Islam abangan

Ada pendapat ,ada  Dua kubu pada zaman Sunan Kudus, ialah Islam Putihan yang dipandegani dening  Raden Hario Penangsang & Sunan Kudus, dan di fihak Abangan adalah Joko Tingkir, Ki Ageng Pemanahan , Sutowijoyo dengan dukungan grup Sunan Kalijogo.
sebenarnya Tidak pernah ada kubu yang berhadapan antara Islam Putihan dan Abangan. Yang berhadapan adalah Kubu Pajang  dengan Kubu Hario Penangsang. Kubu Pajang adalah Joko Tingkir dan Kubu Jipang adalah  Hario Penangsang. hario Penangsang melawan Pajang, karena Pajang adalah penerus dari Demak.
secara perebutan pengaruh, maka yang berhadapan adalah kubu Wali Songo dengan Kubu Syech Siti Jenar, dimana Wali Songo dipimpin Oleh Sunan Kalijogo dan Sunan Kudus, berhadapan dengan Syech Siti Jenar. Jadi tidak benar ada pertempuran abangan dipimpin oleh Sunan Kalijogo dan Putihan oleh Sunan Kudus. Sunan Kudus dan Sunan Kalijogo dalam satu kubu, berhadapan dengan Kubu Syceh Siti Jenar.
murid-murid Syech Siti jenar, seprti Kebo Kenongo, Kiageng Pengging, dan KIageng Selo, Tiga serangkai inilah murid-murid Syech Siti Jenar yang utama, disamping masih banyak murid lainnya. Kebo kenongo beranak Joko Tingkir, Ki Ageng Selo, beranak Kiageng Henis ( Anis ), beranak Kiageng Pemanahan dan beranak Sutowijoyo.
Sejarah mencatat , pihak Hario Penangsang dapat dikalahkan oleh Jebeng Sutowijoyo cs, yang kemudian menjadi Panembahan Senopati ing Ngalogo Sayidin Panotogomo yang kemudian menurunkan raja2 Jawa.
Pada sekitar zaman Sunan Kalijogo, seperti tertulis didalam Serat-serat, murid-murid kinasih-nya berpaham manunggaling kawulo gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan, Sunan Pandanaran, dan sebagainya). Sunan Kalijogo banyak mempunyai pengikut, antara lain Joko Katong putera Brawijaya V, yang ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo.

manunggaling Kawulo Gusti bukan diajarkan oleh Sunan Kalijogo, tetapi oleh Syceh Siti Jenar, sehingga Syech Siti Jenar harus dibunuh, karena mengajarkan aliran Manunggaling kawulo Gusti atau wihdatul wujud faham Al Hallaj yang juga dibunuh di Iraq, juga di Aceh Hamzah fansuri. Murid-murid Syech Siti Jenar seperti Kebo kenongo, Kiageng Pengging semua dibunuh. Ajaran Manungaling Kawulo Gusti adalah ajaran bahwa Aku adalah Tuhan dan Tuhan adalah Aku. ini mirip yang diajarkan Isa. Sehingga murid-murid Syceh Siti Jenar tidak mau menjalankan Solat, puasa, dll. Hanya murid Syceh Siti jenar dari generasi ke dua, seperti Kiageng Henis dan Ki Ageng Pemanahan yang meneruskan ajaran Syceh Siti Jenar. Orang-orang ini adalah yang menurunkan raja-raja Solo dan Jogja. Makanya Raja-raja jawa kebanyakan penganut ajaran Syceh Siti jenar. Perhatikan, bahwa meski raja-raja Jawa beragama Islam, maka mereka tidak ada yang ‘naik haji” ke Makkah. Murid Sunan Kalijogo, adalah Kiageng Pandanaran Bupati Semarang. Sunan Kalijogo terkenal ajaran yang Luwes, lunak  dan Flexible, cenderung melakukan sinkretisme. Sehingga ajaran Kalijogo tidak menuntut “puritan”, sangat maklum dengan budaya jawa yang suka judi, adu ayam, musik. Sehingga pengikut Sunan Kalijogo adalah Rakyat Jelata. Kalau sampai pengikut Sunan Kalijogo dari kalangan Bangsawan, maka pengikut tersebut harus ‘meninggalkan harta’ dan menjadi ‘miskin”. Mirip ajaran penderitaan yesus, dan menjauhi kekuasaan. Prinsip Ajaran Sunan Kalijogo adalah “mau beriman dan masuk Islam terlebih dahulu”, masalah “ketaatan beribadah”, biarlah nanti anak cucunya yang melanjutkan, atau biarlah mereka belajar sendiri nantinya. Berbeda dengan ajaran Syceh Siti Jenar, yang memerlukan “pemahaman rumit”, sehingga cocok untuk kalangan bangsawan dan intelektual. Biasanya pengikut Syceh Siti jenar, penguasaan agama jauh diatas rata-rata. Tetapi pengikut Sunan Kalijogo, kebanyakan  rakyat, karena ajarannya sederhana.  Yang penting mau masuk Islam dulu, mengenai Solat, puasa, dll, nanti dengan pelan-pelan berubah. Inilah mulai tumbuhnya ajaran “ABANGAN”.

Kyai Hasan Basri adalah pengasuh pondok pesantren. sementara Pengikut ajaran Syceh Siti Jenar tidak ada yang memiliki ‘pesantren’. Kalaupun ada biasanya disebut Padepokan. Pengikut Syceh Siti Jenar kenapa tidak memiliki ‘pesantren” ? karena ajaran ini exkulusive, sehingga dalam mengajarkan ajaran tidak bersifat massal, tetapi melalui wejangan, atau diskusi dimalam hari ditempat yang sunyi. Misalnya Kiageng Suryomentaram. Jadi tidak benar kalau pengikut ajaran Sych Siti jenar memiliki pesantren. Pada sekitar zaman Sunan Kalijogo, seperti tertulis didalam Serat-serat, murid-murid kinasih-nya berpaham manunggaling kawulo gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan, Sunan Pandanaran, dan sebagainya). Sunan Kalijogo banyak mempunyai pengikut, antara lain Joko Katong putera Brawijaya V, yang ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo. Joko Katong yang oleh grup Hindu disebut dengan Bethoro Katong, menurunkan tokoh-tokoh Islam di daerah tersebut yang pengaruhnya amat luas hingga sekarang, termasuk Kyai Kasan Besari (guru R. Ng. Ronggowarsito) .

.Menurut catatan yang terdapat pada Keraton Mangkunegaran :

a. Sunan Kalijogo memerintahkan Sultan Adiwijoyo, agar Bumi Mentaram yang masih berujud Hutan Mentaok agar diserahkan kepada Ki Ageng Pemanahan, sebagai hadiah untuk keberhasilan Danang Sutowijoyo mengalahkan Ario Penangsang yang terkenal sakti.

Itu adalah bukti keberfihakan Sunan Kalijogo kepada grup Sultan Hadiwijoyo, Ki Ageng Pemanahan dan Danang Sutowijoyo.

b. Ketidakcocokan Sunan Kudus, yang ingin mengaplikasikan Islam di tanah Jawa secara murni, terhadap Sunan Kalijogo yang tidak setuju dengan fundamentalisme, menimbulkan kebencian Sunan Kudus kepada Sultan Adiwijoyo. Sunan Kudus menghembus2kan agar yang menjadi Sultan Demak adalah Raden Ario Penangsang, dan menghasut Ario Penangsang untuk memusnahkan kerabat yang berfihak kepada Sultan Adiwijoyo, ialah antara lain suami Ratu Kalinyamat, yang kemudian bersumpah untuk tidak berpakaian kalau belum ada yang membalaskan wirang Ratu Kalinyamat.

c. Syekh Siti Jenar pada waktu itu sudah tidak kocap lagi. Tak ada yang menceritakan bahwa Kiyai Kasan Besari dan Kiai Zarkasi adalah murid Syekh Siti Jenar. Yang berkiprah selanjutnya adalah Sunan Kalijogo.

d. Sultan Adiwijoyo baru memindahkan seluruh pusaka lambang Kraton dari Demak ke Pajang, ialah setelah dapat mengalahkan Ario Penangsang, dan setelah mendapatkan persetujuan dari seluruh kerabat.
Jadi sebelumnya, Keraton Pajang tidak pernah akan menjadi penerus Keraton Demak, yang juga penerus Mojopahit. Pajang sebelum itu masih merupakan Kadipaten yang besar dan makmur.

e. Panembahan Senopati kemudian berhasil membangun Mataram, dan lama tidak sowan ke Pajang. Daerah jajahan Pajang yang semula pasok bulubekti ke Pajang, berpindah halauan dipasokkan ke Mataram, karena mereka merasa di”uwong”kan dan direngkuh sebagai sedulur sinorowedi.

f. Panembahan Senopati yang sesungguhnya adalah anak pertama Sultan Adiwijoyo (sesungguhnya adalah anak angkat kinasih), dilaporkan oleh Patih sebagai memberontak, dan memaksa agar Sultan Adiwijoyo memerangi anak angkatnya sendiri.

g. Dengan penuh keraguan, Sultan Adiwijoyo dengan ribuan tentaranya berangkat ke Mataram, meskipun menurut pendapat kraton, Sultan Adiwijoyo tidak berniat untuk memerangi, melainkan mengalah akan menyambangi putra angkat yang dikasihinya. Sultan Adiwijoyo naik gajah dalam perjalanannya menuju Mentaram.

h. Mendengar Ayahanda akan datang ke Mentaram, Panembahan Senopati bersama 800 pengikutnya menjemput menuju ke arah Sultan Adiwijoyo mendirikan base camp nya, ialah di daerah Prambanan dan Kali Opak.

i. Tepat pada waktu itu, Gunung Merapi meletus, Kali Opak banjir, dan hujan lebat lesus mawurahan.

j. Masyarakat berpendapat, bahwa itu adalah bantuan dari nJeng Ratu Kidul.

k. Sultan Adiwijoyo yang ragu, yang sebelumnya prihatin atas semangat tentaranya untuk menghancurkan Mentaram, memutuskan untuk kembali ke Pajang.

l. Pada waktu Sultan Adiwijoyo mulai menaiki gajahnya, gajahnya mengamuk, melemparkan Sultan Adiwijoyo sampai terluka sangat parah.

m. Sultan Adiwijoyo melanjutkan perjalanannya dengan ditandu dalam keadaan terluka parah. Panembahan Senopati mengikuti dari belakang beserta para pengikutnya, dengan mengambil jarak, mengantisipasi kemarahan tentara Pajang yang berniat menghancurkan Mentaram.

n. Sultan Adiwijoyo berhasil sampai di Keraton Pajang. Panembahan Senopati beristirahat di desa Mayong , dekat Pajang.

0. Sultan Adiwijoyo gembira bahwa Panembahan Senopati sudah hampir sowan, dan memerintahkan agar Panembahan Senopati segera sowan.

p. Seorang dukdeng yang sangat ambisius, dengan sebutan Ki Juru Taman pada malam hari menjelang sowannya Panembahan Senopati, mengendap-endap masuk ke peraduan Sultan Adiwijoyo, dan memukul dada Sultan sampai pingsan.

q. Sementara itu Panembahan Senopati telah memerintahkan para pengikutnya agar membawa bunga selasih sebanyak-banyaknya dan diletakkan di Gapura Barat, sebagai rasa cinta kasih dan selalu tunduk kepada nJeng Sultan Pajang.

r. Pangeran Benowo, putera mahkota Pajang, yang merawat ayahandanya, ketika nJeng Sultan sudah siuman, menceritakan perihal bunga selasih itu dan perihal tunduk dan cintanya Panembahan Senopati kepada Sultan Pajang.

s. Sultan Pajang sangat terharu dan kegembiraannya meluap, tetapi kemudian beliau wafat. Panembahan Senopati TIDAK membunuh Sultan Adiwijoyo.

t. Sultan Pajang dimakamkan di desa Butuh, dengan penghormatan dari seluruh pembesar dan rakyat Pajang dan Mentaram.

u. Pangeran Benowo kemudian diangkat menjadi Sultan Pajang, dengan dukungan Panembahan Senopati.

v. Tetapi Mentaram yang menjadi besar, dan Pajang melemah sendiri tanpa pernah diserang siapapun.

w. Sunan Kalijogo tidak pernah menyukai fundamentalisme, dan semakin mendalami masalah Ketuhanan. Mengenai hal ini banyak sekali cerita2 yang berkaitan dengan hal Ketuhanan ini.

x. Beliau menjadi melegenda dengan kesaktian beliau.

y. Sunan Kudus tidak kocap lagi.

z.Khaul yang diadakan untuk menghormati Sunan Kalijogo, selalu mendatangkan berkah yang melimpah, dan banyak dilakukan oleh para Pengageng.

opensubscriber.com

About these ads
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Yudi Prastiawan  On April 17, 2012 at 10:06 am

    Pangeran Benawa tidak langsug diangkat menjadi Raja Pajang……;pengganti Sultan Hadiwijaya adalah Aria Panggiri menantunya dan Pangeran Benawa diserahi kadipaten Jipang Panolan milik Arya Penangsang yg sudah kalah. Karena Aria Panggiri tidak dinilai cakap bahkan melemahkan kerajaan maka Pangeran Benawa melakukan persekutuan dengan Mataram untuk merebut kembali Pajang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: