelot mengamuk terhadap para Tumenggung dan pengikutnya yang tinggal beberapa itu. Kertawijaya terluka tembak di bahu kirinya dan kaki kanannya terkena tombak. Mantri Semedirono mati tertembak di kepalanya, yang lainnya terluka. Sementara rakyat Blambangan terus bergerak ke Bayu sambil membawa harta benda yang mereka miliki.[25]

Peristiwa di atas diceritakan dalam Babad Bayu pupuh ii 5-20 sebagai berikut:

Ketika pasukan Kertawijaya dan Jaksanagara tiba di Bayu, Pangeran Jagapati bersama 30 orang pengikutnya menempatkan diri di sebelah menyebelah bagian jalan yang sempit. Jayaleksana memberikan aba-aba menembak, tapi ia dan pasukannya segera terkurung. Meskipun begitu, ia masih juga menuntut supaya Pangeran Jagapati takluk. Kalau mau takluk, orang Bayu akan diampuni dan selamat, mereka tak usah bekerja untuk Kompeni dan akan menerima hadiah sarung pedang dari baja dua warna, dan akan disambut dengan segala penghormatan apabila datang berseba. Tiba-tiba pasukan Jayalaksana kabur masuk hutan, maka para punggawa sendirilah yang harus mengangkut pulang jenazah patih. Gegerlah seluruh kota.[26]

Tanggal 5 Agustus 1771, VOC mengirim pasukan bersenjata menuju ke benteng Bayu. Di luar dugaan VOC pada waktu terjadi pertempuran awal, terdapat sebagian prajurit VOC dari pribumi membelot memihak kepada Pangeran Jagapati. Biesheuvel Residen Blambangan beserta pasukan VOC bergerak menyerang Benteng Bayu. Namun, mereka dikalahkan Pangeran Jagapati karena pertahanan benteng Bayu yang ternyata sangat kuat. Pada waktu yang bersamaan, Schophoff, Wakil Residen Biuscheuvel masuk ke berbagai desa di Blambangan, bermaksud mempengaruhi penduduk untuk tidak memihak Pangeran Jagapati. Pada hari yang sama pasukan VOC menyerang Gambiran, sebuah dusun penghasil beras yang sangat subur yang menjadi salah satu penyangga logistik beras benteng Bayu. Tujuannya agar Pangeran Jagapati yang berkedudukan di Bayu kekurangan bahan makanan. Namun, ketika ia beserta pasukannya berada di Desa Gambiran, mereka diserang oleh sekitar 200 pasukan Blambangan sambil meneriakkan kata-kata: “Amok! Amok!”. Pasukan VOC kemudian menuju Tomogoro yang terletak sekitar 6 km di sebelah tenggara Bayu merupakan penghasil beras yang paling dekat dengan Bayu dan Tomogoro merupakan tempat yang sangat penting bagi Pangeran Jagapati. Selain itu Tomogoro juga menjadi tempat menimbun semua persediaan yang diperlukan sebelum diangkut ke Bayu.[27]

Melihat posisi Tomogoro yang strategis, VOC mendirikan kubu pertahanan dengan maksud untuk memudahkan penyerangan ke Bayu. Rakyat Blambangan yang mengetahui aktivitas VOC berusaha menghindarinya serta membawa semua perbekalan ke Bayu bergabung dengan Pangeran Jagapati. Sementara di sepanjang jalan menuju Bayu yang menanjak dan licin, Pangeran Jagapati memerintahkan pejuang Bayu untuk menebangi pohon agar menutup jalan sehingga tidak bisa dilewati. Pasukan VOC yang sudah kelelahan dalam menempuh perjalanan yang sulit dan kehabisan perbekalan terpaksa mengehentikan penyerangan dan mundur ke Ulupampang.[28]

Keadaan yang mengkhawatirkan memaksa Biesheuvel minta dikirim 300 pasukan pribumi dari Jawa Timur dan satu pasukan tentara Eropa berkekuatan 40 prajurit.

Di Bayu Pangeran Jagapati membicarakan tentang pasukan-pasukan Kompeni yang terpaksa berhenti di tengah jalan, mundur ke Ulupampang. Kemudian Pangeran Jagapati menyusun strategi perang dengan membagi pasukan menjadi dua sayap. Sayap kiri yang terdiri dari 3.000 orang diserahkan kepada Keboundha, sayap kanan dipercayakan kepada Kidangsalendhit. Kedua pemimpin pasukan ini ingin membalas kekalahan yang telah dialami di Gegenting (Gambiran dan Tomogoro).[29]

Pada tanggal 22 September 1771 malam pukul 20.00 WIB, Biesheuvel Residen Blambangan menerima laporan dari Sersan Rood yang membawa berita dari Letnan Imhoff komandan VOC di Kuta Lateng yang menyatakan bahwa pagi hari, 22 September 1771, kereta VOC telah mulai bergerak maju dalam medan perang yang memuat berbagai keperluan untuk menyerang Bayu. Misi pasukan VOC itu adalah mengusir pejuang Blambangan dan memusnahkan semua yang ada. Pasukan VOC telah masuk dalam kubu pertahanan bagian luar pejuang Bayu dengan pasukan pribumi di depan, sehingga keselamatan pasukan orang Eropa VOC terjamin. Namun ternyata dukungan orang-orang prajurit pribumi tidak dapat diharapkan. VOC menambah pasukan Eropa untuk melindungi penyerangan. Yang terjadi malah pasukan pribumi VOC mengelompokkan dirinya menjadi 2 kelompok. Satu pihak berdiri di sebelah kiri pasukan VOC, sedang kelompok satunya lagi di sebelah kanan. Tiba-tiba mereka berlari-lari bersamaan masuk ke dalam hutan dan menghilang. Pimpinan pasukan VOC memanggil-manggil dan mengancam pasukannya yang masuk ke hutan itu namun tak dihiraukannya. Dengan begitu pasukan VOC ditinggal begitu saja oleh pasukan pribumi. Akibat larinya pasukan pribumi, maka serdadu VOC asal Eropa saja yang terlibat perang dalam 3 jam terus menerus. Sampai-sampai semua peluru, termasuk persediaan yang terakhir dikeluarkan dari peti penyimpanannya untuk dibagikan. Juga amunisi untuk senjata berat, semuanya telah terpakai habis untuk menembak. Banyak serdadu Eropa yang tewas dan terluka. Diantaranya yang terluka adalah Letnan Imhoff setelah 2 jam dihujani tembakan terus menerus oleh pejuang Blambangan dari tempat persembunyiannya. VOC terpaksa meninggalkan semua perlengkapannya termasuk sebuah kanon berukuran satu pon dan dua buah mortir. Tukang pikul perbekalan semua mati.[30]

Hari itu juga, 22 September 1771 dilakukan penghitungan berapa sisa pasukan VOC asal pribumi. Oleh para pemimpinnya dilaporkan bahwa 13 orang tewas yang terdiri dari 5 komandan dan 8 tamtama, 94 orang terluka tembakan kena duri karena tatkala mundur mereka tergesa-gesa. Sisanya 87 orang luka kena sungga (ranjau/sunggrak). Datang kapal dari Pasuruan dengan mengangkut beras. [31]

Biesheuvel mengirim surat pada atasannya di Surabaya tertanggal Ulupangpang, 22 September 1771 guna memohon bantuan militer sebanyak 1000 laskar Sumenep dengan 150 serdadu Belanda. Juga diminta sepuluh peti peluru karena empat peti sebelumnya telah habis dalam penyerangan yang gagal. Pasukan ekspedisi bantuan itu direncanakan untuk merusak segala jenis makanan di daerah Bayu. Karena tidak ada cara lain bagi VOC selain mengadakan aksi yang membuat orang Bayu kelaparan dan kekurangan.[32]

Babad Bayu menceritakan peristiwa di atas sebagai berikut:

Berkecamuklah perang. Tanda pertempuran dibunyikan dengan tambur, beri, kendang dan gong. Jayasengara, adipati Bangil maju berkuda, diikuti yang lain. Pasukan Kompeni membentuk segi empat. Bunyi bedil, meriam dan tiktak (meriam kecil) mereka memekakkan telinga. Udara gelap karena asapnya. Jayasengara berpendapat, mustahil orang Bayu menang. Jayasengara kena peluru meskipun kebal dan berlindung di belakang sebuah pohon. Ia melihat Kompeni kehilangan banyak prajurit, ada yang luka banyak yang mati. Dan hilanglah harapannya untuk menang. Di pihak Belanda hanya kumendanlah yang masih hidup. Orang Surabaya, apalabi orang Bangil, mendapat kekalahan dan lari tunggang-langgang, disoraki orang Bayu. Komandan Kompeni terluka perutnya oleh peluru Keboundha. Kudanya dicambuknya sehingga lari terus sampai Ulupampang. Patih Jatasengara yang paling akhir pulang meninggalkan medan perang, menyusuri kali. Orang Bayu yang mabuk kejayaan mengejar musuh di jalan-jalan sampai Gegenting, bahkan sampai Cendhana. Maka orang Bayu pulang sambil menembang atau meniru suara gamelan dan menandak.[33]

Ketika bala bantuan datang untuk VOC, bersamaan dengan itu Pangeran Jagapati mendapatkan bantuan 300 orang dari Bali lengkap dengan senjata dan bahan makanan, dan berhasil mengepung benteng VOC di Kuta Lateng. Jalan-jalan ke Panarukan oleh para pejuang Bayu dijaga dengan ketat dan diberi penghalang-penghalang dari kayu gelondongan, jembatan-jembatan dirusak untuk mempersulit tranportasi pasukan dan perbekalan VOC. Penyerbuan Pangeran Jagapati ke Lateng ini mampu menangkap dan menawan banyak serdadu VOC dan merebut sepeti misiu dan 1200 peluru serta senjata.[34]

VOC mengerahkan seluruh kekuatannya dengan mendatangkan bantuan tentara dari garnisum-garnisum Batavia, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Pasuruhan dengan pasukan “Dragonders” dari Semarang sebagai pasukan inti.[35]

Karena kekalahan yang ditimbulkan oleh Pangeran Jagapati dan para pejuang Bayu itu maka memaksa Gubernur vander Burgh mengirim surat ke Pieter Luzac, agar penduduk Senthong (dekat Bondowoso) dicegah berhubungan dengan penduduk Blambangan dan Lumajang. Juga agar dilakukan penelitian sebab-sebab kekalahan serdadu VOC.[36]

Biesheuvel pada bulan November 1771 meninggal ia digantikan oleh wakilnya, Hendrik Schophoff. Pada bulan itu, bantuan tentara VOC tiba di Ulupampang di bawah komando Kapten Reygers dan Heinrich. Pasukan VOC berhasil mengalahkan para pejuang Blambangan di Kuta Lateng. Sedangkan kapten Reygers berhasil menghancurkan gudang persediaan makan di Banjar (Kecamatan Glagah), menguasai Grajagan di Pantai Selatan dan membakar sekitar 300 koyan beras (1 koyan sekitar 185 kg = 55,5 ton). Pada waktu yang bersamaan VOC mengeluarkan surat-surat pengampunan bagi penduduk yang mau meninggalkan Bayu.[37]

Kapten Reygers setelah berhasil mendesak para pejuang Blambangan di Kuta Lateng, pada tanggal 13 Desember 1771 beserta pasukannya berangkat menyerang benteng Bayu. Pengalaman pahit VOC menyerang Bayu dari arah selatan, memaksa VOC menyerang Bayu dari arah utara, yaitu Songgon. Keesokan harinya 14 Desember 1771 Reygers memerintahkan penyerangan dengan kekuatan 2000 laskar Madura di bawah pimpinan Alapalap, sebagai laskar terdepan. Di belakangnya dilapisi oleh serdadu Eropa yang dilengkapi dengan meriam yang dipimpin oleh Sersan Mayor van Schaar. Barisan belakang menggempur Bayu sebelum Alapalap bergerak maju. Mendengar penyerbuan VOC dari arah utara, dengan gerak cepat Pangeran Jagapati memimpin sendiri penyerangan ke Songgon pada tanggal 15 Desember 1771, bersama 1000 orang jagabela yang bersenjatakan keris, pedang dan tombak. Kekuatan jagabela yang di Bayu dikerahkan menyerang Songgon.[38]

Taktik perang pejuang Bayu yang terencana matang dan menguasai medan, menyebabkan pasukan VOC yang menyerang dari dua arah, yakni Susukan dan Songgon, telah terjebak dan disergap oleh pasukan Bayu dan dihancurkan sama sekali. Kapten Reygers terluka parah di kepalanya dan kemudian ia meninggal di Ulupampang. Puncak penyerangan para pejuang Blambangan terjadi pada tanggal 18 Desember 1771. Dalam peristiwa itu para pejuang Blambangan melakukan serangan umum dan mendadak terhadap serdadu VOC. Belanda sendiri menyatakannya sebagai “de dramatische vernietiging van Compagniesleger”. Prajurit Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Jagapati maju ke medan tempur dengan membawa senjata golok, keris, pedang, tombak, dan senjata api yang diperoleh sebagai rampasan dari tentara VOC. Serangan pejuang Bayu yang mendadak, membuat pasukan VOC terdesak. Demikian juga pasukan Eropa VOC yang berada di belakang. Ketika posisinya terus terdesak, mereka mundur dan lari meninggalkan semua perlengkapan perang. Pejuang Bayu mengejar pasukan VOC. Saat itulah pasukan VOC banyak yang terjebak dalam jebakan yang dinamakan sungga (parit yang di dalamnya dipenuhi sunggrak) yang telah dibuat oleh pejuang Bayu. Pasukan VOC yang terjebak dan dihujam dari atas. Sersan Mayor van Schaar, komandan pasukan VOC, Letnan Kornet Tinne dan ratusan serdadu Eropa lainnya yang tewas dalam perang itu. Dari serdadu yang tersisa yang sempat melarikan diri, jumlahnya tidak seberapa, umumnya dalam keadaan terluka dan sakit. Namun demikian, di pihak Blambangan harus membayar mahal dengan kehilangan pemimpinnya. Pangeran Jagapati gugur karena luka-lukanya sehari berikutnya yakni tanggal 19 Desember 1771. Sebagai ungkapan balas dendam atas gugurnya Pangeran Jagapati, beberapa jagabela mencincang mayat van Schaar.[39]

Peristiwa ini dikisahkan dalam Babad Tawang Alun xi.5-21, sebagai berikut:

Pangeran Jagapati bertempur melawan Alap-alap dari Madura. Keduanya tak terkalahkan. Lalu ketahuan oleh Pangeran Jagapati bahwa Alap-alap memakai baju zirah. Maka dengan lembing pusakanya, Si Kelabang, dari jenis biring lanangan, ditusuknya Alapalap dari bawah. Dan Alap-alap roboh tetapi masih sempat melukai Pangeran Jagapati. Alap-alap diusung ke perkemahan, lalu meninggal. Jagapati yang luka parah dibawa ke benteng. Dengan luka parah Pangeran Jagapati masih mampu mengatur strategi peperangan dengan menunjuk Jagalara dan Sayu Wiwit sebagai wakilnya untuk melanjutkan peperangan. Keesokan harinya pertempuran dilanjutkan diiringi suara kendang, gong, beri dan tambur dan berlangsung sampai malam tiba. Setelah kembali ke benteng para prajurit Bayu mengetahui bahwa Pangeran Jagapati telah meninggal. Babad Tawang Alun xii.1-2 melanjutkan: Pangeran Sumenep dan Panembahan Bangkalan sangat marah karena kematian Alap-alap. Pasukan Madura dan Kompeni bertempur lagi dan kehilangan 2.000 orang sebagai akibat amukan orang Bayu.[40]
Pada tanggal 20 Desember 1771 pasukan VOC turun kembali ke Kuta Lateng. Orang Eropa yang masih tersisa juga ikut turun, diantaranya Sersan Mayor Ostrousky yang terluka berat. Sebagian terbesar dari mereka sudah tidak bersenjata lagi. Mereka dalam keadaan sangat lelah, letih. Mereka berjalan berkelompok-kelompok kembali ke Kuta Lateng. Mereka menumpahkan kesalahan atas kekalahannya pada diri Sersan Mayor van Schaar yang bersikap pengecut. Ia dipersalahkan karena setalah menembak pejuang Bayu sekali saja, terus melemparkan senjatanya dan melarikan diri pertama kali. Kerugian di pihak VOC prajurit yang gugur dan hilang adalah : Sersan Mayor van Schaar, Peltu kornet Tinne, 41 prajurit Infanteri, 15 prajurit korps khusus Dragonders, para bintara dan tamtama, 1 prajurit arteleri dan sejumlah besar laskar pribumi. [41]

JR Vander Burgh, gubernur VOC urusan pantai timur Jawa pada 13 Januari 1772 di Semarang mengirim laporan pada atasannya, bahwa setelah penyerangan ke Bayu mengalami kekalahan pada 20 Desember 1771, maka banyak anggota pasukan pribumi yang melarikan diri. Bahkan pada 31 Desember 1771 terdapat 300 laskar Madura secara bersama melewati Panarukan kembali ke daerah mereka di Sumenep Madura.[42]

Babad Bayu xvi 1-13 menceritakan:

Bambang Sutama dan Jayareca membawa pasukannya ke Panarukan lewat Watu Dodol, Bajulmati dan Banyuputih. Mereka terpaksa mengaku kepada komandan VOC di Panarukan bahwa Bayu belum jatuh, karena orang Bayu terlalu kuat. Dan bahwa Guntur Geni mati, begitu juga semua orang Belanda. Komandan itu hampir tidak percaya. Rupanya, siapapun yang menaklukkan Bayu tidak akan kembali hidup. Bambang Sutama dan Jayareca minta diri pada komandan VOC, pertama pulang ke Sumenep. Di sini penduduknya keheranan melihat mereka kembali dalam keadaan selamat. Bupati Semenep ingin tahu mengapa dia dan Sutadipa masih hidup. Kedua orang itu menundukkan kepala rendah-rendah, malu takut dapat murka tuan mereka. Adapun Bambang Sutama pergi ke Surabaya untuk menyerahkan surat CVD Biesheuvel, penguasa di Ulu Pampang pada penguasa di Surabaya, Pieter van Luzac. Selanjutnya pulang ke Madura atas izin penguasa VOC itu.[43]

Kekuatan pasukan VOC telah berkurang, membuat VOC menghentikan peperangan. Kemudian para penguasa VOC mengambil sikap berhati-hati dan mendorong pasukannya untuk menggunakan cara-cara lain untuk menangkis serangan yang mendadak demi menyelamatkan bengsanya. Karena itu selama musim hujan, sebagian terbesar pasukan VOC bersikap defensif saja. Pasukan Eropa ditempatkan pada pertahanan di Ulupampang dan Kuta Lateng saja, yang dipandang tempatnya paling sehat.

Sementara itu laskar Madura, Sumenep dan Pamekasan bersama 2 kompi orang pribumi lainnya, pembentukan dan persiapannya sedang diproses. Tatkala itu 118 orang sedang dalam perjalanan ke Blambangan. Mereka ditempatkan di Ulupampang, Kuta Lateng, dan ditempatkan diberbagai benteng yang ada, dan dijalur-jalur jalan ke arah Bayu. Tujuannya adalah untuk menghalangi dan menghentikan penyaluran bahan makanan ke pusat pertahanan Bayu. Segala jenis bahan makanan yang sekiranya dapat digunakan oleh para pejuang Bayu, agar segera dimusnahkan. VOC memerintahkan untuk membunuh siapapun yang mencoba menghalangi-halangi rencananya.[44]

Dengan kemenangan yang dicapai oleh para pejuang Bayu, penguasa VOC mengatur kembali strateginya. Karena itu, maka penguasa VOC telah memperbaharui rekomendasi kedudukannya di darat. Diadakannya patroli di laut dan di sepanjang pantai Blambangan, khususnya disekitar Meneng dan Grajagan untuk menghalangi hubungan Pejuang Bayu dengan oarang Bali. Kemudian VOC mengadakan patroli dengan ketat terhadap segala jenis kapal dan perahu melewati Selat Bali.[45]

Akibat perang selama bulan Desember VOC banyak kehilangan sejumlah pejabat dan perwira militer yang tewas. Karena banyak kehilangan perwira dan prajurit, VOC menjadi depensif dan menarik semua pasukannya ke Kuta Lateng dan Ulupampang. VOC yang mengalami kekalahan besar membutuhkan waktu setahun untuk memulihkan kekuatannya. Dengan kenyataan benteng Bayu yang sangat kuat, VOC harus mempersiapkan pasukan yang lebih besar untuk mengalahkan laskar Blambangan. Untuk keperluan itu VOC mengadakan panggilan umum kepada semua bupati dan penguasa taklukan Belanda untuk mendatangkan bala bantuan. Semua tentara Eropa dari semua garnisum dikonsinyasikan di Blambangan. Kemudian 2000 pasukan Madura segera dikirim ke Jawa. Pada bulan Agustus 1772 Heinrich tiba di Blambangan dengan 5.000 prajurit. Heinrich menjadi komandan dan dibantu residen Schophoff dari Ulupampang. Sedangkan Van der Burgh, Gubernur Jawa Bagian Timur, secara pribadi datang sendiri ke Blambangan.[46]

Pada 1 Oktober 1772, setelah hampir satu tahun gagal menyerang Bayu, VOC mengadakan penyerangan lagi ke Bayu. Songgon yang tidak diduduki sisa pengikut Pangeran Jagapati kembali dijadikan benteng pertahanan untuk menyerang Bayu. Kapten Heinrich beserta pasukan Expedisi V bergerak dari kota Ulupampang. Pada 5 Oktober 1772, pagi hari pasukan VOC itu telah berkemah di Sontong. Untuk menghindari sungga Kapten Heinrich memerintahkan bawahannya membuat jalan dengan cara menumbangkan pepohanan hutan. Kemudian pada Peltu Mirop dan Peltu Dijkman ditempatkan satu pasukan sebanyak 900 orang untuk menguasai daerah ketinggian sebelah kanan dari benteng Bayu, dengan dipersenjatai meriam. Sedang Vaandrig Guttenburger dan Koegel, ditempatkan di Sontong. Kemudian Kapten Heinrich dengan 1.500 orang berikut Vaandrig Ienigen di Sentum berjaga-jaga di posisi antara ketinggian yang saling dapat berhubungan melalui satu jurang yang menganga di antaranya. Benteng Bayu terkepung secara ketat.

Dari tanggal 5 sampai 11 Oktober 1772 itu Kapten Heinrich mengadakan konsolidasi dengan elemen-elemen militer lainnya. Pada tanggal 10 Oktober 1772, Letnan Imdeken meyakinkan Kapten Heinrich bahwa Kapten Heinrich dapat menerobos, sehingga Kapten itu mengadakan perundingan. Kapten Heinrich memutuskan untuk mulai melakukan penerobosan.

Pada 11 Oktober 1772 pagi hari, VOC mengerahkan semua kekuatannya menggempur Bayu dengan tembakan-tembakan meriam. Tetapi selama dua bulan Bapa Endha dapat bertahan bersama 1000 orang pengikutnya yang setia. Pengiriman perbekalan di pihak VOC cukup lancar karena jalan dari Ulupampang menuju Songgon bebas dari halangan pejuang Bayu. Sekitar bulan Desember 1772 Bapa Endha dan pejuang Bayu mengalami kekurangan perbekalan karena bahan makanan yang ada ternyata tak mampu mencukupi kebutuhan semua laskar yang ditarik dan dipusatkan ke Bayu. Bayu sudah sulit dipertahankan lagi. Namun mereka masih mengadakan perlawanan sekuatnya. Vaandrig Mierop sesuai dengan perintah komandannya, membuat alarm tipuan pada sayap kanan dengan membuat api untuk memancing membagi kekuatan musuh supaya tepat didepan dan di sayap kiri Kapten Heinrich. Kemudian Kapten Heinrich dengan kekuatan intinya 1.500 pasukannya menerobos dan menyerang benteng Bayu dari sayap kiri tepat pukul 08.00. Benteng Bayu yang amat kuat akhirnya dapat direbut pasukan VOC. Setelah benteng Bayu dapat direbut VOC merusak dan membakarnya.

Pasukan Kapten Heinrich mendapat rampasan beberapa jenis senjata berupa 1 meriam dan 3 mortir ukuran 4 dim milik pejuang Bayu. Para prajurit pribumi VOC mendapat rampasan 100 pucuk senjata berlaras panjang dan 200 kuda serta masih banyak lainnya dari dalam benteng Bayu.

Para pejuang Bayu telah meloloskan diri ke daerah pegunungan. Kapten Heinrich telah memerintahkan mengejar mereka sampai malam hari. Semua milik para pejuang Bayu agar diambil. Pada pagi hari keesokannya juga dilakukan pengejaran dengan patroli yang kuat. Ternyata memerlukan perjalanan sehari penuh ke pegunungan.

Kapten Heinrich menyuruh bawahannya untuk membunuh para tawanan pria dan memotong kepalanya. kemudian kepala mereka yang terpotong digantung di pepohanan yang tinggi untuk membuat pejuang Bayu lainnya takut. Pengejaran terhadap musuh masih terus dilakukan bagi pejuang Bayu lainnya. Atas perintah dari Residen Schophoff, VOC di Bayu turun tanggal 24 Oktober 1772.[47]

Babad Bayu menceritakan penyerbuan ini sebagai berikut:

Panembahan Madura sanggup memenuhi permintaan VOC Surabaya sebanyak 10.000 orang Madura. Laskar ini dipimpin oleh Suradiwira. Pasukan Madura barat ini berlayar dan berlabuh di Panarukan disambut oleh pasukan VOC. Madura timur di Sumenep telah menyiapkan 3.000 orang laskarnya yang dipimpin langsung oleh Pulangjiwa. Mereka ini berangkat dari pantai Pamaringan menuju Purwasari di Pantai Jawa. Semuanya bertemu di Panarukan. Esok harinya barisan maju seperti badai. Bermalam di Bajulmati, malam berikutnya sampailah mereka di kota Ulupampang.
memerintahkan pasukannya untuk membuat benteng bergerak dan setiap mantri diberi tunggul bambu sebagai pertahanan. Orang Madura mulai menembak lagi, namun pelurunya jauh dari sasaran. Laskar Bayu membalasnya, setiap pelurunya menewaskan orang Madura yang disasar. Suradiwira marahnya tak alang-kepalang. Laskarnya diperintahkan supaya menyerang namun terhalang sungga dan suda. Pulangjiwa dipukul mundur.

Pulangjiwa dan VOC telah menyelesaikan pertahanan mereka. Satu untuk setiap mantri, dan satu benteng bergerak untuk pasukan. Suara gong, gendhang, tambur, dan biring bergema di langit ditambah sorak sorai laskar Madura. Pasukan VOC maju dibelakang pertahanan mereka yang anti tembus peluru. Medan perang dekat benteng Bayu sudah bersih dari sungga dan suda, sehingga VOC dapat membawa meriam-meriam mendekati benteng Bayu. Dengan dilindungi tembakan meriam, laskar Sumenep dan VOC berhasil memasuki beteng Bayu. Atas perintah VOC, rumah-rumah Bayu dibakar habis. Benteng Bayu diratakan dengan tanah..[48]

Sedangkan Babad Tawang Alun memberikan gambaran peristiwa ini sebagai berikut:

Pangeran Sumenep sangat marah mendengar kematian Tumenggung (Alap-alap)nya dalam perang Bayu pertama. Demikian pula Panembahan Bangkalan juga sangat marah. Karena itu, beliau segera mengerahkan balatentaranya. Baik VOC maupun Madura maju perang ke Bayu. Kedua pihak saling menombak dan saling menembak. Mengamuklah para pejuang Bayu, sehingga balatentara VOC banyak yang mati. Kemudian datang lagi 2.000 bala bantuan musuh. Pejuang Bayu kalah dalam perang. Banyak pejuangnya yang gugur. Lamanya perang Bayu itu selama 2 tahun. Maka takluklah Bayu. Banyak rakyat kecil yang mati, yang tersisa menyelamatkan diri, mengungsi kehutan belantara atau ke dalam jurang di hutan pegunungan, sedang yang tertangkap, segera diangkut. Banyak yang diangkut ke daerah Ulupampang. Selanjutnya dibawa ke barat, terutama para tokohnya dibuang ke Selong.[49]

Pemimpin Blambangan banyak yang menyingkir ke Nusa Barung. Schophoff menyuruh mengirimkan 264 orang Blambangan ke Surabaya baik pria, wanita dan anak-anak. Sampai tanggal 7 Nopember 1772 sudah 2.505 orang pria dan wanita yang tertangkap. Schophoff memerintahkan untuk menenggelamkan tahanan laki-laki yang dituduh telah memakan daging mayat van Schaar. Orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak Blambangan sebagai hasil rampasan perang. Sebagian dari mereka telah melarikan diri ke dalam hutan, telah meninggal karena kelaparan dan kesengsaraan yang mereka alami. Sehingga bau mayat-mayat yang membusuk, menggangu sampai jarak yang jauh. Mereka yang masih hidup menetap di hutan-hutan, membuka perladangan baru di Pucangkerep, Kaliagung, Petang dan lain-lain. Mereka tetap bersikeras untuk melepaskan diri dari penjajahan VOC.[50]

Itulah akhir dari Perang Bayu yang mengerikan, yang telah merenggut ribuan kurban, baik di pihak musuh, terutama dipihak rakyat Blambangan.

Perlawanan-perlawanan setelah Perang Bayu

Perang Bayu memang berakhir pada tanggal 11 Oktober 1772, namun perlawanan rakyat dalam bentuk pemberontakan-pemberontakan lokal masih terjadi di berbagai daerah di Blambangan sampai sepuluh tahun kemudian. Pemberontakan-pemberontakan itu antara lain: Pemberontakan yang terjadi di Gendoh yang dipimpin oleh Hanggapati. Pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Mus Aceh. Pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Singo pada tahun 1781 dan sisa-sisa laskar Bayu yang hidupnya masih berpindah-pindah. Pemberontakan yang dipimpin oleh Mas Sekar pada tahun 1797 yang bermaskud membunuh semua orang Belanda yang ada di Blambangan. Untuk menghadapi pemberontakan ini Belanda harus mendatangkan lagi bantuan beberapa kompi tentaranya dari Surabaya dan Semarang. Pemberontakan ini gagal, Mas Sekar tertangkap dan para pengikutnya banyak yang disiksa dan dibuang ke Semarang. Pemberontakan yang dipimpin oleh Berengos Perada pada tahun 1800, yang berpusat di Rajekwesi.[51]

Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Perang Bayu sangat kuat terhadap patriotisme rakyat Blambangan dalam jangka waktu yang lama. Pangeran Jagapati sudah meninggal, namun rakyat Blambangan terus melanjutkan perjuangan.

D. Akibat-Akibat Perang Bayu

Dari uraian di atas, ternyata bahwa perang Bayu adalah perang semesta rakyat. Perang yang berawal dari dukuh kecil yang menggemparkan Belanda. C. Lekkerkerker mengatakan: perang Bayu merupakan perang yang membutuhkan lebih banyak ketegangan dan jumlah jiwa manusia dibanding perang-perang lainnya yang telah pernah dilakukan oleh Kompeni.

Wikkerman (residen di Blambangan pada tahun 1800-1818) melaporkan bahwa sensus penduduk pertama setelah berdirinya kabupaten Banyuwangi jumlah penduduk belum mencapai 300 keluarga.[52]

Akibat perang yang menelan korban sekitar 60 ribu orang, penduduk Blambangan hanya tersisa sekitar 5 ribu jiwa.[53] Hampir habisnya penduduk Blambangan akibat perang, pihak VOC mendatangkan tenaga kerja dari luar Blambangan untuk mengolah tanah-tanah pertanian yang kosong. Mereka ditempatkan di rumah penduduk yang kosong yang ditinggalkan ketika perang.[54] Akibat kedatangan berbagai macam penduduk dari luar Blambangan, menjadikan Blambangan berpenduduk sangat majemuk.

Akibat perang, VOC banyak kehilangan sejumlah pejabat dan perwira militernya. Mereka itu adalah Residen Cornelis van Biesheuvel, Sersan Mayor van Schaar, Letnan Kornet Tine, Vandrig Ostrousley, Kapten Reygers, dan ratusan pasukan Eropa. Sebanyak 10 ribu pasukan yang didatangkan oleh VOC dari berbagai daerah untuk menggempur Blambangan banyak yang tewas.[55]

VOC juga mengeluarkan kebijakan untuk menarik simpati agar orang-orang yang kembali ke Blambangan diberikan hadiah 2,5 rijksdalder ( sekitar 6 gulden). Pada tahun 1773 sebanyak 12 keluarga berhasil diboyong dari Surabaya ke Banyuwangi, sedangkan sebelumnya sebanyak 285 orang telah menetap di Blambangan karena motif untuk mendapatkan hadiah uang. VOC juga membebaskan penarikan pajak selama 15 tahun. Baru pada tahun 1786, VOC bisa menerima 9600 pikul beras, persewaan tempat-tempat sarang burung walet, ikan, teripang, serta kulit mutiara.[56]

DAFTAR PUSTAKA

[1] Neil J. Smelser, Theory of Colective Behavior, Routledge&Keagan Paul, London, 1962, hal. 163.

[2] J.K.J. de Jonge, De Opkomst Van Het Nederlansch Gesag Over Java-XI, ML van Deventer, 1883, hal. 1. C. C. Lekkerkerker, Balambangan, Indische Gids II, 1932, hal.1045.

[3] I Made Sudjana, Nagari Tawon Madu, Larasan-Sejarah, Kuta-Bali, 2001, hal. 61-63.

[4] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. v-vi. I Made Sudjana, op.cit., hal. 63.

[5] I Made Sudjana, ibid., hal. 63-65. C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1048-1052.

[6] C. Lekkerkerker, ibid., hal. 1053-1054.

[7] JKJ de Jonge, op.cit., hal. 17. C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1054.

[8] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 140. C. Lekkerkerker, op.cit., hal 1055.

[9] C. Lekkerkerker, Ibid, hal. 1054.

[10] I made Sudjana, op.cit., hal. 67.

[11] C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1055.

[12] I Made Sudjana, op.cit., hal 68.

[13] Babad Tawang Alun (ditulis pada tahun 1826) dalam Winarsih PA, Babad Blambangan, Bentang, Yogyakarta, 1995, hal. 113, lihat juga Lampiran I. Tempat kediaman (Dalem) Mas Bagus Puri menurut dokumen Belanda terletak di sekitar dusun Pakis, yaitu dusun di selatan Banyuwangi sekarang. I Made Sudjana, op.cit., hal.42. Dengan demikian Pakis Banyuwangi adalah tempat kelahiran Mas Rempek.

[14] C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1056.

[15] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 200.

[16] I Made Sudjana, op.cit., hal. 68.

[17] Babad Tawang Alun, ix-2-4 dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 89.

[18] I Made Sudjana, op.cit., hal. 68-69.

[19] I Made Sujana, Ibid, hal. 69, berdasarkan laporan J.C. Wikkerman, Originele aparte missive van den Gouverneur van den Burg.., ARA, VOC 3337, hal. 3.

[20] Ibid, hal. 69.

[21] Nama desa dan lurahnya sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu pupuh vi 11-20 sebagai berikut: Desa Dhadhap (Kidang Wulung), Rewah-Sanji (Kidang Wulung), Suba/Kuwu (Kidang Wulung), Songgon (Ki Sapi Gemarang), Tulah (Ki Lempu Putih), Kadhu (Ki Sidamarga), Derwana (Ki Kendit Mimang), Mumbul (Ki Rujak Sentul), Tembelang (Ki Lembupasangan), Bareng (Ki Kuda Kedhapan), Balungbang (Ki Sumur Gumuling), Lemahbang (Ki Suranata), Gitik (Ki Rujak Watu), Banglor (Ki Suragati), Labancina (Ki Rujak Sinte), Kabat (Ki Pandholan), Kapongpongan (Ki Kamengan), Welaran ( Ki Jeladri), Tambong (Ki Reksa), Bayalangun (Ki Sukanandi), Desa Penataban (Ki Singadulan), Majarata (Ki Maesandanu), Cungking (Ki Jangkrik Suthil), Jelun (Ki Lembu Singa), Banjar (Ki Bakul). Itulah nama-nama desa di Banglor. Sedang desa bagian selatan adalah: Desa Pegambuiran (Ki Serandil), Ngandong (Ki Seja), Cendana (Ki Kebo Waleri), Kebakan (Ki Kebo Waluratu), Cekar (Ki Gundol), Desa Gagenteng (Ki Kudha Serati), Kadhal (Ki Jaran Sukah), Sembulung (Ki Gagak Sitra), Jajar (Ki Gajah Anguli), Benculuk (Ki Macan Jingga), Pelancahan (Ki Butangerik), Keradenan (Ki Jala Sutra), Gelintang (Ki Maesagethuk), Grajagan (Ki Caranggesing). Sedang desa diwilayah timur: Desa Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan), Lalerangan (Ki Menjangan Kanin), Mamelik (Ki Surya), Papencan (Ki Bantheng Kanin), Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan), Repuwan (Ki Butānguri), Rerampan (Ki Kidang Bunto), Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).

Wilayah utara 2 desa yaitu Desa Jongnila (Ki Gagakngalup) dan desa Konsul (Ki Maesasura). Kemudian kepala desa ayang menyusul: Desa Bubuk (Ki Marga-Supana), Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul), Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul), Gambor (Ki Bajuldahadhi), Gembelang (Ki Butakorean), Muncar (Ki Genok), Bama (Ki Baluran), Geladhag (Ki Margorupit), Susuhan ( Ki Tambakboyo), Ngalian (Ki Kidang-Garingsing), Tamansari (Ki Gajah Metha), Danasuke (Ki Kebowadhuk), Kalisuca (Ki Jaransari). Babad Bayu (ditulis pada tahun 1826) pupuh vi 11-20 dalam Winarsih PA, op.cit., hal.153-154.

[22] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 228. Winarsih PA, Ibid, hal. 89, Babad Tawang Alun pupuh ix 2-4. Menurut I Made Sudjana, Mas Rempek memakai gelar Kyai Mas Rempek (dalam Babad Tawang Alun; Ki Mas Rempek) menunjukkan bahwa Pangeran Jagapati telah mendalami agama Islam, sehingga hampir sama dengan status gurunya, Kyai Rupo (Ajar Rapa). I Made Sudjana, op.cit., hal. 68-69.

[23]Inventaris Hindoe oudheden III, 1923:123 nomer 2547 dalam C. Leckerkerker, op.cit., hal.1056.

[24] I Made Sudjana, op.cit., hal. 70, berdasar dokumen Belanda “Eebidige voordracht…” ARA, VOC 3389 hal. 239-242; “Memorie totnaricht…” ARA, VOC 3589 hal. 1040.

[25] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 175, Surat CVD Biesheuvel (Residen) dan Hendrik Schophoff (Wakil Residen) Blambangan kepada Yang Mulia Penguasa di Surabaya tertanggal Ulupampang, 4 Agustus 1771.

[26] Babad Bayu dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 227.

[27] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal .176. Baca juga I Made Sudjana, op.cit., hal. 78, berdasar dokumen Belanda ARA, VOC 3337 hal. 263-266; “Copie verklaring van Balem-boangsche……”

[28] I Made Sudjana, Ibid, hal. 78, berdasar dokumen Belanda “Originele aparte missive….”

[29] Babad Bayu pupuh v.23-28, dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 231.

[30] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 177, Surat CVD Biesheuvel (Residen) dan Hendrik Schophoff (Wakil Residen) Blambangan dan kepada Yang Mulia Penguasa di Surabaya tertanggal Ulupampang, 22 September 1771.

[31] Ibid.

[32] Ibid

[33] Babad Bayu pupuh v-vi.8, dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 231-232.

[34] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 216.

[35] C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1058.

[36] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 178. Winarsih PA, op.cit., hal. 231-232.

[37] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal.. 223.

[38] I Made Sudjana, op.cit., hal. 79.

[39] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 27 dan 224. C. Lekkerkerker, Balambangan, op.cit., hal. 1058-1059. I Made Sudjana, Ibid, hal 79, berdasarkan laporan J.C. van Wikkerman, “Copie resolutie…”, ARA, VOC 3416, hal. 150. Hasan Ali menyebut peristiwa ini dengan istilah perang puputan, lihat Sekilas Perang Puputan Bayu, Pemda TK II Kabupaten Banyuwangi, 1997.

[40] Winarsih PA, op.cit., hal. 93-95.

[41] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal. 224.

[42] Ibid, hal. 225.

[43] Babad Bayu dalam Winarsih PA, op.cit.., hal. 239.

[44] J.K.J. de Jonge, op.cit., hal.. 224-225.

[45] J.K.J. de Jonge, Ibid., hal.. 226..

[46] J.K.J. de Jonge, Ibid, hal. 227 dan hal. 26. C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1059.

[47] J.K.J. de Jonge, Ibid., hal 228-230, Berdasarkan surat laporan Kapten Heinrich, komandan pasukan VOC di Kuta Lateng kepada pada Pieter luzac penguasa VOC di Surabaya, tertanggal Bayu, 12 Oktober 1772 yang dikirimkan dari markas utama Kompeni di Bayu.

[48] Babad Bayu pupuh xvii-xxiii, dalam Winarsih PA, op.cit., hal. 240-243.

[49] Babad Tawang Alun pupuh xii. 1-4, dalam Winarsih PA, ibid, hal. 114-115.

[50] C. Lekkerkerker, op.cit., hal.1060.

[51] C. Lekkerkerker, Ibid., hal. 1062.

[52] C. Lekkerkerker, ibid., hal. 1064.

[53] F. Epp, Banjoewangi, TNI I/ii/1849, hal. 242-261.

[54] I Made Sudjana, op.cit., hal. 87.

[55] C. Lekkerkerker, op.cit., hal. 1059.

[56] I Made Sudjana, op.cit., hal. 87.

Hari Jadi Banyuwangi Digugat

Banyuwangi (Bali Post) -
Dialog budaya bertajuk kumpul gesah di Pelinggihan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya, Minggu (18/10) kemarin, berubah menjadi ajang gugatan terhadap penetapan hari jadi Banyuwangi. Hari jadi Banyuwangi 18 Desember 1771 yang diambil dari perang Puputan Bayu, oleh sebagian narasumber kumpul gesah dianggap tidak relevan dengan Kabupaten Banyuwangi. Mengingat, perang Puputan Bayu terjadi di masa pemerintahan Kadipaten Blambangan yang wilayahnya meliputi Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Jember dan Banyuwangi.
“Banyuwangi nggak bisa mengklaim 18 Desember 1771 sebagai hari jadinya, karena Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Jember juga berhak atas tanggal tersebut. Mereka masih berada di bawah kendali Kadipaten Blambangan,” papar H. Abdul Kadir Armaya, S.H., Ketua STSI Banyuwangi yang didaulat menjadi pembicara pertama dalam kumpul gesah tersebut.
Menurutnya, penetapan hari jadi Banyuwangi mestinya diambil dari peristiwa sejarah yang terkait dengan lahirnya Banyuwangi sebagai wilayah administratif. Misalnya, pengangkatan Mas Alit sebagai Bupati I Banyuwangi pada 7 Desember 1773, atau perpindahan pusat pemerintahan Banyuwangi dari Benculuk ke Banyuwangi pada 24 Oktober 1774. ”Jangan dilihat karena Mas Alit diangkat oleh Belanda, terus nggak diakui. Itu keliru bahkan bisa menghilangkan satu bukti sejarah yang terjadi di Banyuwangi,” tambahnya.
Narasumber lain Drs. Arief Soekowinoto, sejarawan asal Kabupaten Madiun justru menyebut tahun 1777 sebagai hari lahir Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi yang menjadi bagian Kadipaten Blambangan lahir secara administratif pada tahun 1777 setelah kekuasaan Majapahit tumbang. Ini juga ditandai dengan lepasnya Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Jember dari kekuasaan Majapahit. Keterangan mantan dosen IKIP Surabaya itu membuat hadirin tercengang. Mereka tidak menduga Arief Soekowinoto yang juga mertua Bupati Ir. H Samsul Hadi itu menawarkan tahun 1777 sebagai hari jadi Banyuwangi.
“Ini bukan buku sejarah tetapi peta sejarah yang menggambarkan kekuasaan Kerajaan Majapahit. Peta ini menulis rentetan sejarah dari 1773-1830. Di sini disebutkan, nama Banyuwangi ada pada tahun 1777. Sebelumnya masih berbentuk kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit. Peta ini bukan sanggahan, tetapi hanya masukan barangkali diterima masyarakat dan budayawan Banyuwangi,” jelasnya sambil memperlihatkan peta yang dimaksud.
Penjelasan Drs. Arief Soekowinoto tersebut direspons Bupati Ir. H. Samsul Hadi. Bupati yang bertindak sebagai pembicara kunci meminta budayawan dan masyarakat Banyuwangi mengkaji peta Drs. Arief Soekowinoto sebagai pembanding. Apabila dianggap benar, Bupati meminta tahun 1777 ditetapkan menjadi hari jadi Banyuwangi. ”Nggak apa-apa hari jadi Banyuwangi diubah, asal diawali dengan kajian. Kalau masyarakat Banyuwangi tetap menjadikan 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi, ya terserah. Yang penting sudah dikaji dan disepakati oleh budayawan, sejarawan dan masyarakat Banyuwangi,” tegasnya.
Sementara Ir. Azhar Prasetya, ketua panitia seminar ketika 18 Desember 1771 ditetapkan menjadi hari jadi Banyuwangi menjelaskan tanggal 18 Desember 1771 dimunculkan pertama kali oleh pengurus Dewan Harian Cabang (DHC) 1945 Banyuwangi. Mereka menilai, 18 Desember 1771 bernilai patriotik yang diyakini mampu memberi semangat membangun kepada pemerintah dan masyarakat Banyuwangi. ”Jadi yang kami ambil hanya nilai patriotismenya. Soal peristiwa itu terjadi di masa pemerintahan Majapahit memang benar. Tetapi coba lihat, kejadiannya kan di wilayah Kabupaten Banyuwangi tepatnya di Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Di sana (Desa Bayu-red) sudah didirikan monumen perang Puputan Bayu, persis di lokasi yang dulu digunakan perang oleh rakyat Blambangan,” bebernya.
Melihat kuatnya desakan dari budayawan untuk mengkaji ulang hari jadi Banyuwangi, dalam waktu dekat Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Banyuwangi akan menggelar sarasehan hari jadi Banyuwangi. Itu untuk mencari masukan sebelum mengkaji literatur dan referensi yang memuat sejarah Blambangan dan Majapahit. “Kami akan undang pakar sejarah dan budayawan yang pernah melakukan kajian di Banyuwangi untuk mengungkap hari jadi Banyuwangi yang benar-benar bernuansa Banyuwangi. Bukan nuansa Blambangan atau Majapahit,” kata Ketua STSI Banyuwangi H. Abdul Kadir Armaya, S.H. (gik)

Menjejaki Sejarah Keagungan Kerajaan Blambangan

TEMPO/Ika Ningtyas

TEMPO Interaktif, BANYUWANGI – JARUM jam di tanganku menunjukkan angka sembilan pagi. Tanah di Desa Macan Putih, Kecamatan Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, masih basah setelah diguyur hujan sejak subuh. Laju bus yang membawa rombonganku beranggotakan 40 orang berjalan lambat menyusuri jalanan desa yang sempit. Dari kaca jendela bus, saya bisa memandang hamparan sawah di kanan dan kiri jalan.

Saat itu, pertengahan Mei lalu, saya memulai perjalanan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan. Awal penjejakan memang dimulai dari Desa Macan Putih, sekitar 10 kilometer dari Kota Banyuwangi.

Saya merasa tertarik menapaki jejak kerajaan bercorak Hindu terakhir di tanah Jawa itu. Kerajaan yang berdiri sekitar abad XIII hingga abad XVIII itu hampir tidak pernah tercatat dalam buku sejarah nasional. Penelitian sejarah juga tergolong minim. Kerajaan Blambangan lebih populer diceritakan sebagai legenda dan mitos. Sebut saja tentang epos yang cukup terkenal: kisah Damarwulan versus Minakjingga.

Saya berkesempatan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan itu sebagai rangkaian acara Blambangan Heritage Trail yang diselenggarakan sebuah universitas swasta di Banyuwangi. Dosen Sejarah Universitas Gajah Mada Doktor Sri Margana didapuk menjadi pemateri dalam acara itu. Desertasi doktor berusia 40 tahun itu di Universitas Leiden, Belanda, berjudul ‘JAVA’S LAST FRONTIER: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c 1763 – 1813.’ dianggap semakin membuka sejarah Kerajaan Blambangan di era kolonial.

Para petani di Desa Macan Putih tampak sudah sibuk merawat tanaman padinya yang sebentar lagi memasuki masa panen. Berlomba dengan suara mesin bus, lamat-lamat saya mendengarkan bunyi-bunyian yang ditimbulkan dari kiling bambu. Ada sekitar lima kiling setinggi 10 meter ditanam di pinggiran sawah. Kiling itu terbuat dari seruas kayu yang dipasang di ujung bambu. Pada saat ditiup angin, kiling akan berputar dan menghasilkan bunyi, yang oleh petani di Banyuwangi dipercaya bisa mengusir burung.

Sebelum menjadi Desa Macan Putih, kawasan ini diberi nama hutan Sudiamara. Menurut Sri Margana, sekitar tahun 1665, Raja Blambangan ke VIII, yakni Tawang Alun II Danurea, menjadikan daerah yang subur ini sebagai ibu kota kerajaan.

Setelah Kerajaan Majapahit runtuh abad XV, Blambangan menjadi rebutan kerajaan-kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, sebagai bagian ekspansi kerajaan-kerajaan itu ke wilayah Jawa bagian timur. Kerajaan-kerajaan di Bali, seperti Gelgel dan Mengwi juga berkepentingan dengan Blambangan untuk menangkal masuknya Islam. Sehingga, ibu kota Blambangan yang semula di Panarukan (sekarang masuk Situbondo) dan bercorak maritim, semakin terdesak ke pedalaman.

Dari sembilan raja yang pernah berkuasa di Blambangan, Tawang Alun II (1665-1691) merupakan raja terbesar. Wilayah kekuasaannya menjangkau Jember, Lumajang, Situbondo dan Bali. Masyarakat Blambangan saat itu hidup damai dan makmur, setelah sekian lamanya terlibat dalam berbagai peperangan melawan ekspansi kerajaan-kerajaan dari barat dan timur.

Karakter multikultur Sang Raja, tutur Margana, menjadi rahasia kebesarannya. Meskipun Tawang Alun penganut Hindu yang taat, tapi dia tidak melarang komunitas Islam berkembang. “Yang ia tentang adalah dominansi asing,” ujarnya.

Namun, menurut Margana, hanya sedikit sumber sejarah yang menerangkan tentang masa Tawang Alun II ini akibat tidak ada kontak dengan bangsa asing. Riwayat Tawang Alun II banyak ditulis dalam arsip Belanda, justeru pada masa akhirnya tahtanya. Yakni ketika upacara ngaben jenasahnya yang digelar secara spektakuler. Alkisah, dalam upacara sebanyak 271 isteri dari 400 isteri Tawang Alun ikut membakar diri (sati).

Tempat kremasi jenasah Tawang Alun hingga saat ini masih bisa ditemukan. Terletak satu kilometer dari Balai Desa Macan Putih. Area seluas sekitar setengah hektare tersebut dikelilingi tembok putih dengan satu pintu pagar yang lebarnya hanya untuk dilewati satu orang. Di halaman, tumbuh pohon beringin berusia puluhan tahun.

Bangunan utama di lahan tersebut mirip pendopo berbentuk segi enam, berlantai keramik putih. Sebuah batu sebesar kepala manusia tertanam di tengah dengan dua payung di atasnya.

Pagar dan pendopo tersebut sebenarnya bukan bangunan asli. Masyarakat sekitarlah yang berinisiatif memugarnya. Menurut Nuruddin, si juru kunci, bangunan itu dipugar tahun 1968.

Sementara letak bangunan Kerajaan belum diketahui dengan pasti. Masyarakat yang mengatasnamakan Forum Penyelamat Situs Macan Putih pernah melakukan penggalian di 17 titik. Namun kegiatan itu tak sampai rampung, dan akhirnya ditimbun lagi.

Nuruddin mengkisahkan, warga setempat masih sering menemukan sisa-sisa batu bata yang diperkirakan bekas bangunan kerajaan, berukuran dua kali lebih besar dibanding ukuran batu bata saat ini.

Perjalanan dari Desa Macan Putih, berlanjut ke Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Sepanjang perjalanan kami disuguhi aroma durian. Ya, kecamatan yang berbatasan dengan Bondowoso saat itu sedang menikmati masa puncak panen durian.

Sebelum sampai di Desa Bayu, kami menjumpai sebuah monumen peringatan Puputan Bayu. Monumen yang dibangun tahun 2004 ini, sebagai simbol perang puputan masyarakat Blambangan yang dipimpin Rempeg Jagapati melawan VOC Belanda yang pada abad-18 juga berusaha menguasai Blambangan. Prajurit Blambangan memenangkan perang yang berlangsung 18 Desember 1771 itu, dengan ditandai terbunuhnya pimpinan pasukan VOC, Van Schaar. Tanggal tersebut kini dipakai sebagai Hari Jadi Banyuwangi.

Jagapati merupakan keturunan Tawang Alun yang lari dari Kerajaan Blambangan yang saat itu berpusat di Lateng (sekarang kecamatan Rogojampi) karena tidak puas terhadap VOC yang mengangkat raja Islam yang ternyata korup. Dia akhirnya menobatkan diri sebagai Susuhunan Jagapati di Rowo Bayu dengan menghimpun prajurit-prajurit yang kecewa. Di Rowo Bayu, Jagapati membangun tempat mirip kerajaan sehingga membuat VOC marah.

Rowo Bayu saat ini adalah sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas delapan hektare. Rawa yang airnya berwarna hijau ini merupakan pertemuan tiga mata air, yakni Sendang Kaputren, Sendang Wigangga, dan Sendang Kamulyan. Selain hutan pinus, seluas tiga hektare lainnya merupakan hutan dengan berbagai jenis tanaman dan semak belukar, khas hutan tropis yang dihuni berbagai satwa. Hutan ini merupakan bagian Kesatuan Pemangku Hutan Rogojampi, Banyuwangi Barat.

Perlawanan rakyat Blambangan itu merupakan puncak dalam memerangi berbagai dominansi asing. Namun setahun kemudian, tepatnya pada Oktober 1772, VOC membalas kekalahannya dengan mengirim 1.500 pasukan menumpas prajurit Blambangan. Lumbung-lumbung padi di Songgon, dibakar sehingga perlawanan rakyat Blambangan melemah akibat kelaparan.

Menurut Sri Margana, saat itu alam Rowo Bayu tak seindah sekarang, melainkan sangat menyeramkan. Ribuan prajurit Blambangan dibunuh, dan kepalanya digelantungkan di pohon-pohon. Bau anyir darah menyeruap kemana-mana. Rakyat Blambangan yang semula berjumlah 8.000-an jiwa hanya tersisa sekitar 2.000 ribuan jiwa akibat perang itu. “Inilah perang paling sadis di Indonesia,” ucap Margana.

Bekas kerajaan di Rowo Bayu belum ditemukan hingga kini dan membutuhkan penelitian arkeologis lebih lanjut. Situs yang bisa ditemui justeru situs Raja Tawang Alun, yakni Candi Puncak Agung Macan Putih dan Petilasan Pertapaan Tawang Alun.

Dua situs yang dibangun sekitar tahun 2006 lalu itu sebagai pertanda bahwa Tawang Alun pernah menjejakkan diri di Rowo Bayu, jauh sebelum periode Jagapati. Tawang Alun lebih dulu membangun kerajaannya di Rowo Bayu sebelum pindah ke Macan Putih karena diserang oleh adiknya sendiri, Mas Wila.

Selain sebagai tujuan wisata alam, Rowo Bayu sering dikunjungi umat Hindu di Banyuwangi maupun Bali yang ingin bertapa atau mandi membersihkan diri di mata air sekitar situs. Karena itu, menurut Mbah Saji, si juru kunci, kedua situs itu justru dibangun oleh salah seorang warga Hindu asal Bali yang sering mendatangi Rowo Bayu. “Tapi tempat ini tetap terbuka bagi siapa saja,” kisah Mbah Saji.

Hanya satu jam kami berada di Desa Bayu, Songgon. Makan siang kami nikmati di atas bus dengan buah rambutan sebagai pencuci mulut. Lagu-lagu tradisional berbahasa Using, Banyuwangi, terus menemani perjalanan kami menuju tempat ketiga: Kecamatan Muncar, yang kami tempuh dalam 30 menit.

Muncar adalah pusat kerajaan Blambangan yang dibangun VOC setelah kekalahan rakyat Blambangan dalam perang Puputan Bayu. Bisa disebut, di Muncar inilah periode Kerajaan Blambangan II yang bercorak Islam dimulai, dan merupakan ibu kota kerajaan terakhir sebelum akhirnya pindah ke Banyuwangi (saat ini menjadi letak Pendopo Kabupaten).

Kami lebih dulu mampir di Situs Umpak Songo, Desa Tembokrejo. Situs ini dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan. Di dalam areal seluas setengah hektare itu terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah. Si juru kunci, Soimin, menceritakan, batu-batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Karena itulah, situs ini dinamakan Umpak Songo yang artinya sembilan penyangga.

Sri Margana menuturkan, VOC memindahkan ibu kota kerajaan ke wilayah ini karena letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Muncar (dulu bernama Ulupampang). VOC berkepentingan mengawasi Selat Bali itu dari kerajaan-kerajaan di Bali (Gelgel dan Mengwi) yang berusaha merebut Blambangan. Apalagi, kerajaan-kerajaan di Bali itu kerap memberi bantuan kepada Blambangan saat peperangan melawan VOC maupun kerajaan-kerajaan Islam sehingga Blambangan sulit terkalahkan.

Langkah lain, kata Margana, VOC akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Mataram Islam untuk mengislamkan Blambangan sebagai upaya untuk memutus hubungan Blambangan dengan Bali. Islamisasi itu ditempuh dengan menempatkan orang-orang Mataram Islam untuk menjadi raja di Blambangan dengan harapan proses Islamisasi berlangsung cepat.

Situs lainnya yang bisa disaksikan di wilayan ini adalah Situs Sitihinggil yang berarti tanah yang tinggi. Hal ini merujuk pada bahasa Jawa. Siti yang artinya tanah, sedangkan hinggil berarti tinggi. Dulunya, tempat ini dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari kerajaan-kerajaan Bali yang akan melakukan penyerangan. Dari Situs Umpak Songo, kita menempuhnya dalam waktu 10 menit saja ke arah timur.

Ya benar saja, ketika saya naik ke puncak Sitihinggil, pemandangan lautan lepas dengan kapal-kapal nelayan terlihat cukup jelas. Meskipun sedikit terhalangi oleh bangunan rumah susun yang padat di sekitar situs.

Dari Sitihinggil, kami menuju Pelabuhan Muncar. Nampak ratusan kapal yang didominasi warna hijau, kuning dan merah, tengah bersandar di kolam labuh ketika kami tiba sekitar jam 15.00 WIB. Nelayan-nelayan ada yang baru turun dari kapal, mengangkut berton-ton ikan hasil tangkapan.

Pelabuhan inilah, yang menjadi jantung pertahanan sekaligus pusat militer VOC pada abad XVII di Blambangan. VOC mengangkat warga Tionghoa menjadi kepala pelabuhan, yang dulunya bernama Sahbandar Ship. Pelabuhan ini cukup ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari Cina, Arab, dan beberapa wilayah Nusantara. Sehingga, di sekitar pelabuhan terbentuk perkampungan-perkampungan berbagai etnis itu.

Sampai sekarang, Pelabuhan Muncar tetap padat karena menjadi tempat bergantung 13 ribu nelayan mencari ikan dengan 1.700-an unit kapal. Hasil tangkapan nelayan dalam setahun rata-rata mencapai 30 ribu ton ikan yang menjadikan Muncar sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia.

Jam menunjuk pukul 16.00, menjadikan kami tak bisa berlama-lama menikmati kesibukan nelayan. Apalagi, tiba-tiba bulir air jatuh dari langit. Kami bergegas kembali ke dalam bus.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kecamatan Tegaldlimo, dengan waktu tempuh sekitar dua jam.

Melewati hutan seluas 43.420 hektare saat tidak ada sinar matahari, membuat bulu roma berdiri. Gelap. Kanan-kiri jalan pepohonan berdiri rapat. Suara satwa malam seolah berlomba dengan suara mesin bus. Kami harus melewati jalan sejauh 15 kilometer untuk memasuki kawasan Taman Nasional. Kondisi jalan rusak parah, penuh lubang. Perjalanan serasa di atas kapal laut, diayun gelombang ke kanan dan ke kiri.

Setelah melewati perjalanan yang disertai kecemasan, kami tiba di pesanggrahan pantai Trianggulasi yang menjadi tempat kami bermalam. Kami akhirnya bisa bernapas lega. Tidur menjadi agenda yang sangat dinantikan, ditemani suara deburan ombak laut selatan.

Agenda sesungguhnya baru dimulai keesokan harinya. Ketika, sinar matahari mulai menimpa bumi, pemandangan TNAP terlihat amat elok. Pepohonan menjulang dengan daun-daunnya yang basah oleh embun. Suara kicauan burung bersahutan. Ratusan kera berekor panjang, tiba-tiba memenuhi halaman pesanggrahan kami, dan siap mencuri makanan yang diacuhkan pemiliknya.

Alas purwo dianggap sebagai hutan tertua di Jawa. Ada 500-an jenis tanaman yang tumbuh di hutan ini yang menjadi habitat bagi berbagai satwa liar. Menurut Sri Margana, disinilah, dulunya, orang-orang Majapahit yang menjadi pemeluk Hindu yang taat melarikan diri karena menolak pengislaman dari utusan Kerajaan Mataram.

Sebagai peninggalannya, kami menjumpai dua pura yang berdiri di tengah hutan, sekitar satu kilometer dari pesanggrahan pantai Trianggulasi, yakni Pura Kawitan dan Pura Giri Selaka.

Menurut Mangku Adi, seorang pemangku, Situs Kawitan ditemukan secara tak sengaja oleh penduduk sekitar tahun 1965 dan mulai dibuka untuk kegiatan keagamaan pada tahun 1968. Adapun Pura Giri Selaka, yang bersebelahan dengan Pura Kawitan, dibangun tahun 1996.

Pura Giri, katanya, dibangun karena umat yang melakukan ritual semakin banyak. Upacara yang rutin dilakukan adalah upacara Pager Wesi, yang digelar setiap 120 hari sekali. Upacara ini memuji Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta mensyukuri ilmu pengetahuan yang telah diberikan oleh para dewa.

Latar sejarah inilah, yang menjadikan Alas Purwo begitu dikeramatkan. Mereka yang berkunjung di sini tak sekedar menikmati keindahan alamnya yang masih alami. Sebagian besar, mereka datang untuk melakukan wisata spritual. Bukan hanya umat Hindu, melainkan umat agama lain pun berdatangan. Mereka melakukan pemujaan, berdoa, dan bersemedi. Selain dua pura itu, aktivitas spiritual banyak dilakukan di goa-goa, yang jumlahnya sekitar 40 buah. Goa Istana, Goa Basori, dan Goa Mayangkara, adalah goa-goa yang paling banyak dikunjungi.

Ketika bus mulai membawaku pulang, saya merasa bersyukur. Meski perhatiaan pemerintah masih minim terhadap sejarah Kerajaan Blambangan, namun riwayatnya tetap hidup di masyarakat. Peninggalan kerajaan menjadi tempat yang dikeramatkan, sebagai cara masyarakat menghormati leluhurnya. IKA NINGTYAS.

http://www.tempointeraktif.com/hg/surabaya/2010/05/31/brk,20100531-251395,id.html

L U R AH JAMANE PUPUTAN BAYU

Nama desa dan lurahnya sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu pupuh vi 11-20 sebagai berikut: Desa Dhadhap (Kidang Wulung), Rewah-Sanji (Kidang Wulung), Suba/Kuwu (Kidang Wulung), Songgon (Ki Sapi Gemarang), Tulah (Ki Lempu Putih), Kadhu (Ki Sidamarga), Derwana (Ki Kendit Mimang), Mumbul (Ki Rujak Sentul), Tembelang (Ki Lembupasangan), Bareng (Ki Kuda Kedhapan), Balungbang (Ki Sumur Gumuling), Lemahbang (Ki Suranata), Gitik (Ki Rujak Watu), Banglor (Ki Suragati), Labancina (Ki Rujak Sinte), Kabat (Ki Pandholan), Kapongpongan (Ki Kamengan), Welaran ( Ki Jeladri), Tambong (Ki Reksa), Bayalangun (Ki Sukanandi), Desa Penataban (Ki Singadulan), Majarata (Ki Maesandanu), Cungking (Ki Jangkrik Suthil), Jelun (Ki Lembu Singa), Banjar (Ki Bakul). Itulah nama-nama desa di Banglor. Sedang desa bagian selatan adalah: Desa Pegambuiran (Ki Serandil), Ngandong (Ki Seja), Cendana (Ki Kebo Waleri), Kebakan (Ki Kebo Waluratu), Cekar (Ki Gundol), Desa Gagenteng (Ki Kudha Serati), Kadhal (Ki Jaran Sukah), Sembulung (Ki Gagak Sitra), Jajar (Ki Gajah Anguli), Benculuk (Ki Macan Jingga), Pelancahan (Ki Butangerik), Keradenan (Ki Jala Sutra), Gelintang (Ki Maesagethuk), Grajagan (Ki Caranggesing). Sedang desa diwilayah timur: Desa Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan), Lalerangan (Ki Menjangan Kanin), Mamelik (Ki Surya), Papencan (Ki Bantheng Kanin), Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan), Repuwan (Ki Butānguri), Rerampan (Ki Kidang Bunto), Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).

Wilayah utara 2 desa yaitu Desa Jongnila (Ki Gagakngalup) dan desa Konsul (Ki Maesasura). Kemudian kepala desa ayang menyusul: Desa Bubuk (Ki Marga-Supana), Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul), Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul), Gambor (Ki Bajuldahadhi), Gembelang (Ki Butakorean), Muncar (Ki Genok), Bama (Ki Baluran), Geladhag (Ki Margorupit), Susuhan ( Ki Tambakboyo), Ngalian (Ki Kidang-Garingsing), Tamansari (Ki Gajah Metha), Danasuke (Ki Kebowadhuk), Kalisuca (Ki Jaransari). Babad Bayu (ditulis pada tahun 1826) pupuh vi 11-20 dalam Winarsih PA, op.cit., hal.153-154.